NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Matilah aku ....


__ADS_3

Athar langsung duduk dan merangkul Ning. Ia menjadikan pahanya sebagai bantalan kepala Ning.


“Ning … Ning … bangun, Ning ….” Athar menepok- nepok pipi Ning untuk menyadarkannya, namun ia tak kunjung sadar.


Penjaga keamanan serta beberapa pengunjung yang melihat hal itu, segera menghampiri Ning yang pingsan. Mereka berdiri mengelilingi Ning dan Athar karena ingin melihat jelas orang yang pingsan itu.


“Ada apa ini, Pak?” tanya seorang penjaga keamanan.


“Iya kenapa itu istrinya Pak?” tanya salah satu pengunjung yang berkerumun.


“Dia tiba- tiba pingsan ….” ucap Athar yang masih berusaha menyadarkan Ning.


“Apa perlu saya telpon ambulan, Pak ….” ucap penjaga keamanan.


“Permisi, saya dengar ada yang pingsan … kebetulan saya seorang dokter ….” Seseorang memasuki kerumunan dan menghampiri Athar.


“Daniel … sedang apa kau di sini?” tanyanya terkejut.


Athar pun menoleh pada orang tersebut yang ternyata adalah Singgih.


"Ning pingsan ... Cepat periksa keadaannya!!” Athar yang terlihat panik langsung mengeluarkan perintah, seolah Singgih itu adalah bawahannya di kantor.


Singgih pun segera memeriksa Ning.


“Sepertinya dia hanya kelelahan … keadaannya baik- baik saja ….”


“Kalau begitu aku akan membawanya pulang,” Athar menggendong Ning ala bridal style kemudian berdiri.


“Kau bawa Nana, dia sedang bermain mandi bola di sana….” ucapnya melirik ke arah area permainan mandi bola.


Ia lalu membawa Ning pergi, walau sebenarnya berat baginya meninggalkan Nana bersama Singgih. Meski dia adalah ayah kandungnya Nana. Tapi ia juga mengkhawatirkan Ning yang masih belum sadar dan malah jadi tontonan umum.


**


“Emh …” Ning mulai siuman. Perlahan ia pun membuka matanya yang mengarah ke langit- langit tempat ia terbaring.


Setelah kesadarannya terkumpul, ia pun bangkit lalu duduk.


“Dimana ini?” ucapnya nampak bingung, ia pun mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.


“Hah? Kenapa aku ada di kamar? tadi kan aku ada di mall … dan____ aaaaahhh, bibir ku ….” Ning menyentuh bibirnya saat kembali teringat insiden kecupan kilat bibirnya pada bibir Athar.


“Akhirnya kau sadar juga ….” ucap Athar yang tiba- tiba muncul kemudian menutup pintu.


“Tuan Om …. Ngapain di sini?” Ning terkejut melihat keberadaan Athar.


“Ini kan kamar ku ….” ucap Athar menghampirinya.


“Apa? Kamar tuan Om?” Ning kembali terkejut bukan main, ia menutup mulutnya yang ternganga.


“Apa ini rumah Nyonya besar?” gumam Ning dalam hati.


“Kau itu sebenarnya pingsan atau tidur sih? Sudah sore begini baru bangun ….” ucapnya lalu duduk di sisi ranjang tempat Ning duduk.


“Kenapa Tuan Om tidak membawa ku pulang ke rumah Bu Asri, dan malah membawa ku ke rumah nyonya besar?” tanya Ning setengah marah.


“Memangnya aku sudah gila apa, membawa mu dalam keadaan pingsan ke rumah Mami? Bisa heboh nanti ….”


“Terus ini dimana?”


“Di Apartment-ku ….”


“Apartment? Pantas saja aku tidak mengenali tempat ini ….”


“Loh, Nana mana?” Ning baru menyadari ketidakberadaan Nana di sana.


“Ku tinggalkan di mall … Dia masih asyik main mandi bola tadi ….”


“Apa? Tuan Om ini gimana sih … Nana itu masih kecil, kenapa ditinggal sendirian di mall … Kalau Nana hilang gimana? Kalau ada yang menculik Nana gimana? Kalau Nana kenapa- napa gimana?” cerocos Ning.


“Tenang saja, Nana tidak sendirian kok ….”


“Terus sama siapa?” tanya Ning heran.


“Tadi saat kau pingsan ada Singgih di sana dan menghampiri kita, bahkan ia memeriksa keadaan mu … Jadi aku membawa mu pulang dan meminta Singgih menjaga Nana .…”


“Apa? Itu lebih gila lagi Tuan Om ….”


“Ning … Singgih itu ayah kandungnya Nana … Dia juga gak akan tega kali ninggalin Nana sendirian di mall ….”


“Gak bakalan tega gimana? Tuan Om gak lihat sih waktu Nana diusir sama dokter Singgih dari kamarnya sampai nangis kejer … Ayok kita ke rumah Bu Asri sekarang ….” Ning membuka selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Ia bergeser hendak turun dari tempat tidur.


“Tidak usah … kau tetap di sini saja ….” cegah Athar kekeuh.


“Tapi Nana kan__________”


“Ning … bukankah tadi siang kau sudah menasehati Singgih … Sekarang kita lihat, apakah hatinya merasa terketuk dengan semua ucapan mu … Setidaknya dia mendengar dari orang yang pernah mengalami hal yang sama seperti Nana ….”


“Tapi Tuan Om … gimana kalau dia malah meninggalkan Nana sendirian di rumah? Bu Asri dan Mbak Kinan kan di rumah sakit … tadi Tuan Om bilang Bi Sumi juga sedang sakit ….” Ning semakin mencemaskan Nana.


“Tenang saja, aku sudah menyuruh sopir yang ku tinggalkan di rumah Bu Asri untuk mengawasi Singgih di sana … Dan dia sudah melapor, kalau tadi Singgih membawa pulang Nana dan sekarang dia masih di sana,” ucapnya lalu mengeluarkan ponsel dari dari saku celananya.


“Hah? Apa itu benar?” Ning merasa tak yakin.


“Iya … kalau gak percaya nih lihat fotonya.” Athar memperlihatkan foto Singgih yang mengendong Nana saat memasuki rumah di layar ponselnya.


Ning terkejut melihatnya. Ia merasa tak percaya jika hal itu bisa terjadi. Ia pun akhirnya bisa bernafas lega.


“Syulurlah ….”


“Awalnya aku juga mencemaskan hal yang sama dengan mu Ning … Tapi setelah melihat foto ini, selain terkejut dan tak percaya, aku sedikit merasa lega … Anggap saja kita sedang memberi Singgih kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya dan mudah- mudahan ini bisa menjadi langkah awal baginya agar bisa menerima Nana dan menyayanginya sebagai putri kandungnya sendiri.”


Ning nampak termenung setelah mendengar ucapan Athar. Tak bisa dipungkiri ia masih mencemaskan Nana, karena tak mungkin Singgih yang sudah mengabaikan Nana sejak ia lahir bisa berubah pikiran hanya dalam hitungan jam setelah mendengar ucapannya. Walau sesungguhnya ada rasa bahagia jika Nana benar- benar akan mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya.

__ADS_1


“Hei … melamun saja kerja mu … sudah sana cepat mandi!!”


“Gak mau !!” tolak Ning.


“Jorok banget sih, kau sudah bau keringat … memangnya badan mu gak lengket apa?”


Ning mengendus- endus mencium aroma tubuhnya sendiri.


"Gak bau kok ….”


“Bau tahu ih … sudah sana mandi!!”


“Percuma kalau aku mandi juga nanti masih tetap pakai baju ini… Aku kan gak bawa baju ….” ucap Ning.


“Tadi sopir sudah mengantarkan tas pakaian mu ke sini … Sekarang kau pergi mandi sana… Memangnya tadi gak nyadar apa, tidur sampai ngiler gitu … Mengotori bantal ku saja!!”


“Hah? Masa sih aku ngiler?” Ning meraba- raba dagu dan sekitaran bibirnya untuk memastikan ucapan Athar.


“Ya ampun, Ning … itu bibir kenapa diusap- usap gitu, apa kau ingin menggoda ku?”


Ning menatap kesal pada Athar. “Dasar mesum!!”


“Kalau aku mesum lalu kau apa? Mencium bibir ku di depan umum ….” ucapnya menggerutu.


Ning membelakan matanya, ia kembali teringat insiden yang membuatnya pingsan.


“Heh, aku tidak pernah berniat mencium mu ya … Itu pasti jebakan tuan Om kan, yang sengaja mendekatkan wajahnya di telinga ku, jadi pas aku menoleh bibir ku____”


“Bibir ku apa? Kenapa tidak dilanjutkan?” goda Athar sembari menahan tawa melihat ekspresi wajah Ning.


“Aaaaarghhh … bibir ku sekarang sudah tidak ori lagi … Semua itu gara- gara Tuan Om mesum!!!”


“Hahahahah...." Athar tertawa dengan renyahnya.


"Kenapa malah tertawa, hah??" hardik Ning kesal.


"Memangnya kau lupa siapa yang tiba- tiba menempelkan bibir pada ku, hah? Lagi pula itu hanya nempel sekilas saja, bukan ciumann ... Mau aku beri ciumann yang sebenarnya?" ucap Athar menggoda Ning.


“It it itu … it it itu ….” Ning yang baru menyadari itu kesalahannya sendiri, tiba- tiba terdiam karena malu. Ia bangkit dan berdiri.


“Aku mau mandi ….” ucapnya lalu bergegas melangkah pergi dan berhenti di depan sebuah pintu.


“Hei, kau mau kemana?” tanya Athar terkekeh.


“Mau mandilah ….” jawab Ning ketus.


“Itu pintu keluar, pintu kamar mandi sebelah sana, hahaha....” tunjuk Athar yang kembali tertawa.


Ning berbalik dan masuk ke kamar mandi yang sudah ditunjukkan oleh Athar.


Blam …


Ning menutup pintu dengan cuckup keras.


“Aaaaaarhhh … kenapa ciuman pertama ku musti sama si kudanil mesum itu sih … Aku pikir dia itu orang baik dan bijak, tapi malah lebih parah dari si Dinosaurus ….” cerocos Ning merasa kesal, ia mengacak- acak rambutnya sendiri. Ia melangkahkan kakinya di kamar mandi yang besar itu.


“Ini kamar mandi gede banget sih … aku mandinya dimana ini?” ucapnya nampak bingung.


“Eh kok itu ada suara kucuran air ….” Ning melangkahkan kakinya dan berhenti di depan sebuah bethub yang sudah terisi air setengahnya dan air kran nya masih menyala.


“Busyet … orang kaya mah bak mandinya juga gede sama bagus banget ....” ucap Ning yang takjub melihatnya. Ia mengedarkan pandangannya kesana kemari, nampak mencari sesuatu. Karena tak kunjung menemukannya, ia pun beranjak keluar dari kamar mndi itu.


Ceklek ….


“Tuan om ….” Panggil Ning dari depan pintu kamar mandi.


“Iya, ada apa ?” sahut Athar yang sedang menggunakan laptop sembari duduk di sofa. Namun ia tak menoleh pada Ning.


“Ini mandinya gimana?” tanya Ning bingung.


“Apa?” Athar langsung melihat ke arah Ning. “Jangan bilang kau ingin dimandikan oleh ku ….”


“Ih, amit- amit … otak tuan Om itu isinya mesum semua ternyata!!” Bentaknya kesal.


“Terus maksudnya apa nanya mandinya gimana? Kayak gak pernah mandi aja kamu tuh … Di sana kan sudah ada air, sabun mandi, shampo, bahkan ada beberapa handuk di sana … Lagi pula aku sudah mengisi air bathub-nya .…”


“Tapi aku gak bisa ngambil air dari bak besar itu ….” ucap Ning dengan polosnya.


“Apa? Bak besar? Bethub maksudnya?” Athar nampak bingung.


“Iya pokoknya bak besar yang bagus berwarna putih itu… Em, apa ada gayung?” Ning menanyakan benda yang dicarinya.


“Apa? Gayung? Maksudnya?” Athar semakin bingung.


“Kan itu bak nya besar, jadi kalau mau mandi ngambil airnya musti pakai gayung ….” Ning memperjelas tujuannya meminta gayung.


“Hahahahaha ….” Athar yang baru menyadari, langsung tertawa terbahak- bahak.


“Ih, malah ketawa ….” cicit Ning kesal.


“Kamu gak usah pakai gayung Ning, tinggal masuk aja dan berendam di bethub … Sabun cairnya juga sudah tersedia di sana, kau tinggal pilih varian rasanya ….”


“Apa? Aku gak mau ….” Ning mengedikkan bahunya.


“Kalau begitu kamu masuk saja ke shower room box, mandi aja pakai shower ….” Athar memberi opsi lain.


“Hah? Dimana itu?” tanya Ning heran.


“Tentu saja di dalam kamar mandi … Disana ada ruangan kecil yang dindingnya terbuat dari kaca, kamu masuk saja ke dalamnya … dan mandilah di sana ….” ucap Athar memperjelas yang dimaksudnya.


“Caranya gimana?” tanya Ning lagi.


“Hahahaha … kau ini benar- benar ingin dimandikan oleh ku rupanya … atau ingin mandi bersama ku, hem?” Athar terlihat gemas melihat kepolosan Ning.

__ADS_1


“Dasar kudanil mesum!!!” hardik Ning.


“Apa?”


“Enggak ….” Ning berbalik dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.


“Dasar orang kaya … cara mandinya aja aneh- aneh ….” Ning menggerutu kesal sembari berjalan. Ia pun masuk ke dalam shower room box yang disebutkan oleh Athar.


“Ini gimana sih cara nyalain shower nya,” ucapnya nampak bingung. Ia pun memutar kran showernya dan air pun menyembur dari shower yang berda di atas kepalanya.


“Aaaaaaaakkkkkk ….” Ning berteriak dengan sangat kencang. Ia yang terkejut dengan air yang tiba- tiba menyembur, langsung menjauh dari kran.


Athar yang mendengar teriakan Ning langsung masuk ke kamar mandi. Ia takut terjadi sesuatu dengan Ning di dalam sana. Dan ternyata Ning tak mengunci pintu kamar mandinya.


“Ning kenapa kau berteriak ….” tanya Athar panik.


“Aaaaaakkk tolong aku … airnya panas banget!!!” teriak Ning yang masih di dalam shower room box di bawah kucuran air itu.


Athar segera masuk ke dalam shower room box dan langsung memutar kran nya sehingga yang keluar adalah air dingin. Dan kini bukan hanya Ning yang basah kuyup, tapi Athar pun ikutan basah.


“Sekarang sudah tidak panas lagi kan?” ucapnya menatap Ning yang kini berdiri di pojok.


Ning mengelengkan kepalanya sembari menyilangkan kedua tangan di dadanya. Nampaknya ia merasa malu, karena dress-nya yang basah kuyup membuat bayangan tubuhnya terlihat menerawang.


Melihat hal itu membuat mata Athar terbelak. Rambut panjang Ning yang terurai basah karena semburan shower membuatnya terlihat sexy di mata Athar, hingga ia menelan salivanya sendiri. Ia nampak enggan melepaskan pandanganya dari wanita yang membuat jantungnya berdebar begitu kencang.


‘Dag dig dug ... dag dig dug …. Dag dig dug ....’Begitulah kiranya irama jantung Athar saat ini.


Ning yang awalnya menundukkan kepalanya, menyadari Athar masih berdiri di hadapannya, kemudian menegakkan kepala hingga membuat keduanya saling memandang satu sama lain. Entah mengapa, ia pun seolah tak rela melepaskan pandangannya dari pria atampan nan gagah yang berdiri di hadapannya itu.


Bibirnya kelu nampak sulit berucap, getaran di dada membuat nafasnya terdengar bederu kencang. Tatapan mata Athar seolah membuatnya terhanyut dalam buai asmara.


Suara gemerincik air semburan shower dalam ruangan kecil yang berdindingkan kaca tersebut, seolah menjadi irama yang menari- jari di telinga dan membuat keduanya tenggelam dalam lautan penuh cinta.


Ting Nong … Ting Nong ...


Suara bel pintu membuat keduanya terperanjat, seolah baru terbangun dari khayalan penuh cinta.


Mereka pun saling melepas pandangannya satu sama lain. Rasa canggung dan gugup tiba- tiba mendera. Keduanya baru menyadari jika kini mereka benar- benar basah kuyup dan merasa kedinginan.


“Lanjutkan mandi mu, Ning … handuknya ada disana ….” ucap Athar menunjuk ke gantungan besi yang berada di luar dinding kaca. Disana terdapat empat handuk kimono yang tergantung berjejer, dan diatasanya ada dua handuk yang dilipat.


Athar pun keluar dari shower room box dan mengambil salah satu handuk itu untuk dirinya. Ia lalu beranjak keluar dari kamar mandi.


“Sial … hampir saja aku tak bisa mengendalikan diri ….” ucapnya menggerutuki dirinya sendiri dalam hati.


Athar pun keluar dari kamarnya untuk membukakan pintu, karena bunyi bel kembali terdengar hingga beberapa kali. Ia berjalan sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Sementara Ning yang masih di dalam shower room box hanya diam mematung dengan perasaan berdebar di dada dan mata terbelak. Deru nafsanya masih terdengar kencang, kakinya terasa lemas hingga perlahan ia memerosotkan tubuhnya ke lantai dengan telapak tangan yang ditempelkan di dada.


“Ya ampun … kenapa aku bisa deg deg-an gini? Hampir saja aku mandi bersamanya ….”


“Aduh … mana baju ini menerawang lagi … Jangan- jangan si kudanil tadi_____”


“Arghhhh … apa dia berniat macam- macam padaku?”


“Arrhhhh … lebih baik aku mandi saja dan pergi secepatnya dari tempat ini ….” ucapnya lalu keluar dari ruangan kecil itu dan mengunci pintu kamar mandi. Ia pun melepaskan pakainnya dan mandi di dalam shower room box itu.


Ning yang nampak masih memikirkan apa yang tadi terjadi, membuatnya mandi lebih lama dari biasanya.


Setelah selesai ia menggunakan handuk kimono dan mengeringkan rambutnya dengan handuk yang berada di atas gantungan. Ia lalu membungkus rambutnya dengan handuk tersebut dan keluar dari kamar mandi.


“Tas pakaian ku ditaruh dimana ya?” ucap Ning mengedarkan pandangannya di kamar Athar.


Ia mencari di setiap sudut bahkan dalam lemari, namun tak kunjung menemukan tas pakaian yang disebutkan Athar sudah diantarkan oleh sopir ke apartemen itu.


“Ihhhh … kok gak ada sih??? Jangan- jangan si kudanil bohong lagi ??” gumamnya menduga-duga.


“Aduh gimana ini? Masa iya aku harus memakai handuk sampai besok ….” Ning menggerutu kesal.


Ia yang tidak melihat keberadaan Athar, berinisiatif keluar dari kamar untuk mencarinya.


Baru saja ia menutup pintu, sudah mendengar suara Athar yang sedang berbicara. Ia pun berjalan mencari asal suara itu yang ternyata di ruang tamu.


Ning yang melihat Athar sedang duduk di sofa sambil bicara dengan orang yang terlihat belakangnya saja oleh Ning, kemudian menghampirinya dan berdiri tepat di belakang sofa orang tersebut.


“Tuan Om … Dimana pakaian ku?” tanya Ning dengan suara lantang dan tak memperdulikan ada orang lain selain Athar di sana.


Hal itu membuat Athar mengehentikan pembicraannya dan mengarahkan pandanganya pada Ning. Bukan hanya itu, dua orang yang sedang berbicara dengannya pun menoleh dan mengarahkan pandangan pada Ning.


Baik dua orang itu maupun Ning sama- sama terkejut. Keduanya bediri dan memberi Ning tatapan tajam.


“Athar … apa yang sedang pelayan itu lakukan di sini??” ucap salah satu dari mereka dengan nada tegas dan beralih menatap tajam pada Athar.


“Matilah aku … pasti mereka akan salah paham dan menyangka hal yang tidak- tidak ….” jerit Ning dalam hati, saat menyadari jika ia keluar kamar hanya mengenakan handuk saja.


Tiba- tiba ia merasa boom shock nya akan keluar. Ning pun segera beranjak pergi sambil berlari menuju ke kamar Athar secepat mungkin.


Dut durut dut dut ….


Suara nyaring itu pun keluar tepat setelah Ning masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.


“Fiuhhh … selamat … selamat ….” Ia pun bernafas lega, karena si kentut beliungnya tidak meletus di hadapan mereka. Namun ia tetap merasa tidak tenang mengingat tanggapan mereka terhadap dirinya yang berada di apartemen Athar.


“Ya ampun … kenapa mereka harus melihat ku dalam keadaan seperti ini sih… Bego bego bego .. kenapa aku gak lihat- lihat dulu sih sebelum ngomong ke si kudanil tadi ….” Ning menggerutuki kebodohannya.


“Gimana ini … Aku malu banget, terciduk sama mereka ….”


“Hoek … bau banget sih kentut gue ….” Ning mengibas- ngibas kan tangan di depan hidungnya, kemudian ia masuk ke kamar mandi.


-------------- TBC -----------


******************

__ADS_1


Happy Reading …


__ADS_2