
Drt drt drttt…
Tring tring….
Terdengar suara ponsel bergetar diiringi deringan yang mampu memecah kesunyian di ruangan tersebut.
“Maaf, saya permisi….” ucap Ning dengan masih menundukkan kepala, tak sanggup menampakan wajah pada mereka saking malunya. Ia lalu bergegas keluar sembari merogoh ponsel dari dalam tas nya.
Anggaplah ia sedang beruntung. Rasa malu yang luar bisa setelah kepergok sedang berciuman, terselamatkan oleh ponselnya. Sepertinya ia harus memberi hadiah sebagai tanda terimakasih pada si penelpon.
“Kau ini, benar- benar tidak tahu tempat, Athar!!” ejek Dandy.
“Kalian saja yang tak punya sopan santun… Masuk tanpa permisi… Minimal ketuk pintu dulu!!” gerutunya kesal.
“Lihatlah, Bang... Kelakuan adik mu!!” adu Dandy pada Aufar.
“Dia juga adik mu, kalau lupa….” Aufar nampak jengah dengan kelakuan kedua adiknya yang selalu saja seperti itu setiap kali bertemu. Ia kemudian duduk di kursi samping brankar.
“Ya ya ya, kau benar, Bang… kalau bukan karena dia adikku, tak mungkin aku jajauh- jauh balik lagi ke sini… Padahal baru juga seminggu di Belanda….” Dandy mengangguk- anggukan kepala dengan melipat kedua lengannya.
“Aku tidak meminta mu kesini!!” sinis Athar.
“Ck.. Kau pikir kakak mana yang tak khawatir mendengar adiknya kecelakaan sampai kakinya lumpuh!!”
“Aku baik- baik saja… Toh nanti malam juga mau operasi….”
“Baguslah kalau begitu… Jadi aku tak perlu lama- lama meninggalkan pekerjaan serta anak istriku di Belanda….”
“Balik lagi aja, sana!!” ketus Athar.
“Apa kalian tidak malu sama umur!! Bertengkar seperti bocah ingusan saja!!” tegas Aufar yang benar- benar kesal dengan kelakuan kedua adiknya. Dandy dan Athar pun menghentikan ocehan mereka.
Suasana hening seketika. Aufar menghela nafas sejenak, kedua maniknya menatap Athar. “Ros sudah cerita tadi di bawah… Jadi kau tidak perlu menikahi atau pun melanjutkan hubungan mu dengan Nadira….” ucapnya dengan raut wajah serius.
“Siapa juga yang mau menikah dengan Nadira? Sejak awal juga aku menolak keras... Mami saja yang maksa….”ketus Athar.
“Dan mengenai perusahaan di London____”
“Aku sudah tak perduli, Bang….”sarkas Athar menyela.
“Apa kau akan membuangnya begitu saja? Padahal perusahannya sudah berkembang pesat dibawah kepemimpinan mu….” Aufar nampak tak percaya dengan apa yang diucapkan adiknya.
“Aku sudah dipecat bukan? Jadi itu bukan urusan ku lagi….”
“Ayolah bujang lapuk… Jangan merajuk seperti itu….” ejek Dandy ikut merecoki obrolan mereka.
Athar menghela nafas dalam- dalam. “Aku sudah tidak perduli dengan semua itu… Aku akan menata hidup ku sendiri, hidup tanpa bayang- bayang nama besar Sahulekha.…” ucapnya dengan yakin, namun ada rasa sesak di dalam dadanya.
“Athar___” lirih Aufar.
“Aku lelah, Bang… Aku ingin hidup tenang dan meraih kebahagiaanku sendiri….”
“Kau hanya sedang emosi... kau tidak sendiri, kami selalu ada untuk mu….” bujuk Aufar.
Athar terkekeh kecil, tersenyum menyeringai." Terimakasih, Bang….”
“Cih, mana ucapan untuk ku?!” protes Dandy.
Athar mendengus kesal. Ia menyatukan kedua telapak tangannya. “TERIMAKASIH, TUAN DANDY YANG GILA HORMAT!!” ucap Athar dengan nada penuh penekanan.
“Kau___” geram Dandy kesal.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu menghentikan pembicaraan mereka.
“Masuk!!” seru Dandy.
Munculah seorang perawat dari balik pintu. Ia menghampiri tiga kakak beradik itu. Ia memperkenalkan diri, kemudian menjelaskan beberapa prosedur persiapan operasi yang akan dilakukan nanti malam.
Sementara di luar, Ning sangat berterima kasih kepada Riko yang sudah menghubunginya tadi saat ia berada dalam situasi darurat.
Ya, Riko lah yang menelpon Ning dari luar kamar tersebut. Ia yang sebelumnya mengantarkan Dandy dan Aufar, tak ikut masuk dan hanya berdiri saja di gawang pintu. Dengan sigap ia menyelamatkan Ning agar bisa menghindari kedua kakaknya Athar.
***
Hari berganti malam, sang surya pun tengah menenggelamkan dirinya, digantikan oleh rembulan yang menerangi gelapnya malam.
Sejak tadi pagi, Ning terus menemani Athar hingga kini ia tengah menunggui sang kekasih di luar ruang operasi bersama Rosmala, Aufar, Dandy, Riko juga Nyonya Andini.
Sejak pukul tujuh hingga dua jam berlalu, lampu di atas pintu ruang operasi itu masih tetap menyala menandakan tindakan di dalam sana belum selesai.
Ning yang terlihat begitu gelisah, tak berhenti merapalkan doa untuk keberhasilan operasi serta keselamatan sang pujaan hati. Beberapa kali Rosmala mengajaknya pulang untuk beristirahat, namun ia tak menggubris.
Begitu pun dengan Nyonya Andini, yang tak ingin beranjak dari tempat itu. Pastinya tak akan nyaman duduk berjam- jam di atas kursi roda, mengingat beliau belum pulih sepenuhnya.
Setelah tiga jam lamanya, akhirnya operasi itu pun selesai, ditandai dengan padamnya lampu di atas pintu.
Ceklek
Semua mata tertuju pada pintu yang terbuka. Keluarlah seorang dokter yang diikuti seorang perawat yang mengenakan pakaian kamar bedah lengkap dengan penutup kepala dan masker medis.
__ADS_1
Ning yang tengah duduk, langsung berdiri dan bergegas menghampiri dokter. Begitu pun keluarga Athar langsung mengerumuni kedua orang yang berpakaian steril khusus untuk menjalankan operasi.
“Bagaimana operasinya, Dok?” Ning yang begitu khawatir, langsung melempar pertanyaan, melangkahi keluarga Athar yang tentunya lebih berhak.
Dokter membuka maskernya, “Operasinya berhasil dan berjalan dengan lancar… Namun pasien masih dalam pengaruh anestesi, jadi akan sadar dalam beberapa saat ke depan…”
“Alhamdulillah….” Semua orang berucap syukur, tak terkecuali Ning.
“Apa kami sudah boleh menemuinya, Dok?” Ning sudah tak sabar ingin melihat keadaan Athar.
“Untuk sementara pasien akan ditempatkan di ruang recovery untuk diobservasi pasca operasi, hingga kesadarannya pulih… Dan maaf, hanya satu orang saja yang bisa masuk….”
Ning yang begitu berharap bisa segera menemui Athar, hanya bisa pasrah lalu menundukkan kepalanya. Ia sadar jika di sana bukan hanya dirinya saja yang mencemaskan keadaan Athar, dan pastinya ingin segera melihat kondisi pria itu. Ada anggota keluarganya yang tentunya lebih berhak masuk ke ruangan itu.
“Masuklah, Ning…"
Suara itu membuat Ning mengangkat kepalanya dan mengarahkan pandangannya pada asal suara.
“Masuklah, Athar lebih membutuhkan mu…” Nyonya Andini kembali bersuara.
“Ta tapi, Nyonya____” Ning terkejut dan tak menyangka dengan apa yang ia dengar barusan.
“Aku merasa lega operasinya sudah berjalan lancar dan dia pasti akan baik- baik saja….” ucapnya kembali tersenyum, ia lalu menoleh ke arah putra keduanya. “Dandy, Mami ingin istirahat….”
“Oke, Mami… Dari tadi kek, Mami udah udah kelihatan ngantuk dan lelah gitu.. Masih aja pengen nungguin di sini… Gimana kalau sakit lagi….” Cerocos Dandy.
“Ck… Kau itu laki- laki, tapi cerewetnya melebihi Sheryl….” gerutu Nyonya Andini saat Dandy mulai mendorong kursi rodanya untuk meninggalkan tempat itu.
Ning yang masih terlihat bingung diam memaku, melihat ke arah Aufar dan Rosmala secara bergantian. Mereka pun menganggukkan kepala, seolah paham jika Ning menunggu persetujuan mereka.
Rosmala mendekat, menghampiri Ning. Ia mengusap bahu kanan gadis itu.
“Masuklah, Ning… Athar akan sangat senang, jika saat membuka matanya orang yang pertama dia lihat adalah kamu….”
“Iy iya, Nyonya__” ucap Ning terbata- bata, masih tak menyangka jika keluarga Athar memberikannya kesempatan itu.
“Hei, kau itu harus berapa kali diingatkan!!”protes Rosmala akan panggilan Ning pada dirinya.
“Eh, ma maaf, Kak Ros….” Ning tersenyum kikuk.
“Sudah sana masuk….” Ucapnya melirik ke arah pintu.
“Aufar… Ada yang perlu aku bicarakan dengan mu… Mari kita ke ruangan Om,” ucap sang dokter, yang masih ada hubungan kekerabatan dengan keluarga Sahulekha.
“Baik, Om…” ucapnya, lalu beralih pada Rosmala. “Tunggu di kamar rawat Mami….”
“Iya, Pah….” angguk Rosmala.
Ning melangkahkan kakinya menuju tempat Athar yang masih terbaring tak sadarkan diri. Hatinya terenyuh melihat pria yang amat dicintainya masih terbaring lemah dengan dua selimut yang menutupi tubuhnya hingga leher. Di sebelahnya selain tiang infusan, terdapat monitor EKG.
Meski begitu, lega dan bahagia dirasakannya akan keberhasilan operasinya yang tentunya merupakan tahapan awal menuju kesembuhan Athar. Ia duduk di sebuah kursi di sebelah brankar Athar, memandangi, menanti kekasih hatinya itu sadarkan diri.
Hingga lima belas menit lamanya, akhirnya Athar pun mulai siuman. Kepalanya yang masih terasa berat akibat pengaruh anestesi, membuatnya bicara ngelantur kesana kemari.
“Enghhh… Ini dimana? Kaki ku dimana? Apa aku sudah mati? Kenapa putih- putih….” Suaranya terdengar parau, khas bangun tidur.
“Kamu sudah sadar?” ucap Ning dengan binar bahagia.
Athar yang masih setengah sadar, menoleh ke arah Ning. “Sayang… kenapa kamu di sini? apa kita berdua sudah mati?”
“Kamu kalau ngomong tuh jangan ngaco!! Kamu masih hidup!!” decih Ning.
“Hidup? Jadi aku masih hidup? Kamu juga hidup sayang?”
“Iya!!”
“Masa?”
“Ck, iya ihh….” Ning yang sebelumnya begitu cemas, mulai merasa kesal.
“Cium dulu….” Ucapnya memonyongkan bibir.
“Oh ya ampun… Kau ini baru siuman abis operasi, masih aja mesum!!” gerutu Ning kesal. Ia memalingkan wajah, melihat ke arah meja perawat.
“Suster… Dia sudah sadar….”Ning setengah berteriak memanggil suster, yang kemudian datang menghampiri dan segera memeriksa keadaan Athar.
Setelah beberapa saat, Athar sadar seutuhnya dan kondisinya membaik usai pengecekan, perawat memindahkan Athar ke ruang rawat inap. Ning juga Riko turut serta ke sana.
**
“Sayang, sebaiknya kamu pulang dan istirahat… Ini sudah larut malam….” Pintanya yang melihat Ning nampak lelah.
“Tidak, aku akan tetap di sini menemani mu….” tolak Ning.
“Riko, tolong antarkan Ning pulang… Dia pasti sangat lelah….” Athar pun memerintahkan Riko yang tengah duduk di sofa. Pria itu pun segera berdiri, lalu menghampiri Ning dan Athar.
“Engga ih, orang aku mau nginap di sini….” kekeuh Ning.
“Sayang, kalau kamu tidur di sofa, nanti badan mu bisa pegal- pegal… Kamu pulang dulu ya, kamu pasti sangat lelah …” ucapnya lalu menyentuh punggung tangan Ning, kemudian mengusapnya dengan lembut.
“Tenang saja aku tidak akan kemana- mana… Aku akan sedih dan merasa sangat bersalah kalau kamu sampai sakit gara- gara menjaga ku terus- terusan… Kan gak lucu, masa aku sembuh kamu malah sakit….” Bujuk Athar.
__ADS_1
Ning terdiam sejenak, sepertinya ia dilanda gundah gulana. Sebenarnya ia memang merasa sangat lelah, tapi ia tak tega jika harus meninggalkan Athar yang baru saja selesai dioperasi sendirian di sana. Ya, walaupun ada keluarga juga dokter serta banyak perawat di sana, tetap saja ia ingin selalu ada di samping lelakinya itu.
Ceklek
Terdengar suara pintu terbuka, di sertai bunyi derap langkah seseorang yang menghampiri mereka.
“Kau sudah sadar?” tanya Dandy.
“Ya, seperti yang kau lihat….”
“Baguslah… dan untunglah aku tak melihat sesuatu yang aneh lagi….” ucapnya nampak memberi sindiran. Tentu saja hal itu membuat Ning kembali merasa malu. Ia yang tengah duduk di kursi, menundukkan kepalanya.
“Oh ya, Nona Ning… Kak Ros meminta ku mengantarkan mu pulang… Mari___”
“Tidak perlu!! Riko yang akan mengantarkannya….” tolak Athar tegas, menyela ucapan Dandy.
“Ya ampun… sepertinya kau takut sekali jika Nona Ning akan terpikat dengan ketampananku….” ejek Dandy.
“Tentu saja tidak… Seluruh dunia juga tahu, aku lebih tampan dari mu…..”
“Hahahaha… Percaya diri sekali kau ini … jangan lupa, aku lebih dulu lahir dari mu… Jadi, kau itu hanya kebagian sisa- sisa ketampanan dari ku saja….” Dandy tak mau kalah debat.
“Riko, cepat antarkan Ning, sebelum makin larut….” titahnya dengan nada tegas.
“Baik, Pak….” Ucapnya lalu menghampiri mendekat pada Ning. “Mari, Nona… Saya akan mengantarkan pulang….”
Ning menghela nafas sejenak, kemudian ia bangkit dan berdiri. “Baiklah, aku akan pulang… Besok pagi aku akan ke sini lagi… Kamu istirahat ya….”
“Humm…” angguk Athar tersenyum.
Dengan berat hati, Ning pun beranjak meninggalkan ruang rawat inap Athar. Riko pun mengekor dari belakang, layaknya seorang pengawal.
“Hati- hati… jangan macam- macam ya Riko… Cukup Nadira saja….” ledek Dandy yang kemudian mendapat tatapan horror dari Athar.
Sementara Riko, tak menghiraukan ucapan Dandy yang sudah dikenalnya memang suka bercanda. Meski hal itu membuatnya tersinggung.
**
“Kenapa nomornya tidak aktif sih!!” gerutunya pelan menatap kesal layar benda pipih di genggamannya.
Dan benar saja, Athar terus dilanda gelisah. Nampaknya ia terpengaruh dengan ucapan Dandy.
“Tidur… jangan main hape terus!!” seru Dandy yang sedang selonjoran di sofa, namun ia tetap memperhatikan Athar meski tengah sibuk dengan ipad di tangannya.
“Ck… Diam lo, Bang!! Urusin aja kerjaan lo!!” Athar berdecak kesal.
“Hahaha… Jangan bilang kau mengkhawatirkan kekasih mu yang akan direbut oleh as-pri mu sendiri….” Dandy tertawa dengan renyahnya.
“Bukan urusan mu !!” ketus Athar semakin kesal.
“Hahahah… Kau ini terlalu posesif, sampai- sampai kehilangan kepercayaan pada kekasih mu sendiri… Oh ayolah, kau sangat mengenal Riko yang begitu setia pada mu… Jangan meragukannya… Pasti kekasih mu juga tak akan merayu nya kan….”
“Kau!! Sebaiknya hentikan ocehan mu yang tak berguna itu!!” Athar sudah benar-benar kesal.
Jika kondisinya sedang tidak seperti ini, dan tidak ingat dengan ucapan dokter agar ia tak banyak bergerak dulu, ingin sekali rasanya Athar menghampiri dan menabok bibir lemes kakak nya itu.
“Hahahaha… Ya sudah lah, lebih abik aku tidur….” Dandy kembali tertawa. Ia meletakan ipad nya di atas meja, kemudian membaringkan tubuhnya di atas sofa.
Athar tak hentinya dilanda gelisah. Hingga ia menggerutuki dirinya sendiri karena menyuruh Ning pulang dan meminta Riko mengantarkannya.
Jemarinya tak henti mendial nomor di kontaknya. Bukan hanya menelpon nomor Ning, ia pun menghubungi nomor Riko. Dan keduanya pun sama- sama tidak aktif.
“Ck… sudah satu jam ini… Kenapa ponsel mereka berdua tidak bisa di hubungi, sihh!! Oh, sial!!” Athar mulai frustasi.
Klenting
Terdengar suara pesan masuk di aplikasi whatsapp- nya. Dengan segera ia membuka aplikasi whatsapp tersebut. Ditataplah layar ponsel yang menampakan nomor yang tidak dikenal dengan dahinya mengkerut.
“Nomor siapa ini?” gumamnya lalu mengklik untuk membaca pesan tersebut.
-
-
-
------------------ TBC ---------------
-----------------------------------------
-
-
Happy reading…
Monmaaf beribu- ribu maaf, eceu sempat hiatus dulu sejenak… Insya Allah dilanjut lagi ceritanya… terimakasih banyak yang masih selalu setia menanti dan merindukan kisah Ning nong neng jreng…
Alapyu all….
-
__ADS_1
-