NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Kemarahan Singgih


__ADS_3

Ceklek


“Dady…” Nana yang baru keluar kamar, berlari menghampiri Athar dengan membawa kotak musik dan boneka miliknya. “ Dady… kotak musiknya gak bunyi lagi….” ucapnya menyodorkan kotak musik pada Athar.


“Kok bisa? Coba Dady lihat….” Athar mengambil kotak musik tersebut dan memeriksanya. Ia kembali duduk di kursi. “Mungkin baterainya habis…. Padahal kemarin baru diisi baterai sama Riko sebelum Dady kasih ini ke peri kecil….” ucapnya terheran- heran.


Sementara Ning yang masih terlihat terkejut, segera mengambil handuk serta gelas dan baskom kecil yang berserakan di lantai dekat bawah meja. Ia bergegas pergi ke dapur.


"Fiuhhh… untunglah Nana yang datang… kirain ada orang lain masuk ke rumah ini… Bisa bahaya kalau melihat hal tadi….” Ning akhirnya bisa bernafas lega. Ia meletakan gelas dan baskom kecil di atas wastafel cuci piring, sementara handuknya ia simpan ke dalam ember di kamar mandi.


“Oh ya ampun… hampir saja tadi aku dan dia_____ Arghh… memalukan… Kenapa aku bisa sepsrah itu tadi…. Lama- lama aku bisa gila kalau terus- terusan ada di dekatnya…” Ning yang baru keluar dari kamar mandi, menggerutuki dirinya sendiri.


”Tenangkan diri mu Ning… tenangkan… Jangan sampai terbawa suasana… Ingat, dia itu bukan siapa- siapa lagi… Dan aku adalah calon istrinya Mas Igih….” Ucapnya menyadarkan dirinya sendiri. Ia lalu meneguk segelas air hingga habis.


Ia menghela nafas panjang berkali- kali. Dan setelah dikiranya merasa tenang, ia pun kembali ke ruang tamu.


“Aaaahhh… Nana mau mainin musiknya lagi, Dady….” rengek Nana yang kemudian cemberut.


“Iya, sayang… Tapi kan ini baterainya habis, jadi gak bisa nyala….” Ucap Athar. Nana terlihat sedih dan hampir menangis.


“Loh, peri kecil kenapa?” tanya Ning menghampirinya.


“Kotak musiknya habis baterai, katanya sejak kemarin malam terus dinyalakan sampai tadi… Sepertinya Riko membeli baterai yang sudah expire....” malah Athar yang menjawab.


“Oh gitu… Bagaimana kalau peri kecil menggambar saja… Kan biasanya juga suka gambar sama mewarnai….” ucap Ning membujuk agar Nana tak sedih lagi.


“Tapi buku gambar Nana habis … Oh iya… kata bu guru besok harus bawa kertas warna warni sama lem sama buku gambar ke sekolah….” Nana baru teringat ia punya tugas dari sekolah nya.


“Kalau gitu, ayok kita pergi ke toko buku… Sekalian kita beli baterai untuk kotak musiknya….” Ajak Athar.


“Iya iya… Ayok….” Nana bersemangat.


“Baiklah… let’s go….” Athar berdiri, kemudian menggendong Nana.


“Hore… mau jalan- jalan sama Dady….” Nana bersorak gembira.


“Hati- hati ya….” ucap Ning.


“Momy ayok ikut….” ajak Nana.


“Eng… Kalian pergi berdua saja ya….” tolak Ning.


“Aaaaahhhh, ayok ikut….” rengek Nana.


“Peri kecil pergi sama Dady aja ya… Kan masih kangen, pasti ingin pergi berduaan sama Dady….” Ning kembali memberi alasan untuk tetap menolak ajakan Nana.


“Aaaaahhh… ayok ikut, Momy….” Nana terus merengek.


“Tapi, di sini gak ada siapa- siapa… Nanti kalau_____”


“Huaaaaaaaa… Momy harus ikut… Huaaaaaaa….” Nana tiba- tiba menangis.


“Sudah, kamu ikut saja Ning… Kasihan kan Nana jadi nangis gini….” ucap Athar.


“Iy iya… Sebentar, aku ganti baju dan ngeringin rambut dulu….” Ning yang merasa tak tega melihat Nana menangis, akhirnya bersedia ikut. Ia bergegas pergi ke kamar nya. Ia mengeringkan rambut menggunakan hairdryer, kemudian berganti pakaian.


“Loh, tas ku yang semalam dimana ya?” ucapnya yang melihat tas di atas meja riasnya.


Ning mencari keberadaan tas yang semalam dipakainya. Di dalam lemari, di atas lemari, di dalam laci- laci, bahkan di kolong ranjang pun tak kunjung ditemukannya. “Tunggu, itu kan yang di meja rias bukannya tas si Ocha… Yassalam… Pasti tadi subuh dia salah ngambil tas, sama- sama warna cream sih….” Gumam Ning mendengus kesal.


Tin tin …


“Momy … ayok!!!” teriak Nana dari luar rumah Ning yang disertai bunyi klakson mobil.


“Iya… sebentar….” Ning yang terburu- buru, mengambil tas lain dari dalam lemarinya. Ia mengambil uang dari laci lemari kemudian menguncinya dan bergegas keluar.


Usai mengunci pintu rumahnya, ia pun menghampiri mobi Athar yang mesinnya sudah dinyalakan.


“Momy ayok cepetan!!!” teriak Nana dari dalam mobil yang kaca pintunya diturunkan.


“Iya….” Ning membuka pintu mobil, kemudian naik dan duduk bersama Nana di jok penumpang.


“Let’s go, Dady….” Ucap Nana bersemangat. Namun Athar malah mematikan mesin mobilnya.


“Loh, kenapa malah dimatikan? Bukannya kita mau pergi?” tanya Ning heran.


Athar mendengus kesal. Ia menoleh ke belakang. “Memangnya kalian ini sedang naik taksi online apa?” ucapnya dengan nada ketus. “Pindah ke depan!!” titahnya pada Ning.


“Aku?” Ning menunjuk dirinya.


“Iya.” jawab Athar.


“Eng….” Ning nampak ragu untuk pindah duduk ke sebelah Athar. Ia lalu menoleh ke arah Nana. “Peri kecil duduk di depan ya….” bujuknya.


“Gak mau… Kalau duduk di depan Nana suka pusing… Momy aja duduk di depan….” tolak Nana.


“Tapi_____”


“Sudah cepat pindah… Biar cepat berangkat, panas nih…..” Athar nampak kesal.


“Argh… sial… Kenapa aku harus duduk di sebelahnya sih… ” gumam Ning dalam hati.


Dengan terpaksa Ning turun dari mobil dan berpindah tempat duduk ke jok depan di sebelah Athar yang kemudian melajukan mobilnya.


Sepanjang perjalanan tak ada percakapan diantara keduanya, yang terdengar hanya ocehan Nana dan sesekali bernyanyi- nyanyi sendiri sembari memainkan bonekanya.


Athar yang melirik secara diam- diam, tak hentinya menebar senyum. Nampaknya ia merasa senang, karena setelah sekian lama bisa jalan bareng lagi bersama Ning yang sangat dirindukannya.


Lain halnya dengan Ning. Ia terlihat gelisah dan canggung. Ia terus melihat ke arah samping seolah menghindari agar tak bertatapan dengan Athar.


“Aduh… kok gue deg- degan gini ya…. Harusnya gue gak usah ikut pergi sama mereka… Kejadian tadi aja bikin gue malu banget….” gumam Ning dalam hati.


Setelah beberapa saat, mobil yang dikendarai Athar telah sampai di parkiran sebuah mall besar. Ketiganya pun turun, kemudian memasuki mall tersebut. Ning dan Athar menuntun Nana yang berjalan di tengah- tengah mereka.


“Tuan om…” panggil Ning berbisik.


“Iya….” sahut Athar menoleh.

__ADS_1


“Kenapa kita malah ke mall? Kan bisa pergi ke toko yang menjual alat tulis saja….” tanya Ning protes.


“Gak apa-apa… Lagian aku sudah lama tidak membawa Nana jalan- jalan …”


“Daniel… Woy… apa kabar lo?” seseorang yang berpapasan dengan Athar menyapanya.


“Richard….” Athar ternyata mengenali orang tersebut. Keduanya pun bersalaman.


“Udah lama ya kita gak ketemu… kemana aja, Bro?” tanya pria yang ternyata temannya Athar itu.


“Udah setahun ini di London sih… Besok lusa juga berangkat lagi….”


“Jadi balik lagi ke negeri tempat kuliah lo… Jangan- jangan lo udah kepincut bule, kayak Abang lo…. Hahaha….”


“Dady… Nana mau mandi bola….” Nana menarik dan menggoyang- goyangkan tangan Athar.


Athar menoleh pada Nana. “Tentu, sayang….” ucapnya tersenyum.


“Gila… Udah punya anak bini aja lo… Kapan married nya, Bro?” tanyanya melirik ke arah Ning dan Nana yang berdiri di sebelah Athar.


“Hahahaha….” Athar hanya tertawa, tanpa membenarkan atau pun membantah. Sementara Ning nampak tercengang disangka istrinya Athar oleh temannya.


“Apa- apan dia ini… bukannya bilang yang sebenarnya … Malah tertawa seolah membenarkan… Dasar emang gak berubah, tukang ngaku- ngaku….” Ning menggerutu dalam hati.


“Gue duluan ya… Cewek gue udah nungguin di bawah… Kapan- kapan kita ngopi bareng… Nomor gue masih yang lama kok….” ucapnya berpamitan.


“Ok…”


Pria yang bernama Richard itu pun beranjak pergi dengan terburu- buru. Athar, menoleh ke arah Ning. Ia mengulurkan tangannya.


Ning yang merasa heran dan bingung, menerima uluran tangan Athar dan bersalaman dengannya.


“Kok malah salaman? Tanya Athar heran.


Ning segera melepaskan tangannya. “Terus, maksudnya apa nyodorin tangan gitu?” ucap Ning protes.


“Handphone ku mana?” tanya Athar.


“Ada.. iya ada di dalam tas ku….”


“Kalau begitu, berikan pada ku….”


“Kalau sekarang gak ada….” ucap Ning.


“Apa? Tadi katanya da di dalam tas mu… Kenapa sekarang bilang tidak ada?”


“Eng … maksudnya, hape Tuan om ada di tas ku yang satunya lagi….”


“Jadi ada di drumah mu?”


“Gak ada….” Ning menggelengkan kepala.


“Astaga… Kamu itu kenapa sih, Ning… Dari tadi bicara mu gak jelas….” ucap nya heran.


“A Aku gak apa- apa, kok… Itu tas aku yang warna cream, ketuker sama tas nya Ocha… Jadi tas aku kebawa pulang sama Ocha….”


“Jadi handphone ku ada sama Ocha?”


“Iya….”


“Iya….”


Athar mendengus kesal. “Ya ampun.. kenapa gak bilang dari tadi sih, saat masih di rumah mu?”


“Orang tuan om baru nanya sekarang….”


“Tapi kan tadi_____”


“Dady ayok ihhh….” Rengek Nana menarik tangan Athar. Nampaknya ia sudah tak sabar ingin segera bermain.


“Iya, sayang….” Ucapnya lalu menghentikan perdebatan dengan Ning. Kemudian ia, Ning dan Nana kembali melanjutkan langkah mereka menuju gramedia untuk membeli peralatan sekolah yang Nana butuhkan.


Athar membiarkan Nana memilih sendiri barang yang ia inginkan. Dan ia hanya membantu membawakannya saja. Dan setelah selesai, Nana menagih janjinya untuk main mandi bola. Ketiganya pun pergi ke tempat area games.


*


“Tempat ini… Bukankah di sini tempat kami pergi bersama untuk pertama kalinya dulu….” gumam Ning dalam hati saat ia duduk di kursi panjang menunggu Nana bermain. Ia baru menyadari hal itu, padahal ia sudah hampir dua puluh menit duduk di sana. Ning tenggelam dalam lamunannya. Bayangan masa- masa itu terlihat jelas di kepalanya.


“Hei… Jangan melamun…. Nanti pingsan lagi….” Athar yang kini duduk di sebelah Ning menyenggol lengan Ning hingga membuatnya terperanjat membuyarkan lamunannya.


Secara spontan Ning bergeser agar tidak duduk terlalu dekat dengan Athar. Ia lalu menoleh ke arah si om tamvan itu. “Eng enggak… Aku gak melamun kok... Orang lagi ngawasin Nana….” Ucapnya gelagapan.


“Mana Nana nya?” tanya Athar seolah mengetes Ning.


“Itu ada lagi main di_____” Ning menunjuk ke area mandi bola, namun tak melihat keberadaan Nana. “Loh, Nana mana… tadi kan ada di situ….” Ning berdiri dan mengedarkan pandangannya.


“Hihihihi… Nana disini, momy….” Nana yang bersembunyi di belakang Athar, cekikikan melihat Ning mencari dirinya.


Ning bernafas lega. “Ya ampun, peri kecil… kirain kamu hilang….”


“Tuh kan ketahuan, kalau kamu lagi melamun… Memangnya melamunkan siapa?” tanya Athar terkekeh.


“Eng enggak kok….”Ning menyanggah. ” Eng, aku permisi mau ke toilet dulu….” ucapnya lalu beranjak pergi.


“Ning… tunggu!!!” Athar menghentikan langkah Ning.


“Ada apa?” tanya Ning menoleh.


“Jangan salah masuk toilet lagi….” Ucapnya tersenyum, lalu mengedipkan sebelah matanya.


“Apa? Maksudnya?” tanya Ning terhera- heran.


Athar tak menghiraukan Ning. Ia malah menggendong Nana. “Ayok peri kecil, kita jelajahi permainan lainnya….” Ucapnya lalu beranjak pergi begitu saja.


“Maksudnya apa dia bicara seperti itu?” gumamnya bertanya- tanya. “Argh sudahlah… dia itu memang suka sekali membuat ku kesal... Bukannya menjawab ku, malah pergi begitu saja… dasar menyebalkan!!” gerutu Ning kemudian kembali melanjutkan langkahnya untuk mencari toilet.


Seharian ini, Athar benar- benar menghabiskan waktunya bersama Nana juga Ning. Mereka pergi makan bersama, nonton, belanja, layaknya seperti ayah ibu dan anak. Ning yang awalnya merasa canggung dan grogi, lama- lama mencair dan terlihat senang menikmati kebersamaan mereka. Hingga tak terasa, mereka pulang malam.

__ADS_1


*


“Nana tidur ya….” tanya Athar melirik spion depannya.


“Iya, dia capek banget kayaknya….” Ning menoleh ke arah Nana yang tidur di jok belakang.


“Gimana gak capek, semua wahana permainan dijelajahi….” ucap Athar terkekeh.


“Terimakasih ya….” ucap Ning.


“Untuk apa?” tanya Athar.


“Eng… karena sudah mengajak aku dan Nana jalan- jalan….”


“Aku cuma ngajak Nana kok… gak ngajak kamu, yee…” ejek Athar. Namun hal itu membuat Ning merasa malu juga kesal.


“Ih, nyesel deh gue ngomong….” batin Ning kesal.


“Hahaha… Jangan cemberut gitu dong… Aku kan cuma bercanda….” Athar langsung tertawa melihat ekspresi wajah Ning.


“Udah biasa….” ketus Ning.


“Loh, kok jadi ngambek?”


“Berhenti di sini aja deh….” ucap Ning saat mobil Athar berbelok di tikungan yan tak jauh dari rumahnya.


“Loh, kenapa? Itu sebentar lagi sampai….” Athar melambatkan mobilnya.


“Itu ada dua mobil di sana… Kayaknya itu yang depan mobil Mas Igih… Nanti tuan om gak akan bisa parkir di sana… Udah aku sama Nana turun di sini aja….”


Athar pun menghentikan mobilnya. Ning membangunkan Nana dan mengajaknya turun. Ia lalu membawa beberapa tas belanjaan.


“Sini sayang, Dady gendong….” Athar hendak mengendong Nana, namun Ning mencegahnya.


“Jangan, tuan om… Eng … Maaf sebaiknya jangan antar kami ke rumah….”


“Loh kenapa? Kasihan Nana masih terlihat ngantuk gitu… Gak mungkin kan kamu gendong dia? Mana bawa tas belanjaan banyak….” Athar tak tega jika membiarkan Ning pulang sendiri.


“Aku gak mau kalau sampai Mas Igih salah paham… Ini juga kan sudah malam… Aku gak enak aja….” Ning mengutarakan alasannya.


“Tapi____”


“Aku mohon pengertiannya … Makasih ya atas semuanya….” ucapnya yang membuat Athar tak memaksa lagi. Nampaknya ia paham dengan apa yang dipikirkan Ning. Ia baru sadar jika wanita yang berdiri dihadapannya ini sudah menjadi calon istri orang.


“Baiklah….” Ucapnya pasrah. Ia lalu memeluk dan menciumi Nana yang nampak masih setengah sadar. Dengan berat hati ia membiarkan Ning dan Nana berjalan menuju rumahnya yang terhalang oleh tiga rumah dari tikungan tersebut. Ia lalu masuk ke dalam mobil, dan melajukannya setelah melihat Ning memasuki pintu pagar rumah.


Ceklek


“Darimana saja kalian? Sudah malam begini baru pulang?” baru saja Ning dan Nana melewati pintu masuk, Singgih yang duduk di kursi tamu langsung melempar pertanyaan.


“Mas Igih… Tadi Nana______”


“Maya… Bawa Nana pulang….” Singgih memberi perintah pada pengasuh Nana.


“Baik, Pak….” Ucapnya lalu menghampiri Nana dan mengajaknya pulang. Ia menggendong Nana yang terlihat mengantuk itu, kemudian membawanya keluar.


Maya masuk ke dalam salah satu mobil yang terparkir di depan. Yang kemudian mesinnya dinyalakan dan pergi meninggalkan tepat itu.


Sementara Ning, melangkah masuk dan menghampiri Singgih. Ia duduk di kursi yang berbeda yang terhalang oleh meja saja.


“Kamu tahu? Aku sangat mengkhawatirkan kalian dan sejak tadi siang aku mencari kalian kemana- mana, karena menghilang tanpa kabar dan ponsel mu gak aktif....” Singgih kembali berbicara dengan raut wajah nampak menahan amarah dan memberi Ning tatapan tajam.


“Maaf, Mas… Hape ku ada di dalam tas yang gak sengaja Ocha bawa… Jadi aku pergi tanpa membawa hape….” ucap Ning yang merasa bersalah.


“Lalu ini apa?” Singgih melemparkan tas berwarna cream ke atas meja di depan Ning.


Ning terkejut melihat tas miliknya ada pada Singgih. “Tapi tadi siang____”


“Kamu itu calon istri ku, tapi malah pergi jalan dengan lelaki lain… Dan bahkan sampai membawa putriku… Apa itu pantas hah?” Singgih mulai menaikan nada suaranya.


Deg


Ning tercengang mendengar ucapan Singgih yang seolah menuduhnya berselingkuh.


“Ya ampun… Apa dia tahu kalau tadi aku pergi bersama tuan om… Tapi tahu darimana? Aku kan gak bilang sama siapa pun, dan tadi di sini gak ada siapa-siapa juga….” gumam Ning dalam hati sembari menundukkan kepalanya.


“Kenapa malah diam? Apa kamu baru tahu jika hal yang kamu lakukan itu sangat memalukan? Bukan hanya mempermalukan mu saja, tapi juga mempermalukan ku!!”


Ning mulai merasa takut dengan kemarahan Singgih. Karena selama ini ia sama sekali tak pernah melihat hal itu. “Ma maaf, Mas… Aku gak bermaksud____”


“Lihat itu!!” Singgih melemparkan ponselnya yang tepat mendarat di paha Ning.


Dengan tangan gemetar, Ning mengambil ponsel Singgih dan melihat layar ponsel tersebut. Betapa terkejutnya ia melihat foto- foto dirinya sedang bersama Athar yang menggendong Nana sedang tertawa ceria. Namun wajah Athar tak terlihat, karena hanya tubuh bagian belakangnya saja. Dan di sana Ning terlihat seolah sedang memeluk tubuh pria itu.


Ning melihat ke arah Singgih yang masih memberinya tatapan tajam. "Mas, aku bisa jelasin… Ini gak seperti yang kamu kira…. Aku______”


“Aku mencari mu kemana- mana dan menunggu mu di sini seperti orang bodoh… Dan tenyata sedang kamu pergi bersenang senang bersama laki- laki lain!! Wanita macam apa kamu ini? Sudah punya calon suami, tapi malah berselingkuh dengan laki- laki lain dengan membawa putriku ikut dengan kalian pula!!” Singgih tak bisa menahan amarahnya.


“Aku tak menyangka, kamu bersikap seperti itu, Ning….” ucapnya dengan seru nafas gusar. Nampaknya ada rasa tak tega jika ia terus memarahi Ning yang kembali menunduk dan terlihat ketakutan seperti itu.


Singgih bangkit, lalu menghampiri Ning. Ia mengambil ponselnya dari tangan Ning dengan kasar, kemudian pergi meninggalkan Ning begitu saja.


Jebred


Singgih menutup pintu dengan sangat keras, hinga membuat Ning terperanjat. Ia masih menundukkan kepala dengan pikiran berkecamuk di benaknya. Itu kali pertamanya ia mendapat kemarahan dari Singgih, dengan tuduhan perselingkuhan pula. Hingga tak terasa, air mata pun menetes membasahi pipinya. Nampaknya ia pun merasa bersalah pada calon suaminya itu.


Ceklek


Terdengar pintu terbuka yang kemudian disertai derap langkah kaki seseorang. Ning yang masih menunduk dengan berderai air mata, tak menyadari suara itu. Hingga ada tangan menyentuh bahu kanannya.


“Ning….” ucapnya lirih. Nampaknya ia mendengar percakapan Ning dan Singgih, hingga ia merasa iba pada Ning.


-


Bersambung …


-

__ADS_1


-


Happy Reading….


__ADS_2