NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Sudah Berakhir


__ADS_3

Ning yang masih terkejut, bukannya masuk ke dalam rumah, malah berdiam diri di depan pintu dengan tatapan mengarah pada wajah orang yang menyambutnya itu.


“Kakak peri….” Tiba- tiba anak kecil yang sudah tak asing bagi Ning keluar dari belakang orang tersebut dan berlari menghampiri Ning. Ia langsung memeluk mantan pengasuh yang dirindukannya. Dan hal itu membuat Ning terkesiap, tersadar dari lamunannya.


“Nana sayang… Jangan seperti itu, Kak Ning nya kan baru sembuh… Ayok sini….” ucapnya pada sang putri.


“Eng enggak apa- apa kok, Pak Dokter….” Ucap Ning terbata- bata.


“Ayok kita masuk … di luar panas nih….” Ajak Ocha. Singgih pun memberi jalan agar keempat orang itu bisa masuk ke dalam rumah.


Ning berjalan dengan menuntun Nana untuk masuk ke dalam rumah.


“Akhirnya kamu datang juga, Ning ….” Sambutan lain pun datang.


Ning kembali dikejutkan dengan kehadiran Bu Asri dan seorang wanita yang menyajikan beberapa jenis makanan di atas meja di dalam rumahnya.


Singgih, Bu Asri, dan Ning pun duduk di kursi tamu, dengan Nana yang duduk di sebelah Ning. Nampaknya ia ingin terus menempel pada Ning, katena sudah hampir sebulan tak berjumpa dengannya.


Riko yang membawakan barang- barang Ning dari mobil, memberikan sebuah paper bag dan kemudian berpamitan pergi. Sementara Ocha dan Siti membawa barang- barang tersebut dan pergi ke belakang.


“Sebelumnya kami minta maaf sudah lancang masuk ke rumah mu tanpa izin… Nana terus merengek ingin bertemu dengan mu… Karena saat dibawa ke rumah sakit, Nana tidak diperbolehkan masuk untuk menjenguk mu….” ucap Singgih yang merasa tidak enak, karena tiba- tiba muncul di rumah Ning sebelum kedatangan sang tuan rumah.


“Gak apa- apa, Pak Dokter… jadinya kan di sini banyak makanan…. hehehe” Ocha yang barus aja kembali langsung nyamber.


“Ocha….” Ning memberinya tatapan tidak suka.


“Hehehe.” Ocha malah cengengesan.


“Maafkan teman saya, Pak … Justru saya sangat berterimakasih sama Pak Singgih dan Bu Asri… Saya jadi malu karena sudah merepotkan….” ucap Ning Mera tidak enak pula.


“Engak, kok Ning … Kami senang bisa menyambut kedatangan mu di sini… Lagi pula, kami sudah menganggap mu seperti keluarga sendiri….” ucap Bu Asri yang sepertinya masih berharap Ning menjadi pasangan putra sulungnya.


Ning tersenyum bahagia mendengar ucapan Bu Asri. Ia seolah mendapat kembali kasih sayang seorang ibu, karena sejak ia masih di rawat di rumah sakit pun, Bu Asri getol sekali menjenguk Ning. Bahkan beliau selalu membawakan Ning makanan yang hasil masakannya sendiri.


“Ning … lo mau langsung istirahat di kamar?” tanya Ocha.


“Nanti saja, Cha….” ucapnya yang merasa tak enak jika harus meninggalkan tamu yang menyambutnya begitu saja.


“Iya, Ning … kamu kan masih masa pemulihan, sebaiknya beristirahat saja ….” ucap Bu Asri.


“Nanti saja, Bu … lagian aku juga bosan dan pegal kalau berbaring terus…. “


“Kakak peri kenapa pergi lama-lama? Nana kan sedih….” Nana yang sejak menempel pada Ning, akhirnya ikut buka suara.


“Maaf ya peri cantik … Kemarin kakak nya sakit, jadi gak bisa jagain Nana lagi….”


“Mana yang sakitnya mana? Nanti kaka peri diobatin sama Papa, ya….” Nana yang terlihat cemas melihat- lihat kepala, badan hingga ke kaki Ning.


“Hehehe, sekarang sudah sembuh kok….” Ning terkekeh melihat apa yang dilakukan Nana.


“Kalau gitu kita main yuk….” ajak Nana dengan semangat.


“Nana … kakak Ning nya kan masih harus istirahat, jadi gak boleh diajak main dulu… Nana main saja sama Mbak Maya, ya.” ucap Bu Asri.


“Gak mau… Nana mau sama kakak peri….” Nana memeluk lengan Ning, seolah takut ditinggal pergi lagi oleh Ning.


“Nana… gak boleh gitu … Kan tadi sudah janji gak akan nakal saat ketemu sama Kakak Ning….” Singgih pun memperingatkan Nana.


“Gak apa-apa, Bu, Pak Singgih…. Mungkin Nana masih kangen sama saya….” Ning mengusap rambut Nana sembari tersenyum pada anak itu. Ia lalu mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan seseorang yang diharapkannya. Namun sayang, di sana tak ada siapa pun lagi.


Usai berbincang beberapa saat, Ning dibawa ke kamar oleh Ocha, dan tentunya Nana terus mengekor. Bahkan hingga sore hari pun, Nana masih menempel pada Ning dan tidak mau diajak pulang.


“Nana, sayang … ayok kita pulang… Besok kan harus sekolah,” bujuk Singgih.


“Gak mau… Nana mau bobo sama kakak peri….” Nana menolak yang kemudian bersembunyi di balik tubuh Ning yang sedang berdiri berhadapan dengan Singgih di depan pintu kamar Ning.


“Kakak nya kan masih harus istirahat… ayok kita pulang … Itu nenek sama mbak Maya sudah nunggu di mobil….”


“Gak mau!! Papa saja yang pulang….” Nana terus menolak ajakan Singgih.


“Nana, gak boleh gitu sayang … Sekarang pulang dulu, yuk… Besok pulang sekolah boleh main ke sini lagi….” Singgih terus membujuk.


“Gak mau!! Huaaaaaa….” Nana akhirnya menangis dengan memeluk Ning.


“Udah… gak apa-apa, Pak … Nana biar nginep di sini saja….” Ning tak tega melihat Nana yang menangis semakin kencang dan terus memeluk Ning dari belakang.


“Jangan, Ning … nanti dia malah mengganggu istirahat mu….”


“Gak apa-apa, Pak… Lagian di sini ada Ocha sama Siti, kok… Dari tadi juga Nana gak gangguin aku… Kasihan Pak, kalau terus dipaksa nanti di rumah bisa rewel….”


Singgih yang tak tega melihat putrinya terus menangis, akhirnya mengalah dan pulang duluan untuk mengantarkan ibunya. Ia meninggalkan Nana bersama pengasuhnya, Maya di rumah Ning.


*


Malamnya Singgih datang kembali untuk menjemput Nana yang kebetulan sudah tidur lelap. Nampaknya anak itu kelelahan setelah seharian menemani Ning. Tentunya hal itu lebih memudahkan Singgih membawa Nana pulang tanpa harus memaksa putrinya yang mendadak manja itu.


“Saya minta maaf, jadi merepotkan….” Ucap Singgih merasa tak enak hati.


“Gak apa-apa kok, Pak … Saya justru senang bisa ketemu lagi sama Nana….”


“Kalau gitu saya pamit pulang, takutnya kemalaman…."


“Iya, Pak….”


“Selamat beristirahat, jangan lupa minum obat nya… Dan kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungi saya….”


“Hehehe … Iya, Pak … terimakasih banyak atas semuanya….”


Ning yang mengantarkan Singgih bersama pengasuh baru Nana sampai depan pintu, terus memandangi mereka hingga masuk ke dalam mobil.


Singgih pun melajukan mobilnya untuk pulang.


“Cie… dilihatin terus… Mobilnya udah gak ada, Bu….” goda Ocha menyenggol lengan Ning.


“Apaan sih lo, Cha….” Ning menyangkal, kemudian ia menutup pintu dan menguncinya.


“Ternyata Pak dokter ganteng itu perhatian banget sama lo, ya….” Ocha ternyata menguping pembicaraan Ning dan Singgih


“Perhatiaan apaan sih? Orang dia cuman ngingetin istirahat sama minum obat aja… Itu kalimat lumrah yang biasa diucapkan setiap orang yang menjenguk orang sakit kali….” Ning berjalan, lalu duduk di kursi.


“Halah… lo gak tahu aja, itu dokter ganteng beberapa kali jengukin lo yang lagi koma saat di rumah sakit….” Ocha pun ikut duduk di kursi lainnya.


“Hah? Masa sih?” Ning nampak tak percaya.


“Seriusan… emang lo lupa apa, gue kan pernah bilang kalau cowok ganteng datang silih berganti jengukin lo….”

__ADS_1


“Emangnya siapa aja?” ucap Ning baru menanyakan hal itu.


“Si akung dokter ganteng, Pak Riko juga kan ganteng, terus orang asuransi ganteng juga euy… Dan satu lagi sudah umuran sih, tapi dia datang sama istrinya… Yang gak gue nyangka, si Rifat juga jengukin lo….” Ocha mengabsen orang- orang yang datang menjenguk Ning.


“Hah? Rifat? Darimana dia tahu kalau gue dirawat di rumah sakit?” Ning tak menyangka mantan gebetannya juga menjenguknya.


“Mana gue tahu….” Ocha mengedikkan bahu.


“Emm… Apa ada lagi selain mereka?” tanya Ning penasaran dan penuh harap.


“Eng … gak ada deh kayaknya.. Tapi gak tahu deh kalau pas gue pulang, atau saat gue gak datang ke rumah sakit….”


“Oh… gitu ya….” ucap Ning nampak kecewa.


“Emang kenapa sih?” Ocha mulai kepo.


“Eng enggak apa- apa kok….” Sanggah Ning yang ternyata masih ingin menyembunyikan suatu hal dari sahabatnya.


“Eh tunggu … by the way anyway busway… Pacar lo yang dikatakan Siti, kok kayaknya gak nongol nongol saat lo koma?” Ocha nampaknya bisa membaca pikiran Ning yang memang sebenarnya ingin mengorek info tentang Athar.


“Hah? Emangnya lo tahu gitu orangnya yang mana?” Ning malah balik bertanya.


“Gak tahu….” Ocha menggelengkan kepala.


“Mungkin aja dia datang pas lo lagi gak ada di rumah sakit atau pas lo udah pulang….” Ning berdalih.


“Bener juga sih… Tapi, dua minggu kemaren juga gue gak pernah lihat pacar lo itu….” Ocha semakin kepo.


“Dia lagi sibuk kerja….”


“Yaelah, sesibuk- sibuknya tuh orang, masa iya gak pernah jengukin pacarnya….” Ocha memperlihatkan ketidak sukaannya.


“Gue masih komunikasi ko sama dia….” Ning seolah melindungi Athar yang tak ingin dinilai buruk oleh Ocha.


“Terus, apa dia tahu kalau hari ini lo pulang dari rumah sakit? Jemput kek, atau gak nyambut lo di sini, apa kek gitu… Buat nunjukin perhatiannya sama lo….”


Ning tertegun, perkataan sahabatnya itu memang ada benarnya. Athar bahkan belum menghubunginya sama sekali sejak kemarin malam. Namun nampaknya ia enggan menjelaskan hubungannya dengan Athar yang sebenarnya hanya sebatas pacar pura- pura.


“Ning ….” Ocha menepuk lengan Ning.


“Iy iya….” Ning terkesiap.


“Lo lagi mikirin cowok lo ya….” tanya Ocha menebak.


“Eng enggak kok….” Ning menyangkalnya.


“Gue heran… cowok lo itu sebenarnya beneran cinta gak sih sama lo?” Ocha nampaknya mulai kesal.


Ning menundukkan kepalanya. Ia menghela nafas panjang, lalu bangkit dan beranjak pergi meninggalkan Ocha tanpa satu patah kata pun. Karena memang ia sendiri tak tahu harus menjawab apa.


Ning masuk ke dalam kamarnya. Ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Terlihat jelas rasa lelah di raut wajahnya, namun bukan lelah raganya melainkan lelah hati dan pikirannya yang sejak pagi hanya tertuju pada Athar.


Diambillah ponsel miliknya. Namun ia tak melihat ada notifikasi pesan atau pun panggilan masuk di layar ponselnya.


“Tuan Om … kau dimana? Kenapa kau selalu memporak porandakan perasaan ku….?” Ucapnya lirih dengan menitikkan air mata. Ia hanya bisa membaca dan mendengarkan ulang pesan suara yang dikirimkan oleh Athar.


Ia meletakan ponsel di sebelahnya. Ia berbaring menyamping sembari menatap ponsel itu.


“Kenapa cinta bisa membuat ku jadi orang bodoh dan tolol seperti ini, sih?”Ning menggerutuki dirinya sendiri. Ia membuang nafas kasar dan menghapus jejak air matanya.


“Mungkin aku terlalu berharap pada nya….” Lirihnya sedih. Ia pun memejamkan mata yang kemudian membawanya tidur. Sepertinya itu lebih baik dibanding ia terus memikirkan Athar.


**


Ning yang hendak mengerjakan pekerjaan rumah, dilarang keras oleh Ocha dan Siti yang menginap di rumah Ning. Keduanya mengingatkan Ning, jika ia tak boleh mengerjakan pekerjaan berat hingga beberapa bulan ke depan sesuai yang dikatakan dokter dan suster saat di rumah sakit.


“Siti… kayaknya kamu gak pernah pulang ya selama aku di rawat di rumah sakit?” ucap Ning yang baru selesai meminum obatnya sambil duduk di kursi ruan tamu.


“Iya, Non….” angguk Siti mengambil nampan dari atas meja.


“Sekarang kan saya sudah sehat, tinggal kontrol rutin ke dokter saja… Jadi kamu sudah boleh pulang….”


“Maksud Nona, saya dipecat gitu?” Siti nampak terkejut.


“Hah? Dipecat? Bukannya kamu disuruh menjaga saya selama di rumah sakit saja?” ucap Ning terheran- heran.


“Saya dipekerjakan untuk menjaga Nona sampai nona benar- benar sembuh… Saya mohon nona jangan pecat saya ya… Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk menghidupi orang tua dan adik saya di kampung….” ucap Siti memohon.


“Tapi … saya saja pengangguran yang gak punya penghasilan… Bagaimana saya bisa menggaji kamu, Siti?”


“Nona gak usah khawatir, karena Pak Riko yang mengaji saya… Bahkan beliau memberikan saya uang untuk membeli kebutuhan sehari- hari di rumah ini… Itu isi kulkas sama lemari di dapur saja sudah dipenuhi banyak makanan….”


“Apa? Pak Riko?” tanya Ning terkejut.


“Iya, Nona… Jadi tolong jangan pecat saya ya Nona… Saya mohon ….”


Ning tak bisa berkata apa pun lagi. Ia tenggelam dalam pikirannya. Ia tahu betul, apa yang dilakukan Riko pastilah atas perintah Athar.


“Tuan om … Kau melakukan semua ini untuk ku, meski aku tidak tahu kau berada dimana… Tapi, bukan ini yang aku inginkan… bukan ….”gumam Ning dalam hati dengan tatapan kosong.


“Kakak peri….” teriak Nana yang baru masuk ke dalam rumah.


Ning membuyarkan lamunannya. Ia berdiri dan menyambut kedatangan Nana yang ternyata bersama Singgih. Sementara Siti pergi ke belakang membawa nampan berisi gelas kosong serta obat Ning.


“Loh, Nana kok pagi- pagi sudah ke sini? memangnya gak sekolah?” tanya Ning heran saat Nana sudah berdiri di sebelah Ning.


“Sejak bangun tidur dia terus menangis karena tidak menemukan keberadaan mu… Makanya sebelum berangkat ke sekolah, Nana minta ke sini dulu….” ucap Singgih yang kemudian duduk di kursi lainnya.


“Uluh- uluh kasihan… Sini kakak peluk peri cantik nya….” Ning merentangkan tangan, dan Nana pun memeluknya. Kemudian keduanya duduk di kursi.


“Kapan kontrol lagi?” tanya Singgih.


“Besok, Pak… Dokter bilang saya harus kontrol tiga kali dalam seminggu….”


“Sampai beberapa bulan ke depan, sebaiknya jangan melakukan pekerjaan berat… Makanlah makanan yang bergizi dan usahakan rendah lemak, jangan makan pedas dulu dan perbanyak minum air putih….” ucap Singgih yang nampaknya mulai memberi perhatian pada Ning.


“Iya, Pak Dokter…. Hehehe,” Ning tersenyum canggung.


“Nana sayang … ayok kita ke sekolah dulu, itu Mbak Maya sudah menunggu di luar….” ajaknya pada sang putri.


“Gak mau!!” tolak Nana tegas.


“Eh, tadi kan sudah janji kalau sudah ketemu kakak, Nana akan langsung ke sekolah….”


“Peri cantik sekolah dulu ya, nanti pulangnya boleh main ke sini lagi….” Ning ikut membujuk.

__ADS_1


“Tapi tapi, nanti kakak peri pergi lagi sama kayak Dady….” ucap Nana nampak takut ditinggalkan.


“Kakak gak akan kemana- mana kok, kan masih sakit….” ucap Ning.


“Kalau gitu Nana mau jadi suter aja buat jagain kakak peri….”


“Kan sudah ada Kak Ocha sama Kak Siti yang jagain kakak … Nana katanya mau jadi dokter seperti papa, berarti Nana harus sekolah yang rajin biar pintar… Nana nanti jagain kakak nya setelah pulang sekolah aja ya….” bujuk Ning.


“Iya,” Nana pun menganggukkinya, ia lalu digendong oleh Singgih yang kemudian berpamitan pada Ning untuk mengantarkan Nana ke sekolah.


Ning masuk ke dalam kamar nya. Ia melihat layar ponsel yang masih belum ada pesan atau pun panggilan dari Athar. Bahkan pesan darinya pun hanya satu contreng, yang menandakan jika nomor kontak itu tidak aktif. Akhirnya ia memberanikan diri menelpon Athar, namun sayang nomornya masih tidak aktif.


Diambilah tas dari lemari bajunya. Mengingat ia akan melakukan control esok, ia mengecek uang yang ada di dalam dompetnya. Dan saat ia membuka resleting dompetnya, ternyata uang nya masih ada. Namun setelah dihitung, jumlahnya lebih banyak dari sebelumnya setelah ia mengambil uang dari atm terakhir kali sebelum sakit.


“Perasaan dulu ngambil uang cuman lima ratus ribu… Kok ini ada lima juta? Masa iya uang ku beranak pinak dibiarkan selama sebulan….”Ning yang merasa aneh, malah berpikiran konyol.


Ceklek …


“Ning, gue pulang dulu ya… nanti kalau lo butuh apa- apa, telpon aja….” ucap Ocha.


“Cha, tunggu !!” Ning memasukan kembali dompet ke dalam tas nya, lalu menghampiri Ocha yang berada di ambang pintu.


“Ada apa?” tanyanya.


“Kok uang gue di dompet jadi banyak sih? Apa lo yang nambahin?”


“Kaga… gue gak pernah buka- buka tas atau dompet lo saat di rumah sakit… Coba tanya sama Siti….”


“Eng, gak usah deh… Kayaknya gue udah tahu ini ulah siapa….” ucap Ning.


“Ulah cowok lo yang tajir itu ya….” Ocha seolah bisa membaca pikiran Ning


“Heh….” Ning hanya tersenyum simpul.


“Elo mau kemana udah bawa tas gitu?” tanya Ocha pada Ning yang masih memegang tas ditangannya.


“Gue Cuma mau ngecek uang aja buat control besok….”


“Ngapain pake duit, lo kan udah punya kartu asuransi….” ucap Ocha.


“Hah? Kartu asuransi?” Ning terkejut.


“Iya, kan kemarin gue bilang saat lo koma ada orang asuransi datang ke rumah sakit…. Katanya disuruh Pak Daniel untuk mengurus admnistrasi lo di rumah sakit gitu deh, gak paham gue masalah begituan… Gila ya, setajir apa sih cowok lo sampe bisa nyuruh manager perusahaan asuransi datang langsung ke rumah sakit….” Cerocos Ocha geleng- geleng kepala.


“Jadi dia juga memberikan ku asuransi untuk berobat….” gumam Ning dalam hati.


“Heh, lo ngelamun mulu….” Ocha menepuk lengan Ning. “Udah ah gue pulang ya, ntar emak gue bisa ngamuk ke sini, lagi….” Ocha pun beranjak pergi meningalkan Ning yang diam mematung di ambang pintu.


**


Satu bulan telah berlalu.


Ning yang masih rutin melakukan kontrol ke rumah sakit, tetap tak pernah mendapat kabar dari Athar. Bahkan Riko sang asisten pribadi Athar pun ikut menghilang dan Siti juga sudah tak bisa menghubunginya sat diminta bantuan oleh Ning. Hingga akhirnya Ning tak bisa mengorek informasi tentang Athar dari siapa pun. Ia juga tak berani mencari Athar ke kantor, ke apartment atau pun ke rumah nyonya besar yang dulu merupakan tempat bekerjanya.


Beruntung, Nana hampir setiap hari selalu datang yang membuatnya bisa terhibur. Jika Singgih pulang kerja sore, ia akan menjemput Nana dan sekalian ngobrol ringan bersama Ning. Namun jika pulang kerja nya malam, Nana akan diantar jemput oleh sopir seperti biasanya.


Melupakan, mungkin itulah jalan terbaik bagi Ning. Kini ia harus menguatkan dirinya sendiri, dan hidup tanpa bayang- bayang atau pun mengharapkan om tamvan nya lagi.


“Siti, tas ini punya siapa ya?” tanya Ning yang membawa paper bag di tangannya dan menghampiri Siti yang sedang membersihkan meja di ruang tamu.


“Loh, kirain itu punya nona….” Siti malah heran.


“Bukan… ini bukan punya ku... Tadi aku gak sengaja lihat ini di pojokan dalam lemari gantungan pakaian….”


Siti memperhatikan paper bag itu, nampak mengingat- ingat. “Oh iya … Kalau ga salah, tas itu kan dibawakan sama Pak Riko saat nona pulang dari rumah sakit….”


“Ning… gile bener… Lo bilang uang lo paling hanya belasan juta aja… Ini kok setelah gue ambil sejuta, saldonya masih ada 117 juta lagi….” Ocha yang tiba- tiba datang mengagetkan Ning dan Siti.


“Hah? Gak mungkin, Cha… Lo salah lihat kali….” Ning tak percaya.


“Nih lo baca sendiri….” Ocha memberikan struk pengambilan, dimana disana tertera juga saldo dalam rekening Ning. Dan benar saja, jumlah saldonya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Ocha, beda dikit doang.


Ning yang terkejut membekap mulutnya sendiri, hingga tanpa sengaja ia menjatuhkan paper bag yang dipegangnya sejak tadi.


Pluk…


“Eh, apaan tuh….” ucap Ocha sat melihat isi paper bag yang berhambur di lantai. Ia lalu mengambil benda itu. “Ini kayaknya surat- surat penting ya….” Ocha memperhatikan seksama benda yang dipegangnya. Mata Ning pun tertuju pada benda di tangan Ocha itu.


“Apa itu?” tanya Ning yang masih dengan raut wajah terkejut.


“Nih, lo lihat aja sendiri….” Ocha memberikannya pada Ning.


Ning menerima kedua benda tersebut. Dimana yang satu sebuah map nampaknya berisi dokumen, sedangkan yang satunya lagi sebuah amplop. Ia lalu duduk dan membuka map tersebut.


“Hah… ini kan____” Ning tak melanjutkan ucapannya dan ia langsung beralih pada sebuah amplop dan membukanya.


Ternyata di dalamnya terdapat sepucuk surat. Ia membuka lipatan surat tersebut, kemudian membacanya dengan seksama. Sementara Siti dan Ocha hanya memperhatikan Ning sembari berdiri.


Ning membekap mulutnya, bersamaan dengan jatuhnya air mata yang membasahi pipinya. Selembar surat itu pun dibiarkannya melayang jatuh ke lantai.


“Semuanya sudah berakhir… Semuanya sudah berakhir, huaaaaaaa…. Huaaaaa….” tangisnya seketika pecah. Ocha dan Siti pun terkejut dibuatnya. Mereka segera menghampiri dan duduk di sisi- sisi Ning.


“Ning lo kenapa?” tanya Ocha cemas, namun Ning tak menjawab. Ia menangis sejadi- jadinya.


-


-


------------ TBC----------


******************


-


-


-


Happy Reading….😉


-


-


Monmaaf monmaaf baru bisa up lagi,,, seminggu kebelakang Eceu nya cibuk telus….🙏🙏

__ADS_1


Tilimikicih selalu seta menantikan kisah Ning yang selalu up nya lama…. Hehehe🤭😉😘


Aylapyu all aylapyu pul pokona mah…. 😘😘😘😘😘😘


__ADS_2