NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Bagiku Itu Sangat Penting....


__ADS_3

Eh, Diasri….” sapa Ning ramah.


“Ngapain kamu di sini? kayak abis dari kamar Oma, ya?” Diasri kembali mempertanyakan keberadaan Ning di rumah itu.


“Iya… Eng, aku permisi dulu… Mau bawa ini ke dapur, Nyonya Andini minta makanan yang masih hangat…” ucapnya lalu beranjak menuruni tangga meninggalkan Diasri yang masih terheran- heran melihat keberadaan Ning disana.


“Ih, kok dia gak jawab sih… Gak mungkin ‘kan kalau dia jadi pelayan baru di rumah ini? Masa iya calon istrinya Om Singgih jadi pelayan,” gumamnya yang kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Nampaknya ia belum mengetahui apa yang sedang terjadi di rumah itu.


Sementara Ning yang merasa lega bisa menghindari pertanyaan Diasri, tengah berjalan menuju dapur yang tentunya ia sudah hafal dimana tempatnya.


Para pekerja yang kebetulan ada di dapur serta bascame pelayan, dibuat terkejut sekaligus heran dengan kedatangan Ning.


Ternyata mereka masih ingat pada mantan pengasuh mendiang Dino. Bagaimana tidak, Ning satu- satunya pegawai di rumah itu yang beberapa kali membuat masalah. Dan dialah orang yang berani membawa Dino keluar rumah sampai cucu kesayangan Nyonya Andini itu masuk rumah sakit.


Namun ada yang berbeda dari penampilannya. Dulu Ning setiap hari memakai seragam yang sama dengan para pelayan di rumah itu. Tapi sekarang, ia nampak lebih rapi, cantik, manis dan anggun meski hanya memoles wajahnya dengan makeup tipis.


“Loh, bukannya kamu ini Ning?” tanya kepala pelayan yang menghampiri Ning.


“Iya, Pak….” Angguk Ning tersenyum ramah.


“Sedang apa kamu di sini? dan itu____” Ia menatap heran, saat melihat nampan di tangan Ning.


“Nyonya Andini tidak mau makan ini karena sudah dingin, jadi beliau ingin mengganti makanannya….” Ning melirik nampan yang masih berada ditangannya.


“Ya ampun, jadi yang ini juga tidak dimakan?”


“Iya….”


“Padahal itu sudah makanan ke- empat yang kami sajikan, setelah makanan lainnya dibiarkan sampai dingin dan tidak ada yang disentuh….”


“Iya, Pak… sebaiknya disiapkan secepatnya, mumpung Nyonya sudah bersedia makan….” usul Ning.


“Ya, kau benar… Beliau tidak suka menunggu lama, dan makanannya harus hangat… sebentar, aku minta koki untuk memasaknya ulang….” Ucapnya lalu meminta pelayan untuk mengambil alih nampan yang ada di tangan Ning. Kepala pelayan itu pun pergi menuju tempat koki yang sedang memasak diikuti oleh Ning.


-------------


“Athar… mau kemana kamu?” tanya Nyonya Andini saat Athar baru bangkit dari duduknya. “Tolong pijat kaki Mami, pegal sekali rasanya….” ucapnya yang kemudian memberi isyarat pada Rosmala agar berhenti memijat kepalanya.


Athar kembali duduk. Ia tak menolak, karena ingat dengan ucapan kekasihnya saat di mobil tadi. ia menyentuh kaki Nyonya Andini dan mulai memijatnya dengan perlahan.


“Ck… Mami manja sekali….” ejek Dandy.


“Diamlah… apa kau ingin kusuruh memijat juga?”


“Engak ah, biar anak kesayangan Mami aja tuh yang mijat… Aku keluar dulu ya… Jangan lupa makan dan minum obatnya….” ucapnya lalu melangkah pergi.


“Hummm…” Nyonya Andini hanya mengangguk, ia beralih pada Rosmala yang duduk di sebelahnya.


“Ros, kau boleh pergi… Sudah ada Athar ini disini… Sebentar lagi ‘kan suami mu pulang….”


“Baiklah… Kalau Mami butuh apa- apa, panggil Ros saja….”


“Iya….” angguknya.


Rosmala pun beranjak pergi meninggalkan ibu dan anak itu berdua di dalam kamar. Ia paham jika mereka memang perlu bicara berdua dari hati ke hati. Mungkin saja Nyonya Andini yang angkuh dan keras itu bisa melunak, mungkin.


“Aku minta maaf….” ucap Athar menunduk sembari memijat pelan kaki ibunya.


“Untuk?” tanya Nyonya Andini heran.


“Kemarahan ku tadi siang….” Ucapnya lagi yang hanya berfokus pada kaki ibunya.


Nyonya Andini tersenyum ketir. “Hanya untuk itu saja?”


“Hummm….” Athar mengangguk dengan wajah datar.


“Ck… Baiklah… Apa mau mu?”


“Mami sudah tahu, bukan?”


“Untuk apa membawanya kemari? Kau tahu di sini ada Nadira… Apa kau tidak memikirkan perasaanya?”


“Apa Mami peduli dengan perasaanku?” ucapnya bertanya balik. Bibirnya mengulas senyum, meski sebenarnya ada rasa sakit yang menusuk di ulu hatinya. Tentu saja, hati siapa yanga tak akan sakit, jika ibu kandungnya sendiri lebih memikirkan perasaan orang lain ketimbang anaknya sendiri.


“Mami hanya ingin melakukan yang terbaik untuk mu….”


“Ya ya ya… terbaik menurut Mami….” ucapnya dengan santai tanpa menghentikan pergerakan tangan di kaki ibunya.


“Lebih baik sakit sekarang, daripada nanti- nanti lebih sakit….”


“Aku sudah sembuh….”


“Sembuh?” Nyonya Andini mengerutkan keningnya.


“Ya… penyakit aneh ku sudah sembuh….”


“Tidak usah mengarang hanya demi bisa bersama gadis itu!!”


“Mami lupa, kalaubpenyakit itu datang karena trauma? tentu saja itu bisa disembuhkan... Kalau tak percaya tanyakan saja pada Nadira… Selama setahun ini aku melakukan terapi pada beberapa dokter dari berbagai negara….”


“Lantas, kenapa saat kepulangan mu dua bulan lalu penyakitmu itu kambuh lagi…. Dulu sudah puluhan kali kau melakukan pengobatan disini, tapi tak pernah berhasil....”


“Tapi sekarang sudah sembuh total….” ucapnya yakin.


“Haruskah aku percaya?” Nyonya Andini masih tak percaya.


“Sepertinya Mami tak mengharapkan ku sembuh….”


Nyonya Andini menghembuskan nafas kasar. “Ibu mana yang tak ingin anak nya selalu dalam keadaan sehat dan bahagia….”


“Ada … Mami- lah orangnya….” ucapnya terkekeh.


“Athar!! berhentilah bersikap kekanak- kanakan….” Sentaknya mulai kesal.


“Mami yang menganggap ku masih anak- anak… Aku sudah dewasa, Mi… Bisa memilih jalan hidupku sendiri….” Athar masih dalam mode santai.


“Harus berapa kali Mami bilang, semua itu demi kebaikan mu….”


“Kebaikan macam apa, Mami? Memaksa ku menikahi wanita yang sama sekali tidak aku cintai? Bahkan wanita itu pun mencintai orang lain….” Ucapnya menggeleng dan menyungging senyum.


“Jangan menuduh Nadira yang tidak- tidak!!”


Athar berhenti memijat. Ia menghela nafas panjang, kemudian menatap kedua manik ibunya.


“Kenapa aku tidak diberi hak yang sama dengan kedua kakak ku, Mi?” ucapnya lirih.


“Athar….”


“Mereka bebas memilih pasangan hidup yang mereka cintai, kenapa aku tidak? Salah ku apa, Mami?”


Nyonya Andini membuang muka, nampak menghindari tatapan sang anak.


“Lebih baik kau terluka sekarang… Mami tidak ingin suatu saat nanti kau akan lebih terluka….”


“Kenapa? Aku sudah bilang aku sudah sembuh, Mami… Ning tidak akan membahayakan ku lagi….”


“Bukan perkara itu saja, tapi___________”


Tok tok tok


Suara ketukan pintu menghentikan pembicaraan mereka.


Ceklek

__ADS_1


“Lancang!! Aku belum menguzinkan mu masuk….” Bentak Nyonya Andini dengan tatapan tak suka


“Maaf calon mami mertua, aku takut anda menunggu terlalu lama makanannya….” ucap Ning so polos yang kemudian menghampiri dengan membawa nampan berisi semangkuk sup panas, sepiring potongan buah semangka, beserta air putih hangat.


“Maaf, Ini di taruh dimana ya?” tanya Ning dengan sopan.


“Biar aku saja… “ Athar berdiri, lalu mengambil alih nampan itu dari tangan Ning. “Terimakasih, sayang….” Ucapnya lalu membawanya menuju sebuah meja kaca bundar kecil terdapat dua kursi di kedua sisinya. Sepertinya itu meja khusus makan untuk Nyonya Andini.


“Makan dulu, Mami… Mumpung masih hangat….” Ucapnya lalu menghampiri mami-nya. Ia membantu Nyonya Andini berdiri dan memapahnya menuju meja makan tersebut. Beliau pun duduk di salah satu kursinya.


“Duduk!!” titahnya pada sang putra. Athar melirik ke arah Ning yang memberi anggukan padanya. Ia pun duduk di kursi satunya lagi.


“Apa ini?” tanyanya saat melihat isian mangkuk tersebut.


“Itu sup kesukaan anda, Mami mertua….”


“Berhenti memanggilku seperti itu!!”


“Memanggil apa?” tanya Ning nampak ingin menggoda sang calon mertua.


“Itu yang kau katakan?”


“Iya, apa?”


“Tak usah berlaga bodoh!!”


“Wow… satu nilai plus ku… Mami mertua mengakui kepintaran ku….” Ucap Ning tersenyum lebar.


“Cih, siapa yang mengatakan kau pintar?!”


“Mami mertua sendiri loh… Tadi kan bilang aku jangan berlaga bodoh, berarti aku pintar….”


Nyonya Andini mendengus kesal. Tatapan tajam begitu menghunus bagai ujung belati yang runcing dan siap menusuk mata gadis yang tak berhenti mengulas senyum padanya.


“Jangan menatap ku seperti itu, Mami mertua… Nanti naksir terus bakal sayang banget sama aku….” goda Ning.


“Cih… tak sudi!!” decihnya membuang muka.


“Hehehe… Mami mertua suka malu- malu gengsi gitu deh…” ucapnya terkekeh geli. “Oh iya, sebenarnya Mami mertua itu sudah menyayangiku dari dulu….”


“Membual saja semau mu….”


“Buktinya Mami mertua mempekerjakan Siti untuk merawat dan menjaga ku paska operasi… Bahkan Mami mertua sangat memperhatikan asupan makanan ku, agar aku memakan makanan sehat, iya ‘kan? Kalau bukan karena sayang apa dong namanya?”


“Enyahlah dari sini!! Kau membuat selera makan ku jadi hilang!!”


“Baiklah, selamat makan Mami mertua….” Ning hendak melangkah, namun mengurungkan niatnya.


“Sudah ku bilang jangan memanggilku seperti itu….” Nyonya Andini nampak makin kesal dengan panggilan yang Ning lontarkan padanya.


“Gak apa-apa ‘kan, biar Mami mertua terbiasa mendengarnya… Sekaligus aku membiasakan diri….”


“Ck… memangnya tidak ada laki- laki lain lagi yang bisa kau jerat… Kenapa memilih anakku? Dia itu lebih pantas jadi Paman atau bahkan ayah mu!!”


“Mau bagaimana lagi? Anak mami mertua itu sangat mencintaiku, kasihan 'kan kalau cintanya bertepuk sebelah tangan karena tak dibalas…”


“Apa Singgih tidak cukup untuk mu?!”


Ning menghela nafas sejenak. “Mami mertua… Seandainya dua bulan yang lalu putramu ini tidak pulang dari London, pasti sekarang ini aku akan mempersiapkan pernikahan ku dengan Mas Igih….” ucap Ning dengan santainya, tanpa me.eperdulikan delikan sang kekasih.


“Apa? Kau malah menyalahkan Athar atas kandasnya hubungan mu dengan Singgih…” Nyonya Andini nampaknya terima.


“Sttttt… Jangan bilang- bilang ya… Putra mu yang sudah om- om ini mendatangi ku dan mengungkapkan perasaannya yang selama setahun lebih dipendamnya… Dia bahkan sampai menyekap ku di apartment nya agar aku menerima cintanya… Mami mertua akan sangat terkejut dengan apa yang dia lakukan pada ku di apartment nya….” Ucap Ning dengan suara dipelankan.


Nyonya Andini membulatkan matanya, begitu juga Athar. Keduanya memberi Ning tatapan tajam. Sementara gadis itu malah tersenyum memperlihatkan barisan giginya. Nyonya Andini beralih menatap Athar.


“Apa itu benar?” Nyonya Andini ingin memastikan, bertanya pada Athar.


“Athar!!” pekik Nyonya Andini.


“Ekhem… Iya itu benar….” aku Athar.


“Memalukan!!”


“Tuh kan, mami mertua dengar sendiri… Jadi jangan menyalahkan ku, karena memutuskan hubungan dengan Mas Igih… Selain karena putramu, Mas Igih itu masih sangat mencintai mendiang putri mu….” Ucap Ning dengan santainya.


Nyonya Andini hendak memaki Ning, namun Athar segera menghentikannya.


“Mami… Nanti sup nya keburu dingin, lebih baik segera dimakan….” ucapnya menyajikan semangkuk sup di atas meja tepat di depan beliau.


Nyonya Andini mendengus kesal. Ia memutus tatapannya pada Ning. Pandangannya tertuju pada sup.


“Aku tidak mau makan sup ini!”


“Mami… Ayolah, jangan bertingkah seperti anak kecil… Mami sudah membuang sia- sia makanan sebelumnya… mubazir….” bujuk Athar.


“Mami tidak mau makan mengunakan mangkuk ini… Ganti mangkuknya dengan mangkuk keramik yang di desain khusus dari Jerman!!” ucapnya menoleh pada Ning.


Athar hendak protes, namun Ning segera menyambar.


“Asiapp, Mami mertua….” Ning mengangkat tangan memberi hormat bendera pada Nyonya Andini. Ia mengambil mangkuk berisi sup tersebut, kemudian bergegas keluar untuk mengganti mangkuknya.


Selang beberapa saat, Ning kembali dengan membawa nampan berisikan semangkuk sup hangat dengan menggunakan mangkuk sesuai permintaan Nyonya Andini.


“Silahkan, Nyonya….” Ning menyajikan sup itu di meja depan Nyonya Andini.


“Mami sudah bisa makan ‘kan sekarang….” ucap Athar.


“Hmm… Tapi Mami gak mau minum air putih….”


“So?” tanya Athar.


“Ganti dengan teh camomile!!”


“Mami….” Athar mulai geram.


“Gak apa- apa, sayang… Tenang aja… Cuma teh doang kok….”ucapnya mengedipkan sebelah matanya. ia mengambil segelas air putih tersebut, kemudian bergegas pergi.


Tak lama, Ning kembali lagi dengan membawa secangkir teh camomile hangat permintaan calon mertuanya itu.


Dan ternyata tak sampai di situ. Nyonya Andini dengan sengaja menjatuhkan sendoknya, hingga meminta Ning mengganti dengan sendok yang bersih. Sekembalinya Ning, ia tak hentinya mengerjai Ning sampai gadis itu harus bolak- balik ke dapur dan ke kamar itu.


“Cukup Mami!! Ning calon istriku, bukan pelayan!!” Athar geram melihat kelakuan Maminya yang memperlakukan Ning bagai kacung.


“Kamu kenapa sih? Dia nya juga mau- mau saja… kenapa kamu yang sewot?” cibir Nyonya Andini.


“Mam_____”


“Gak apa-apa kok, sayang…. Jangan suka marah- marah ahh, nanti banyak keriput loh… Aku dikira nikah sama bapak- bapak, ntar….” Ning coba memenangkan Athar yang hendak meledak.


Athar bangkit, lalu mendekat pada Ning yang berdiri di dekat Nyonya Andini.


“Silahkan Mami makan dengan tenang, aku pamit pergi….” Athar sudah tak tahan berada di kamar ibunya.


“Ayok, sayang….” Ucapnya melingkarkan tangannya di pinggang Ning, lalu mengajaknya pergi meninggalkan kamar itu.


“Athar!!” bentak Nyonya Andini, namun tak dihiraukan oleh sang putra. Ia malah melanjutkan langkahnya, dan beranjak keluar setelah membuka pintu.


Setelah menutup pintu, Athar membungkuk. Dan tak disangka ia menggendong Ning ala bridal style.


“Hei, kamu apa-apaan sih? Kenapa menggendongku seperti ini?” protes Ning yang terkejut dengan ulah sang kekasih. “Turunkan aku!!”


Bukannya menurunkan Ning, Athar malah melangkahkan kakinya menuju tangga.

__ADS_1


“Hei, trurunkan aku ih… Malu dilihat orang- orang!!” Ning berontak minta diturunkan


“Diamlah sayang, jika tidak kita berdua bisa jatuh dari tangga ini….“ ucapnya mulai menuruni tangga. Ning pun tak berontak lagi, ia mengalungkan tangannya pada tengkuk leher Athar.


“Kita mau kemana? Kenapa malah meninggalkan mami mu sendiri… Dia belum makan loh….” tanya Ning pada Atharvyang terus melangkahkan kakinya.


“Dia bukan bayi, pasti bisa makan sendiri….”


“Aku ‘kan sudah bilang tadi, supaya kamu baik- baikin mami- mu….”


“Aku kurang baik apa sayang, dari tadi menahan diri untuk tidak murka melihat mu diperlakukan seperti pelayan….”


“Namanya juga lagi berjuang mendapatkan restu….”


“Tanpa restu Mami juga aku pasti akan menikahi mu….”


“Gak mau! Pokoknya sebelum mendapat restu Nyonya Andini, aku gak akan pernah mau nikah sama kamu…."


Athar mendengus kesal. Perlahan ia menurunkan Ning dan mendudukkan gadisnya itu di atas kursi panjang yang berada di taman samping rumah megah itu. Athar berlutut, ia menyentuh kaki Ning.


“Eh, kamu mau apa?” kaget Ning.


“Kaki mu pasti pegal, tadi bolak- balik dapur- kamar Mami….”


“Enggak kok….” Ning langsung berdiri.


“Enggak gimana? Mami menyuruh mu ke dapur sampai lima kali, pastinya kamu naik turun tangga ‘kan?”


“Enggak kok….” Ning menggeleng.


“Hahahaha… jangan bilang kalau kamu bisa terbang… Sudah sini duduk lagi, biar kaki mu ku pijat….”


“Enggak mau ah… Nanti malah pijat kemana- mana….”


“Astaga, sayang… Kalau aku ingin berbuat mesum pada mu, kau akan ku bawa ke kamar ku, bukan ke taman ini….”


“Tapi____”


Athar kembali mendudukan Ning dengan posisi menghadap ke samping. Ia pun duduk di kursi panjang yang sama, namun sedikit agak jauh. Ia meletakan kedua kaki Ning diatas pangkuannya. Tangannya pun perlahan mulai memijat kaki Ning.


Susana mendadak hening. Ning tak berhenti memperhatikan pria pujaan hatinya yang tengah memijat kakinya itu, dengan senyum merekah di bibirnya. Bagaimana ia tak senang, memiliki kekasih yang begitu mencintai dan perhatian padanya.


“Maaf….” ucap Athar lirih. Seketika senyuman di bibir Ning luntur.


“Maaf kenapa?” tanya Ning heran.


“Atas perlakuan mami tadi….”


“Hehehe… Gak papa kali… Namanya juga lagi berjuang… Ini mah baru awalnya nya aja… Belum apa- apa….” Ning mengibaskan tangannya.


“Kamu sebenarnya punya rencana apa?” tanya Athar penasaran.


“Eng… Aku berniat mendekati Nyonya Andini dan berusaha membuatnya menyukai ku....”


“Mami bukan tipikal orang yang mudah menerima seseorang yang terlanjur tak disukainya….”


“Tapi aku yakin bisa….” ucap Ning yakin.


“Sudahlah… Lebih baik kamu tidak usah melakukannya lagi… Aku gak mau kalau Mami memperlakukan mu lebih buruk lagi dari tadi….”


“Kalau kau menyuruh ku menyerah, berarti kau memang tak berniat menikah dengan ku….”


Athar menghentikan pergerakan tangannya. Ia menatap tajam pada Ning.


“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Ni g heran.


Athar menghembuskan nafas kasar. “Aku ini laki- laki, bisa menikah meski pun orang tua tak merestui… Toh yang dibutuhkan hanya pasangan calon pengantin, wali nikah, mahar, dan saksi ‘kan?”


“Tapi aku ingin mendapat restu Mami kamu dulu… Aku gak mau pernikahan kita nantinya gak bahagia, karena diawali dengan menyakiti perasaan Nyonya Andini…”


“Menyakiti Mami?” tanya Athar mengerutkan kening.


“Bukankah akan menyakitkan bagi Mami- mu, jika beliau tahu kita menikah walaupun Mami mu tak rela apalagi tak merestui pernikahan kita? Dan bagaimana Mami- mu bisa merasakan kebahagiaan mu, kalau Mami-mu saja tidak bahagia atas kebahagiaan mu?” Doa seorang ibu itu mustajab loh… Emang kamu mau kalau kita didoakan yang buruk buruk sama Mami kamu?”


Athar menggeleng, kemudian terdiam mematung mendengar penuturan Ning.


“Dulu saat aku masih kecil, aku bilang sama Nyai dan Emak kalau aku benci sama Bapak karena gak pernah ngurus bahkan tak pernah menengok ku di kampung… Tapi, Emak sama Nyai selalu ngajarinn kalau aku harus menghormati dan menyayangi orang tua, bahkan orang tua calon suami ku kelak meskipun meraka tak menyukai ku… Rasa benci jika dibalas dengan kasih sayang, lama- kelamaan akan luluh juga….” Ning menghela nafas sejenak.


“Dan itu terbukti… Akhirnya Bapak datang meminta maaf dan membawa ku tinggal bersama nya dengan limpahan kasih sayang… Aku berharap, bisa meluluhkan hati Mami- mu juga….” Ucapnya lalu menurunkan kakinya, dan menggeser duduknya mendekati Athar. Digenggamnya tangan Athar.


“Bagiku, restu Mami- mu sangatlah penting… Mungkin bagi orang lain itu hal sepele, apalagi jika sudah dibutakan oleh cinta, sampai nekat menikah tanpa restu orang tua… Tapi aku gak mau seperti itu… Sebuah restu, sebuah kerelaan, dan kebahagian itu yang ku harapkan jika suatu saat menikah dan berumah tangga….”


Athar terenyuh mendengar ucapan kekasih hatinya itu. Ia menarik tangan Ning dan membawanya ke dalam pelukannya. Dikecupnya pucuk kepala Ning. Terharu sekaligus bangga dirasakannya. Ia tak menyangka jika wanita yang dicintainya begitu luas, padahal Mami- nya sudah sering kali menyakiti perasaan Ning.


“I love you….” Ucapnya kembali mengecup pucuk kepala Ning.


“I love you more….”


“Aku tak akan bisa berhenti mencintai mu, Ning-ku….”


“Meski aku yang memintanya?” tanya Ning.


“Tentu… siapa pun yang memintanya, tak akan menggoyahkan perasaanku pada mu….”


“Gombalan mukidi….” Kekeh Ning. Athar melepaskan pelukannya.


“Siapa mukidi?” tanyanya ketus.


“Gak tahu… Tukang parkir kali….” Ning mengedikkan bahunya.


“Jangan pernah menyebut nama laki- laki lain di depan ku, hemm….”


“Memangnya kenapa?”


“Aku akan menghukum mu….”


“Dihukum apa dulu?”


“Aku akan mencium mu tanpa henti….”


“Ruli, Reza, Akmal, Danis, Bejo, Satria, Bimo, Bambang, Yudi, Okta, Dimas, Kris___ Emphhh”


Athar langsung membungkam bibir Ning dengan bibirnya. Bukannya menolak, Ning malah membalas ciuman dadakan sang kekasih. Tanpa dua sejoli yang tengah memadu kasih itu sadari ada yang memperhatikan mereka sejak tadi.


Mata Ning terbelalak, lalu melepaskan pagutan bibir mereka dan mendorong tubuh Athar agar menjauh darinya.


“Kenapa?” protes Athar yang manpak merasa kecewa. Saat tengah menikmati, malah dilepas begitu saja, didorong pula.


“It itu… Ada____” Ning menunjuk ke arah belakang Athar. Ia pun membalikan tubuhnya melihat arah belakangnya.


--------------- TBC -----------------


-


-


Happy Reading…


-


-


Monmaaf baru up lagi… 🙏🙏🙏... Malam selasa kemarin adiknya mama ku meninggal, jadi ngurusin di rumah duka dulu dan bolak balik sana sampai hari kemarin…

__ADS_1


__ADS_2