
“Ning ….” Athar terkejut melihat wanita yang berdiri di sampingnya itu tiba- tiba pingsan. Dengan segera ia berjongkok.
“Ning … Ning bangun Ning ….” Athar menepok- nepok pipi Ning, namun ia tak bergeming.
Akhirnya ia mengangkat dan menggendong Ning. kemudian membaringkannya di atas sofa yang ada di kamar tersebut.
“Athar, panggil saja kepala pelayan. Biar mereka yang urus … dan jangan biarkan dia mengotori tempat duduk Mami!” ucap Nyonya besar dengan nada ketus.
Athar yang mendengar hal itu, kembali menggendong Ning. Ia tak bicara apa pun dan bergegas meninggalkan kamar dengan menggendong Ning yang masih tak sadarkan diri.
“Dino buka pintunya!!" teriaknya saat berdiri di depan pintu kamar Dino.
Ceklek …
Dino membuka pintunya.
“Ada apa Om?”
Athar langsung masuk melewati Dino begitu saja. Ia membaringkan Ning di atas tempa tidur Dino. Sang pemilik kamar pun langsung menghampiri Athar.
“Om apa-apaan ini ? kenapa om membaringkan si kacung itu di tempat tidur ku?” protesnya kesal.
“Diam! Jangan bersikap sama dengan Mami!” ucap Athar dengan nada tegas.
Ia mengambil ponsel dan menghubungi kepala pelayan. Sementara Dino yang merasa kesal hanya bisa menurut pada Athar, Om yang sangat dekat dengan nya itu.
“Hallo ….”
“Hallo, Tuan Athar. Ada yang bisa saya bantu?” sapa kepala pelayan.
“Bawa suster ke kamar Dino!” ucap Athar tanpa basa- basi.
“Baik, Tuan.”
Athar mengakhiri panggilan telponnya.
“Om, kenapa si kacung itu sampai pingsan gitu? Diapain sama Om?” tanya Dino yang nampak penasaran.
“Aku juga tidak tahu ….” ucap Athar dengan terus memandangi Ning.
"Dino, apa dia tidak diberi makan lagi seperti tempo hari?” Athar teringat penyebab Ning pingsan seminggu yang lalu.
“Mana ku tahu, kenapa Om menanyakan hal itu pada ku?” Dino mengedikkan bahunya.
“Dia kan pelayan pribadi mu dan seharian ada di dekat mu … Apa kau tidak menanyakan dia sudah sarapan pagi atau belum?” Athar terus saja bertanya.
“Itu bukan urusan ku, Om … Aku ini majikannya bukan pacar atau temannya,” ucap Dino yang tak mau tahu urusan Ning.
“Kenapa juga Om harus panik memikirkan kacung itu?” tanyanya heran.
“Dino … apa kau tidak bisa memanggilnya dengan namanya? Dari tadi kau terus memanggilnya kacung ….” protes Athar.
“Memang dia seorang kacung yang dipekerjakan oleh Mama, kan? Apa salahnya? Toh yang lain juga dipanggil pelayan tidak dengan nama mereka.”
“Tunggu … apa jangan- jangan Om____” Dino muai merasa curiga pada Athar yang terlihat perhatian pada Ning dan sangat mengkhawatirkan keadaan pengasuhnya itu.
Tok tok tok …
“Permisi Tuan Muda, saya datang bersama suster.” Kepala pelayan nampaknya sudah berada di depan pintu kamar.
“Masuk!!” seru Athar.
Kepala pelayan pun masuk bersama seorang perawat wanita.
“Loh, Tuan Muda tidak apa- apa?” Kepala pelayan heran melihat Dino yang baik- baik saja.
“Memangnya kau pikir aku kenapa?” Dino bertanya balik.
“Saya pikir sakit Tuan Muda kambuh lagi.”
“Suster cepat periksa keadaan Ning!” titah Athar. Suster itu pun dengan segera melaksanakan perintah Athar.
“Kepala pelayan ….” panggil Athar.
“Iya Tuan ….”
“Apa kau tidak memberi makan Ning lagi seperti tempo hari?” tanya Athar masih penasaran dengan penyebab Ning pingsan.
“Tadi pagi Ning sarapan bersama pelayan yang lainnya, Tuan.”
“Kalau dia sudah makan, kenapa dia bisa pingsan?” tanya Athar dalam hati.
“Astaga, kenapa aku baru ingat … Bukankah tadi dia ingin mengatakan sesuatu sebelum kami masuk ke kamar Mami … Apa jangan- jangan dia pingsan karena terkejut dan merasa panik tadi …” gumamnya dalam hati menerka- nerka.
Perawat yang sudah selesai memeriksa Ning, menghampiri Athar.
“Maaf Tuan, nona itu dalam keadaan baik- baik saja. Sepertinya ia hanya merasa shock.”
“Baiklah, terimakasih Suster. Kau boleh kembali...”
“Terimakasih kembali, Tuan.”
Athar memberi kode pada kepala pelayan. Ia pun paham dan membawa suster itu pergi.
“Saya permisi Tuan," ucap kepala pelayan pamit undur diri.
“Ya .” ucap Athar singkat. Ia lalu duduk di pinggiran ranjang tempat Ning berbaring.
“Tunggu!” Dino menghentikan langkah kepala pelayan.
“Iya Tuan Muda, ada yang bisa saya bantu?” tanya kepala pelayan.
“Panggil orang untuk membawa kacung itu ke kamar nya … Aku tidak mau dia berlama- lama di kamar ku.” Dino melirikan matanya ke arah Ning.
__ADS_1
“Baik, Tuan Muda.”
“Satu hal lagi ….” tambah Dino.
“Apa itu Tuan Muda?”
“Suruh pelayan mengganti seprei ku dengan yang baru!!”
“Baik Tuan Muda, saya permisi.”
“Hmmm ….”
“Ternyata jika diperhatikan, pelayan ini cantik juga …..” gumam Athar dalam hati. Ia tak melepaskan pandangannya dari wajah Ning yang masih memejamkan matanya.
Tiba- tiba Ning bergerak, dan mengubah posisinya dari telentang jadi berbaring menyamping ke kanan sehingga ia membelakangi Athar.
Dut … Dut dudrut dudt dut…
Suara gemuruh yang ditahan Ning sejak tadi, akhirnya keluar juga meski sang peledak masih dalam keadaan tak sadarkan diri.
”Om, ayok pergi dari sini.” Dino dengan segera menarik tangan Athar dan membawanya berlari keluar dari kamarnya. Seolah mereka mendengar suara ledakan bom dan pergi untuk menyelamatkan diri.
Beruntung Athar segera menutup hidungnya, sehingga ia selamat dari bau kentut yang berasal dari si Lê Petomanế yang tak sempat dihirupnya. Ditutuplah pintu kamarnya.
“Emh ….” Ning mulai tersadar dan membuka matanya perlahan. Ia mengedarkan pandangannya.
“Kenapa aku ada di sini? bukannya tadi di kamar Nyonya Besar?” ucap Ning yang nampak bingung.
“Oh ya ampun, ini kan kamar si Dinosaurus ….” Ning langsung duduk dan melihat ke arah tubuhnya. Ia pun meraba raba pakaiannya.
“Fiuh, pakaian ku masih utuh … Berarti aku gak diapa-apain.” Ning bernafas lega.
“Tapi… mana si tuan om ya? Jangan- jangan dia pingsan gara- gra aku kentut. Aku harus segera melihat keadaannya,” ucapnya lalu ia pun bangkit dari tempat tidur.
Dengan segera ia pergi tanpa memakai alas kaki, saking mencemaskan keadaan si tuan Om.
Langkahnya terhenti di depan pintu saat ia mendengar orang yang sedang berbicara dari balik pintu di luar sana.
“Om ngapain sih berurusan sama si kacung itu? Dia itu bisa membahayakan Om." Suara Dino terdengar jelas dari balik pintu.
“Maksud mu apa Dino?” Kini giliran suara Athar yang terdengar.
"Oh, syukurlah ... Tuan Om ternyata baik-baik saja," ucap Ning merasa lega.
“Sebaiknya Om jauh- jauh dari si kacung itu … Dia itu perempuan jorok.”
Ning kembali mendengar Dino menjelek-jelekkan nya.
“Kamu itu kalau bicara yang jelas ….”
“Dia itu suka kentut sembarangan Om … ini sudah kedua kalinya dia mencemari kamar ku. Untung tadi Om langsung keluar, kalau enggak Om bisa_____”
Ceklek …
Wajahnya terlihat sedih dan murung. Entah itu karena mendengar Dino yang menghinanya, entah karena ia merasa tidak enak hati sudah beberapa kali merepotkan bahkan mencelakai Athar yang menurutnya orang baik itu.
“Ning tunggu ….”Athar hendak melangkah untuk mengejar Ning, namun kepala pelayan menghampirinya dan mencegatnya.
“Maaf Tuan Athar, Nyonya besar tekanan darahnya naik lagi. Suster baru saja memeriksa keadaan beliau.” Kepala pelayan memberitakan.
Athar mengurungkan niatnya mengejar Ning, ia berbalik arah dan kembali ke kamar ibunya diikuti oleh kepala pelayan juga Dino, sang cucu kesayangan nyonya besar.
Terlihat dari raut wajah Athar ada rasa bersalah sekaligus penasaran pada diri Ning. Namun ia lebih mencemaskan keadaan ibunya.
“Suster, bagaimana keadaan Mami?” tanya Athar cemas.
“Nyonya besar harus banyak istirahat … Sebaiknya jangan diberi beban pikiran atau hal yang mengejutkan beliau. Saya sudah meminta kepala pelayan menghubungi dokter agar bisa lebih jelas memeriksa beliau.”
“Terimakasih, Sust.”
“Kamu lihat kan kondisi Mami? Ini semua gara- gara kamu berselingkuh dengan pelayan rendahan itu.” Falesha langsung menyalahkan Athar.
Athar menatap tidak suka pada Falesha. Ia mendekat lalu menarik lengan Falesha dan menyeretnya keluar. Athar lalu melepaskan tangannya dengan kasar.
“Sebaiknya kau pergi sekarang juga dari sini dan jangan pernah datang ke rumah ini lagi!! Aku sudah benar- benar muak melihat mu!!” ucapnya dengan nada tegas.
“Enggak, aku akan tetap di sini.” Falesha menolak pergi.
“Kau benar- benar sudah tidak punya urat malu!” bentaknya dengan sedikit memelankan suaranya, karena takut terdengar oleh ibunya.
“Kau pikir aku seperti ini karena siapa, hah?” Falesha kembali melemparkan kesalahan pada Athar.
Athar menggelengkan kepalanya dengan tersenyum kecut.
“Pergi dari rumah ini sekarang juga! Atau aku akan memanggil petugas keamanan untuk menyeret ku keluar!” ucapnya menunjuk ke arah tangga.
“Silahkan … aku tetap tidak akan pergi dari rumah ini, bahkan aku akan tidur di sini….” Falesha tidak merasa takut sama sekali.
”Terserah kau saja!!” hardiknya, ia lalu kembali masuk ke kamar Nyonya besar. Falesha pun mengikuti dari belakang, namun Athar dengan segera menutup pintu dan menguncinya.
Blammm …
“Iiiihh, dasar menyebalkan !! Kau pasti akan menyesal memperlakukan ku seperti ini,” ucapnya kesal dengan menghentakkan kakinya.
“Brengsek, sialan … Aku bersumpah akan membuat mu bertekuk lutut dan mengemis cinta dari ku ….”
Falesha tak hentinya menggerutu kesal. Kini ia benar- benar marah, selain cintanya yang ditolak karena Athar memilih wanita lain, ia pun sudah diusir oleh pria yang membuatnya tergila- gila itu.
Sementara di dalam, Athar kembali menghampiri Nyonya besar, ia duduk di atas tempat tidur di sebelah ibunya berbaring.
“Athar ….” Panggilnya dengan suara lemah.
“Iya, Mami ….” sahut Athar.
__ADS_1
“Mana Falesha?”
“Sudah ku usir.”
“Kenapa kamu mengusirnya, Athar?”
“Dia hanya akan mengoceh segala macam keluhan yang akan membuat Mami makin sakit … Mami sebaiknya istirahat, jangan memikirkan hal- hal lain. Pikirkan kesehatan Mami.”
“Mami akan segera sehat setelah ada orang yang mendampingi mu, Athar … Tapi jangan dengan pelayan itu ….”
“Aku dan Ning tidak ada hubungan apa- apa, Mami … Itu hanya sebatas sandiwara di depan Falesha saja, agar dia menjauh dari ku ….” ucap Athar berterus terang.
“Lagi pula Mami tahu sendiri kan, tidak akan ada yang bisa menggantikan dia di hati ku.” Lirihnya lalu menghela nafas berat.
“Athar, dia kan sudah tiada, sementara kamu harus melanjutkan kehidupan mu … Dia juga pasti akan bahagia di alam sana, jika melihat mu di sini bahagia … Dan sebaliknya, jika kau terus bersedih, maka dia juga akan sangat sedih di sana.”
“Cukup Mami, jangan bahas masalah itu lagi … Mami pikirkan kesehatan Mami saja … Memangnya Mami mau kalau anak- anak dan cucu- cucu Mami sedih melihat Mami terus- terusan sakit?” Athar nampaknya tak mau terlalu banyak membahas wanita yang sangat dicintainya lebih jauh lagi.
“Oma jangan terlalu banyak pikiran … Dino gak mau kalau sampai terjadi sesuatu sama Oma … Kami sangat menyayangi Oma….” Dino pun ikut membujuk.
“Iya Dino, Oma juga sangat menyayangi kalian … Dimana Ros?”
“Mohon maaf, Nyonya Ros sedang menghadiri rapat orang tua murid di sekolahnya Nona Sheryl.” Kepala pelayan memberitakan. Nampaknya ia lebih jeli dari CCTV.
Tok tok tok …
“Athar buka pintunya … Aku ingin melihat keadaan Mami ….”
Tok tok tok ….
Falesha terus mengetuk pintu hingga ia menggedor dan berteriak ingin masuk.
“Dino, kau temani Mami di sini. Om akan urus perempuan tidak tahu malu itu,” ucapnya lalu beranjak pergi.
Ceklek …
“Akhirnya kamu membukakan pintu,” ucap Falesha tersenyum dan ia melangkah masuk. Namun dengan segera Athar menghentikannya dengan menarik lengan lalu menyeretnya pergi meninggalkan kamar ibunya.
“Athar lepaskan aku ….” Falesha berontak minta dilepaskan, namun Athar tak bergeming. Ia terus berjalan menuruni tangga dengan menyeret lengan Falesha hingga keduanya sampai di depan pintu utama.
Athar membuka pintu, lalu mendorong Falesha keluar.
“Aku sudah meminta mu pergi, tapi kau masih di sini, ngeyel saja kerja mu ….” bentak Athar kesal.
“Memangnya salah kalau aku ingin melihat keadaan Mami?” tanya Falesha ikut kesal.
“Tentu saja salah, karena aku yakin tadi kau terus mengoceh sampai Mami sakit lagi!!” Athar kini yang menyalahkan Falesha.
“Jadi kau menyalahkan ku?” Falesha tak terima.
“Lalu aku harus menyalahkan siapa, hah? Jelas- jelas yang ada di kamar itu hanya kau dan Mami ….”
“Yang harusnya disalahkan itu kamu, Athar … Gara- gara kamu berselingkuh dengan pelayan rendahan itu, makanya Mami sampai sakit.”
“Berselingkuh berselingkuh saja yang kau katakan … Perlu aku perjelas, kita tidak pernah ada hubungan apa-apa, jadi akau bebas berhubungan dengan wanita mana pun, paham?”
“Aku tidak perduli, Papa dan mendiang Papi mu sudah menjodohkan kata sejak kecil. Jadi aku ini adalah jodoh mu.”
“Persetan dengan perjodohan macam itu … Lagi pula tidak ada bukti tertulis atau pun bukti rekaman mereka menjodohkan kita. Jadi jangan terlalu berharap … Pergi!! Dan jangan pernah datang ke rumah ini lagi!!” Athar mendorong Falesha.
Blamm …
Athar menutup pintunya dengan sangat keras, lalu menguncinya.
“Dengar, jangan biarkan wanita itu menginjakkan kakinya di rumah ini lagi!! Beritahukan pada pelayan lain … Yang menentang, saat itu juga pecat pelayan itu!” titah Athar pada seorang pelayan yang berpapasan dengannya saat ia akan menaiki tangga.
“Baik, Tuan ….”
Athar pun kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar ibunya. Sat ia berdiri di depan pintu dan hendak menekan pegangan pintu. Ia teringat akan sesuatu.
“Ning ….” Nama itu tiba- tiba terlintas di kepalanya.
“Bagaimana keadaanya sekarang? Tadi dia terlihat begitu sedih,” gumamnya dala hati.
“Argh … apa-apaan ini? Kenapa aku jadi memikirkan pelayan itu.” Athar mengelengkan kepalanya untuk membuang jauh pikirannya tentang Ning.
**
Sementara Ning tengah berdiam diri duduk di kursi taman yang sebelumnya pernah ia datangi saat sedang merasa kesal pada Dino.
Dipandanginya benda pipih yang digenggamnya. Nampak foto laki- laki bersama perempuan yang terlihat sedang hamil.
“Bapak … Ibu … Kenapa nasib Ning seperti ini? Kenapa setiap orang yang berada di dekat Ning dan baik pada Ning selalu terkena sial?” lirihnya sedih.
“Apa Ning ini benar- benar anak pembawa sial…” lirihnya diiringi isak tangis.
“Apa Ning tidak boleh dekat dengan siapa pun? Apa Ning harus membuat semua orang menjauhi Ning? Hiks hiks ….”
Ning hanya bisa berkeluh kesah pada foto mendiang orang tuanya. Dan semenjak ia tinggal di rumah itu, Ning tak berani menghubungi Ocha sahabatnya apalagi paman dan bibi-nya yang tak memperdulikannya lagi.
Bahkan jika Ocha menghubunginya pun ia tak pernah merespon, karena ia tak ingin melibatkan Ocha dalam permasalahan yang sedang dihadapinya.
Air mata pun terus mengalir tiada henti, berharap bisa meluruhkan rasa sedihnya. Satu hal yang kini disadarinya, hanya dirinya sendiri lah yang bisa menguatkannya.
“Aaaaahhh … kalau seperti ini, berarti seratus jitu- ku melayang terhempas gara- gara kentut beliung ku, huuhuhuhuhu.” Di saat sedih dan menangis seperti itu pun, Ning masih teringat pada fulus.
“Kenapa kau malah bersantai- santai di sini saat jam kerja?” ucap seseorang dari arah belakang Ning.
Ning terperanjat, ia pun dengan segera menghapus air matanya.
-------- TBC--------
****************
__ADS_1
Happy Reading ….