NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Jadi Kau Mengakuinya...?!


__ADS_3

“Aduh aduh sayang… sakit…”Athar meringis kesakitan. “ Kamu lupa ya, kalau aku habis kecelakaan….”


Seketika Ning melepaskan jaweran tangannya dari telinga Athar.


“Oh ya ampun… maaf maaf, aku lupa… Mana yang sakit mana?” tanynya merasa bersalah.


“Ini….” Athar menempelkan jari telunjuk pada bibirnya.


“Ish… kau ini….” Ning mencebikkan bibirnya, merasa kesal telah dikerjai.


“Beneran sayang… Tadi ‘kan yang aku bilang sakit ya ini….” Athar menunjuk bibirnya lagi.


“Orang udah panik, malah bercanda….”


“Tadi aja nyosor… Masa disodorin secara sukarela gak ma____”


Cup


Belum selesai Athar bicara, tanpa aba- aba Ning langsung menyambar bibir manis pria itu.


“Udah ya….” ucapnya polos tanpa dosa.


“Dikecup doang?? gak berasa sayang….” rengek Athar protes.


“Prett ahh… Udah ah, males….” ketusnya lalu bangkit dan berdiri.


“Kok jadi males?” Athar kembali protes dengan raut wajah memelas.


Ning mendaratkan bokongnya di kursi samping brankar. Ia yang sejak tadi menggoda Athar, tiba- tiba terdiam dan nampak memikirkan sesuatu.


“Hei… kenapa? Kok jadi diam? Jangan marah dong… Aku ‘kan cuma bercanda, sayang… Sini lagi….”


“Gak mau!!” Ning langusung memperlihatkan mode jutek.


“Loh kok jadi ngambek gitu? Enggak deh enggak minta cium lagi….” bujuk Athar yang melihat perubahan raut wajah Ning.


“Minta aja sana sama Nadira!!” sindir Ning.


“Hah? Nadira? Kenapa jadi Nadira?” Athar mengerutkan keningnya.


Ning menghela nafas panjang, seolah mengumpulkan keberaniannya. Sebetulnya sejak mendapat kabar berita dari Rosmala, ia ingin langsung menanyakan kebenarannya pada Athar. Namun, karena saat itu ia melihat kondisi Athar yang mengkhawatirkan, membuatnya menahan diri akan keingintahuannya itu.


“Apa kamu ingin mengatakan sesuatu soal Nadira?” tanya Ning dengan tatapan menyelidik.


Athar tercengang. Ia tak menyangka jika hal yang ia sembunyikan, justru sudah diketahui oleh Ning.


“Siapa yang mengatakannya pada mu?” raut wajah Athar mulai terlihat serius.


“Itu tidak penting… Aku hanya menagih janji, bahwa diantara kita tidak ada yang disembunyikan.”


Athar memejamkan mata, menghela nafas dalam- dalam. Kemudian menghembuskannya bersamaan dengan membuka matanya. “Maaf….” Ucapnya lirih.


Ning membulatkan matanya. “Maaf? Maaf untuk apa? Apa kau____”


“Maaf, karena aku tidak mengatakan soal masalah itu pada mu… Aku berusaha menyelesaikan kesalahpahaman itu, barulah aku akan menceritakannya pada mu….”


“Lalu… Siapa ayah dari anak yang dikandung Nadira?” tanyanya denagn perasaan takut, takut jika memang Athar lah pelakunya.


“Aku berani bersumpah demi apa pun, bukan aku yang menghamili Nadira… Bahkan aku tak pernah menyentuhnya sama sekali….” Ucapnya dengan penuh keyakinan.


“Tapi waktu kita video call dulu saat disana masih subuh, kamu bilang Nadira menginap di apartement mu….” Ning nampak tak percaya dengan pengakuan Athar.


“Iya, tapi ‘kan aku sudah bilang kalau dia tidur di kamar Riko, sayang….”


“Tapi ‘kan itu kata kamu? Mana aku tahu apa yang terjadi sebenarnya? Kamu itu ‘kan lelaki mesum….”


“Ya ampun sayang, aku benar- benar gak pernah ngapa- ngapain Nadira… Dan aku bicara mesum itu cuma sama kamu aja, gak pernah sama perempuan lain….”


“Bohong!!”


“Aku gak bohong… Tanya aja sama Riko.”


“Dia itu kan anak buah kamu… Pastinya udah kong kali kong….” Ning menghembuskan nafas kasar. “Kamu itu ‘kan sama Nadira itu pura- pura pacaran selama setahun, bisa aja lama- lama jadi cinta beneran….”


“Enggak, sayang… Aku gak mungkin suka sama dia… Dia juga gak mungkin suka sama aku….”


“Kamu lupa? Dulu kita pura- pura pacaran di depan Nyonya Andini… Tapi kita malah cinta beneran….”


“Jelas itu beda, sayang….”


“Beda apanya?”


“Beda lah, kalau aku sama kamu tuh udah suka duluan … Sandiwara pacaran itu cuma modus aku aja biar bisa dekat sama kamu….”


Ning kembali membulatkan matanya. “Tuh ‘kan… Berarti sama Nadira juga gitu….”


“Astaga, Ning… Sumpah demi apa pun aku gak ada perasaan apa- apa sama Nadira, begitu pun dia….”


“Kenapa kamu bisa seyakin itu?”

__ADS_1


“Aku ‘kan sudah bilang dia sudah punya pacar saat dia mengajak bersandiwara….”


“Tapi katanya pacarnya sudah pergi tanpa kabar, karena mereka sudah putus tiga bulan yang lalu….”


“Walau pun begitu, kami tetap tak punya hubungan apa- apa, selain rekan bisnis….”


“Bohong!”


“Oh, Astaga… Aku harus bilang apa lagi supaya kamu percaya?” Athar mulai frustasi.


“Bisa aja kan kalian ada hubungan setelah pacarnya Nadira pergi,” tuduh Ning.


“Tidak pernah ada… Dan itu tidak akan pernah terjadi.” Athar bicara dengan tegas dan yakin.


“Kenapa tidak? Kamu laki- laki dan Nadira perempuan. Bisa saja kalia____”


“Nadira itu penyuka sesama jenis!!”


Ning langsung tercengang mendengar ucapan Athar. Matanya membulat sempurna dengan mulut ternganga. Ia tak percaya dengan apa yang dikatakan Athar. “Apa?”


Athar membuang nafas kasar. “Iya… Pacar Nadira itu seorang wanita… Jadi bukan aku yang menghamili Nadira, juga bukan mantan pacarnya….”


“Terus siapa?” ucap Ning masih dalam keterkejutannya.


“Mana ku tahu?” Athar mengedikan bahunya. “Bisa saja dia tidur dengan seseorang saat sedang mabuk… Karena setelah dia putus dengan pacarnya, dia suka clubing dan mabuk- mabukan….”


Ning masih tak percaya dengan apa yang baru saja diketahuinya. “Kok bisa, wanita secantik Nadira yang terlihat begitu sempurna ternyata … belok….”gumamnya.


“Itulah kenapa aku bersedia bersandiwara dengannya, karena dia tak akan mungkin bisa suka pada ku… Dan lagi cinta ku hanya untuk mu, Ning….”


Ning yang masih sangat shock tidak menanggapi ucapan Athar. Ia tenggelam dalam pikirannya hingga beberapa saat.


“Ning… Hei… Sayang….”


Ning masih tak mengubris panggilan Athar. Namun saat terdengar deringan ponsel yang disertai getarn dari dalam tas selempang yang Ning pakai, barulah ia tersadar dari lamunannya. Ia segera merogoh ponselnya, lalu bangkit dari duduknya.


“Bentar ya, aku angkat telpon dari Ocha dulu….” ucapnya lalu beranjak, berjalan menuju keluar kamar rawat inap tersebut, setelah diangguki oleh Athar.


“Pak Riko, titip sebentar ya… Saya ada perlu sebentar sama teman saya….” Ucapnya saat menutup pintu. Ia lalu berjalan menyususri lorong sembari berbicara di sambungan telponnya.


Selang beberapa saat usai mengakhiri pembicaraanya, Ning melangkahkan kakinya untuk kembali ke kamar rawat inap Athar. Namun saat ia berdiri di depan pintu dan hendak menekan handle-nya, ada seseorang yang memanggil Ning.


“Ning….”


Reflex Ning pun menoleh ke asal suara yang berasal dari depan pintu sebelah kamar tersebut dan hanya berjarak 2 meter darinya.


“Kak, Ros….” ucap Ning mengerutkan dahinya.


Ning mengurungkan niatanya masuk ke kamar Athar. Ia pun melangkah untuk mengahmpiri Rosmala.


“Kak Ros, ngapain di sini? Kak Ros sakit?” tanyanya merasa heran.


“Ayok masuk…” ucapnya malah mempersilahkan Ning memasuki kamar tersebut. Ning pun melangkah masuk mengikuti kemana langkah Rosmala. Betapa terkejutnya dari kejauhan ia melihat Nyonya Andini tengah berbaring di atas brankar dengan mata terpejam.


“Nyonya Andini….” gumamanya menghentikan langkah.


“Iya… Mami bilang ingin bicara dengan mu?” Rosmala pun menghentikan langkahnya.


“Apa Nyonya Andini sedang sakit?”


“Hmmm… “ angguk Rosmala. “Mami sangat shock saat mendengar Athar mengalami kecelakaan… Mami terus menunggu Athar siuman dan tak mau beranjak dari rumah sakit, hingga beliau jatuh sakit… Dan minta dirawat di sebelah kamar Athar….”


“Tapi kenapa beliau_____”


“Karena merasa sangat bersalah, Mami belum berani menampakan diri di depan Athar… Hanya bisa melihatnya secara diam- diam dari pintu kamarnya yang selalu saya atau Riki biarkan sedikit terbuka….” Ucap Romsala yang paham arah pembicaraan Ning kemana.


Ning merasa terenyuh mendengar pemaparan Rosmala. “Pantas saja selama beberapa hari aku sering ke sini, tak pernah melihat beliau menjenguk ke sebelah….” Umamnya dengan suara pelan, namun Rosmala masih bisa mendengar jelas.


“Ayok, Mami sudah menunggu….” Ajaknya melanjutkan kembali langkahnya mendekati brankar dimana tempat Nyonya Andini berbaring.


“Tapi sepertinya beliau sedang tidur….” Ucap Ning saat memperhatikan wajah wanita yang tak lagi muda itu.


“Tidak… Mami sudah bangun… Beliau hanya sedang memikirkan sesuatu, mungkin….”


Keduanya pun berhenti tepat di samping brankar tempat Nyonya Andini berbaring. Ia pun membuka matanya, lalu melempar senyum pada Ning.


Rosmala membantu Ibu mertuanya yang hendak bangun. Kemudian beliau memposisikan dirinya duduk. “Aku ingin bicara sebentar dengannya, Ros….”


“Baiklah… Aku menunggu di luar….” Ucapnya lalu beranjak pergi meninggalkan mereka berdua di kamar itu.


“Apa kau hanya akan berdiri?” Nyonya Andini membuka suara setelah keduanya hanya terdiam dalam beberapa saat.


Ning kemudian menduduki kursi yang ada di sebelah brankar. Baru saja Nyonya Andini hendak kembali membuka suara, Ning lebih dulu memulai.


“Jika tujuan Nyonya memanggil saya kemari untuk menyuruh saya meninggalkan putra anda, saya tidak akan melakukan hal itu….” ucapnya dengan nada tegas dan penuh penekanan.


Nyonya Andini tersenyum menyeringai, kemudian ia menghela nafas panjang.


“Maaf… Aku menentang hubungan kalian bukan semata- mata karena perbedaan kasta kalian… Aku hanya tidak ingin putraku terluka lebih dalam jika kalian tetap berhubungan….” ucapnya terjeda.

__ADS_1


“Dulu aku pernah menentang hubungan Dindra dan Singgih… Bukan karena Asri adalah adikku, tapi karena pernah terjadi kesalah pahaman yang menyebabkan suami Asri sakit sampai meninggal… Aku takut Singgih mendekati putriku hanya untuk balas dendam…” Nyoya Andini menghela nafas sejenak.


“Dan aku salah… Ternyata cintanya tulus untuk putriku… Singgih tidak tahu kalau Diandra adalah Alesya, putriku… Karena saat mereka diusir dari rumahku, Diandra Alesya Sahulekha masih balita….” ucapnya yang disertai jatuhnya bulir bening membasahi pipinya.


Nyonya Andini menghapus jejak air matanya, kemudian menghela nafas dalam- dalam. Ia menatap lekat pada Ning.


“Jika kau tahu apa yang pernah terjadi di masa lalu Athar, apa kau akan tetap menerimanya?” tanyanya dengan raut wajah serius.


“Kenapa tidak?”


“Apa kau yakin? Setelah kau mengetahuinya, kau tidak akan membenci atau bahkan meningalkan putraku?” Nyonya Andini kembali bertanya.


“Apa anda melihat keraguan di mata saya?”


Nyonya Andini mendengus pasrah. Ia lalu menundukkan kepalanya.


“Saya sangat mencintai putra anda, Nyonya….” ucap Ning dengan penuh keyakinan.


“Mungkin kemarin- kemarin saya masih bersikeras untuk berjuang mendapatkan restu anda… Tapi setelah apa yang terjadi pada Daniel, saya tidak perduli lagi anda mau memberi restu atau tidak… Yang terpenting bagi saya adalah membuatnya bahagia, merasa dicintai, dihargai oleh orang yang dicintainya…” lanjutnya.


“Dan Anda harus tahu, Nyonya Andini… Daniel sangat mencintai dan menghormati anda sebagai ibunya… Bukankah apa pun yang anda perintahkan selalu ia lakoni, termasuk meninggalkan saya… Tapi apa anda tahu bagaimana perasaanya? Anak yang sejak kecil menjadi kesayangan ibunya, namun kini merasa seperti orang asing yang tidak diperdulikan perasaanya….”


“Dia bisa menyembunyikan dari semua orang, tapi aku bisa merasakan betapa ia sedih dan terluka… Saya harap anda berhenti melakukan tindakan yang bisa menyakiti perasaanya, Nyonya….” Intanya dengan mata berkaca- kaca.


“Baiklah… Jika kau sudah begitu yakin, aku tak akan menentang hubungan kalian lagi… Tapi ku rasa kau tetap harus mengetahui apa yang terjadi di masa lalu Athar….”


“Jiak anda terus memaksa, silahkan anda katakan… Dan saya pastikan, hal itu tidak akan merubah perasaan saya pada putra anda….”


Nyonya Andini menghela nafas sejenak. “Hari itu, tepat tiga hari sebelum pernikahan Athar dan Alexa, Athar menjemput Alexa dari sebuah restoran yang merupakan tempat teman- temannya memberi pesta lajang kejutan untuk Alexa… Dan mereka__________”


Ucapan Nyonya Andini terhenti saat terdengar suara deringan ponsel yang berada dalam genggaman Ning.


“Pak Riko?” gumam Ning saat melihat nama si pemanggil. Tanpa pikir panjang Ning langsung menerima pangilan tersebut. Ia takut terjadi sesuatu dengan Athar.


“Iya, Hallo Pak Rik____”


“Sayang, kamu dimana? Kok telponan sama Ocha nya lama banget….”


“Oh ya ampun… Maaf, aku keasyikan ngbrol sama Ocha… Aku segera ke sana….” Ning kemudian memutuskan sambungan telpon secear sepihak.


“Saya minta maaf, Nyonya… Sepertinya saya harus segera pergi….”


“Tapi____”


“Saya sudah tahu apa yang terjadi di masa lalunya… Anda tidak perlu khawatir, hal itu tak akan membuat saya meninggalkan putra anda…. Permisi….” Ucapnya lalu pamit undur diri. Baru saja ia berbalik dan hendak melangkah pergi, Nyonya Andini kembali bersuara.


“Tolong jangan katakan pada Athar aku dirawat di sini….”


Ning menoleh dengan kening yang berkerut dan tatapan heran.


“Saat ini hanya kau lah yang ia butuhkan… Kehadiranku hanya akan membuatnya sedih….” Ucapnya lalu memalingkan wajah, seolah memberi isyarat pada Ning memperbolehkannya pergi. Ning pun melanjutkan langkahnyanya menuju pintu keluar.


Ia berjalan menuju ruang kamar rawat inap Athar. Sayup- sayup ia mendengar suara orang yang tengah bicara di dalam sana. Ia pun masuk tanpa mengetuk, karena pintu kamarnya sedikit terbuka.


“Jadi kau akan bertanggung jawab?” pertanyaan Nadira yang tengah berdiri di depan brankar Athar, sontak membuat Ning terkejut luar biasa.


“Apa maksudnya?” gumam Ning yang terus melangkah mendekati Nadira.


“Jadi kau mengakuinya dan akan bertanggung jawab dengan menikahi ku?” Nadira kembali melontarkan pertanyaan dengan wajah serius dan tatapan tajam.


Ning yang kin berdir di sebelah Nadira begitu terkejut mendengar hal itu. Ia mengikuti arah sorot mata Nadira yang tertuju pada pria di depan mereka.


“Apa maksud semua ini? Jadi benar kau______” Ning tak kuasa melanjutkan ucapannya. Dada nya terasa sesak, hingga membuat bibirnya kaku seketika.


Brukk


Terdengar suara yang cukup keras saat kedua lutut beradu dengan lantai.


-


-


-


------------------- TBC -----------------


-


-


Happy Reading….


-


-


-


Monmaaf Eceu bar bisa up lagi, kemaren keluarga saya sakit bergilir karena lagi musim pancaroba… ditambah kesibukan di RL …🙏🙏🙏

__ADS_1


Trimakasih banyak yang masih selalu setia menantikan kisah Ning Nong Neng jring sama Om tamvan kesayangannya….😍😘😘


Alapyu All….😘😘😘


__ADS_2