
Hingga beberapa saat, baik Ning atau Nana tak ada yang berkata apa pun lagi. Nana yang begitu merindukan sosok seorang ibu yang tak pernah ada semenjak kematian Diandara, ibu kandungnya. Dan Ning yang pernah merasakan apa yang Nana alami saat ini, membuat keduanya tenggelam dalam kesedihan yang sama.
Ning mengusap- usap kepala Nana untuk menenangkan anak itu. Satu tangannya menghapus jejak air matanya yang jatuh begitu saja, dan sekuat tenaga menahan suara isaknya agar tak terdengar oleh Nana. Nampaknya ia tak ingin Nana mengetahui, jika ia pun menangis.
Sementara di balik dinding samping pintu kamar Nan yang terbuka, nampak ada dua orang yang melihat apa yang terjadi di dalam kamar itu.
“Gih, ayok ikut ibu….” bisik Bu Asri menyentuh bahu putranya yang terlihat sedih. Ia pun mengikuti ibunya yang membawanya ke kamar beliau.
“Gih, kamu lihat sendiri kan betapa Nana sangat mendambakan sosok seorang ibu… Sekarang kita baru tahu alasan Nana selama dua hari ini tidak mau sekolah… Dia bahkan tidak mau bercerita pada kita, sementara pada Ning dia lebih terbuka… Dan ibu perhatikan, selama ini sepertinya kalian berdua juga sudah sangat dekat….” Ucap Bu Asri saat keduanya tengah duduk di sisi ranjang yang sama.
“Tapi, Bu… Apa Ning mau menjadi ibu sambungnya Dayana?” Singgih nampak ragu dan takut Ning akan menolaknya.
“Hehe, kamu itu lucu, Gih… Harusnya pertanyaan itu kamu lontarkan pada Ning, bukan nanya sama ibu….” ucap Bu Asri terkekeh.
“Ning itu masih sangat muda, Bu… Dia bahkan berencana akan masuk kuliah tahun ini… Igih gak mau kalau sampai menghambat cita- cita nya, karena menikah dengan ku dan harus mengurus Nana….”
“Ibu paham, jika melihat usia memang dia masih sangat muda… Tapi dia orang yang berpikir dewasa juga mandiri, bahkan saat bersama Nana naluri keibuannya terlihat jelas… Nana juga sangat menyayanginya, sampai- sampai waktu beberapa kali sakit saja, Nana hanya ingin ditemani Ning… Kalau masalah kuliah, kan masih bisa walaupun sudah menikah, Gih….”
Singgih terdiam, ia termenung memikirkan ucapan Bu Asri yang memang ada benarnya. Namun entah apa yang membuatnya nampak sulit untuk melakukan hal itu.
“Gimana, Gih?”
Singgih menghela nafas panjang. “Nanti deh, Bu … Igih pikir- pikir dulu….”
“Jangan kelamaan berpikir… Nanti Ning keburu dilamar orang, baru tahu rasa kamu, Gih… " ucap Bu Asri terkekeh.
"Ibu yakin, Diandra juga tidak akan keberatan jika putrinya memiliki ibu sambung yang begitu menyayanginya… Dia pasti akan merasa tenang dan bahagia di alam sana, Gih….” Ucap Bu Asri menepuk bahu putranya, kemudian beliau bangkit dan beranjak pergi meninggalkan putranya untuk memberinya waktu berpikir.
Sementara Ning yang masih memeluk Nana di pangkuannya, tanpa sengaja tetesan air matanya mengenai tangan Nana. Anak itu yang merasakan ada yang basah di tangannya, melepaskan diri dari pelukan Ning dan menanggahkan kepalanya menatap wajah Ning.
“Kakak peri kenapa nangis?” ucapnya yang sudah berhenti menangis. “Kakak peri jangan nangis, Nana kan sudah janji sama Dady akan jaga kakak peri dan gak bolehin kakak peri sedih dan nangis….” ucapnya menghapus jejak air mata Ning dengan tangannya.
“Abisnya peri kecil nangis, jadinya kaka sedih dan ikutan nangis juga….” Ucap Ning pura- pura cemberut.
“Nana udah gak nangis kok… Lihat nih lihat nih,” ucapnya memperlihatkan matanya yang memeng sudah tak mengeluarkan air mata lagi.
“Kakak akan berhenti nangis kalau Nana janji mau sekolah lagi, huhuhuhu….” Ning melanjutkan sandiwaranya.
Nana diam termenung. Ia menundukkan kepala, seolah permintaan Ning terlalu berat untuk dipenuhinya. Ning yang melihat hal itu, merasa tak tega mengerjai Nana. Ia pun menghentikan air mata buaya nya.
“Peri kecil, dengerin kakak ya… Peri kecil bukan pembohong, karena peri kecil memang punya mama, dan semua anak- anak di dunia ini punya mama, karena mereka lahir dari rahim seorang mama… Hanya saja, kalau mama nya peri kecil sudah tidak ada di sini, tidak ada di dunia ini, dan sudah ada di surga di rumahnya Allah….”
“Tapi kenapa mama peri gak mau ke sini? apa mama peri gak sayang lagi sama Nana?” tanya anak itu yang dengan kepolosannya.
“Oh tentu saja sayang, apalagi kalau peri kecil jadi anak yang baik dan pintar juga rajin sekolah… Pasti mama peri nya lebih sayang lagi….”
“Nana sedih setiap hari ke sekolah diantar sama nenek atau papa atau mbak Maya saja, tapi teman- teman suka diantar mama nya… Nana juga mau diantar mama….” Ucapnya mengeluh.
“Em, gimana kalau mulai besok kakak yang akan nganterin peri kecil ke sekolah?” tiba- tiba terlintas begitu saja di pikiran Ning.
“Tapi kata Papa, kakak peri kan kerja… Jadi Nana gak boleh ganggu kakak peri dan boleh main hanya hari minggu saja kata papa….” Ucapnya nampak sedih.
“Asalkan peri kecil mau sekolah lagi, kakak bisa izin dulu buat nganterin peri kecil ke sekolah… Gimana? Nanti kalau ada anak nakal lagi, kakak bakalan pelototin dan jewer kupingnya, seperti ini, hehehe….” Ucap Ning memperlihatkan tangan yang seperti memplentir orang.
“Nanti marahin Tio, Alsa, sama Talita juga ya….” ucapnya menyebutkan nama anak yang sepertinya sudah membuatnya tak mau sekolah lagi.
“Oh, tentu saja… Kalau mereka nakal dan membuat peri kecil ku ini sedih, kakak akan marahin mereka….”
“Hore hore… Nana sayang kakak peri….” Ucapnya bersorak gembira. Ia mencium pipi Ning, lalu berdiri dan berjingkrak- jingkrak saking senangnya.
Ning akhirnya bisa bernafas lega, karena Nana sudah tidak terlihat sedih lagi dan ia bersedia kembali sekolah. Walau ia harus mengatur waktu agar ia bisa mengantar jemput Nana di sela- sela pekerjaannya.
“Peri kecil makan dulu ya, nenek bilang tadi pagi makannya sedikit….”
“Iya,” angguk Nana dengan semangat.
“Tapi sebelum itu, ita harus membereskan kekacauan yang ada di kamar ini….”
Keduanya mengambil satu persatu mainan dan boneka Nana yang berserakan di lantai. Mereka membereskannya dan meletakn kembali di tempat mainan Nana. Setelah itu Ning menggendong Nana dan membawanya keluar untuk menyuapi Nana makan.
*
“Peri kecil, Kakak pamit pulang dulu ya… Soalnya masih harus kerja….”
“Iya….”
“Besok pagi, saat kakak jemput Nana ke sini, Nana harus sudah cantik dan sudah siap berangkat ke sekolah, ya…”
“Iya….”
“Sini peluk dulu….” Ning berjongkok dan merentangkan tangannya. Ia lalu memeluk Nana dan mencium kening anak itu.
“Terimakasih banyak ya, Ning… maaf sudah merepotkan….” ucap Singgih yang berdiri di sebelah putrinya.
“Aku gak ngerasa direpotkan kok, Mas… hehehe….”
“Oh, iya… soal hari itu, aku minta maaf… Aku benar- benar gak tahu kalau kamu_____”
“Gak apa-apa, Mas… Aku yang minta maaf, karena udah membuat Mas cemas juga membuat Nana takut….”
“Hehehe, aku antar pulang ya….”
“Gak usah, Mas… terimakasih … Aku bawa motor kok… Oh ya, Ibu mana?”
“Ibu lagi nengokin tetangga yang sakit….”
“Kalau gitu titip salam aja buat ibu… Aku pamit ya, Mas…. Assalamualaikum….”
“Wa'alaikumsalam… Hati- hati Ning….”
“Dadah, Kakak peri….” Ucapnya melambaikan tangan.
“Dadah peri kecil….” Ning pun tersenyum dan balas melambaikan tangan. Ia mengenakan helm, kemudian menyalakan motornya dan melajukannya. Sementara Singgih kembali masuk ke dalam rumah dengan menuntun putrinya.
**
Ning yang sudah sampai di tempat kerjanya, kembali ke ruangannya. Ia duduk kemudian membuka laptopnya.
“Ning, dari mana lo? Gue cariin….” tanya Ocha menghampiri.
“Tadi dari rumah Bu Asri… Udah dua hari,Nana gak mau masuk sekolah katanya….”
__ADS_1
“Kenapa emang?”
“Diejekin teman sekolahnya, karena bilang punya mama tapi gak pernah nganterin dia….” Ucapnya lalu menghela nafas. “Kasihan banget anak itu, kayaknya dia belum paham kalau mama nya sudah meninggal….”
“Terus?”
“Oh iya, mulai besok gue bakalan nganter dia ke sekolah… Jadi lo handle kerjaan gue dulu ya, Cha….”
“Cie… Lagi belajar jadi calon mama tiri nih ye….” goda Ocha.
“Apaan sih lo, Cha….”
Tiba- tiba ponsel Ning berdering. Ia lalu mengambilnya dari dalam tas.
“Hah? Mas Igih?” ucap Ning heran saat melihat nama si pemanggil.
“Ekhem…Baru aja nyampe, itu si pak dokter udah kangen lagi sama lo….”
“Diam lo!!” ucapnya lalu menerima panggilan tersebut. “Hallo… Assalamu’alaikum….”
“Wa'alaikumsalam… Ning kamu sudah sampai?”
“Udah, Mas… lima menit yang lalu…."
“Eng, apa malam ini kamu ada acara?”
“Gak ada, Mas ….”
“Eng, aku mau ngajak kamu makan malam di luar….”
“Hah? Makan malam di luar? Kita bertiga maksudnya?”
“Enggak, cuma kita berdua … Nana gak ikut…”
“Hah? Makan malamnya cuma berdua saja?”
“Iya… Gimana? Kamu bisa gak?”
“Eng… aku… aku ….” Ning nampak bingung menjawabnya. Ia terdiam sejenak untuk memikirkan jawaban yang akan ia berikan.
“Apa? Si pak dokter ngajakin Ning makan malam? Cuma berdua… Wahhh, ada kemajuan nih…” gumam Ocha dalam hati yang masih berdiri di depan meja kerja Ning. “Ih, kok si boloning malah diam sih… pasti lagi nyari alasan buat nolak ajakan si pak dokter,” Ocha kembali bergumam dalam hatinya.
“Ning mau Pak dokter… Ning mau makan malam sama pak dokter,” Ocha berteriak agar Singgih bisa mendengar suaranya. Nampaknya ia merasa gregetan melihat Ning yang kelamaan mikir.
“Cha, lo apa- apaan sih?” protes Ning mengerutu dengan suara pelan dan menjauhkan ponsel dari telinganya sejenak.
“Udah lo terima aja ajakan makan malam nya….” usul Ocha.
“Hallo… Ning…." Singgih yang masih menunggu jawaban, memanggil Ning.
“Iy iya hallo, Mas….”
“Jadi gimana? Apa benar yang dikatakan Ocha itu?” nampaknya Singgih mendengar teriakan Ocha.
“It itu anu eng anu….”
“Iya, Pak Dokter … Ning mau kok… dia malu malu kucing….” Ocha kembali berteriak, seolah ia tahu apa yang dipertanyakan Singgih.
“Yasudah, Nanti jam tujuh aku jemput kamu ya… Assalamu’alaikum….” ucap Singgih yang kemudian mematikan sambungan telponnya.
Nut nut nut… suara panggilan pun terputus.
“Sialan lo, Cha… Apa-apaan lo ngomong kayak gitu?!” Ning nampak kesal dengan ulah sahabatnya.
“Elo sih kelamaan mikir… Bukannya lo bilang kalau dokter Singgih gak pernah nembak lo, dan lo gengsi nembak duluan… Nah, sekarang kan udah ada kemajuan tuh… Pasti dokter Singgih mau nembak lo… Atau jangan- jangan dia mau ngelamar lo lagi… cie….”
“Diam lo Cha!!"
“Udah sana, pergi ke salon dulu lo… Supaya ntar malam lo kelihatan cantik….”
“Pergi lo!!”
“Iya ini juga mau pergi… Gue tunggu berita gembira nya ya….” Ocha tak hentinya menggoda Ning.
Ning mendengus kesal. Ia mengambil spidol dari atas meja, kemudian melemparkannya pada Ocha. Beruntung Ocha segera pergi, jadi spidol itu tak mengenai dirinya.
“Hufh… Apalagi ini… tadi anaknya yang ingin ketemu mama nya, sekarang bapaknya yang ngajak gue makan malam… Haduh… gimana ini? Gimana kalau dia beneran nembak gue… Gue musti gimana??” Ning menggerutu kesal. ia yang niat bekerja pun tak bisa konsentrasi, karena terus memikirkan apa yang akan terjadi malam nanti.
**
Siang pun berganti malam, matahari sudah menenggelamkan dirinya dan digantikan oleh cahaya bulan untuk menerangi kegelapan malam.
Ning yang nampak sudah bersiap, tengah menunggu kedatangan Singgih yang akan menjemputnya.
“Biasa aja kali Ning, jangan tegang gitu… Lo udah udah dua kali kentut loh tadi … Jadi gue harap,, nanti saat dokter Singgih menyatakan cintanya sama lo, itu si kentut udah gak sanggup keluar lagi… Kan sayang, udah pakai gaun, dandan cantik gini, tiba- tiba mengeluarkan bau busuk….”
“Diam lo… Ini semua gara- gara lo….” Ning masih kesal pada Ocha
“Hahahaha… Sekarang aja lo nyalahin gue… Nanti pulang dari sana, lo pasti berterima kasih sama gue….”
Tiba- tiba terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah Ning.
Tin tin …
“Noh, sang pangeran udah datang…. Biasa aja dong lo, jangan tegang gitu… Ketahuan kan gak pernah ditembak cowok….” ejek Ocha.
“Lo ngoceh mulu dari tadi… Lama- lama gue sumpel juga mulut lo, pakai kain pel….”
“Hahaha… udah keluar sana… Tarik nafas dulu… terus buang… Biar gak nervous….”
Ning melakukan apa yang disarankan oleh Ocha, seperti sedang melakukan yoga. Setelah merasa tenang, ia pun keluar dari kamarnya, bertepatan dengan Singgih yang mengetuk pintu rumahnya.
Ning melangkah perlahan menuju pintu keluar. Ia lalu membuka pintunya dan ia melihat Singgih berdiri tepat di depannya. Matanya tak berhenti menatap Ning dari atas hingga bawah, dengan tatapan kekaguman.
“Mas…. Mas Igih….” ucap Ning memanggil Singgih yang nampak terpesona melihat dirinya.
“Iy iya… Kamu cantik sekali, Ning….” ucap Singgih.
“Hehe….” Ning tersipu malu mendengar pujian itu.
“Ehem… Ayo kita berangkat sekarang ….” Ucap Singgih yang nampak grogi.
__ADS_1
“Iya, Mas….”
Keduanya berjalan berdampingan. Singgih lalu membukakan pintu mobil untuk Ning, yang kemudian masuk. Usai menutup pintu mobil, ia melangkah dan masuk ke dalam mobil, kemudian melajukannya.
*
Selama dalam perjalanan, tak ada percakapan diantara keduanya. Nampaknya mereka tenggelam dalam pikiran masing- masing. Hingga saat memasuki pintu gerbang sebuah tempat, barulah Ning membuka suara.
“Loh, Mas… Bukannya kita mau makan malam? Kok malah ke hotel?” tanyanya heran.
“Hehehe, tenang saja, Ning… Kita akan makan di restorannya, bukan di kamar nya kok….”
“Oh, gitu ya….”
“Iya… Di sini makanannya enak….” Ucapnya kemudian mengentikan mobilnya tepat di depan pintu lobi. “Ayok kita turun….” Ajaknya yang kemudian membuka seatbelt dan keluar dari mobilnya. Ning pun melakukan hal yang sama, namun pintu mobilnya telah dibukakan oleh penjaga keamanan hotel tersebut.
“Ayok kita masuk….” Ajak Singgih, dan mereka pun masuk. Ning berjalan mengikuti arah kemana Singgih membawanya. Hingga mereka tiba di dalam sebuah restoran mewah.
“Selamat malam, Pak… Ada yang bisa kami bantu?” tanya seorang pelayan yang menyambut kedatangan mereka.
“Reservasi atas nama Singgih Wardhana….”
“Oh iya, Mari saya antar ke meja nya….” Ucap sang pelayan restoran setelah melihat layar ipad nya. Ning dan Singgih mengikuti pelayan tersebut. “Silahkan, Pak… Nona… ini buku menu nya, silahkan dipilih….” ucapnya mempersilahkan.
“Terimakasih….” Ucap Singgih yang menarik sebuah kursi, kemudian mempersilahkan Ning duduk. Ia lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Ning yang terhalang oleh meja, dimana di tengahnya terdapat sebuah hiasan Kristal dengan cahaya lampu kuning di dalamnya.
“Kamu mau pesan apa, Ning?” ucapnya sembari melihat daftar menu.
“Em, apa ya?” Ning nampak bingung memilih makanan yang ia lihat di daftar menu besrta harganya.
“Ini kok mahal banget sih… Mending makan di café biasa aja deh … Ah bodo amat lah, ditraktir ini….” gumam Ning dalam hati. Ia lalu memilih satu menu lengkap dengan minum nya. Begitu pun dengan Singgih.
Tak lama, dua orang pelayan datang dengan membawa nampan di tangannya. Mereka menghidangkan makanan yang dipesan Ning dan Singgih di atas meja. Dan keduanya pun mulai menyantapnya.
“Perkiraan lo meleset, Cha… Ini cuma makan malam biasa aja, gak ada yang spesial…. Huft, akhirnya aku bisa bernafas lega….” gumam Ning dalam hati saat mengunyah makanannya.
“Kamu suka makanannya, Ning?” tanya Singgih saat selesai makan.
“Iy iya, suka… enak, hehehe…."
Singgih mengangkat tangannya dan tak lama datang lah seorang pelayan membawa sebuah nampan yang berisi sebuah kotak dan setangkai mawar merah. Pelayan itu meletakkannya di atas meja.
Singgih bangkit dan berdiri. Ia melangkah mendekati tempat Ning duduk. Dan tak disangka, ia berlutut di samping kursi Ning. Ia pun mengubah posisi duduknya menghadap Singgih.
“Mas… Mas Igih ngapain berlutut gitu?” tanya Ning yang terkejut melihat ulah Singgih. Namun bukannya menjawab, tangan Singgih malah memegang tangan Ning lalu menggenggamnya dengan lembut. Ia menanggahkan kepalanya dan menatap mata Ning dengan intens.
“Ning… Will you marry me?” ucapnya dengan suara lemah lembut.
Ning yang terkejut luar biasa, membelakan mata dengan mulut ternganga.
“Ap Apa? Ma Mas Igih, bilang apa? Ni nikah? Ap apa aku salah dengar?” ucap Ning terbata- bata.
“Iya… kamu gak salah dengar Ning….”
“Ta tapi.. Apa ini tidak terlalu cepat?”
“Ning… Sudah hampir satu tahun ini kita dekat dan saling mengenal satu sama lain… Dayana, putriku juga sangat dekat dengan mu, bahkan dia sangat menyayangi mu… Maukah kau menikah dengan ku dan menjadi ibu untuk putriku?” Singgih kembali mengulang pertanyaannya.
Ning yang begitu terkejut, tak sanggup berkata apa pun untuk menjawab pertanyaan Singgih. Jantungnya berdebar lebih kencang, tubuhnya pun terasa merinding disko. Perkataan Singgih seolah berulang- ulang terngiang di telinganya. Namun saat ia merasakan hal aneh, ia segera tersadar dan melepaskan tangannya dari genggaman Singgih. Ia langsung bangkit.
“Ma maaf Mas, aku mau ke toilet dulu….” Ucapnya kemudian bergegas pergi. Ia berjalan dengan cepat sembari mengedarkan pandangannya, hingga berpapasan dengan pelayan.
“Mbak, toilet sebelah mana ya?”
“Sebelah sana, Mbak… Lurus, belok ke kiri, nanti ada____” ucapnya menunjukan arah.
“Terimakasih, Mbak….” Ning bergegas pergi ke arah yang ditunjukan tanpa mendengar ucapan pelayan itu sampai selesai. Ia berlari seolah takut membuat kekacauan di sana.
“Aduh, tadi belok sini ya… Nah itu dia….” Ucap Ning yang dari kejauhan melihat tulisan tiolet, ia mempercepat langkahnya dan ia segera masuk dengan terburu- buru.
Saat ia sudah di dalam di depan cermin wastafel, matanya langsung tertuju pada pintu toilet yang terbuka, yakni pintu ke dua dari empat pintu. Ia segera masuk dan menguncinya dari dalam.
Dut durutt dut dut dut….
“Hufhh… lega rasanya….” Ucap Ning sembari duduk di atas kloset yang tertutup.
Uhuk uhuk uhuk… tiba- tiba terdengar suara orang batuk- batuk dari toilet sebelah.
“Hah? Kok kayak ada suara cowok?” gumam Ning heran.
Uhuk uhuk uhuk… ceklek…
Suara batuk kembali terdengar diiringi suara pintu dibuka.
“Hah, beneran deh itu suara cowok… kok kayak kenal ya….” gumamnya berdialog sendiri sambil mengingat- ingat itu suara siapa. “O em ji… ini kan toilet perempuan, kenapa bisa ada suara cowok? Kurang ajar… ternyata di isni ada pengintip….” Ucapnya menggerutu. Ia lalu membuka pintunya dan bergegas keluar.
Dan benar saja ia mendapati seorang lelaki tengah berdiri menghadap dinding tembok, yang bagian tubuh terhalang oleh sebuah sekat.
“Heh, ngapain lo di sini?” bentak Ning pada laki- laki itu yang kemudian menoleh ke arah Ning.
“Hei, anda yang sedang apa di sini? kenapa masuk ke dalam toilet pria?” ucap pria itu sewot, yang ternyata sedang buang air kecil pada urinoir yang terhalang oleh sekat itu.
Ning yang hampir berteriak, membekap mulutnya sendiri. Dengan segera ia beranjak keluar dari toilet tersebut. Ia lalu melihat pintunya yang ternyata benar itu adalah toilet pria.
“Sialan… kenapa gue bisa salah masuk toilet,” ucapnya menggerutuki dirinya sendiri. Ia lalu beranjak pergi dengan terburu- buru sembari melihat kesana kemari untuk kembali ke tempat Singgih menunggunya.
Saat sudah dekat, Ning memelankan langkahnya. Ia tak hentinya menghela nafas panjang untuk memenangkan dirinya sendiri.
“Udah, dari toiletnya?” tanya Singgih yang terlihat sudah membuka jaket kulitnya, nampaknya rasa tegang dan grogi membuat ia kegerahan sendiri. Padahal di restoran itu terasa dingin.
“Udah, Mas…”ucap Ning yang kemudian duduk kembali di kursinya. Ia meletakan kedua tangannya di atas meja. Tak disangka, Singgih kembali menggenggam tangan Ning.
“Gimana, Ning? Apa kamu bersedia menikah dengan ku?” ucapnya menunggu jawaban Ning.
“A aku… A aku_____”
------------- TBC-------------
__ADS_1
*******************
Happy Reading……