NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Dia Udah Gak Ada...


__ADS_3

Sepuluh bulan kemudian


*


Ning yang sudah sembuh total dan hanya tinggal kontrol satu bulan sekali, kini tengah disibukan dengan bisnis online-nya. Tak disangka yang awalanya hanya menjual produk dari toko orang lain, kini ia sudah bisa membuat produk sendiri dengan harga grosir.


Ia sudah memiliki banyak pelanggan yang selalu memesan barang dari nya, baik secara online atau offline. Mulai dari sovenir pernikahan seperti gantungan berbentuk boneka kecil, bentuk sayuran serta buah- buahan yang terbuat dari kain flanel, dompet kain, sampai membuat tas- tas lokal dengan menggunakan brand sendiri.


Tak hanya Siti dan Ocha saja, kini ia memiliki beberapa karyawan. Bahkan tetangganya pun kini menjadi tenaga kerjanya untuk menjahit tas yang bisa dibawa ke rumah masing- masing. Ia juga sudah bisa membeli sepeda motor dan mencicil mobil box yang digunakan untuk pengiriman barang. Ia menyewa sebuah rumah untuk tempat produksi juga sebagai tempat gudang penyimpanan barang.


Singgih pun semakin gesit mendekati Ning, keduanya sering chatting, telponan bahkan video call. Nana yang merindukannya selalu dijadikan alasan oleh Singgih untuk memulai komunikasi dengan Ning, karena semenjak bisnis online Ning berkembang Singgih melarang Nana agar tidak datang setiap hari ke rumah Ning. Ia hanya akan datang setiap hari minggu saja, itu pun bersama Singgih.


Namun seringkali Ning menolak ajakan Singgih untuk pergi keluar. Sibuk dengan pekerjaan yang selalu dijadikan alasannya. Sepertinya ia tidak ingin kejadian tempo hari terulang lagi. Akan tetapi, jika Nana yang merengek barulah ia bersedia pergi. Dan itu terhitung jarang sekali.


“Non, Bu Farida nelpon terus nih nanyain kapan pesanannya akan diantar….” Ucap Siti menghampiri Ning di ruang kerjanya sebagi owner.


“Loh, memangnya kurir masih pada delivery?” tanya Ning yang nampak sibuk dengan layar laptopnya.


“Iya, Non… Mbak Ocha lagi ngantar pesanan ke Tangerang pakai mobil… Gimana nih, Non? Kan Non tahu sendiri kalau Bu Farida itu orang kuno yang gak punya rekening bank, jadi tiap transaksi selalu bayar cash….”


“Berapa banyak pesanannya?”


“100 pcs tas, Non….”


“Yasudah, aku aja yang antar….” Ning menutup file yang sudah di save nya, kemudian mematikan laptopnya.


“Eh, tapi mau pakai apa Non? Mobil sama motor kan lagi dipakai delivery?” tanya Siti bingung.


“Siti … ini bukan zaman firaun dagang cilok, kalau mau pergi- pergi tinggal pesan taksi online aja kali….” Ucap Ning lalu berdiri.


“Ehehehe… iya, saya lupita… Ini nota dan alamatnya, Non….” Siti menyerahkan selembar kertas pada Ning.


“Yasudah sana siapkan barangnya… Aku akan pesan taksinya….” Ucap Ning yang kemudian mengambil ponsel. Ia membuka aplikasi pemesanan transportasi online dan memasukan alamat tujuan sesuai yang tertera di nota. Ia mengambil tas dan memasukan ponsel serta nota ke dalamnya.


“Barangnya udah dipacking kok… tinggal dibawa keluar aja….” Siti lalu keluar ruangan, diikuti Ning dari belakangnya.


Tak lama taksi online pesanan Ning datang. Siti membantu memasukan barang pesanan salah satu pelanggan mereka ke dalam taksi. Ning kemudian masuk ke dalam nya dan sang sopir pun melajukan mobilnya menuju alamat yang sudah tertera di aplikasi pemesanan.


*


“Mbak, berhentinya sebelah mana ya? Disini sih sudah sesuai titik di aplikasi….” Ucap sang sopir taksi yang kemudian meminggirkan taksinya dan berhenti.


“Eng, bentar ya Pak… Saya hubungi teman saya dulu….” Ning kemudian menghubungi pelanggannya yang bernama Farida itu sembari melihat kesana kemari dari kaca pintu mobil yang diturunkannya.


“Aduh… kenapa gak diangkat- angkat sih….” Gumamnya dalam hati. Ning kembali mendial nomor Farida, karena tak kunjung mendapat jawaban.


Ia pun keluar dari dalam taksi dan berdiri di sebelah mobil tersebut dengan mengedarkan pandangannya sembari bicara dengan Farida.


Ning yang masih menunggu kedatangan Farida, tiba- tiba melihat dari kejauhan dua orang yang baru saja keluar dari dalam mobil. Ia memperhatikan kedua orang yang berjarak sekitar dua puluh meter darinya itu dengan seksama. Keduanya masuk ke dalam sebuah pintu gerbang. Ning pun terus memperhatikannya. Krena ia yakin mengenali kedua orang itu.


“Sedang apa mereka di sana?” gumam Ning dalam hati.


Tiba- tiba ada yang menepuk punggung Ning dari belakang dan membuatnya terperanjat. Ia langsung berbalik melihat ke arah orang itu.


“Mbak Ningrat ya?” tanya seorang wanita.


“Ibu Farida?” Ning balik bertanya, karena selama ini Ocha yang selalu mengantarkan pesanan beliau, sehingga Ning tak mengenali pelanggannya itu.


“Iya, saya Farida… Maaf ya sudah menunggu lama….”


“Oh, iy iya gak apa- apa….”


“Mana barang pesanan saya?” tanya Farida.


“Oh, masih di dalam taksi, Bu….”


“Biar pegawai saya aja yang membawanya….” ucap Farida.


“Iya, Bu …”


“Mari kita ke rumah saya dulu, sekalian ngecek kelengkapan barangnya….” Ajaknya.


“Iya, mari bu….”


Ning kemudian pergi bersama Farida dan pegawainya yang membawakan barang pesanan. Keduanya berjalan sekitar seratus meter dari tempat berhentinya taksi yang dinaiki Ning. Bukan hanya itu, ternyata rumahnya Farida masuk lagi ke dalam gang.


“Tadi taksi nya berhenti kejauhan, Mbak… Padahal kalau berhenti di depan sini lebih dekat….” Ucap Farida saat hendak memasuki gang.


“Iya, Maaf Bu … saya baru pertama kali ke sini… Biasanya Ocha yang nganter….”


“Iya, biasanya Mbak Ocha….”


Akhirnya ketiga orang itu pun sampai di rumah Farida, dan segera mengecek barang yang disesuaikan dengan nota pembelian.


“Em, Bu… Tadi di sana ada gerbang warna hijau tua, itu rumah siapa ya?” Ning nampaknya masih penasaran dengan tempat yang dilihatnya tadi.


“Gerbang warna hijau yang tinggi? Yang ada dua penjaga itu?” tanya Farida memastikan.


“Iy iya, Bu ….” Ning mengangguk sambil mengingat- ingat.


“Oh, itu tempat pemakaman keluarga….”


“Hah? Pemakaman?” tanya Ning heran.


“Iya, pemakaman… Tapi tempatnya kayak taman gitu, karena selalu dirawat supaya tetap bersih dan gak terlihat serem katanya… Jadi warga yang tinggal di sekitar sini gak akan takut…. Padahal tanah seluas itu bisa dibangun rumah mewah, eh malah dijadikan tempat pemakaman….” ucapnya panjang lebar.


“Memangnya tempat pemakamannya masih baru?” Ning nampak semakin penasaran.


“Udah lama itu … Dulu kan di sini gak ada rumah- rumah seperti sekarang, cuman ya lahan itu aja yang dipakai pemakaman….”


“Oh, gitu ya….” Ning mulai paham.


Usai pengecekan, Farida melakukan pembayaran kepada Ning dengan uang tunai. Kemudian Ning pun pamit pulang. Namun ia yang nampak masih penasaran, berjalan ke tempat yang sempat ia bicarakan tadi dengan Farida.


Saat sampai di pintu gerbang, ia melihat seseorang tengah duduk di dalam sana tepat di samping sebuah makam. Ia memasukan ponsel ke dalam tas nya usai memesan ojek online.


“Maaf, Mbak… Ada keperluan apa ya?” tanya seorang pria yang menghampiri Ning dengan memakai pakaian seragam hitam. Nampaknya ia adalah penjaga di sana.


“Eng, enggak Pak… Saya cuman merasa mengenali ibu itu… em, boleh saya masuk?” ucap Ning menunjuk ke arah dalam.

__ADS_1


“Maaf, Mbak… Yang diperbolehkan masuk hanya anggota keluarga saja, orang lain dilarang masuk, kecuali datang bersama anggota keluarga….”


“Memangnya di sana pemakaman keluarga siapa?” tanya Ning penasaran.


“Di sini pemakaman keluarga besar Sahulekha dan Danubrata….”


“Apa? Sahulekha?” Ning terkejut mendengar salah satu nama belakang keluarga yang tak asing baginya.


“Iya….”


“Jadi, itu yang di dalam benar- benar nyonya besar Sahulekha?” tanya Ning memastikan.


“Betul, apa anda mengenal beliau?” sang penjaga balik bertanya.


“Oh, Nyonya besar sedang ziarah ke makam Non Diandra ya?” ucap Ning menebak, karena yang ia tahu jika anaknya nyonya besar yang sudah meninggal ya Diandra, ibunya Nana.


“Bukan, Mbak… Maaf, Mbak… Hari ini akan ada banyak orang yang datang kemari… Jika tidak ada kepentingan, sebaiknya anda tidak mengganggu pekerjaan saya….” Ucapnya terdengar mengusir Ning.


“Memangnya ada yang meninggal?” tanya Ning.


“Bukan… Hari ini tepat satu tahun meninggalnya putra Nyonya____”


Tin tin


Terdengar suara klakson mobil yang hendak parkir dan diiringi mobil lain di belakangnya.


“Maaf, sekali lagi saya sedang sibuk… Silahkan anda meninggalkan tempat ini….” Sang penjaga benar- benar mengusir Ning.


“Iy iya… Maaf, Pak….” Ning yang terlihat bingung, meninggalkan tempat itu dan terlihat memikirkan sesuatu.


Tin tin


“Maaf, dengan Mbak Ningrat?” tiba- tiba ada sebuah motor berhenti di dekat Ning dan menyapanya.


“Hah? Maksudnya?” Ning malah seperti orang linglung.


“Mbak Ningrat memesan ojek online?” tanya si pengendara motor.


“Oh, iy iya, saya yang pesan….” Ning yang baru tersadar, kemudian menaiki motor tersebut dan duduk di belakang pengemudi yang memberinya helm. Usai Ning mengenakan helm, motor pun segera melaju menuju alamat tujuan.


Sepanjang jalan Ning terus memikirkan ucapan penjaga gerbang tadi. Hingga sudah sampai di rumah tempat kerjanya pun ia terus- terusan melamun sembari duduk di kursi teras.


“Non, saya perhatikan dari tadi ngelamun terus... ada apa non?” tanya Siti menghampiri.


“Eng enggak apa- apa kok Siti….” Ning menyangkal.


“Non sakit? Aku telpon Ocha atau Pak Dokter aja ya….” ucapnya nampak khawatir.


“Gak usah Siti, aku gak apa- apa kok … Kamu urus kerjaan aja ya…. “Ucapnya lalu bangkit dan masuk ke dalam. Ia masuk ke ruangannya dan uduk di kursi bos. Siti pun terus mengekor.


“Kak Siti, ini gimana pesanan Mas Athar, katanya masih barangnya ada yang kurang….” Ucap salah seorang pegawai dari ambang pintu.


“Oh ya ampun, kalian gimana sih, gak teliti banget….” Gerutu Siti yang nampak kesal pada karyawannya. Ia lalu pergi untuk mengurus masalah tersebut dan meninggalkan Ning di dalam ruangannya.


Mendengar nama yang tak asing baginya, membuat Ning kembali teringat pada pria yang bernama Athar.


“Ya ampun… ternyata udah setahun aja aku dioperasi… Terimakasih pendonor misterius… berkat mu, aku masih bisa hidup sampai sekarang… Tapi sayang, baik dokter atau pun pihak rumah sakit tak ada yang memberitahukan ku siapa pahlawan pemberi kehidupan ku itu….” gumamnya lalu menghela nafas panjang.


Ia duduk bersandar lalu menggoyang- goyangkan kursinya ke kanan dan ke kiri dengan kalender masih digenggamnya. Nampaknya ada yang sedang mengganggu pikirannya. Hingga beberapa saat ia terus melamun.


“Non… nona… Nona Ning….” Siti memanggil Ning hingga beberapa kali


“Iy, iya… Ada apa Siti?” Ning terperanjat, hingga tanpa sengaja ia menjatuhkan kalender dari tangannya ke lantai.


“Jangan ngelamun terus Non … Nanti bisa kesambet loh?” ucap Siti yang membantu mengambilkan kalender.


“Ada apa Siti?”


“Saya cuma mau tanya, Nona mau makan siang apa?” ucapnya lalu menatap sekilas pada kalender di tangannya. “Kenapa tanggal hari ini dilingkari? Eh tunggu, kok ada kata operasi di sini?” ucapnya memperhatikan kalender itu.


“Anggap saja hari ini ulang tahun yang pertama untuk ginjal baru ku….” Ucap Ning lalu berdiri.


“Hah? Ternyata sudah setahun ya, rasanya baru kemarin deh Nona dioperasi….”


“Iya, hehe….”


“Saya ingat betul, hari itu pagi- pagi Nona kejang- kejang dan pingsan lama banget setelah cuci darah… Saya sampai kalang kabut, apalagi Pak Daniel kelihatan cemas dan kacau banget… Dan hari itu merupakan terakhir kalinya saya melihat Pak Daniel….” Ucap Siti mengenang hari itu, hingga ia baru menyadari sesuatu saat melihat ekspresi wajah Ning.


“Eh, Maaf Non… Saya gak bermaksud____”


“Gak apa- apa ko Siti….”


“Ini kalendernya, Non….” Siti menyerahkan kalender tersebut, dan Ning kembali melihat tanggal yang ia lingkari itu.


Ia kembali diam termenung, tenggelam dalam pikirannya. Ucapan- demi ucapan yang berhubungan dengan tanggal itu, memenuhi isi kepalanya. Bahkan perkataan yang sudah lama pun kembali melintas di kepalanya.


‘Operasi… Terakhir kali melihat Pak Daniel… Hari ini satu tahun meninggalnya putranya Nyonya… Dady pergi jauh sekali… Kita tidak akan bertemu lagi’


Ning membekap mulutnya sendiri dengan raut wajah shock. Dan ia kembali menjatuhkan kalendernya.


“Non … Nona kenapa?” tanya Siti panik.


“Siti… kamu bilang apa tadi? terakhir melihat Pak Daniel?” tanyanya masih dengan raut wajah shock.


“Iy iya… Eng, nona lupakan saja … Anggap saya gak pernah bilang seperti itu, hehehe….”


“Kapan terakhir kali kamu melihat Pak Daniel?” Ning mengulang pertanyaannya.


“Sudahlah Non, lupakan saja… Nanti Nona bisa sedih lagi… saya aja udah lupa kok….” Siti terus menghindar.


“Kapan terakhir kali kamu melihat Daniel, Siti??!!” Ning yang tak kunjung mendapat jawaban Siti, akhirnya membentak karyawannya itu.


“Eng, anu … anu itu... eng…. malam itu sebelum nona dioperasi, Pak Daniel menemui dokter dan masuk ke ruang persiapan operasi… Waktu itu dokter bilang_____”


“Bilang apa Siti?” Ning mencengkram kedua lengan Siti.


“Eng, kalau gak salah dokter bilang gini ‘ kamu sudah siap Daniel?’ terus Pak Daniel mengangguk dan bilang ‘iya’….” Siti menjawab dengan yakin juga ketakutan melihat Ning yang nampak hendak murka padanya.


“Apa? Dia masuk ruang persiapan operasi dan bilang seperti itu… Kamu yakin Siti?”

__ADS_1


“Iy iya, saya yakin… Saya gak salah dengar kok… Dan itu terakhir kalinya saya melihat Pak Daniel, karena saat beliau masuk, saya dibawa pergi oleh Pak Riko ke ruang rawat inap nona….”


Ning melepaskan lengan Siti. Ia kembali membekap mulutnya. Tubuhnya terasa lemas, hingga ia kehilangan keseimbangan dan menjatuhkan tubuhnya hingga duduk di lantai. Matanya menatap kosong, namun air mata tiba- tiba mengalir. Ning terlihat begitu shock.


“Non… nona gak apa-apa….” Siti menggoyang- goyangkan tubuh Ning.


“Enggak … enggak … itu gak mungkin….” Bukannya menjawab Ning malah mengatakan hal lain.


“Non… nona kenapa?” Siti semakin panik.


Ning yang baru tersadar, menghapus jejak air matanya. Ia berdiri, mengambil tas kemudian bergegas pergi keluar.


Siti yang merasa semakin cemas, dengan segera mengikuti Ning. ia berjalan dengan cepat menyusuri gang si jalan pintas, hingga keduanya sampai di depan jalan raya.


Ning menghentikan sebuah taksi, kemudian ia masuk begitu pun dengan Siti. Setelah Ning menyebutkan alamat tujuannya, sang sopir pun melajukan mobilnya.


Sepanjang jalan Ning yang duduk bersandar miring ke pintu mobil dengan tatapan kosong, tak hentinya meneteskan air mata. Entah apa yang ada di pikirannya. Sepertinya Siti yang duduk di sampingnya pun seolah tak disadari kehadirannya.


Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, taksi itu pun sampai di tempat tujuan. Ning langsung keluar sesaat setelah sang sopir menghentikan kendaraannya. Siti pun mengikutinya setelah membayar ongkosnya.


Ternyata Ning kembali ke depan pintu gerbang hijau tua itu lagi. Ia menggoyang- goyangkan pintu agar bisa masuk kedalam area pemakaman itu dengan berlinang air mata. Tatapan matanya tertuju pada kuburan yang terlihat banyak bunga di sana.


“Hei, anda siapa?” sang penjaga menghampiri Ning yang menurutnya membuat keributan.


Ning mengarahkan pandangannya pada penjaga itu.


“Pak… tadi bapak bilang kalau hari ini tepat satu tahun meninggalnya putra Nyonya, kan?"


“Iya memang benar…."


“Kenapa dia sampai meninggal? hiks hiks….”


“Kalau tidak salah, dia meninggal setelah beberapa saat setelah melakukan operasi" ucap sang penjaga.


“Apa? Setelah operasi?” Ning kembali shock.


“Iya….” angguk si penjaga.


“Gak … gak mungkin…. Itu gak mungkin... huaaaaaaa….” Ning menangis histeris, ia mengusap kasar kepalanya, hingga tubuhnya terasa lemas dan tak sadarkan diri.


Bruk….


“Nona….” Siti langsung mendekat, penjaga itu pun menolong Ning dan membawanya ke posko. Ia dibaringkan di atas kursi panjang yang ada di dalamnya.


Siti segera menghubungi Ocha dan juga Singgih dari menggunakan ponsel Ning. Tak lama keduanya pun datang bersamaan, meski dari tempat yang berbeda.


Singgih segera memeriksa keadaan Ning, dan tak lama ia pun siuman. Perlahan ia membuka matanya.


“Ning… kamu baik- baik saja?” ucap Singgih nampak cemas.


Seketika Ning membuka matanya lebar- lebar. Ia melihat ke sekeliling lalu bangun dan duduk. Saat melihat ke arah luar, ia kembali teringat. Ia langsung bangkit dan berlari menuju pintu gerbang tadi. Ocha, Siti, Singgih dan penjaga pun mengikuti Ning.


Ning kembali menangis dengan tangan yang terus menggoyang- goyangkan pintu pagar besi itu.


“Ning… ada apa dengan mu….” tanya Singgih merasa aneh dan heran.


“Huaaaaa…. Huaaaa….” Ning terus menangis tanpa bisa berkata- kata.


“Ning sebaiknya kita pulang….” ucap Ocha.


“Gak… gak mungkin… gak aku gak mau pulang, huhuhuhuhuhu…. Aku mau ke sana, aku mau ke sana….” Ning menunjuk ke makam itu.


“Kemana, Ning?” tanya Singgih heran dan bingung.


Ning melihat ke arah Singgih, ia baru teringat jika Singgih masih ada kaitan dengan keluarga Sahulekha.


“Mas… tolong bawa aku masuk ke dalam… aku mohon… aku mohon, huhuhuhu….” Ning menarik- narik lengan Singgih, memohon padanya dengan berlinang air mata.


“Iy iya….” Singgih yang terlihat masih bingung pun mengikuti keinginan Ning. Ia meminta penjaga membuka pintu gerbangnya.


Seketika Ning langsung berlari tanpa memperdulikan siapa pun. Langkahnya terhenti di depan sebuah kuburan yang terdapat beberapa buket bunga, dan pusaranya dipenuhi taburan bunga.


Air mata terus membanjiri pipinya.


Ning berjongkok di samping pusara. Tangannya meraba makam yang terbuat dari material marmer itu dengan berlinang air mata.


“Kenapa kau lakukan ini? Kenapa berkorban begitu besar untuk ku, tuan Om….” Jeritnya dalam hati, bibirnya terasa kelu tak mampu berkata. Matanya tertuju pada batu nisan. Ia membaca tanggal wafat yang tertera di sana.


“Huaaaaaa… huaaaa…..” tangisnya kembali pecah, ia bersimpuh lalu memeluk makam itu.


“Ning… lo jangan kayak gini Ning… Pamali nangis di atas kuburan….” Ocha yang berjongkok berusaha mengajak Ning bangun, namun ia tak menghiraukannya. Ia menangis histeris.


Singgih yang terlihat bingung, hanya bisa berdiri bersama penjaga, melihat apa yang dilakukan Ning. Meski sebenarnya dalam hatinya dipenuhi tanda tanya.


“Ada hubungan apa Ning dengan dia? Kenapa Ning sampai menangis seperti itu?” gumam Singgih dalam hati.


“Huaaaa… huaaaa….”


“Ning istigfar Ning, istigfar….” Ocha berusaha menenangkan.


“Gue emang gak berguna, Cha… Gue selalu bawa sial buat orang lain, huaaaaaaa….”


“Udah, Ning… lo jangan kayak gini….”


“Dia udah meninggal, Cha… Dia udah gak ada… dan itu semua gara- gara gue, huhuhuhuhu….”


“Lo jangan nangis kayak gini, gak baik Ning nangis di kuburan… Lo kirim doa itu lebih baik…. Ayok sini bangun….” Ocha menarik tubuh Ning, dan ia pun bangkit lalu duduk di atas tanah rerumputan samping makam tersebut. Ocha segera memeluknya.


“Istigfar Ning… Istigfar….” Ucapnya dan Ning pun mulai terlihat tenang meski masih menangis dengan raut wajah penuh penyesalan dan begitu terpukul.


-


-


------------- TBC ----------


********************


Happy Reading….

__ADS_1


__ADS_2