
Pletak
“Aww….” Athar meringis merasakan sakit di kepalanya.
Baru saja ia menoleh ke belakang, kepalanya langsung mendapat jitakan dari sang kakak.
“Apaan sih, Bang? Main jitak- jitak aja!!” protes Athar kesal.
“Kalau mau bermesraan, lihat sekitar dong!!”
“Loh, apa salahnya? Bermesraan di taman itu sah- sah aja!!” ketus Athar makin kesal.
“Tentu saja salah! Apa kau tidak lihat, tuh dua bocah lagi main di sana?” Dandy menunjuk ke arah dimana ada Sheryl dan Nana sedang main lari- larian di taman yang sama dan tak jauh dari dua insan yang sedang bermesraan tadi.
“Hehehe…. Sorry, Bang… Aku gak tahu kalau ada anak- anak di sana….” Athar tersenyum kikuk, sementara Ning hanya bisa menundukkan kepalanya saking merasa malu. Udah mah terciduk sama kakaknya Athar, ditambah ada anak- anak yang tak jauh dari mereka. Lengkap sudah.
“Dady….”
“Om ganteng….”
Seru Nana dan Sheryl yang berlarian menghampiri tempat dimana Athar, Ning, juga Dandy berada.
Athar pun langsung berdiri dan menyambut kedua gadis kecil itu. Ia pun berjongkok dengan merentangkan kedua tangannya. Kedua bocah itu langsung berhamburan memeluk Athar. Ia pun bergantian mengecup pipi kedua gadis kecil yang disayanginya itu.
“Om, kapan pulang dari luar negeri?” tanya Sheryl yang sudah melepaskan pelukannya.
“Kan tadi Nana udah bilang, kalau Nana ke sini sama Dady dan Momy… Gimana sih Kak Sheryl ini….” Malah Nana yang nyamber. Ia nampak merasa kesal, karena kakak sepupunya itu seolah tak memperhatikan ucapannya saat ia baru datang tadi ke kamar Sheryl.
“Opps, aku lupa, hehehe….” Sheryl cengengesan. “Oleh- olehnya mana, om?” tagih Sheryl.
“Oh, iya… Dady juga ‘kan janji sama Nana mau beliin boneka yang banyak… Mana mana mana Dady?” Nana pun ikut menagih.
“Iya iyaaa, gadis- gadisku… Oleh- olehnya ada di apartment … Nanti dibawa ke sini sama Om Riko ya…..”
“Horee hore…..” keduanya bersorak girang.
“Hummm… Jadi kangennya cuma sama Om Athar aja nih….” Celetuk Dandy yang merasa keberadaanya tak dihiraukan kedua keponakannya.
“Kan sama Om Dandy udah ketemu dari kemarin, wle….” Ucap Sheryl menjulurkan lidahnya tanda mengejek.
Sementara Nana hanya tersenyum saja. Ia nampak masih malu- malu pada Om-nya yang satu itu. Maklumlah, ia hanya baru dua kali bertemu dengan Dandy yang selama ini tinggal di Belanda.
“Gak usah iri, Bang… Beginilah nasib orang ganteng sampe dikerumunin gadis- gadis cantik….” ucap Athar.
“Iya, sampe jadi fedopil….” Ejek Dandy.
“Sembarangan!!” ketus Athar mendelik kesal. Dandy malah mengerlingkan matanya.
“Nona Ning, sebaiknya kita masuk ke dalam saja… Tinggalkan bujang lapuk ini….” Ucapnya yang kini berdiri di sebelah Ning.
“Jangan dekat- dekat lo, Bang!!”
“Wouw… ternyata kau sangat posessif ya….”
“Sana pergi!!”
“Permisi, Tuan….” Tiba- tiba kepala pelayan datang menghampiri.
“Ada apa?” Athar melepaskan kedua keponakannya, yang kemudian kembali berdiri.
“Maaf Tuan, itu Nyonya Besar sedang marah- marah di meja makan….” Ucanya melapor.
“Di meja makan? Bukannya tadi Mami di kamarnya?” tanya Athar heran.
“Iya, Tuan… Nyonya sudah turun sejak beberapa saat lalu bersama Nyonya Ros… Beliau mengatakan ingin makan di ruang makan….”
“Lantas, kenapa Mami marah- marah? Apa Mami masih gak mau makan?” tanya Dandy yang ikutan heran.
“Eng, anu… Eng….” Kepala pelayan nampak ragu ragu untuk menyampaikan alasannya.
“Bicara yang jelas!!” sentak Athar.
“Sup yang Nyonya makan sudah habis, dan beliau minta lagi… Tapi_____”
“Tapi kenapa?” sambar Athar.
“Setelah koki membuatkan sup lagi, dan kami menyajikannya… Nyonya malah melempat mangkuk sup tersebut ke lantai dan marah- marah….”
“Ck… Kenapa lagi, Nyonya besar itu?” gerutu Athar pelan, namun sepertinya semua orang di sana masih bisa mendengarnya.
“Nyonya bilang rasanya beda, lebih enak yang sebelumnya… Sama seperti sup buatan mendiang ibunya Nyonya besar….”
“Yasudah, suruh koki nya membuat lagi sup yang rasanya seperti sebelumnya… Masalah sepele itu saja samapi membuat mu sepanik ini!!” kini Athar menggerutu pada kepala pelayan.
“Maaf Tuan… masalahnya…. Eng, anu itu… eng… yang membuat sup tadi itu Nona Ning….”
“Apa?” ucap Dandy dan Athar serentak kaget. Mereka menoleh ke arah Ning yang tersenyum memperlihatkan barisan giginya.
“Kamu tadi masak sup untuk Mami?” tanya Athar.
“Heehe… Iya….” Angguk Ning cengengesan.
“Wow… sepertinya Mami akan mulai menyukai mu, Nona….” celetuk Dandy terkekeh.
“Masa sih?” tanya Ning tak yakin, meski ada binar di matanya.
“Tentu… Perlu kamu tahu, Nona… Kak Ros dan Istriku saja tidak bisa membuat sup yang rasanya sama seperti sup yang selalu dibuatkan oleh mendiang Eyang putri.”
Kini Ning yang terkejut sekaligus senang mendengar perkataan Dandy.
“Ekhem… Maaf, Nona… Sebenarnya tujuan saya kemari, diperintahkan oleh Nyonya Ros untuk meminta anda membuatkan sup lagi… It itu pun jika anda tidak keberatan, Nona….” ucapnya menundukkan kepala.
Ada rasa takut jika Athar akan marah padanya, setelah ia mengetahui jika Ning adalah kekasihnya Athar menurut penuturan Rosmala. Sungguh ia akan melarang Ning memasak di dapur, jika ia tahu sebelumnya.
Raut wajah Athar berubah seketika, ia menunjuk wajah kepala pelayan dengan tatapan tajam.
“Kau pikir Ning itu_____”
“Iya aku bersedia, kok….” Ning langsung menyambar dan menyela ucapan Athar. Ia memegang tangan Athar, menurunkannya dan tersenyum padanya.
“Sayang… Kamu itu calon istri ku, bukan pelayan… Di rumah ini banyak pelayan, biarkan mereka yang melakukan tugas nya….” Sergah Athar agar Ning tak melakukan hal yang diminta kakak iparnya.
“Ck… Aku harus bilang berapa kali sih….” Kini Ning yang merasa kesal pada kekasihnya. Ia menoleh ke arah kepala pelayan. “Ayok, Pak… Kita harus segera ke dapur, “
“Sayang…..” Athar balik memegang tangan Ning untuk mencegahnya pergi.
“Tapi, Nona____” kepala pelayan pun merasa takut akan kemarahan Athar.
“Bukankah tadi Bapak bilang kalau Nyonya Andini tidak suka menunggu lama? Sudahlah, kita harus bergegas….” Ucapnya melepaskan tangannya dari genggaman Athar, lalu melangkah pergi tanpa memperdulikan Athar yang hendak memprotesnya lagi.
Kepala pelayan pun membungkuk memberi hormat. Kemudian bergegas pergi mengikuti langkah Ning.
Dandy terkekeh geli melihat raut wajah Athar yang nampak kesal. Ia mendekat lalu menepuk bahu adiknya.
“Sudahlah… Biarkan dia mengambil hati Mami, supaya kalian mendapat restu… Siapa tahu Mami ingin memakan sup buatan istrimu setiap hari….”
“Abang pikir aku menjadikannya istri untuk jadi pelayan Mami? Big No!!!”
“Bukan pelayan, tapi menantu kesayangan ….” Koreksi Dandy.
“Lantas, kenapa istrimu malah diajak tingal di Belanda… Pasti Abang tak mau istri abang itu dijadikan menantu kesayangan, karena lebih mirip dijadikan pelayan….” Athar malah membalikan ucapan Dandy.
“Ck… Aku sudah punya perusahaan di Belanda… Untuk apa istriku tinggal di sini, sedangkan aku di Belanda… Otak mu sudah geser apa ya gara- gara jatuh cinta?” ucapnya terkekeh, ia menoleh pada kedua anak perempuan yang hanya bisa memperhatikan kedua orang dewasa itu tengah mengobrol.
__ADS_1
“Ayok kita masuk gadis- gadis… Sebentar lagi langit mulai gelap….” Ajaknya pada kedua anak itu. Mereka lalu pergi meninggalkan Athar yang masih terlihat kesal.
Sesampainya di dapur, Ning langsung memasak, karena bahannya sudah disiapkan oleh koki di sana. Ia hanya tinggal membuat bumbu, kemudian memasak sup nya.
Setelah 15 menit, sup yang ia buat sudah matang dan siap disajikan. Bersamaan dengan itu, Athar datang menghampiri, dan mengajaknya meninggalkan dapur. Ning meminta koki dan kepala pelayan agar merahasiakan jika yang membuat sup itu adalah Ning. Ia lalu berpamitan pergi, sementara kepala pelayan menyuruh bawahannya untuk mengantarkan sup tersebut ke meja makan.
“Omshay, kita mau kemana?” tanya Ning yang kembali dibawa ke taman samping.
“Mengantar mu pulang.” Ucapnya tanpa menghentikan langkahnya.
“Kenapa musti lewat taman ini?” tanya Ning heran.
“Supaya gak ketemu sama Mami….”
“Tapi aku belum mau pulang….” Rengek Ning, Athar pun menghentikan langkahnya saat tiba di pintu terasa samping.
“Kenapa?”
“Sebentar lagi magrib, tanggung… Nanti abis shalat baru aku pulang….”
Athar menghela nafas sejenak. “Nanti saja shalat di jalan….” Ucapnya kembali membawa Ning melangkah masuk ke dalam rumah.
“Gak mau lah… Yang bener aja kamu nyuruh aku shalat di jalan raya….” ketus Ning
“Oh astaga, sayang… Maksud ku nanti cari masjid di perjalanan… Apa susahnya…."
“Loh loh loh… bukannya ini jalan menuju kamar mu?” protes Ning yang sudah mengenal beberapa ruangan di rumah itu, termasuk kamar sang kekasih.
Athar menghentikan langkahnya di depan pintu sebuah kamar, begitu pun Ning yang sejak tadi tangannya terus di genggam Athar.
“Apa? Kau masih ingat arah kamar ku?”
“Tentu saja….” angguk Ning.
“Ya ya ya… bagaimana kamu bisa lupa, kita kan pernah satu ranjang di sana….” goda Athar.
Bugh
Ning langsung memukul dada Athar.
“Ya ampun… salah ku apa?”
“Bicara mu itu gak jauh dari mesum- mesum!!” ketus Ning.
“Loh, itu ‘kan memang kenyataannya… Kamu masuk kamar ku tanpa izin, dan tidur di ranjang ku….”
Ceklek
Athar memutar knop pintu dan langsung membukanya. Namun itu bukan pintu kamarnya. Ia pun melangkah masuk diikuti oleh Ning.
“Susi… Dayana mana?” tanya Athar pada Susi, pengasuhnya Sheryl yang tengah berdiri di depan lemari laci.
“Sedang mandi bersama Non Sheryl, Tuan….” Jawabnya dengan merengkuh.
“Mereka mandi sendiri?” tanya Athar heran.
“Ini saya mau masuk, Tuan… Tadi shampo Nona Sheryl habis, saya baru mengambilnya dari laci….”
“Biar aku bantu….” Ning menawarkan diri, namun saat ia akan melangkah, Athar menarik tangan Ning dan menahannya.
“Gak usah… Kita tunggu mereka selesai mandi….”
“Eng… Baiklah….”
Athar keluar dari kamar Sheryl, dan tak disangka ia malah membawa Ning masuk ke dalam kamarnya yang tak jauh dari kamar Sheryl.
“Loh, kenapa kamu membawa ku ke sini?” tanya Ning mulai was- was.
“Aku mau mandi,” ucapnya berjalan menuju kamar mandi.
Athar membalikan tubuhnya. “Hahahaha… Aku tidak segila itu, sayang… Kau bisa menunggu ku sambil nonton TV atau main handphone….” Ucapnya lalu kembali berbalik dan masuk ke kamar mandi.
“Dasar menyebalkan!! Tadi mengajak ku buru – buru pulang… Eh, malah dia mau mandi dulu….”
Ning mendengus kesal. Ia lalu mendaratkan bokongnya di atas sofa yang ada di kamar itu.
Ia mengambil ponsel yang ternyata ada beberapa pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari Bu Asri juga Ocha dan beberapa customer yang memesan barang padanya.
Ocha : [“Ning… Lo dimana? Udah sore gini kok belum pulang? Jangan bilang lo diculik?”]
“Ya ampun… Aku kok bisa sampai lupa mengabari Ocha….” Ucapnya menepok jidat. Ia lalu mengirim pesan pada Bu Asri soal Nana yang sedang bersama nya di rumah Nyonya Andini. Ia pun membalas beberapa pesan customer satu persatu, serta meneruskan pemesanan barang pada Ocha.
Setelah beberapa saat, Ocha menghubungi Ning untuk melakukan video call. Ning pun menggeser kursor menerima panggilan VC tersebut.
“Hal____”
“Heh, boloning… Lo kemana aja dari tadi gak ada kabar? Kata para tetangga lo di gendong sama cowok ganteng tadi siang? Bukannya balas pesan gue, malah ngirimin pesan dari customer, kampret lo!! Gak tahu apa kalau gue khawatir sama lo!!” cerocos Ocha menampakan raut wajah kesal.
“Hahaha… Sorry sorry, Cha… Gue tadi pergi sama Daniel-ku dan Nana jalan ke mall, terus dibawa ke rumahnya deh.”
“What? Kapan si ganteng balik dari London? Lo dibawa ke rumahnya? Ke rumah Nyonya Lampir itu?” todong Ocha dengan rentetan pertanyaan.
“Sembarangan Lo!! Ca-Mer gue tuh… Jangan dikata- katain gitu! Walaupun emang iya galaknya kayak Mak Lampir sih… hihihihi.” Ning cekikikan.
“Lo gak diapa-apain ‘kan di sana?”
“Diapa- apain sama siapa?” Ning malah balik bertanya.
“Ya sama Nyonya lampir itu lah… Eh, tunggu… Anjir… Jangan- jangan lo udah diapa-apain sama si ganteng, ya?”
“DANIEL… si ganteng si ganteng mulu, Lo!! Gue cekik longgar juga lo lama- lama!!"
“Hahaha… Galak amat lo, mentang- mentang udah diapa- apain sama kuDaniel-nya.
“Sembarangan lo kalau ngomong!!" sentak Ning.
“Woww… Selain ganteng, tubuhnya putih, sexy, dan uwuuuuuu….” mata Ocha bebinar.
Ning membelalakkan matanya, saat menyadari jika Athar tengah berdiri di belakang sofa yang tengah di dudukinya, dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggang. Ia langsung menoleh ke arah sang ke kasih yang ternyata sudah membungkukkan tubuhnya, sehingga saat itu juga bibir keduanya bertemu.
“Cie cie… lagi pada ngapain tuh di kamar!!” Ning kembali mengarahkan pandangan pada ponselnya, yang memperlihatkan adegan itu dengan jelas, sehingga Ocha pun bisa ikut menonton.
Tanpa pamit, Ning langsung mengakhiri sambungan video call nya. Ia melepaskan bibirnya dari bibir Athar dan mendorong pria itu.
“Daniell!!!!” teriak Ning merasa geram dengan kelakuan Athar. Sementara pria itu malah terkekeh geli melihat kemarahan Ning.
___________
Jebred
Ning menutup pintu mobil dengan cukup keras. Ia masih sangat kesal dengan kejadian di kamar Athar tadi. Apalagi sampai kepergok lagi dan lagi.
Akhirnya Ning diantarkan pulang setelah makan malam bersama kedua kakaknya Athar, juga Rosmala dan ketiga keponakan cantiknya.
“Sayang….” Rengek Athar yang nampak merasa bersalah sekaligus sedih. Sepanjang perjalanan tadi, Ning hanya diam dan memalingkan wajah darinya.
“Udah sana pulang !! Gak usah mampir!! Nikmati hukuman mu….” ketus Ning yang kemudian melangkah melewati pintu pagar yang terbuka. Ia bergegas masuk ke dalam rumahnya, tanpa memperdulikan Athar.
“Hufh… Nasib nasib… bye bye, sayang….” Ucapnya dengan raut wajah lesu. Ia lalu melajukan kembali mobilnya untuk pulang.
Sementara Ning yang baru saja mendaratkan bokongnya di atas kursi, langsung diserbu berbagai macam pertanyaan dari Ocha yang sejak tadi sudah sangat penasaran dengan apa yang terjadi di rumah Nyonya Lampir. Ning pun menceritakan semuanya hingga membuat Ocha tertawa terbahak- bahak melihat wajah kesal Ning.
“Udah ah, gue mau mandi… Lengket banget rasanya nih badan….” Ning bangkit dari duduknya.
__ADS_1
“Mau mandi besar ya? Hayoo ngaku….” Goda Ocha.
“Sialan, lo!! Lo pikir gue habis ngapain?” Ning mengambil bantal kursi dan melemparkannya tepat mengenai wajah Ocha. Bukannya marah, namun sahabatnya itu malah tertawa terbahak- bahak.
“Hahahahahaha…. Cie cie yang terciduk berduaan di kamar bebeb-nya….” Ocha tak hentinya menggoda Ning. Sedangkan orangnya malah buru- buru pergi ke kamarnya sebelum Ocha menggodanya lebih parah lagi.
-----------------------
Tiga hari telah berlalu semenjak kejadian itu.
Setiap pagi dan sore kepala pelayan akan datang ke rumah Ning dengan membawa bahan- bahan masakan untuk minta dibuatkan sup oleh Ning. Nyonya Andini tak mau makan jika tak ada sup buatan Ning. Padahal Rosmala dan koki di rumah sudah membuatkan sup yang sama, namun tetap saja menurut Nyonya Andini rasaya berbeda. Dan sampai sekarang mereka masih merahasiakan, jika Ning lah yang memasak sup tersebut.
“Kenapa, lo?” tanya Ocha yang menghampiri Ning yang tengah duduk di meja makan.
“Eng… gak apa- apa, Cha….”
“Kangen ya sama bebebs?” ledek Ocha.
“Enggak, tuh?”
“Halah… kangen mah ngaku aja kali… Gak usah banyak ngelamun gitu… Mending temuin aja orangnya, mumpung belum balik lagi ke London….”
“Enggak!!” tegas Ning.
“Lagian elo sih, pakai so so -an ngasih hukuman gak mau ketemu sama dia sampai satu minggu segala… Tanpa telponan atau pun video call… Kan jadinya lo sendiri yang hampir mati penasaran menahan rindu….hahahaha” ejek Ocha.
“Biarin… Orang mesum gak ketulungan seperti dia tuh emang harus dikasih hukuman yang nyata… Masih untung masih bisa chatingan sama gue… Emangnya dia, ngasih hukuman pakai nyium segala lagi….” Gerutu Ning yang berubah kesal saat ia mengingat kejadian di kamar Athar.
Flashback
Athar yang didorong oleh Ning hampir saja kehilangan keseimbangan tubuhnya. Namun sayang, saat ia kembali berdiri tegak justru malah handuknya yang melorot.
“Aaaaaaakkkkk….” Reflex Ning langsung berteriak mendapati Athar yang ternyata telanjang bulat. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Sementara Athar malah tersenyum nakal. Dengan segera ia memunguti handuk itu dan kembali dililitkan ke pinggangnya untuk menutupi bagian tengah tubuhnya.
Ia berjalan mendekati Ning yang kini tengah berdiri di depan sofa dengan masih menutup wajahnya. Tanpa aba- aba, Athar langsung menggendong Ning dan membawanya ke tempat tidur.
“Ihhh… lepaskan… Kamu mau ngapain, mesum ihhh!!!”
“Ssstt diamlah sayang, bahaya nanti kalau haduk ku melorot lagi….” Bisiknya di telinga Ning yang masih memejamkan matanya. Seketika gadis itu pun langung diam dan tak berontak lagi.
Perlahan Athar membaringkan Ning di atas ranjang king size-nya. Ia pun ikut berbaring di sebelah kekasihnya itu.
Ning yang masih memejamkan matanya, kembali menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
“Buka mata mu, sayaang….” Bisik Athar tepat di telinga kanan Ning, hingga hembusan nafasnya mampu membuat Ning merinding disco.
“Sayang….” Rengek Athar.
“Gak mau!! Sana pakai baju dulu….”
“Kalau gak mau gimana? Masa kamu gak mau melihat tubuh sexy ku-ini… Sahabat mu saja tapi begitu terpukau melihat ku….”
“Dasar mesum!!” pekik Ning.
“Kamu mau membuka mata mu, atau aku membukakan yang lainnya….”
“Aku akan mencekik mu!!”
“Memangnya kamu sanggup mencekik pria tampan ini, hummm?”
“Tentu saja, kenapa tidak!!”
“Hufh… ya ampun sayang… Tadinya aku ingin bermesraan dengan mu… Mana enak kalau kamu sambil tutup mata begitu… Serasa lagi pacaran sama si buta dari gua hantu versi cewek….”
“Bodo amat!!”
Athar terdiam sejenak. Ia nampak tengah memikirkan sesuatu. Matanya tiba- tiba berbinar, seolah tengah mendapatkan ide cemerlang.
“Sayang….” Rengek Athar dengan suara manja.
“Apalagi sih? Aku mau pulang ihh….”ketus Ning mulai kesal.
“Aku punya cara jitu agar Mami langsung merestui hubungan kita….”
Ning menurunkan tangannya, lalu membuka matanya. “Cara apa?” tanyanya penasaran.
“Eng… kamu mau gak kalau DP duluan? Dengan begitu Mami gak akan bisa menentang hubungan kita lagi?” Athar memberi penawaran.
“DP? Maksudnya? Nyogok mami kamu gitu?” tanya Ning heran, ia lalu tertawa. “Hahahaha… hello tuan Daniel Athar Sahulekha… Nyonya Andini itu orang kaya bangget, mana mungkin aku mampu menyogok beliau….”
“Ck… kamu itu cantik- cantik, tapi oon juga ya….”Athar menjawil hidung Ning karena gemas. “Bukan DP itu maksudnya….”
“Terus apa?”
“Ini….” Ucapnya menunjuk ke arah senjata pusakanya yang anya terhalang oleh handuk. “Masuk ke itu,” ia lalu mengarahkan jari telunjuknya ke bagian inti Ning yang masih terbungkus pakaian lengkap.
“Hah? Maksudnya?” Ning yang terlihat bingung masih berusaha mencerna.
“Ini, masuk kesitu…” Athar mengulang ucapannya disertai telunjuk yang menunjuk benda- benda keramat itu.
Plak
“Dasar mesum!! Kau benar- benar tidak waras!!” pekik Ning geram menampar pipi Athar. Nampaknya ia baru paham apa yang dimaksud Athar. Ia langsung bangkit dengan membawa guling di tangannya.
Bukh bukh bukk
Ning memukul Athar tanpa henti saking marah dan kesalnya ia dengan ide gila kekasihnya itu. Athar memang tak melawan, namun ia berusaha menangkap tangan Ning.
Grep
Akhirya ia berhasil mencengkram tangan Ning dan menggulingkan kekasihnya itu di atas ranjang. Ia berada di atasnya mengkungkung Ning yang rambutnya sudah terlihat berantakan saking semangatnya ia memukuli Athar.
Ceklek
“Dady!!” seru Nana yang membuka pintu.
“Om ganteng!!” Sheryl pun ikut menyeru.
“Apa yang kalian lakukan??!!” teriak seseorang yang berada di belakang anak- anak yang nyelonong begitu saja. “Susi, bawa anak- anak keluar!!!!”
“Ba baik, Nyonya….”
“Ya Tuhan… Apa yang harus ku katakan… Kalau kami terciduk dalam keadaan seperti tadi… Pasti mereka akan salah paham….” Jerit Ning dalam hati, yang kini sudah bangkit dan duduk di bibir tempat tidur. Sedangkan Athar bergegas berlari menuju walk in closet.
Flashback Off
Prang
Terdengar suara benda jatuh ke lantai yang cukup keras, hingga membuat Ning membuyarkan lamunannya.
-
-
-
---------- TBC -------------
*******************
-
__ADS_1
-
Mohon maaf baru up lagi… Di dunia nyata sedang meriweh….