
“Ma maaf… Saya minta maaf, Nyonya Rosmala….” Ucapnya lalu bangkit. Ia mengulurkan kedua tangannya untuk membantu wanita yang merupakan mantan majikanya itu untuk kembali berdiri.
“Nyonya Ros gak apa-apa?” tanya Ning khawatir sekaligus merasa bersalah. Hampir saja tadi ia memaki wanita itu.
“Gak apa-apa… Kamu sendiri?” Rosmala yang sudah berdiri balik bertanya.
“Saya juga gak apa-apa,” dusta nya, padahal bokongnya masih terasa sakit.
“Maaf, tadi saya jalan sambil gak lihat- lihat, karena sibuk mencari ponsel di dalam tas….” ucap Rosmala.
“Saya juga minta maaf, Nyonya… Tadi jalan sambil melamun, hehehe….”
“Kamu ngapain ke sini, Ning? lagi sakit?” tanya Rosmala lagi.
“Biasa, Nyonya Ros… Saya mau checkup rutin bulanan ….”
“Oh iya, semoga sehat- sehat saja ya, Ning….” Rosmala pun paham.
“Amiin… Nyonya Ros sendiri sedang_____”
“Saya abis nebus obat dan vitamin untuk Mami....”
“Nyonya besar sakit?” tanya Ning.
“Biasalah faktor usia… Tapi syukurlah, sekarang Mami semangat mau minum obat… Soalnya putra kesayangannya yang bandel dan susah diatur itu, akhirnya mau menikah juga, hehehe…. ” ucap Rosmala tersenyum sumringah. Semenjak mereka bertemu di pemakaman tempo hari, mantan majikannya itu menjadi ramah pada Ning.
Deg
“Putra kesayangan… Yang bandel dan susah diatur?” batin Ning dengan memikirkan orang yang dimaksud oleh Rosmala.
“Kalau gitu saya duluan ya, Ning… Mami sudah nelpon terus dari tadi….” ucapan Rosmala mampu membuyarkan lamunan Ning.
“Iy iya, Nyonya Ros….” Ning mengangguk dengan senyum yang dipaksakan. Nampaknya ia masih terkejut. Rosmala pun bergegas pergi meninggalkan Ning yang kembali tenggelam dalam pikirannya.
Penuturan Rosmala tadi sangat mengejutkan Ning. Ia tahu pasti jika Nyonya Andini hanya memiliki tiga putra dan satu putri yang sudah meninggal. Aufar, Athar, Dandy dan Diandra.
“Siapa yang mau menikah? Bukannya, anak Nonya besar yang belum nikah hanya_____” Ning tak melanjutkan ucapannya.
“Arhh, gak mungkin dia… Bukankah Nyonya Andini memiliki satu putra lagi yang sejak lama tinggal di luar negeri,” ucapnya menepis pikirannya sendiri. Ia teringat pada pria yang dipanggil Om Dandy oleh Diasri saat bertemu dengannya di acara ulang tahun Nyonya Andini.
Ning mengerjap, membuang jauh- jauh hal yang mengganggu pikirannya. Ia pun melanjutkan perjalanannya menuju tempat pendaftaran rawat jalan.
***
Meski dengan sekuat tenaga Ning berusaha melupakan hal yang membuatnya bisa mati penasaran. Ia tak bisa menghilangkan hal yang mengganggu pikirannya begitu saja. Bahkan saat ia sedang mendengarkan dokter menjelaskan hasil pemeriksaannya pun, ia sama sekali tak bisa konsentrasi.
Fix, ia harus menanyakan hal itu pada sang kekasih. Namun saat melihat jam tangan, ia sadar tak bisa menghubungi Athar saat ini. London yang memiliki perbedaan waktu tujuh jam lebih lambat dari Indonesia, membuatnya tak tega jika harus mengganggu tidur pria yang sangat dicintainya itu. Di sana pastilah baru pukul empat pagi, sedangkan di jam tangannya menunjukkan pukul sebelas siang.
Ia duduk bersandar di kursi penumpang. Ya, kini ia sedang dalam perjalanan pulang setelah selesai melakukan checkup rutinnya.
**
“Gimana? Udah checkup nya? Ginjal lo sehat kan?” sapa Ocha pada Ning baru saja masuk ke tempat kerjanya.
“Alhamdulillah sehat, Cha….” angguk Ning tersenyum simpul, namun raut wajahnya nampak sedih. “Gue masuk dulu, ya Cha….” Ning berlalu,m melewati Ocha, kemudian memasuki ruangannya.
Baru saja ia mendaratkan bokongnya di kursi meja kerjanya, ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk, dan teryata itu adalah panggilan video call dari sang pujaan hati.
Raut wajahnya pun berubah ceria seketika. Ia tersenyum sumringah menerima panggilan tersebut.
“Pagi sayang….” Sapa pria di seberang sana dengan suara serak khas bangun tidur.
“Di sini sudah siang, omshay… Baru bangun ya?” ucapnya terkekeh.
Ya, sejak kemarin Ning sudah menetapkan panggilan sayangnya pada sang kekasih, yakni dengan sebutan Omshay. Namun itu hanya berlaku saat mereka sedang bicara berdua, baik di telpon, video call atau pun bicara secara langsung nanti.
Beda hal nya saat di depan orang lain. Meski pria itu selalu protes, namun Ning nampaknya sudah merasa nyaman dengan panggilan baru itu.
“Hmm…. “ Athar mengangguk dengan penampilan wajah yang berantakan, krena benar- benar baru bangun.
“Jangan memanggil ku om lagi, ih!!”
“No no … kemarin kita sudah sepakat... Tidak menerima protes lagi loh, Kakak Daniel sayang, hahahaha….”
“Senang sekali kau mengejek ku, hem?” ucapnya lalu bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan keluar kamar.
“Abisnya geli, manggil om om dengan sebutan kakak….” ucapnya disela tawanya.
“Aku juga geli….” ucapnya masih berjalan menuju dapur.
“Tuh kan….”
“Geli lihat kamu tertawa, sayang… Pengen dilahap deh itu bibir, supaya memangil ku dengan panggilan yang benar….” Ia berdiri di depan lemari pendingin, kemudian membukanya dan mengambil sesuatu dari sana.
“Ck, dasar mesum nya gak berubah….”
Athar terkekeh, ia duduk di pantry, kemudian meminum kopi dingin.
“Gimana checkup nya tadi, sayang?”
“Lancar dan kondisi ku juga baik….”
“Sukurlah….” Athar menampakan senyum bahagia.
“Subuh- subuh kok minum kopi dingin?”
__ADS_1
“Biar melek, sayang….”
“Bukannya yang anget- anget….” ucap Ning seolah memancing. padahal nian tahu pasti, jika Athar suka minum kopi dingin.
“Nanti kan kamu yang ngangetin aku…..”
“Ish, dasar mesum!! Mandi sana, keramas … Biar otaknya seger dan gak mesum terus….”
“Hahahaha….” Athar tertawa gelak.
“Oh iya, by the way… kamu sendiri gimana? Bukannya dulu bilang ke London untuk berobat?” Ning baru teringat ucapan Athar saat di apartment tempo hari.
“Apa tadi? kamu?” Athar malah menanyakan hal lain.
“Iya kamu… Omshay….”
“Ciee, udah bisa bilang kamu pada ku, ya….”
“Ish, ditanya apa jawabnya apa….” protes Ning manyun.
“Hahaha… Iya iya, jangan dimonyongin gitu bibirnya… Aku jadi pengen kesana tahu gak….”
“Sini atuh sekarang….” Ning memonyongkan bibirnya pada kamera ponselnya.
“Pagi, Daniel!!” terdengar suara seseorang di sana yang menyapa dengan memangil nama depan Athar. Ia pun terlihat kaget dan matanya menoleh ke arah lain, bukan ke arah kamera ponsel.
“Siapa itu?” tanya Ning merasa aneh.
“Partner kerja, sayang… “ jawab Athar tersenyum.
“Partner kerja? Kok subuh- subuh udah datang kesana? Kayaknya itu suara perempuan kan?" tanya Ning curiga.
“Biarkan saja tidak usah menghiraukan pengganggu itu… Sampai mana tadi, sayang?” Athar nampaknya malas membahas orang yang menurutnya mengganggu dan tak penting itu.
Mereka pun melanjutkan obrolan berisi candaan serta ejekan yang disertai tawa keduanya. Ning tak membahas orang tadi, karena ia sangat percaya pada Athar yang hanya mencintainya.
Seperti itulah setiap harinya yang dilakukan pasangan yang melakukan hubungan LDR itu. Hanya bisa bersua lewat alat komunikasi saja. Meski begitu, baik Ning maupun Athar tetap bisa merasakan kebahagiaan dari jalinan cinta mereka.
Bahkan Ning bisa melupakan masalah apa pun setelah ia berkomunikasi dengan Athar. Termasuk hal yang sejak di rumah sakit tadi mengganggu pikirannya pun terlupakan begitu saja. Seperti itulah orang kalau sedang ketiban love dan terkena virus bucinly.
****
Hari berganti hari. Tak terasa dua bulan sudah Athar dan Ning menjalani hubungan jarak jauh. Ternyata yang dibilang Athar pergi hanya sebentar itu, tak tentu kapan waktunya ia akan kembali pulang. Pekerjaannya di London membuatnya tidak punya banyak waktu untuk mudik ke negara asalnya.
Beruntung Ning bisa memahaminya dan selalu sabar menanti kepulangan Athar. Meski sebenarnya ia sangat merindukan kekasih hatinya itu. Ia pun harus menambah porsi kesabarannya, karena benar apa yang dikatakan Athar jika Singgih bukan orang yang mudah menyerah.
Setiap hari ia harus bertemu dengan Singgih. Selain saat mengantarkan Nana sekolah, sore nya ia akan menjemput Nana yang selalu pulang ke rumah Ning usai sekolah.
Bahkan di hari minggu pun Singgih akan datang ke rumah Ning dengan alasan Nana ingin bertemu dengannya. Jika seperti ini terus, lama- lama ia bisa kembali goyah, pikirnya.
“Perasaan gue perhatiin, dokter Singgih suka datang ke rumah lo ya, Ning? Masih gencar aja dia ngedeketin lo….” tanya Ocha yang duduk dempetan di sebelah Ning.
“Ember… makanya akhir- akhir ini gue sering ikut nganterin barang….” ucap Ning menampakan raut tak suka.
“Hahaha… Dia kayaknya nyesel ya, dulu udah nyia- nyiain lo….”
“Ah, bodo amat… gue udah gak peduli….” ucapnya tak mau ambil pusing.
“Iya iya deh, yang udah punya si ganteng….”
“Daniel!!” sentak Ning.
“Hahahaha… iya iya deh, cemburuan amat sih lo….” ledeknya tertawa geli. “Tapi Ning, lo mending ngomong yang tegas deh sama dia… Kalau lo udah gak mau buka hati atau ngasih dia kesempatan….” Ocha memberi saran.
“Lah, dia aja gak pernah ngomong apa- apa atau pun ngajak balikan lagi… Kalau gue tiba- tiba ngomong gitu, nanti yang ada dikira gue kepedean, Cha….” Ucapnya mendengus kesal. “Harusnya tuh dia peka, gue sering ngehindar berarti udah gak mau lagi ada hubungan sama dia….”
“Atau lo dengan sengaja gitu telponan sama si ganteng di depan dokter Singgih… Sayang sayangan, mesra mesraan gitu ngomongnya... Biar dia nyaho kalau lo udah punya cowok… Jadi kan dia gak akan deketin atau mengharapkan lo lagi….”
“Ya bisa aja sih gue kayak gitu… Cuman kan gak enak aja kalau dia tahu cowok gue itu adalah sepupu sekaligus mantan kakak iparnya… Bisa berabe nanti….”
“Lama kelamaan juga dia bakal tahu, Ning….” ucap Ocha.
“Ya biarlah dia tahu nantinya, kalau sekarang- sekarang entar gue ketahuan dong kalau minta putus sama dia gara- gara selingkuh sama Daniel-ku….”
“Hahaha… Anjay, biasanya juga lo manggil si kudaniel, sekarang pake manggil Daniel- ku segala….” Ocha menertawakan sahabatnya yang mulai lebay.
“Biarin lah, suka- suka gue mau manggil apa aja juga… Cowok cowok gue, kenapa lo yang ribet….” ucapnya sewot.
“Busyet dah… hahahaha,” Ocha tertawa sembari geleng- geleng kepala.
Mobil yang ditumpangi Ning dan Ocha akhirnya sampai di depan rumah yang merupakan tempat kerja mereka.
“Cha, gue balik dulu ya, nanti kesini lagi….” ucap Ning tanpa masuk dulu ke tempat kerjanya.
“Iya,” sahut Ocha yang kemudian masuk.
Ning berjalan menuju ke rumahnya. Setelah melewati tikungan, ia melihat ada sebuah mobil terparkir di depan pintu pagar rumahnya.
“Mobil siapa tuh?” gumamnya bertanya- tanya. “Semoga saja bukan mobil Mas Igih….” Ucapnya tanpa menghentikan langkahnya.
“Non, di dalam ada tamu yang nunggu dari tadi….” ucap Siti yang menghampiri Ning saat ia berdiri di ambang pintu yang terbuka lebar.
“Siapa?” tanya Ning heran.
“Selamat siang, Nona Ningrat….” Orang yang berdiri di depan kursi tamu menyapa Ning. Ia pun berjalan menghampiri orang itu.
__ADS_1
“Maaf, dengan siapa ya?” tanya Ning dengan ramah.
“Nona sudah lupa dengan saya ya?” ucapnya seolah sudah pernah mengenal Ning.
“Hah?" Ning nampak bingung dan heran.
“Kita dulu pernah bertemu saat Nona dirawat di rumah sakit….” ucap wanita berparas cantik dengan pakaian rapi nan elegan itu.
Ning mengernyitkan dahinya. Ia mengingat- ingat wanita cantik yang berdiri di hadapannya itu.
“Ahh, perkenalkan… Saya Vina sekertaris Pak Daniel saat beliau masih di Indo….” Ucapnya memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangan. Ning pun menjabat tangannya.
“Oh… sekretarisnya Pak Daniel….” Ia akhirnya tahu wanita cantik yang sempat bertemu setahun lalu di rumah sakit, adalah sekretarisnya Athar. Ia ingat saat itu pernah menyangka jika wanita ini adalah gebetannya Athar.
“Iya,” angguknya tersenyum.
“Silahkan duduk….” ucap Ning.
Vina kembali duduk, begitu juga dengan Ning yang masih terkejut serta penuh tanda tanya akan kedatangan Vina ke rumahnya.
“Ekhem… begini Nona, maksud kedatangan saya kemari untuk menjemput Nona, karena ada yang ingin bertemu dengan Nona Ning….” Vina langsung mengatakan tujuan kedatangannya.
“Hah? Siapa?” Ning kembali terkejut.
“Nanti juga Nona akan mengetahuinya sendiri….” ucapnya tersenyum.
“Siapa ya yang ingin bertemu dengan ku? Apakah Daniel- ku itu… Apa dia sudah pulang ke Indo? Kok gak bilang- bilang sih? Apa mungkin dia ingin memberi ku kejutan?” rentetan pertanyaan memenuhi kepala Ning, membuat Ning terdiam sejenak.
“Bagaimana Nona? Apa anda bersedia ikut bersama saya?” Vina kembali menanyakan kesanggupan Ning.
Ning melihat jam di pergelangan tangan kirinya, yang menunjukan pukul 12.30. “Eng, tapi saya mandi dan shalat dulu ya, Bu Vina….” Meski ia merasa aneh dan heran, namun ia menerima ajakan Vina.
“Iya, silahkan… Saya akan menunggu Nona….”
Ning pun beranjak meninggalkan Vina di ruang tamu. Ia pergi ke kamarnya untuk mengambil handuk dan pakaian ganti. Setelah itu ia bergegas ke kamar mandi.
Hanya membutuhkan waktu 15 menit, Ning yang sudah selesai dandan alakadarnya dengan berpakaian modis, kembali ke ruang tamu menemui Vina. Ia nampak bersemangat dan tak sabar. Sepertinya memang Athar sedang menyiapkan kejutan untuknya, pikirnya.
Keduanya pun berangkat dengan menaiki mobil yang di kemudikan oleh Vina sendiri.
***
Hari sudah mulai sore, matahari pun hendak menenggelamkan dirinya. Terlihat dari mega kuning yang menghiasai bagian langit yang sebelumnya biru.
Ning yang baru turun dari sebuah mobil mewah, berjalan memasuki pekarangan rumahnya dengan langkah gontai dan raut wajah sedih. Berbanding terbalik dengan ekspresi saat ia berangkat tadi.
Matanya pun terlihat sembab, seperti habis menangis.
Baru saja ia hendak masuk ke dalam rumah, teriakan seseorang menghentikan langkahnya.
“Bu… Bu… Bu Bos….!!” teriak seseorang yang suaranya sudah sangat Ning kenali, kemudian menghampirinya dengan nafas ngos ngosan seolah habis lari maraton.
“Ya ampun Ardi… ngagetin aja!! ada apaan sih?” tanya Ning heran. Ia berusaha bersikap biasa saja, menyembunyikan raut sedihnya.
“Itu Bu Bos… Ocha ngamuk- ngamuk….”
“Apa? Ngamuk kenapa? Kerjaan kalian ada yang gak bener?” Ning terkejut dan tak percaya.
“Lebih dari itu, Bu Bos… sebaiknya Bu Bos langsung ke sana saja, yuk….” Ajaknya dengan raut wajah panik. Ning pun bergegas mengikuti langkah Ardi menuju rumah sewaan tempat mereka kerja.
Keduanya berjalan dengan cepat, hingga sampai di rumah tersebut. Ning pun segera masuk.
“Astagfirullah, Ocha… lo apa-apaan sih?” sentak Ning yang terkejut saat melihat ruangan itu sangat berantakan.
“Brengsek lo!! Gak tau diri!! Tidak tahu diuntung!! Anj**ng, lo!!” Ocha yang dipegangi kedua tangannya dipegangi oleh dua orang pegawai Ning, terus melontarkan kata- kata kasar yang ditujukan pada seseorang yang duduk di lantai dengan kondisi berantakan pula. Wajah Ocha memerah dipenuhi amarah. Rambutnya pun terlihat berantakan.
“Ada apa sih, Cha? Lo kenapa ngamuk kayak gini? Kalau ada masalah kan kita bisa selesaikan baik- baik….” ucap Ning.
“Lo tanya sendiri sama si brengsek itu tidak tahu diri itu!!” Ocha menunjuk yang ia maki.
Ning masih kaget sekaligus bingung dengan apa yang terjadi di sana. Tatapan Ning beralih pada orang yang diamankan oleh pegawai yang lainnya. Orang itu menunduk, menangis tergugu, nampak sangat ketakutan.
Ia melangkah untuk menghampiri orang itu, namun tanpa sengaja kakinya menginjak sesuatu. Langkahnya pun terhenti, ia lalu melihat kebawah. Ning berjongkok lalu mengambil benda itu. Betapa terkejutnya ia melihat apa yang ada di tangannya.
“Ini_____” Ning tak kuasa melanjutkan ucapannya. Ia membekap mulutnya sendiri.
“Selama ini, lo udah memelihara ular, Ning….” ucap Ocha dengan nada bergetar dengan menahan amarah yang masih memuncak.
Ning yang masih terkejut, belum bisa mencerna apa yang Ocha ucapkan. Pandangannya tak lepas dari benda yang ada di tangannya. Tubuhnya berkeringat dingin, tangannya bergetar. Kakinya pun seolah tak sanggup menopang tubuhnya.
Bruk
Tubuhnya terkulai lemas, hingga jatuh terduduk di atas lantai.
“Ning….”
-
--------------- TBC ------------
***********************
-
Happy Reading….
__ADS_1