NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Tuan Om Tamvan


__ADS_3

“Emh ….” Ning mulai siuman. Perlahan ia membuka matanya, lalu mengedarkan pandangannya.


“Dimana ini? Aku dimana? Kenapa ruangan ini putih semua?” tanya nya dengan raut wajah bingung.


“Tentu saja ini di kamar mu … kau pikir dimana lagi? Di neraka?!” ucap seseorang yang suaranya sudah Ning kenali.


“Dino … jaga bicara mu!!” hardik pria yang tadi bertubrukan dengan Ning.


“Ck, iya iya Om .…” ucap Dino berdecak kesal.


Ning membelakan matanya pada pria yang dipanggil Om oleh Dino, anak asuhnya. Kesadarannya seolah berkumpul dalam sekejap. Ia bangkit dan duduk di tempat tidur.


“Ke kenapa anda ada di sini?” tanya Ning pada pria yang duduk di kursi samping tempat tidurnya itu.


“Kenapa kau melihat ku seperti melihat hantu?” pria itu malah balik bertanya.


Ning menggelengkan kepalanya lalu menunduk.


“Apa aku tidak salah dengar? Tadi Dino memanggil orang itu dengan sebutan Om … Apa jangan-jangan dia juga salah satu penghuni rumah ini?” gumam Ning dalam hati.


“Sudahlah, Om … sebaiknya kita tinggalkan ruangan ini. Biarkan pelayan yang mengurusnya. Lagi pula di sudah sadar, kan ….”


“Dino, kau jangan mengerjai orang lain lagi. Apalagi sampai dia pingsan seperti ini … Beruntung dia tidak terkena serangan jantung.” Pria itu menasehati Dino. Sepertinya ia sudah sangat hafal dengan perilaku keponakannya pada pelayan yang dikhususkan untuk melayaninya.


“Siapa suruh terus mencarikan ku pengasuh? Tolong bilang pada kakak tertua Om, kalau aku tidak membutuhkan pengasuh atau pun pelayan pribadi.” Dino lalu beranjak pergi meninggalkan kamar Ning.


“Aduh … kenapa tuan om ini tidak pergi juga dari kamar ku sekalian sama si dinosaurus itu? Bisa- bisa dia mengingat siapa aku … Habislah sudah riwayat ku kali ini ….” Ning menggerutu dalam hati.


“Permisi Tuan, ini makanan yang anda minta tadi.” Tini masuk dengan membawa nampan berisi makan siang untuk Ning. Mulai dari nasi dan lauknya, satu piring potongan semangka lengkap dengan segelas susu.


“Masuk!! Berikan makanan itu pada nya dan pastikan dia memakannya sampai habis,” ucapnya bangkit dari duduknya. Ia lalu pergi begitu saja meninggalkan kamar Ning.


“Apa? Menghabiskan makanan itu?” tanya Ning dalam hati saat mendengar ucapan orang yang ia sebut si Tuan Om tadi.


“Apa jangan- jangan dia juga berniat mengerjai ku sama seperti si dinosaurus?” ucapnya kembali berdialog dalam hati.


“Hei, Ning … cepat kau makan makanan ini, lalu lanjutkan pekerjaan mu. Kau sudah pingsan selama satu jam lebih ….” ucap Tini sembari meletakan nampan tersebut di atas lemari laci kecil disebelah ranjang.


“Iya, terimakasih ….” Ning pun membuyarkan lamunannya. Ia tak langsung mengambil makanan tersebut, namun malah memandanginya untuk mewaspadai karena takut terkena jebakan betman lagi.


“Aku kok heran, kamu bisa pingsan selama itu? Sebenarnya kamu pingsan apa tidur sih? Atau cari perhatian kedua Tuan tampan?” tanya Tini heran.


“Tentu saja aku pingsan, dan itu karena aku kelaparan sejak pagi belum makan apa pun.”


“Aku sudah tahu … suster bilang kau hanya kurang asupan makanan makanya jadi lemas … Ya ampun, apa kau ini benar- benar sangat miskin? Sampai tak makan dulu sebelum Nyonya Ros membawa mu ke sini ….” ucap Tini menggeleng- gelengkan kepalanya.


“Bagaimana aku sempat makan … orang baru pulang dari pasar langsung dibawa paksa ke sini. Dan ternyata di rumah sebesar istana ini sangat pelit makanan … Tahu gitu saat dipasar aku makan dulu yang kenyang …” cerocos Ning malah curhat.


“Bukan pelit makanan, tapi pegawai di sini harus disiplin dan mengikuti aturan.”


“Ribet sekali peraturan di rumah ini ….” Ning mengeluhkan. “Loh, kenapa lengan bajuku di guling ke atas begini? Hanya seelah lagi?” tanyanya heran saat melihat lengan kanannya.


“Karena kau pingsannya lama, jadi Tuan meminta suster menyuntikan obat lambung dan vitamin pada mu.”


“Hah? Suster?”


“Iya …”


“Apa rumah ini benar- benar rumah sakit jiwa? Kenapa ada suster segala?” gumam Ning dalam hati.


“Kalian memanggil suster kemari?” tanya Ning heran.


“Tentu saja … di rumah ini ada seorang suster yang bertugas menjaga nyonya besar yang sering sakit karena sudah tua. Tadi Tuan meminta ku memanggil suster itu untuk memeriksakan keadaan mu.”


“Oh … gitu. Kirain disini rumah sakit ji____”


“Apa? Yang benar saja rumah semegah ini kau sebut rumah sakit ….” Tini menghela nafas panjang. ”Kau beruntung sekali, Ning. Kedua Tuan tadi sampai tidak beranjak dari kamar ini menunggu mu sadar, bahkan meminta ku segera menyiapkan makanan untuk mu ….” ucapnya memberitahukan Ning.


“Apa? Tuan muda dan tuan itu tadi menunggui ku di sini?” Ning terkejut mendengarnya.


“Iya … tapi kau jangan terlalu ge-er … Mungkin mereka hanya takut jika ada pegawai yang meninggal di rumah ini akan membawa masalah untuk mereka. Jadi jangan mengira mereka itu perhatian pada mu, Ning” ucap Tini memberi penjelasan menurut pendapatnya pada Ning, agar ia tidak salah persepsi terhadap kedua majikannya.


“Siapa juga yang kege- er an,” ucap Ning tak merasa.


“Oh iya … nama mu Tini kan? Dan kau yang tadi mengantarkan ku ke kamar tuan Dino kan? Pasti kau juga yang mengunci___” belum selesai Ning berbicara, Tini langsung memotongnya.


“Aku masih banyak pekerjaan … Habiskan makanan mu dan kalau kau sudah selesai makan, langsung cuci sendiri bekas makan mu ….” Tini pun beranjak pergi meninggalkan kamar Ning.


Ia seolah takut mendapat kemarahan Ning, karena ia sudah mengunci Ning di dalam kamar anak majikannya dengan sengaja untuk mengerjainya. Karena ia tahu betul jika Dino selalu mengerjai calon pengasuhnya.

__ADS_1


“Iya …” ucap Ning singkat dengan memberi tatapan tidak suka pada Tini.


“Cih … bilang saja kau takut pada ku. Pakai menghindari pertanyaan ku segala,” Ning menggerutu kesal. Ia pun bangkit dari tempat tidur dan mengambil piring yang berisi nasi dan lauknya. Ia duduk di sisi tempat tidur dengan kaki yang menapak ke lantai.


Ia mulai menyendok makanan tersebut dengan perasaan ragu- ragu. Namun karena perutnya yang sudah sangat lapar, ia pun memakannya.


Suapan pertama, ia mengunyah lalu menelan makanan tersebut dengan perasaan takut dan ragu.


“Aman … sepertinya tidak ada yang aneh dengan makanan ini. Rasanya pun sangat enak,” gumam Ning berdialog sendiri.


Ia pun melanjutkan makannya hingga habis tak tersisa. Beruntung ia seorang manusia biasa bukan kuda lumping, sehingga piringnya masih utuh dan tak dimakan olehnya.


“Eug ….” Ning bersendawa dengan suara yang cukup keras.


“Alhamdulillah, akhirnya gue bisa mencicipi enaknya makanan di rumah ini.” Ning mengucap syukur sembari mengusap perutnya yang sudah kenyang.


“Eh tunggu …” Ning teringat akan sesuatu, ia pun meraba- raba celananya dan memasukan tangan sebelah kiri ke dalam saku celananya.


"Oh, masih aman … bagus lah si dinosaurus itu tidak mengambil hape- ku,” ucapnya bernafas lega.


“Mana berani dia meraba- raba ku dalam keadaan tidur … Apalagi ada si tuan om … Bisa disangka pelecehan … hihihi,” Ning cekikikan sendiri.


Ia kembali ke dapur dengan membawa bekas makannya, kemudian ia pun mencuci dan membereskannya.


“Ning, antarkan ini ke kamar tuan muda,” titah sang koki yang memberikan nampan berisi steak dan segelas orange jus.


“Bukannya tadi saya sudah mengantarkan makanan ke kamar tuan muda?” tanya Ning heran.


“Itu hanya untuk mengerjai mu, sedangkan ini untuk makannya … Sudah sana antarkan, nanti tuan muda bisa marah ….” Koki itu kembali mengeluarkan perintah pada Ning.


“Oh, baiklah,” ucap Ning dengan raut wajah kesal. Ia pun mengambil nampan tersebut dan membawanya untuk diantarkan ke kamar anak asuhnya.


“Hmm, sudah ku duga si koki itu tahu jika si dinosaurus akan mengerjai ku. Seluruh penghuni rumah ini memang menyebalkan … Padahal kan aku ini baru sadar dari pingsan dan itu pun gara- gara penghuni rumah ini … Benar- benar tak berperikemanusiaan," Ning .enggerutu sepanjang jalan menuju kamar Dino.


Tok tok tok


Ning pun mengetuk pintu kamar Dino.


“Masuk!!!” seru Dino dari dalam kamar.


Ning segera masuk ke dalam kamar tersebut, tanpa rasa takut dikerjai lagi. Sepertinya ia sudah siap menghadapi anak asuhnya itu, karena ia sudah memiliki tenaga yang cukup setelah perutnya terisi makanan.


“Diam kau! Berikan makanan ku!” hardik Dino kesal.


“Dengan senang hati anak asuh ku yang manis.” Ning mletakan nampan yang dibawanya di atas meja kaca bundar.


“Jangan memanggil ku seperti itu!” bentaknya.


“Lalu aku harus memanggil mu apa? Dinosaurus?”


“Kau!” Dino menatap tajam Ning.


“Eit, tuan muda jangan suka marah- marah, nanti cepat keriput. Katanya emosi itu bisa membuat umur pendek loh." Ning seperti ya senang membuat anak asuhnya kesal.


“Diam kau! Pergi sana … kau hanya membuat ku tak selera makan.”


“Baiklah … hamba pergi dulu … Jangan lupa habis kan makanannya ya …."


"Oh iya ...Tuan muda bisa makan sendiri kan? Atau di suapi? Tapi pakai bibir, mau gak?”


“Kau!!”


Ning langsung ngacir berlari keluar kamar sembari tertawa geli, melihat anak asuh baru nya itu terlihat sangat marah.


Ia menuruni tangga, namun tak kembali ke dapur atau pun ke kamarnya. Ia malah keluar dari pintu samping saat melihat ada halaman yang cukup luas dari balik jendela kaca.


“Sepertinya nyonya Ros menyukai tanaman … Di sini terlihat banyak tanaman yang begitu terawat,” gumam Ning sembari berjalan melihat sekeliling halaman yang dipenuhi tanaman hijau- hijau itu.


Ning duduk di sebuah kursi taman yang terdapat disana. Ia memejamkan matanya sembari menghirup udara segar dari pepohonan dan tumbuhan yang ada di sana. Padahal hari sudah siang, namun cuaca begitu mendung hingga membuatnya merasa teduh duduk di sana.


“Sudah baikan rupanya ….” ucap seseorang yang mengagetkan Ning hingga membuatnya membuka mata seketika. Ia melihat ke arah asal suara yang ternyata orang itu berdiri tepat di belakang kursi yang sedang ia duduki.


Ning dengan segera bangkit dan berdiri. Ia menghadap pada orang tersebut dengan menundukkan kepalanya.


“Tu tuan Om ….” sapa Ning gelagapan.


“Apa? Kau memanggil ku apa barusan?” Pria itu malah melangkah mendekat pada Ning.


“Tu tuan Om ….” ucapnya gelagapan disertai rasa takut hingga ia menundukkan kepalanya.

__ADS_1


“Hahahaha … Apakah aku terlihat setua itu hingga kaku memanggil ku dengan tuan om?”


“It itu anu … Eng … tuan muda kan memanggil anda Om, jadi saya memanggil anda dengan tuan Om …”


“Lalu … Jika tuan muda mu itu memanggil ku kakek, maka kau akan memanggil ku tuan kakek juga, begitu?”


“It itu … it itu …”


“Kau kelihatannya takut pada ku … Apa kau mengetahui niat terselebung ku yang akan menelan mu hidup- hidup?” ucapnya dengan nada menakut- nakuti.


“Apa?” Ning menegakkan kepalanya.


“Hahaha … Aku hanya bercanda ….” Pria itu malah tertawa melihat Ning yang menganggap serius ucapannya.


“He-he-he-he ….” Ning tersenyum kaku.


“Sepertinya aku pernah melihat mu sebelumnya? Tapi … dimana ya?” Pria itu menatap lekat wajah Ning.


“Mampoos … ini orang beneran inget sama wajah gue, kan … Aduh gimana ini???” gumam Ning dalam hati dan kembali menundukkan kepala.


“Aku ini sedang mengajak mu bicara … Tapi, kau terus saja melihat ke arah bawah … Memangnya kau pikir aku ini kurcaci apa?”


“Bu bukan gitu Tuan maksudnya … it itu eng ….” Ning terus saja bicara sambil menunduk.


“Benar kayaknya, aku pernah melihat mu ….” Ucap pria itu yakin.


“Tuan Om ini mungkin salah orang … Wajah saya ini kan pasaran. Hehehe,” ucap Ning mengelak.


“Oh, gitu ya.”


“Iya, Tuan om ... he- he- he.”


“Jadi, kau ini pengasuh baru Dino?”


“Iy iya, tuan Om.” Ning mengangguk.


“Oh, Ya Tuhan … berhentilah memanggil ku tuan om … Rasanya aku ini seperti om- om tua ….”


“Em … iy iya Pak Diektur ….” ucap Ning.


“Dari mana kau tahu jika aku ini seorang direktur? Bukankah kepala pelayan bilang jika kau baru pagi tadi dibawa ke rumah ini?" si tuan om terus bertanya.


“Astaga naga, kenapa ini mulut bisa keceplosan sih, di saat genting seperti ini?” jerit Ning dalam hati.


“Hei, bukannya menjawab pertanyaan ku, kenapa kau malah melamun?”


“Eng … it itu anu anu eng ….”


Orang itu memperhatikn wajah Ning yang semakin menunduk. Ia nampaknya penasaran pada pengasuh keponakannya itu.


“Apa ada sesuatu yang menarik perhatian mu di bawah rerumputan itu?” tanya pria itu pada Ning.


Ning hanya menggelengkan kepalanya perlahan, tanpa menjawab dengan perkataan. Pandangannya memang ke bawah, namun pikirannya entah kemana.


“Apa itu ular yang sedang mendekati kaki mu?” ucap pria itu saat melihat ada seekor hewan yang mendekat pada kaki Ning.


Sontak Ning membuyarkan lamunannya dan membelakkan mata mendengar perkataan pria itu, karena ia pun merasakan ada sesuatu yang merayap di kakinya.


“Aaaakkk …. Ular ular ular…” Ning menjerit dan loncat, hingga tanpa disadari ia secara reflex memeluk pria yang berdiri dihadapannya dengan posisi kedua tangan diingkarkan pada leher pria itu.


Pria itu nampak terkejut dengan apa yang terjadi. Ia pun secara reflex menahan tubuh Ning yang meloncat ke tubuhnya. Dan saat ini Ning berada dalam gendongan pria tersebut.


Wajah mereka begitu dekat dengan kedua mata saling memandang. Status sosial yang saling bertolak belakang pun mendadak dilupakan oleh keduanya.


Entah karena masih terkejut, entah karena keduanya terlena dengan tatapan yang seolah membuat perasaan mereka saling tarik menarik, hingga jantung keduanya terdengar berdetak lebih kencang seperti genderang mau perang.


Duuuttttt …. Duut durut dut duut …


Suara itu pun mengacaukan segalanya. Baik Ning atau pun si Tuan Om itu sama- sama membelakkan matanya mendengar suara gemuruh serasa disertai getaran pada tangan si tuan Om yang sedang menggendong Ning ala bridal style itu.


“Alamak .. kenapa ini kentut musti keluar segala sih dalam posisi gini ... Malu kan sama tuan om tamvan ini….” jerit Ning dalam hati.


“Athar … apa yang sedang kau lakukan dengan pelayan disini?” terdengar suara baritone dari arah belakang yang mampu mengejutkan keduanya.


Gedebrukkk ….


----------- TBC -------------


**********************

__ADS_1


Happy Reding ….


__ADS_2