NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Ramuan Cinta


__ADS_3

“Sudah ada?” tanya Athar pada wanita tersebut.


“Sudah,” angguk wanita itu.


“Ning, aku keluar dulu sebentar ….” ucapnya tersenyum, lalu beranjak pergi.


Ning yang nampak tidak suka dengan kehadiran wanita cantik itu, hanya dengan menganggukkan kepala saja.


“Permisi, Nona….” Wanita cantik itu pun berpamitan, lalu ikut keluar.


“Siapa wanita cantik itu? tumben si kudaniel gak menghindari seperti yang ia lakukan pada Falesha… jangan- jangan dia_____” gumam Ning dalam hati. Nampaknya kehadiran wanita itu membuat Ning terganggu.


“Arhh, apa peduli ku sih … Aku sudah seperti pacarnya yang cemburu saja … sadar sadar Ning … si kudaniel itu bukan siapa- siapa mu ….” Ning mengingatkan dirinya sendiri.


Ning mengambil remot yang ada di lemari kecil sebelah ranjang. Ia menyalakan menekan tombol power untuk menyalakan televisi.


“Dari pada mikirin mereka, mending aku nonton TV deh ….” gumamnya berdialog sendiri.


Dan ternyata, bukannya menonton televisi, ia malah memindah- mindahkan chanel yang sepertinya hanya untuk mengalihkan pikirannya saja. Namun hal itu tidak berhasil. Athar yang tak kunjung kembali membuat Ning berpikiran macam- macam.


“Dia lama banget sih!! Mereka ngapain aja di sana? Jangan- jangan wanita itu memang pacarnya….” Ning sudah mulai kesal.


Tak lama Athar pun masuk, namun bukan bersama wanita yang tadi melainkan bersama wanita lain.


“Apa- apaan dia ini? Tadi ada wanita cantik dan anggun … Sekarang ganti lagi sama yang lain,” gerutu Ning dalam hati dengan tatapan kesal.


“Ning … Ini Siti ... Dia yang akan menjaga mu selagi kamu dirawat.” Athar memperkenalkan wanita yang masuk bersamanya.


“Hah? Memangnya tuan om mau kemana?” tanya Ning heran.


“Aku kan tidak bisa menjaga mu selama 24 jam … Jadi saat aku tak bersama mu, ada Siti yang akan menjaga mu… Dan kalau butuh apa-apa kamu tinggal bilang padanya,” ucapnya menjelaskan.


“Iy iya.” Ning yang masih bingung hanya mengangguk saja.


“Kau boleh tunggu di luar,” ucap Athar pada Siti.


“Baik,Pak … saya permisi … permisi nona ….” Ucapnya dengan sopan. Ning pun menganggukinya dengan tersenyum kaku.


“Tuan om….”


“Ya." sahut Athar.


“Kenapa tuan om sampai nyuruh orang untuk menjaga ku?” tanya Ning masih bingung.


“Supaya saat aku keluar, aku bisa merasa tenang … Kamu tahu sendiri kan, suster tidak bisa menjaga 24 jam… Tadi saja kamu sampai tergeletak di lantai gak ada yang tahu….”


“Tapi kan dia pasti harus dibayar?” Ning kembali memikirkan biaya lain, selain biaya pengobatannya.


“Tidak usah memikirkan hal itu, biar itu jadi urusan ku… Eng, atau kamu mau memanggil sanak saudara atau orang terdekat mu untuk menjaga mu di sini?” Athar memberi opsi lain.


“Eng … enggak usah ….” Ning menjawab gelagapan. Nampaknya ia tak ingin merepotkan keluarganya yang tak tahu pasti ada dimana. Ia pun tak ingin menyusahkan Ocha sahabatnya, jika mengetahui kondisinya yang sekarang.


“Jadi? Itu berarti Siti boleh menjaga mu?” tanya Athar memastikan.


“Iy iya,” angguk Ning. " Eng, Tuan om….”


“Iya.”


“Kenapa tuan om begitu baik dan peduli pada ku? Bukankah kita hanya terikat hubungan kerja sama saja?” Ning mengutarakan apa yang mengganjal di hatinya.


Athar tertegun dengan menatap mata Ning. Seperti sedang bingung untuk memberi jawaban pada Ning. Namun ia malah menyimpulkan sendiri dari pertanyaan yang diajukan oleh Ning.


“Apa aku hanya sebatas itu saja bagi mu, Ning?” gumamnya dalam hati.


“Tuan om....” Ning yang menunggu jawaban, kembali memanggil Athar yang terlihat melamun.


“Iy iya … kenapa?” Athar membuyarkan lamunannya.


“Kok malah malah bengong? Bukannya menjawab pertanyaan ku,” protes Ning.


“Eng … it itu karena…. Eng, seperti yang kamu bilang tadi, kamu kan rekan ku … Jadi selama kita bekerja sama, kamu adalah tanggung jawab ku …. Lagi pula, kamu kan gak punya siapa- siapa … Mana mungkin aku membiarkan mu sendirian saat membutuhkan seseorang untuk mendukung dan menyemangati mu….” ucapnya panjang lebar. Ia memaksakan diri untuk tetap tersenyum, meski hatinya sebenarnya merasa tergores.


“Jadi perhatiannya ini hanya karena dia merasa kasihan pada ku … Bukan karena dia memiliki perasaan lain pada ku ….” Batin Ning nampak kecewa dengan jawaban yang diberikan oleh Athar.


“Emm, terimakasih banyak atas bantuan tuan om … Maaf karena sudah banyak merepotkan,” ucapnya menunduk.


“Kamu jangan berbicara seperti itu, Ning .. Aku tidak merasa direpotkan, kok.” Ucapnya lalu duduk di kursi sebelah ranjang Ning. “Oh iya, kamu lagi nonton apa?” Athar mengalihkan topik.


“Eng … lagi nyari acara yang rame aja, hehehe ….” Ning nampak canggung.

__ADS_1


Kini kecanggungan mulai melanda keduanya. Ning yang sebelumnya merasa tenang saat Athar selalu berada di sampingnya, mendadak ia ingin sendiri saja di sana. Athar pun demikian, ia tak sepercaya diri seperti sebelumya.


Tak ada lagi pembicaraan antara keduanya. Baik hanya celotehan, bercanda, saling ejek atau pun bergurau seperti biasanya.


Ning nampak serius menonton televisi dengan chanel yang ia pilih. Padahal itu film Barat yang ia sendiri tak paham jalan ceritanya. Tatapannya tertuju pada televisi, tapi pikirannya berkelana entah kemana.


Begitu pun dengan Athar, ia nampak menyibukkan diri dengan ponselnya. Padahal ia hanya melihat- lihat foto- foto dalam galerinya, foto Ning lebih tepatnya.


Hingga beberapa saat, itulah yang terjadi di ruang hemodialisa. Athar yang merasa lelah, terlihat mulai mengantuk dan beberapa kali memejamkan mata kemudian melek lagi.


Sebenarnya ia ingin pulang dan beristirahat, namun sepertinya ia berat meninggalkan Ning sendirian. Terlebih lagi ia sudah berjanji akan menemani dan selalu berada di sisi Ning saat pengobatannya.


Ning yang diam- diam memperhatikan Athar, tak tega jika membiarkannya terus duduk dengan mata yang terkantuk- kantuk seperti itu.


“Tuan om ….” Ning memulai buka suara.


Athar terkesiap, ia membuka matanya. “Ya … kenapa Ning? apa kamu butuh sesuatu?”tanya nya dengan mata sedikit memerah.


“Tuan om pasti lelah ya? Sebaiknya pulang saja … Nanti tuan om bisa sakit kalau kurang istirahat,” ucap Ning yang mengkhawatirkan Athar.


“Aku gak apa-apa kok….” sanggah Athar yang kemudian menguap.


“Tuh kan ngantuk... Dokter bilang cuci darahnya bisa 3-4 jam … Tuan om pulang saja … Kan tuan om sudah nyuruh orang untuk menjaga ku ….”


“Tapi Ning ___”


“Sudah pulang sana … Kalau tuan om sakit, nanti gak bisa nengokin aku lagi dong … hehehe ….”


Athar menghela nafas panjang sejenak. “Baiklah, aku akan pulang dulu sebentar … Siti akan menjaga mu di sini … Jangan sungkan, kalau butuh apa-apa langsung bilang sama Siti, dan kalau ada keluhan apa pun langsung kasih tahu suster….” ucap ya mewanti-wanti.


“Iya, tuan om ….”


“Yasudah … kalau gitu, aku pergi dulu ….” ucapnya bangkit.


Dengan berat hati Athar meninggalkan Ning yang masih melakukan cuci darah. Ia pun mewanti- wanti pada Siti, agar benar benar menjaga Ning. Tak lupa ia pun memberikan nomor kontak asisten pribadinya pada Siti, untuk berjaga- jaga jika terjadi sesuatu agar segera menghubungi Riko.


*


Athar kini berada di apartment nya. Ia nampak begitu lelah setelah dua hari menjaga Ning di rumah sakit, ditambah banyak pekerjaan yang harus diurusnya. Belum lagi ia memikirkan pendonor untuk Ning yang belum juga didapatkan hasil pemeriksaan tes kecocokan-nya. Sementara ia sudah tak tega melihat Ning yang begitu menderita.


Ia membersihkan diri, kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia diam termenung, nampak memikirkan banyak hal di kepalanya. Raganya bisa beristirahat, namun pikirannya bercabang kemana- mana.


“Alexa … apa yang harus ku lakukan? Aku tak ingin kehilangan lagi, aku sudah pernah kehilangan mu ….” lirihnya sedih, menatap sendu pada foto wanita cantik pada layar ponselnya.


“Kau tahu? Dia mengingatkan ku pada mu … Meski dia gadis yang sembrono, ceroboh, polos, sederhana, tapi dia bermental kuat seperti mu dalam menghadapi pahitnya kehidupan….” ucapnya tersenyum, kemudian menghela nafas.


“Maafkan aku Alexa … Aku tak bisa menolak perasaan ku pada nya … Aku mencintainya, Alexa … Aku mencintai gadis itu ….” ucapnya lalu memejamkan mata sejenak. Ia menundukkan pandangannya seolah tak ingin menatap foto mendiang wanita yang dulu sangat dicintainya itu.


“Tapi … Aku tak bisa bersamanya …Aku tak berdaya… Aku tak ingin melukainya kelak,” ucapnya lirih.


“Lagi pula, sepertinya dia tak memiliki perasaan sama terhadap ku … Haruskah aku berjuang untuk mendapatkannya, atau aku menyerah sebelum berjuang?” Athar kembali menghela nafas panjang. Ia memejamkan mata yang kemudian membawanya tidur dengan pikiran yang tertuju pada Ning, juga mendiang Alexa.


Athar yang merasa sangat lelah hati dan pikiran, tak kembali ke rumah sakit. Ia meminta Riko berjaga di sana. Sepertinya ia ingin menghindari Ning untuk sementara waktu, karena beranggapan jika cintanya bertepuk sebelah tangan.


**


Keesokan harinya, pagi- pagi sekali Athar kembali ke rumah sakit setelah mendapat telpon dari dokter bahwa sudah ada hasil tes kecocokan dari para calon pendonor. Namun setelah bertemu dokter yang menjelaskan hasil pemeriksaan, Athar semakin frustasi. Karena dari keenam orang yang dibawa Riko, tak ada satu pun yang memiliki kecocokan dengan ginjal Ning.


“Argh … kau itu benar- benar bodoh, Riko!! Kenapa kau membawa orang- orang yang tak berguna!!” Athar meluapkan kemarahannya pada Riko yang membawa godie bag di tangannya saat ia baru keluar dari ruangan dokter.


“Saya minta maaf, Pak … Saya juga tidak tahu kalau hasil pemeriksaan mereka bisa sampai tidak cocok,” sesal Riko.


“Kau benar- benar tidak berguna!!” bentak Athar semakin marah.


“Daniel … kau tidak bisa menyalahkan Riko … Mana mungkin dia bisa tahu secara kasat mata … Riko itu asisten pribadi mu, bukan cenayang ….” Dokter yang ikut keluar, membela Riko yang memang tidak bersalah.


Athar mengusap kasar kepalanya. Ia semakin frustasi memikirkan kondisi Ning, karena tak tega jika ia melihat Ning terus- terusan menderita.


“Saya benar- benar minta maaf, Pak.” ucap Riko yang merasa bersalah karena tak menjalankan tugasnya sesuai harapan Athar.


“Daniel, kita masih belum mendapatkan hasil pemeriksaan dari tiga orang yang dibawa oleh Vina kemarin sore … mudah- mudahan dari mereka ada yang cocok,” ucap Dokter memberi harapan. Ia menepuk bahu Athar, kemudian kembali masuk ke dalam ruangan.


“Riko, kau harus mengerahkan orang mu lagi untuk mencari lebih banyak orang yang akan mendonorkan ginjalnya untuk Ning … Kalau perlu, naikan jumlah imbalannya….” titahnya.


“Baik, Pak …. Anak buah saya juga sudah menemukan alamat tempat tinggal paman nya Nona Ning di Tasikmalaya,” ucap Riko menginformasikan.


“Bagus … Suruh anak buah mu membawanya kemari!!” Athar mulai merasa tenang.


“Baik, Pak ….”

__ADS_1


“Lakukan tugas mu dengan baik … Aku akan menemui Ning ….”


“Baik, Pak … Oh iya Pak … Tadinya saya akan memberikan ini pada Nona Ning… Berhubung Bapak sudah ada, mending Pak Daniel saja yang memberikannya,” ucap Riko memberikan godie bag yang berisi sebuah botol Tumbler pada Athar.


“Apa ini?” tanya Athar heran.


“Tadi tante saya mengantarkan ramuan ini, katanya ini air kelapa hijau yang sudah direbus….”


“Air kelapa muda direbus?” Athar semakin heran.


“Iya, Pak … Tante Nur bilang, ini bagus untuk penderita gagal ginjal … Dulu mertua beliau pernah mengalami gagal ginjal, dan setelah rutin diberi ramuan ini, katanya berangsur membaik dan tak perlu cuci darah lagi." Riko menjelaskan khasiat ramuan itu yang sudah terbukti.


“Baiklah, aku akan memberikannya … Ucapkan terimakasih ku pada tante mu ….” ucapnya tersenyum.


“Sama- sama, Pak.”


“Pada Tante Nur, bukan pada mu, Riko!!”


Athar lalu beranjak pergi menuju kamar tempat Ning dirawat.


Saat ia masuk, ternyata Ning sedang tidur. Athar pun duduk di kursi sebelah ranjang. Matanya terus memandangi wajah Ning. Ia tersenyum berseri- seri, dan tak peduli jika Siti yang ada di ruangan itu akan menganggapnya gila.


Ia memuaskan dirinya memandangi Ning hingga beberapa saat. Seolah melepas rindu pada wanita yang baru tak ditemuinya hanya dalam semalam saja.


“Emh ….” Ning yang sepertinya merasakan ada yang memperhatikannya pun terbangun. Perlahan ia membuka matanya.


“Hai, kamu sudah bangun,” sapa Athar tersenyum manis.


“Tuan om … kapan datang?” tanya Ning yang masih mengumpulkan kesadarannya.


“Kalau masih ngantuk tidur lagi saja ….”


“Enggak kok … Tadi aku ketiduran setelah minum obat ….” Ning bangun lalu duduk.


“Masih mual muntah? Siti bilang kemarin habis cuci darah mual muntah lagi ….”


“Iya, kemarin dua kali dan tadi subuh cuman sekali aja sih… Tadi juga habis makan gak mual muntah lagi kok ….”


“Baguslah kalau gitu … Minum ini dulu….” Athar memberikan botol minum tahan panas dari dalam godir bag yang ia bawa.


“Apa ini?” tanya Ning heran.


“Ramuan cinta….” ucapnya lalu terkekeh.


“Hah? Ramuan cinta?” tanya Ning tidak percaya. Namun ia menerima botol tersebut.


“Iya … supaya kamu kelepek- kelepek dan tergila- gila pada ku ….” ucap Athar dengan mengedipkan sebelah matanya.


“Ish, tuan om apaan sih … pagi-pagi udah bicara ngawur … Salah minum obat ya?”


“Hahaha … Aku bercanda Ning….” Athar tertawa melihat raut wajah Ning yang membuatnya gemas. ”Ini air kelapa muda yang sudah direbus, katanya bagus untuk penderita gagal ginjal … Ayok diminum dulu ….”


Ning pun membuka penutup botol, kemudian meminum ramuan tersebut.


“Habiskan ya … dijamin kamu akan langsung jatuh cinta pada ku…." Athar kembali menggoda Ning.


“Uhuk uhuk uhuk ….” Ning langsung tersedak mendengar ucapan Athar.


“Eh, hati- hati minumnya Ning … Jangan bernafsu gitu….hehehe.” Athar masih saja menggoda Ning.


Ning berhenti minum sejenak, kemudian kembali meminumnya perlahan. Ia melirik Athar yang terus memperhatikannya.


“Tak perlu menggunakan ramuan cinta pun, aku sudah jatuh cinta pada mu, Kudaniel mesum….” gumam Ning dalam hati.


-


-


------------------- TBC-----------------


***************************


Happy Reading ….😉


Terimakasih selalu menantikan kisah Ning Nong dan Kudaniel mesum … terimakasih juga untuk Kak Nur atas ilmunya, dan semoga mertuanya diberkahi umur panjang dan selalu diberi kesehatan… Para reader yang kece badai juga sehat selalu…. Amiin …🤲😘


Jangan luva tinggalkan jejak mu, like komen rate vote hadiah seikhlasnya.🤩😉


Aylapyu All….,😘

__ADS_1


__ADS_2