
Ning POV
“Bagaimana bisa kalian bersama malam- malam begini? Bukannya kamu bilang sedang kurang enak badan, Ning? Makanya gak bisa mengantar Nana ke sekolah….” Kini Bu Asri melempar pertanyaan pada ku. Aku menunduk, karena bingung harus menjawab apa.
"Ning...." Bu Asri masih menunggu jawabanku.
“It itu… Eng, aku____”
“Tadi kami bertemu di pesta pertunangan temanku, yang kebetulan calon tunangannya itu teman sekolah Ning… Saat aku hendak pulang, aku lihat Ning sedang menunggu bis sendirian di halte … Jadi aku antar pulang, Bu… Kasihan kan malam- malam sendirian di halte….” Beruntung si tuan om membantu menjawab, dan ternyata ia menceritakan yang sebenarnya, meski banyak yang di skip.
“Oh, gitu… Jadi kalian bertemu di pesta yang sama?” Bu Asri mengangguk perlahan, namun masih dengan tatapan yang sama. Sepertinya beliau belum puas dengan jawaban si tuan om.
“Iya, Bu….” Angguk si mesum dengan yakin.
“Fiuhh, lega rasanya….” gumam ku dalam hati. Namun saat mata ku dan Bu Asri bertemu, seolah ada kecurigaan padaku. Sepertinya beliau ingin mendengar jawaban dariku juga. Sungguh suasana seperti ini tak begitu mengenakan.
“Aku permisi ke belakang dulu…” ucapku bergegas pergi ke dapur, untuk menghindari tatapan Bu Asri dan sebelum ia melempar pertanyaan lagi padaku.
Jujur aku merasa bersalah pada beliau karena telah berbohong tadi pagi. Aku gak mungkin menambah kebohongan lagi tentang aku dan si mesum. Menghindar akan jauh lebih baik.
Langkahku dipenuhi pikiran yang berkecamuk, hingga tiba di dapur. Ku ambil tiga siung bawang merah dari dalam kulkas, lalu ku kupas dan dibelah tiga. Ku tuangkan sedikit minyak sayur pada piring kecil, dicampurkan dengan bawang potongan bawang merah tersebut.
Aku baru ingat, dulu waktu kecil saat aku demam pasti emak atau Nyai akan membalur tubuhku dengan ramuan tradisional ini.
Ku hampiri Nana yang masih menangis di gendongan Dady-nya. Aku meremas bawang minyak itu, kemudian ku masukan tangan ke baju Nana. Ku pijat pijat dari tengkuk leher, punggung, hingga pinggang Nana dengan perlahan dan sedikit tekanan.
“Ih, kok bau sih? Apa-apaan itu?” si mesum protes saat mencium bau bawang yang ku balur pada punggung Nana.
“Sudah diam… ini ramuan tradisional….” Ucapku agar dia tak banyak protes.
“Eug….” Nana pun bersendawa, ia berhenti menangis dan tak meracau lagi.
“Tuh, kan dia pasti udah merasa enakan….” Ucapku merasa lega.
“Kok bisa?” tanyanya yang nampak heran.
“Ya ampun, Ning… Ibu aja sampai gak inget ke situ….” Ucap Bu Asri.
“Sebaiknya Nana dibaringkan di tempat tidur….” Ucapku dengan menghindari tatapan Bu Asri.
“Mari Pak, saya antar ke kamar Nana….” Maya menawarkan diri. Sejak tadi ku perhatian ia seperti sedang cari perhatian pada Daniel. Curi curi pandang sambil senyam- senyum.
“Dasar ganjen!!” umpat ku dalam hati.
“Tidak usah!! Saya tahu kok kamarnya….” beruntung si kudaniel yang biasanya mesum itu menolak tegas tawaran Maya. Ia beranjak pergi ke kamar Mas Igih yang sekarang sudah menjadi kamar Nana, diikuti oleh ku dan Bu Asri. Dan ternyata Maya pun ikut mengekor juga.
Dibaringkan lah Nana diatas tempat tidur dengan perlahan. Ku balur dada dan perutnya dengan menggunakan minyak kayu putih. Sepertinya selain demam, ia pun masuk angin.
“Dady… jangan pergi… Momy jangan pergi….” Ucap Nana yang membuka matanya dengan nada lemas.
“Dady ada di sini, gak kemana- mana kok sayang….” Ucapnya yang berdiri di samping ranjang usai membaringkan Nana.
Semetara aku duduk di atas ranjang tepat di sebelah Nana berbaring. Si tuan om pun menghampiri Bu Asri. Nampaknya ia tak ingin aku merasa tak nyaman jika kami berdekatan di depan Bu Asri.
“Kenapa Nana bisa sampai sakit, Bu? Bukanya tadi saat ku antar ke sekolah baik- baik saja?” tanya si tuan om.
“Tadi di sekolah Nana murung terus setelah Pak Daniel pergi… Katanya sedih gak diantar momy, dan Dady mau pergi jauh lagi….” Maya yang berdiri di sebelah Daniel langsung nyamber menjawab pertanyaannya sembari senyam senyum, dan sesekali melirikkan matanya pada pria yang kucintai itu.
“Kenapa dia bersikap seperti itu pada si mesum… Perasaan sama Mas Igih gak pernah caper atau keganjenan gitu,” ketus ku dalam hati, melempar tatapan tak suka.
“Maya, tolong ambilkan air hangat dan handuk kecil untuk ngompres Nana….” Ucapku meminta bantuannya, sekalian supaya dia pergi dan gak caper lagi.
“Tapi, Mbak… itu kan Nana sudah pakai byebye paper….” Rupanya ia menolak perintah ku secara halus.
“Ini kurang ampuh… Mending dikompres air hangat saja,” ucapku yang kemudian melepaskan bye bye paper yang menempel di dahi Nana. Maya pun bergegas pergi. Terlihat raut keterpaksaan di wajahnya. Aku pun tersenyum sungging.
“Momy…” Nana berbaring menyamping menghadap ke arah ku, lalu tangannya memeluk lengan ku.
“Iya, sayang… Momy di sini….” ku usap lembut punggungnya.
“Ning, sebaiknya kamu pulang ini sudah sangat larut… Kamu juga kan harus banyak istirahat… Biar Ibu yang jaga Nana….”Bu Asri terlihat merasa sungkan pada ku, padahal aku sudah lama sangat dekat dengan Nana yang sudah ku anggap seperti anakku sendiri.
“Apa Bu Asri menyadari ada sesuatu diantara aku dengan si tuan om,” batinku mengira.
“Aku akan menginap di sini, Bu… Nih Nana nya gak mau lepasin aku… Ibu istirahat saja….” ucapku berusaha tetap tenang dan bersikap seperti biasa.
“Iya, Bu… Ibu istirahat saja, takutnya ibu sakit….” Dia pun sependapat dengan ku.
__ADS_1
“Eh tunggu, semoga dia tak berniat macam- macam pada ku setelah Bu Asri pergi,” gumam ku dalam hati.
“Kamu juga mau nginep?” Bu Asri bertanya pada si mesum.
“Iya, biar aku tidur di sofa….”
“Tidur di kamar Kinan saja, Daniel….” titah Bu Asri, karena kamar itu kosong setelah Kinanti menikah enam bulan yang lalu dan kini tinggal bersama suaminya.
“Iya, gampang bu….”
Bu Asri pun beranjak keluar dari kamar Nana. Kini tinggallah aku, Nana dan si mesum yang ada di kamar ini. Aku ikut berbaring, kemudian memeluk Nana untuk menghangatkannya.
Terdengar derap langkah, yang ternyata si mesum menghampiri ranjang tempat ku dan Nana berbaring.
“Kamu tidur saja di kamar Kinan… Biar Nana aku yang jaga….” Ucapnya memintaku beristirahat.
“Momy jangan pergi….” Nana nampaknya menyadari pergerakan ku yang hendak bangun, ia memeluk lenganku dengan sangat erat.
“Kamu aja gih yang tidur di kamar Mbak Kinan… Nana nya gak mau lepas nih… Lagian dulu juga aku sering tidur di sini menemani Nana….” Kami malah saling melempar.
“Kamu sering nginep di sini?” tanyanya menyelidik.
“Kan dulu saat masih ngasuh Nana, aku kan tinggal di rumah ini….”
“Terus kemarin- kemarin sering nginep juga?”
“Gak sering cuma pernah aja… Itu pun saat Nana sakit….”
“Pak Daniel… ini air hangat sama handuk kecilnya….” Maya masuk tanpa permisi dan menyerahkan baskom kecil berisi air hangat beserta handuk kecil pada si tuan om.
“Berikan pada ku….” pinta ku pada Maya yang masih saja caper pada si mesum.
“Sini biar aku yang kompres aja….” tak ku sangka si mesum malah menerima baskom itu. Dan yang menyebalkan, si Maya dengan sengaja menyentuh tangan si mesum. Ingin rasanya ku siramkan air hangat semu panas itu ke wajah si Maya yang keganjenan itu.
Inikah yang namanya cemburu? Ya aku memang merasa cemburu saat orang yang kucintai didekati oleh wanita lain. Tapi, anehnya hal ini tak pernah kurasakan saat melihat Mas Igih ngobrol dengan teman perempuan atau pun teman kerjanya yang seprofesi, bahkan walau mereka terlihat sangat akrab dan tertawa bersama.
Mungkin memang benar, aku tak ada rasa cinta pada Mas Igih. Aku menerimanya hanya karena Nana.
“Mungkinkah Mas Igih juga melamar ku hanya untuk Nana? Entahlah… saat ini rasanya aku sudah tak perduli akan hal itu… Yang ku pedulikan hanya aku dan dia, kudaniel mesum ku.” gumam ku dalam hati.
Ku perhatikan sembari tersenyum manis melihat si mesum yang mengompreskan handuk yang sudah dicelupkan ke air hangat pada kening Nana.
Tatapannya terlihat sendu, aku yakin ia sangat sedih melihat Nana sakit seperti ini. Naluri kebapak-annya terlihat jelas.
Berbeda dengan Mas Igih yang bapak kandungnya, justru malah hilang di telan bumi saat anaknya sakit seperti ini. Jika orang lain yang melihat hal ini, akan mengira jika si mesum ini adalah ayah kandungnya Nana.
“Hei… kenapa malah melamun….” Ucapnya membuat ku terperanjat.
“Ap apa? Enggak kok….” Ucapku gelagapan.
“Kalau sudah ngantuk, sana tidur di kamar Kinan saja… Biar aku temani Nana di sini….”
“Tapi___”
“Iya, Mbak… Mbak Ning istirahat saja biar cepat sembuh… Kan tadi pagi gak enak badan… Biar saya yang jaga Nana di sini….” Aku baru menyadari ternyata si Maya masih ada di kamar ini.
Aku menatap kesal pada Maya. “Apa-apaan dia itu… Pasti dia nyindir karena tadi pagi bilang gak enak badan, tapi malam nya ke pesta… Kelihatan banget ingin mendekati si mesum… Awas saja kau!!” ketus ku dalam hati.
“Kamar mu kan di kamar bekas Nana, tidurlah ini sudah sangat larut… Biar saya yang menemani Nana di sini….” ucapku masih menahan kesal.
Tak mungkinlah aku marah- marah tak jelas padanya hanya karena cemburu. Apalagi di depan si mesum, bisa tambah besar kepala nanti. Belum lagi ketahuan sama Ibu juga si Maya.
“Argh, rumit sekali hubungan percintaan ku ini… Apa ini yang dinamakan ribetnya mendua….” Batinku menjerit.
“Iya, Mbak… saya permisi….” Akhirnya dia pergi.
“Kamu kenapa?” tanyanya nampak menatap ku heran.
“Ke kenapa apanya?” ucapku gelagapan.
“Kenapa galak gitu sama pengasuh Nana?” ia memperjelas pertanyaannya.
“Kata siapa? Tuan om suka sama dia?
“Lah, kok malah nanya gitu?”
“Ya dia kan cantik, masih segar, muda, sehat gak penyakitan kayak aku….”
__ADS_1
“Kamu kenapa, Ning?” kulihat ia semakin heran. Aku pun tak mengerti kenapa kata- kata itu terlontar dari mulutku. Mungkinkah ini efek cemburu.
“Kamu yang kenapa? Perhatian amat sama dia… Mau aku marahin dia kek, aku galakkin dia… Itu bukan urusan mu… Atau kamu suka ya sama dia?” cerocos ku dengan suara pelan karena takut terdengar orang lain, atau sampai membangunkan Nana.
“Aku? suka sama pengasuh itu? Yang benar saja kamu, Ning… di London banyak bule cantik dan se**y aja gak pernah aku lirik… Apalagi pengasuh itu… Di hatiku cuma ada kamu seorang,” ucapnya yang ikut memelankan suaranya. Nampaknya ia juga tak ingin ketahuan.
Ya ampun, kami ini sudah seperti pasangan yang sedang selingkuh diam- diam. Dan yang lebih parah, ini di tempat tinggal tunangan ku. Gila memang, cinta bisa membuat orang jadi tidak waras.
“Memangnya lupa dulu aku ini siapa? Aku juga dulu seorang pengasuh di rumah tuan om….” Ucapku mengerucutkan bibir.
“Itu hal yang berbeda, Ning… Kau pikir aku ini lelaki macam apa yang akan jatuh cinta pada setiap pengasuh yang menjaga keponakan ku….” Ia nampak tersinggung entah sedang berniat menggoda ku karena menyadari kecemburuan ku.
“Au ah… aku ngantuk….” Ucapku menarik selimut kemudian memejamkan mata untuk menyusul Nana ke alam mimpi, karena kulihat jam sudah menunjukkan hampir pukul satu pagi. Perlahan aku pun tertidur dengan memeluk Nana.
*******
“Emh…” aku terbangun saat merasakan ada pergerakan di atas perut ku, dan ternyata itu tangan Nana. Ku sentuh lehernya yang ternyata sudah tidak panas seperti tadi malam.Ku ambil handuk yang dari kening Nana, dan ku periksa ternyata sudah tidak panas.
“Alhamdulilah, Nana sudah gak demam lagi….” Ucapku merasa lega. Aku pun bangkit dengan hati- hati agar tak membangunkan Nana. Aku beranjak keluar dari kamar dengan membawa baskom kecil berisi air bekas kompresan.
“Kok airnya masih hangat? Harusnya sudah dingin,” gumam ku merasa aneh saat memasukan handuk kecil ke dalam air di baskom kecil itu. Aku pun menutup pintu kamar dengan pelan.
“Ya ampun… kenapa dia tidur di sofa? Padahal semalam udah disuruh tidur di kamar Mbak Kinan….” gumam menggelengkan kepala saat melihat si tuan om tidur pulas di sofa ruang tengah yang berbentuk leter L. Aku pun pergi ke dapur. Ternyata di sana sudah ada Bu Asri yang sedang memasak. Dan Maya sedang mencuci piring.
“Lagi masak apa, Bu?” tanyaku menghampiri.
“Bikin bubur buat Nana… Kamu sudah bangun, Ning….”
“Iya, Bu….” Ucapku lalu memberikan baskom kecil yang ku bawa pada Maya untuk dicuci sekalian. Ku hampiri Bu Asri. “Ada yang bisa aku bantu, Bu?” tanyaku menawarkan diri.
“Kamu shalat saja dulu, sudah jam lima lebih seperempat… Nanti keburu siang….” ucap Bu Asri padaku .
“Iya, Bu….” Aku pun berlalu ke kamar mandi untuk wudhu.
Usai melaksanakan shalat, ku lihat Nana masih tidur pulas. Aku pun kembali keluar kamar, karena merasa tak enak jika hanya berdiam diri di kamar, sementara Ibu dan Maya sudah berjibaku di dapur.
“Pak Daniel belum bangun ya Bu?” terdengar Maya menanyakan si mesum pada Bu Asri. Pagi- pagi sudah bikin kesal. Aku terus melangkah ke dapur.
“Belum… Kasihan dia baru tidur abis subuh tadi… Oh ya, May… Tolong belikan Abon sapi sama telur ke warung depan... Stok di dapur sudah habis….” Bu Asri menyuruhnya ke warung.
“Saya mau ngepel lantai dulu, Bu….” Ucapnya yang membawa ember dan lap pel do kedua tangannya.
“Tumben, kamu yang ngepel May?” tanya ku menghampirinya.
“Bi Sumi tadi datang subuh langsung Ibu suruh ke pasar… Jadi, kasihan kan kalau nunggu Bi Sumi nanti beliau capek… Mumpung Nana belum bangun… permisi,” ucap Maya yang kemudian pergi ke depan.
Ku hampiri Bu Asri. Memang ada benarnya sih, soalnya Bi Sumi datang subuh pulang sore, karena rumahnya masih sekitaran sini.
“Abon sama telurnya sudah habis banget bu?”
“Iya, tadi sisa dua butir sudah direbus….”
“Biar aku aja yang beli, Bu….” Ucapku menawarkan diri.
“Jangan, ibu gak mau ngerepotin kamu….” ucap Bu Asri terdengar sungkan.
“Ah, Ibu kayak sama siapa aja… Nanti Nana gak mau makan buburnya kalau gak ada abon sapi sama telur rebus….”
“Hehehe… terimakasih ya, Ning….”
Aku pun beranjak pergi setelah mengambil uang dari dalam tas ku di kamar. Dan ternyata si mesum masih tidur pulas dengan berbaring letak kepalanya di lekungan sofa.
“Kasihan dia… Pasi semalaman gak tidur karena menjaga Nana dan terus mengganti kompresan nya… Dia benar- benar ayah yang baik…” gumam ku dalam hati. Aku pun bergegas pergi ke warung sebelum Nana bangun dan mencari ku.
Setelah selesai membeli satu pak abon sapi dan satu kg telur dari warung yang berjarak 100 meter dari rumah Bu Asri, aku menyusuri jalan untuk kembali ke rumah dengan menenteng dua kantong kresek di tangan ku.
Ada beberapa tetangga Ibu yang menyapa, karena mereka sudah kenal dengan ku, karena sering main ke sini.
Sesampainya di rumah aku langsung masuk karena terlihat pintu terbuka. Betapa terkejutnya aku saat tiba di ruang tengah mendapati hal yang menyesakkan dada.
“Daniel !!!” teriakku menggema di ruang tengah rumah Bu Asri. Seketika ku jatuhkan kantong kresek belanjaan ku. Bu Asri dan Bi Sumi pun berhamburan mendatangi ruang tengah ini.
-
-
-------------- TBC--------- >>>
__ADS_1
***********************
Happy Reading….