NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Kerasukan Setan Cinta


__ADS_3

Ning yang baru saja tiba di depan rumahnya, langsung masuk dengan langkah gontai. Namun dari raut wajahnya ia nampak lebih tenang dari sebelum ia berangkat tadi. Sepertinya menangis di sepanjang perjalanan membuat air matanya mengering.


Ia bergegas pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya, kemudian ia masuk ke dalam kamar.


Deringan ponsel terus terdengar dari dalam tas nya. Diambilnya ponsel itu, di layarnya tertera nama My Beloved.


Bukannya menerima panggilan itu, ia malah menonaktifkan ponselnya. Ia tahu pasti Athar tak akan berhenti menghubunginya.


Ning berbaring terlentang di atas tempat tidur. Ia meletakan ponsel itu di sebelahnya. Matanya mengarah ke langit- langit dengan tatapan kosong. Pikirannya menerawang menenggelamkan dirinya yang teringat akan kejadian kemarin.


Flashback


“Loh, kayaknya aku kenal jalan ini?” batin Ning saat melihat jalan sekitar yang tengah dilewati mobil yang dinaikinya bersama Vina. Ia menoleh ke arah Vina yang tengah menyetir. “Bu Vina, ini____”


“Iya… Ini jalan menuju apartment nya Pak Daniel….” ucapnya tersenyum kaku.


“Benar dugaan ku,” gumam Ning dalam hati. senyuman kembali terukir di bibir manisnya.


Tak lama mobil yang ditumpangi Vina tiba di depan pintu utama gedung apartment itu. Setelah mematikan mesin mobilnya, keduanya turun dari mobil tersebut.


“Mari, Nona….” ajak Vina usai memberikan kunci mobil pada penjaga yang menyambut kedatangan mereka.


Ning pun berjalan beriringan dengan Vina menuju sebuah lift, dimana di depan sana sudah ada seseorang lelaki yang menggunakan pakaian kerja formal yang menunggu.


Orang itu mengangguk, dan setelah pintu lift terbuka, ketiganya masuk ke dalam lift tersebut. Pintu lift pun menutup, dan pria tadi menempelkan kartu akses pada alat sensor di atas tombol angka.


Ning tak hentinya mengulas senyum. Debaran di dada membuat detak jantungnya mulai tak karuan. Nampaknya ia sudah tak sabar ingin cepat sampai di unit apartment milik kekasihnya. Entah mengapa rasanya lift itu berjalan sangat lambat. Tidak tahu apa kalau Ning sudah tak sabaran.


Ting


Pintu lift pun terbuka. Vina dan Ning melangkah keluar, sementara pria tadi tidak ikut dengan mereka.


Keduanya kini tiba di depan pintu unit apartment yang tak asing bagi Ning. Senyuman Ning pun semakin mengembang.


Vina menekan bel pintu, dan tak lama pintu pun dibuka oleh seseorang dari dalam sana. Senyuman Ning seketika luntur saat melihat si pembuka pintu.


“Silahkan masuk,” ucap seorang wanita yang Ning kenal.


“Loh, Tini… kenapa kamu ada di sini?” tanya Ning heran. Setahunya tak pernah ada pelayan di tempat tinggal kekasihnya itu.


“Sa saya disuruh membersihkan apartment ini,” ucapnya tak kalah kaget.


“Oh….” Ning mengangguk paham.


“Mungkin karena sudah dua bulan tak ditempati, jadi Daniel-ku menyuruh pelayan dari rumahnya untuk membersihkan apartment ini,” gumam Ning dalam hati. ia pun melangkah masuk bersama Vina.


Tok tok tok


Vina mengetuk pintu. “Ini saya Vina….” Ucapnya kemudian membukakan pintu. “Nona sudah di tunggu di dalam, silahkan masuk….” ucap Vina pada Ning.


“Terimakasih, Bu Vina….” Ning kemudian melangkah masuk, sementara Vina tetap diluar. Senyumnya kembali mengembang saat ia sudah mendekati meja kerja Athar, dimana kursi kerjanya terlihat membelakangi meja.


“Oh, jadi ceritanya mau ngasih kejutan nih, hehehe….” ucap Ning terkekeh senang saat sudah berdiri di depan meja kerja Athar, tepat dibelakang dua kursi depa meja tersebut.


“Tentu saja,” ucap seseorang yang kemudian memutar kursi yang didudukinya.


Deg


Ning terkejut bukan main melihat orang yang duduk di kursi tersebut.


“Nyo Nyonya besar….” ucap Ning gelagapan, wajah yang sebelumnya berseri- seri pun berubah memucat.


“Ya… apa kau suka kejutannya Ning?” tanyanya dengan nada santai.


“Sa saya____” Mulut Ning tiba- tiba sulit untuk berucap. Lain halnya saat ia berhadapan dengan Rosmala dulu, berani dan sembrono.


“Duduklah, jangan berdiri seperti itu….” ucapnya dengan nada ramah. Namun Ning tak merespon, dan masih anteng berdiri, meski sebenarnya ia ingin lari secepat mungkin saat itu juga.


“Duduk!!” titahnya dengan nada tegas. Ning pun menarik satu kursi, kemudian duduk dengan perasan takut, ia menundukkan kepalanya.


Nyonya Andini terkekeh melihat ekspresi wajah Ning.


“Tidak usah takut, aku tidak akan mencelakai mu….” ucapnya kemudian membuka laptop yang ada di atas meja di depannya.


Ning menarik nafas dalam- dalam dan menghembuskan perlahan untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia tak ingin terlalu takut, karena itu akan berakibat buruk dan sangat memalukan bahkan.


“Kau pasti mengira putraku yang ada di sini… Sayang sekali ia belum tiba, karena masih dalam perjalanan di pesawat….”


“Jadi dia akan pulang hari ini? Kenapa dia tidak memberitahu ku? Apa dia berniat memberi ku kejutan?” gumam Ning dalam hati.


“Kau tidak ingin bertanya tentang tujuan ku memanggil ku kemari?” Nyonya Andini menopang dagu dengan kedua tangannya. Ia masih bicara dalam mode tenang dan santai.


Deg


Ning yang sudah merasa tenang, kembali menegang saat mendengar hal itu. Pastinya ini berkaitan dengan hubungan Ning dan juga Athar.


“Matilah aku… hal yang ku takutkan akhirnya terjadi juga,” jerit Ning dalam hati.


“Kenapa kau hanya diam?”


“Sa saya_____”


Nyonya Andini memutar laptop, hingga Ning bisa melihat layar laptop itu.


“Apa ini?” tanya Nyonya Andini menatap tajam.


Ning menegakkan wajahnya yang sebelumnya menunduk. Ia kembali dikejutkan dengan video yang diputar di layar laptop tersebut.


Matanya membulat sempurna, wajahnya pun merah seketika karena malu sekaligus takut. Ia menegakan posisi duduknya dengan tangan membekap mulut yang ternganga.


“It itu… itu_____” Ning tak sanggup melanjutkan ucapannya.


“Kau calon istrinya Singgih, tapi kenapa kau malah menggoda putraku?” Kali ini Nyonya Andini bicara dengan nada serius.” Ck, memalukan!!”


Di layar laptop itu tengah diputar video yang mempertontonkan Ning tengah berciuman dengan Athar saat di rumahnya. Tentu saja Nyonya Andini akan mengira Ning yang menggoda Athar, karena di video itu terlihat jelas jika Ning yang nyosor duluan. Hal itu membuat Ning tak bisa berkutik.


“Sa saya_____” Ning kembali menundukkan kepala, saking takut juga malu akan video itu.


“Jauhi putraku!!” tegas Nyonya Andini dengan lantang.


Ning tak bisa berkata apa- apa lagi. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Namun ia tak mengira akan secepat ini. Hubungannya dengan Athar yang baru berjalan dua bulan, sudah harus bubar karena ditentang ibunya Athar. Miris memang, beginilah nasib hubungan berbeda kasta, pikirnya.


“Sa saya minta maaf, Nyonya….” Ucap Ning dengan suara bergetar.


“Minta maaf untuk apa? Apa kau keberatan menjauhi putraku?”

__ADS_1


Ning kembali terdiam, ia tak berani menjawab ucapan ibu dari kekasihnya itu.


“Aku memanggil mu kemari bukan untuk mendengar permintaan maaf mu… Tapi aku ingin menyadarkan mu... Jika kau bersama putraku, atau bahkan sampai menikah… Kau bisa membahayakan nyawa putraku….” ucapnya menghela nafas sejenak.


“Kau tahu kan jika putra ku mengidap penyakit aneh? Sementara kau juga punya kebiasaan lebih aneh… Dan sudah beberapa kali dia sakit karena dirimu, bahkan sampai masuk rumah sakit… Aku yakin kau tidak lupa akan hal itu….”


Ning hanya menunduk, diam tanpa kata. Karena hal itu memang benar adanya.


“Dan perlu kau ketahui … Athar akan segera menikah dengan Nadira, yang selama ini menjadi partner bisnisnya di London….”


Deg


Reflex Ning menegakkan pandanganya hingga sorot matanya beradu pandang dengan Nyonya Andini yang tersenyum menyeringai.


“Mereka menjalin hubungan saat keduanya berangkat ke London untuk mendirikan bisnis mereka… Bahkan sekarang mereka sedang dalam perjalanan pulang ke Indonesia untuk menggelar pesta pertunangan… Untuk itu, kau jangan pernah mendekati putra ku lagi!!”


“Ap apa? Menikah? Bertunangan?” Ning yang terkejut kesekian kalinya, akhirnya memberanikan diri bicara.


“Ya… Athar dan Nadira akan segera bertunangan… Bahkan ia sudah memesan cincin di toko perhiasan ternama di London… Jika tidak percaya, besok kau bisa datang ke Alexanders Hotel… Kami akan bertemu dengan Athar dan Nadira untuk membicarakan acara pertunangan mereka di resto hotel itu….”


Ning menggelengkan kepala, nampak tak percaya akan perkataan Nyonya Andini. Bisa saja itu hanya akal- akalannya untuk memisahkan Ning dan Athar. Namun, tetap saja hal itu sangat menyakitkan baginya.


Ingin rasanya ia menangis, namun ia menahannya sekuat tenaga. Hatinya serasa dihantam benda tajam bertbi- tubi, tercabik- cabik bahkan lebih dari itu saking sakitnya.


“Ku harap kau sadar diri dan tak pernah mendekati putraku lagi… Pastinya kau tidak ingin bukan, jika dianggap sebagai wanita penggoda calon suami orang… Terlebih aku tak ingin putraku mati konyol karena menikahi wanita jorok yang suka kentut sembarangan seperti mu….” ucapnya dengan nada penuh penekanan.


Nyonya Andini menghela nafas sejenak. Ia kemudian bangkit. “Ku rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan… Pintu keluar ada di sana….” ucapnya melirik ke arah pintu.


Ning pun bangkit masih dengan menundukkan kepala. “Saya permisi, Nyonya….” ucapnya lalu beranjak pergi membawa rasa sesak di dada.


Saat melihat Ning keluar dari ruang kerja Athar, Vina yang baru saja selesai menelpon seseorang segera menghampiri gadis itu. Ia mengikuti langkah Ning hingga keluar dari unit apartment.


Air mata yang sejak tadi ia tahan, kini terus berjatuhan membasahi pipi Ning. Sekuat tenaga ia menahan suaranya agar isakannya tak terdengar orang.


“Saya benar- benar minta maaf, Nona… Saya tidak bisa menolah perintah Nyonya Andini….” ucap Vina yang berjalan di belakang Ning nampak menyesal saat keduanya berjalan menuju lift.


Ning tak menjawab, ia menghapus jejak air mata dengan telapak tangannya.


“Nona, saya akan antarkan anda pulang….” Vina tak tega melihat Ning yang berdiri menunduk di depan pintu lift dengan berderai air mata. Pastilah ia merasa sakit yang begitu dalam hingga suara tangisan tak terdengar.


“Saya bisa pulang sendiri, Bu Vina….” ucapnya dengan susah payah, karena nafasnya serasa tersenggal.


“Tapi, Nona________”


Ting


Pintu lift terbuka. Ning bergegas masuk dan tak menghiraukan Vina yang terus mengikutinya. Ia sibuk menghapus air matanya, hingga pintu lift kembali terbuka di lantai dasar.


Ning langsung keluar, dan Vina pun masih mengikutinya dari belakang.


Saat Ning keluar dari pintu utama, Vina langung menarik tangan Ning untuk menahannya agar tak pergi.


“Lepaskan!!” sentak Ning berusaha menarik tangannya.


“Sopir akan mengantarkan anda, Nona….”


“Aku bisa pulang sendiri!!"


“Maaf, Nona… saya tidak bisa membiarkan anda pulang sendiri… itu mobilnya sudah tiba….” Ucapnya lalu membawa Ning mendekat pada mobil tersebut. Penjaga membantu membukakan pintu mobil tersebut.


Ning yang malas berdebat lagi, tak punya pilihan lain. Ia pun masuk ke dalam mobil tersebut di jok penumpang.


“Ini kartu nama saya....” Vina memberikan sebuah kartu, ia melihat ke arah sopir.


“Pak, antarkan ke alamat yang saya sebutkan tadi di telpon….”


“Baik, Bu….”


Vina menutup pintu mobil setelah Ning menerima kartu itu. Sopir pun melajukan mobilnya.


Ning mengambil ponsel dari dalam tas nya. Ia mendial nomor sang kekasih, namun baik itu nomor ponsel atau pun nomor whatsapnya tidak aktif. Ning terus menghubunginya hingga berkali- kali, namun tetap sama. Begitu pun dengan nomor Riko, tidak aktif juga.


“Huaaaaaa…. Huaaaaa…..” seketika tangis Ning pecah. Ia menangis sejadi- jadinya, berteriak sekencang yang ia bisa untuk meluapkan rasa sakit yang menyesakkan dadanya.


Flashback off


Tok tok tok


Ning membuyarkan lamunannya saat mendengar ketukan pintu. Ia menghapus jejak air matanya yang tak terasa kembali membasahi pipinya. Ia bangkit dari tempat tidur.


Gedebuk


“Aduh….” Ning mengaduh kesakitan saat ia jatuh tersungkur ke lantai, entah bagaimana caranya kaki Ning terjerat tali tasnya.


“Ugh, tas kampret… jontor deh bibir gue…..” gerutunya kemudian bangun dan mengambil tas nya.


Ia meletakan tas di lemari khusus tempat ia menyimpan tas yang berpintukan kaca. Namun saat akan menutup pintu kacanya, tanpa sengaja salah satu tali tas tertarik oleh tangannya hingga tiga tas jatuh berserakan ke lantai.


“Ya ampun… ada- ada aja sih, pakai jatuh segala….” gerutu Ning semakin kesal yang kemudian berjongkok dan mengambil tas- tas nya itu.


Ketepluk


Ada benda jatuh dari salah satu tas miliknya yang ternyata dipeganginya dengan terbalik. Ning meletakan ketiga tas nya ke tempat semula. Ia hendak mengambil benda itu, namun ketukan yang sekarang berubah jadi gedoran pintu membuatnya mengurungkan niatnya. Ia bergegas keluar dari kamar.


“Sebentar!” teriak Ning yang tengah berjalan ke arah pintu dengan langkah terburu- buru.


"Siapa sih, siang- siang gini gedor- gedor rumah orang,” gerutu Ning kesal.


Ceklek


Mata Ning membulat sempurna saat melihat pria yang sangat dicinta tengah berdiri di hadapannya. Wajahnya nampak kusut, rambut yang sebelumnya rapi pun kini terlihat agak berantakan.


Grep


Tanpa aba- aba Athar langsung memeluk Ning. Tak ada penolakan atau perlawanan dari Ning, namun ia pun tak membalas pelukan itu.


Pelukan hangat yang sangat dirindukan dan selalu memberinya rasa nyaman. Itulah yang sejak kemarin Ning harapkan, pelukan dari pria yang amat dicintainya.


Ning memejamkan mata, merasakan pelukan yang begitu hangat dan erat dari lelakinya itu. Menenggelamkan wajahnya di dada bidang Athar. Beban berat di kepala yang menyesakkan dada pun seolah meluruh.


“Maaf… Maafkan aku, sayang….” lirih Athar.


Seketika Ning membuka matanya. Ia seolah baru tersadar jika ia sedang berada di pelukan lelaki yang sudah membuatnya kecewa dan marah. Ia menegakkan tubuhnya, kemudian mendorong Athar agar melepaskan pelukannya.


“Pergi!!” sentak Ning.

__ADS_1


“Sayang, tolong dengarkan penjelasan ku….”


“Penjelasan apa? Semuanya sudah jelas!! Kau sudah punya calon istri, dan bahkan kalian pulang untuk bertunangan ‘kan?”


“Sayang_____”


“Apa kalian masih belum puas menyakiti ku, hah? Selama ini kau membohongiku, bahkan ibu mu yang Nyonya Besar itu mengirim seseorang untuk tinggal bersama ku yang ditugaskan memata- mataiku… Kenapa gak sekalian saja kalian membunuh ku biar kalian puas!!”


“Sayang____”


“Jangan memanggil ku sayang lagi, aku jijik mendengarnya!! Pergi kau dari sini!! aku tidak mau berhubungan dengan mu lagi!!”


Brak


Ning menutup pintu dengan keras. Ia lalu menguncinya kembali. Athar menggedor- gedor pintu.


“Sayang, dengarkan aku… Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Nadira… Aku mohon kita bicarakan ini dengan kepala dingin….”


“Pergi!! aku tidak mau mendengarkan apa-apa lagi… Pergi!!” Ning berteriak yang disertai tangisan.


“Aku tidak akan pergi sebelum meluruskan kesalahpahaman ini… Aku mohon buka pintunya, sayang… Aku akan tetap disini menunggu mu….”


“Pergi… aku mohon pergi…Aku hanya ingin hidup tenang… Aku tidak ingin kau dan ibu mu mengusik kehidupan ku lagi, hhuhuhuhuhuu…”


Ning menangis sejadi- jadinya, meluruhkan dirinya hingga duduk di lantai dengan punggung bersandar pada pintu. Hingga membuat Athar berhenti menggedor pintu. Ia pun berhenti berteriak saat mendengar tangisan dan ucapan Ning. Ia pun sama halnya, meluruhkan tubuhnya hingga keduanya duduk di lantai hanya terhalang oleh pintu yang mereka jadikan sandaran punggung mereka.


Athar tak tahu apa saja yang sudah dikatakan ibunya pada Ning, hingga membuat gadisnya sesedih itu. Pastilah kata- kata menyakitkan sudah diterimanya dari sang ibu. Belum lagi soal kedatangannya yang ia sembunyikan dan berakhir menemukannya bergandengan dengan wanita lain di sebuah hotel.


“Maafkan aku Ning… maafkan aku….” ucapnya lirih, bulir bening pun menetes begitu saja.


Tak ada saling sahut teriakan lagi dari keduanya. Setelah beberapa saat, dirasa sudah merasa sedikit tenang, perlahan Ning bangkit kemudian pergi ke kamarnya. Saat hendak menghampiri ranjangnya.


Tanpa sengaja ia menginjak sesuatu. Pandangannya tertuju pada benda itu. Ning berjongkok kemudian mengambilnya dari lantai.


“Apa ini?” tanya Ning heran saat sebuah amplop berada di tangannya. Ia lalu duduk di bibir ranjang, kemudian membuka isian amplop itu.


Didapatinya dua lembar kertas yang dilipat rapi. Ning membuka lipatan kertas itu, yang ternyata isinya sebuah surat dengan tulisan tangan seseorang.


‘Dear Ningrat Kacung Kesayangan- ku’ itulah tulisan yang berada di paling atas surat itu.


“Dino…. Ini surat dari Dino….” ucap Ning lirih dengan raut terkejut.


Ia baru ingat jika dua bulan lalu, Rosmala pernah memberikan amplop ini padanya. Namun karena beberapa masalah yang dihadapinya saat itu, ditambah ia tak pernah memakai tas itu lagi, membuatnya lupa akan keberadaan amplop itu.


Ning mulai membaca isi surat itu dengan saksama. Air matanya kembali mengalir. Ia membekap mulutnya sendiri, menggeleng kepala seolah tak percaya dengan apa yang tertulis di sana. Hingga dua lembar surat itu selesai dibacanya.


Penyesalan kini dirasakannya. Ia menjatuhkan surat itu dan bergegas keluar dari kamarnya. Ning berlari menuju pintu rumah.


Ceklek


Pintu itu pun kembali dibuka, namun sayang orang yang tadi di luar sudah tidak ada. Ning mengedarkan pandangannya untuk mencari Athar.


“Tuan Om !!” teriaknya memanggil pria itu. Ia bergegas ke pintu pagar rumah kemudian melihat ke arah jalan. Ia tak menemukan pria itu, bahkan mobilnya. Pastilah pria itu sudah pergi. Namun Ning masih berharap pria itu masih ada.


Ning menyusuri jalan dengan mengedarkan pandangannya kesana kemari untuk mencari keberadaan Athar.


“Tuan Om!!! Kau dimana?” Ning kembali berteriak memanggil sang kekasih dengan nafas tersenggal- senggal. Hingga tanpa ia sadari, langkahnya sudah sampai ke tikungan jalan yang berjarak empat rumah dari rumahnya. Ia tetap tak menemukan keberadaan Athar.


“Kau dimana Daniel- ku… kenapa kau pergi? hiks hiks….”


“Bukannya kamu tadi menyuruh ku pergi?”


Deg


Ning yang mendengar suara itu, langsung menengok ke belakang. Senyumnya merekah saat ia melihat orang yang dicarinya masih ada di sana. Pria itu berdiri dengan memegang satu botol kopi instan di tangannya.


Tanpa pikir panjang Ning berjalan mendekat, kemudian menghambur memeluk pria itu.


“Maafkan aku… maafkan aku, huhuhuhuhu….” Tangisnya kembali pecah.


Athar tercengang dibuatnya. Ia hanya diam mematung dengan pikiran penuh tanda tanya.


“Bagaimana bisa gadis ini meminta maaf dan menangis dipelukan ku, sedangkan tadi_____” ucapnya dalam hati dengan wajah heran serta bingung.


“Maafkan aku…. maafkan aku yang tidak tahu diri ini, huhuhuhu….”


“Ning… kamu____”


Ning menanggahkan kepalanya untuk menatap wajah Athar yang, karena pria itu jauh lebih tinggi darinya.


"Kenapa kau memanggil nama ku saja? apa kau sudah tidak mencintaiku lagi? Hiks hiks….” Protesnya disela isakannya.


“Ap apa?” Athar malah terbengong.


“Biasanya kau memanggil ku ‘Sayang…. Hiks hiks”


“Bukannya tadi kau bilang________”


“Itu ‘kan tadi!!” bentaknya menyambar.


“Iy iya, sayang… Tapi, kau jangan memeluk ku seperti ini….” Athar melihat sekitar, apalagi kini mereka berdiri di pinggir jalan tepat depan sebuat warung. Kebetulan ada beberapa pembeli di sana.


“Kenapa?”


“Hei, lihatlah kita sedang berada di jalan umum… Apa kau tidak malu kita dijadikan bahan tontonan oleh tetangga mu? Sebaiknya kita kembali ke rumah mu....”


Ning terdiam, ia berpikir sejenak. Kemudian mengalungkan tangannya pada leher Athar. “Gendong….” rengeknya manja.


“Apa?” Athar kembali terkejut.


“Kenapa kau jadi tuli sih!! Ayok gendong….”


“Tapi_____”


Ning yang masih mengalungkan kedua tangannya, langsung loncat hingga tubuhnya menempel pada Athar dengan kedua kaki melingkar di pinggang pria itu. Refleks tangannya langsung menahan bokong Ning agar ia tak terjatuh.


“Oh Astaga… Kamu kerasukan setan mana, sayang?” pekik Athar.


“Setan Cinta,” jawab Ning ngasal yang kemudian menyusupkan wajahnya ke dada Athar.


Pria itu menggeleng, lalu mendengus pasrah. Ia melangkahkan kakinya menuju rumah Ning dengan menggendong Ning layaknya anak kingkong yang mendaplok di dada induknya. Tanpa perduli dengan tatapan orang- orang yang memperhatikan mereka.


“Setan mana pun yang sudah merasuki mu, aku akan sangat berterimakasih padanya….” bisik Athar dengan senyuman mengembang di bibir manisnya.


--------- TBC ---------

__ADS_1


__ADS_2