
Ning yang baru saja keluar dari kamar mandi, mendapati tas pakaian yang dicarinya berada di depan pintu kamar.
“Hah? Perasaan tadi gak ada di sini? Kayaknya baru dimasukan ke sini deh ….” gumamnya terheran- heran.
“Hahahahaha … pasti gak jadi masuk karena nyium bau sesuatu … Makanya ditaruh di depan pintu gini ….” ucapnya lalu tertawa karena membayangkan reaksi Athar yang tadinya akan masuk tapi tidak jadi karena kamarnya bau kentut.
Ia pun kembali masuk ke kamar mandi dengan membawa pakaiannya.
Sementara Athar baru saja masuk ke ruang kerja bersama kakak-nya.
“Sekarang jelaskan, kenapa pelayan itu bisa ada di sini? Jangan bilang jika perkataan Mami itu benar …. Ada hubungan apa kau dengan pela
yan itu?” Aufar mulai mengintrogasi Athar.
“Kami tidak ada hubungan apa- apa, Bang … Tadi kami mengajak Nana jalan ke mall, terus Ning pingsan dan aku membawanya kemari ….” Athar memberi penjelasan.
“Apa? Kalian sudah sampai tahap jalan bersama?” ucap Aufar terkejut.
“Bukan … bukan seperti itu … Jadi dia itu sekarang jadi pengasuhnya Nana … Karena kemarin malam ada insiden di rumah Bu Asri, makanya aku membawa Nana jalan untuk menghiburnya ….”
“Lalu dimana Nana sekarang?” tanya Aufar seolah tak mempercayai ucapan Athar.
“Di rumah Bu Asri bersama Singgih….”
“Apa? Bersama Singgih? Sejak kapan Singgih dekat dengan Nana?” Aufar kembali terkejut.
“Sejak tadi siang ….”
“Kalau Nana di rumah Bu Asri, lalu kenapa pengasuhnya masih di sini? Jangan bilang kau akan menghabiskan malam bersama nya ….”
“Ayolah, Bang … Abang tahu aku bukan laki- laki seperti itu … Aku hanya belum mengantarkannya pulang, karena dia baru sadar setengah jam yang lalu ….”
“Kau pikir Abang mu ini percaya?” Aufar tersenyum menyeringai.
“Selama ini yang mengetahui kau tinggal di sini hanya aku, Ros, Mami dan asisten pribadi mu. Dan kau tak pernah membawa wanita mana pun kemari bukan? Bahkan kau merahasiakan tempat ini dari Falesha yang selalu mengejar- ngejar mu itu …”
“Lalu kenapa kau bisa membawa pelayan itu kemari? Bahkan tadi aku melihat mu basah kuyup saat membuka pintu, dan tadi pelayan itu pun hanya memakai handuk saat keluar kamar … Apa kalian sudah____”
“Tidak terjadi apa- apa … tadi kami hanya berebut kamar mandi untuk mandi, lalu dia menyiram ku dengan air, itu saja ….” ucap Athar berbohong, agar kakak-nya tak salah paham.
“Mami tidak akan suka jika mengetahui pelayan itu ada di sini, apalagi sampai kau dekat- dekat dengannya … Rosmala saja yang ingin membawa pelayan itu kembali bekerja di rumah, dilarang keras oleh Mami ….” ucap Aufar memperingatkan Athar.
“Aku akan mengantarkannya pulang ke rumah Bu Asri … Tolong Abang jangan sampai bilang pada Mami kalau Ning ada di sini ….”
“Sebaiknya seperti itu, dan kau jangan sampai berhubungan dengan pelayan itu ….” ucapnya dengan nada tegas.
“Tentu saja tidak ….” ucap Athar dengan meyakinkan.
“Perlu kau ketahui, dua bulan lalu Mami yang meminta ku mengirim mu ke perusahaan di Singapura … Mami tidak ingin kau benar- benar menjalin hubungan dengan pelayan itu, seperti yang kau katakan pada Falesha ….” Aufar akhirnya mengungkapkan hal tersebut.
“Apa? Jadi Mami yang membuat Abang terus memaksa ku untuk mengurus perusahaan yang di Singapura saat itu?” kini giliran Athar yang terkejut.
“Iya … Tapi kau keras kepala dan menolaknya … dan hanya kuat satu bulan saja di sana ….”Aufar berdiri dan menghampiri Athar yang duduk di kursi.
“Athar, kau tahu sendiri kan bagaimana Mami?? Jadi demi kebaikan mu dan pelayan itu, jauhi dia!! Abang tidak ingin jika hal yang menimpa Diandra dan Singgih, terulang pada mu….” ucapnya memperingatkan. Ia menepuk bahu Athar dan beranjak pergi.
Athar tertegun mendengar ucapan Aufar. Ia baru menyadari akan hal itu. Ia duduk termenung dengan pikiran berkecamuk hingga beberapa saat.
Ia pun bangkit dan beranjak meninggalkan ruang kerja nya.
“Riko … Bang Aufar sudah pulang?” tanya Athar saat baru keluar dari ruang kerjanya dan berpapasan dengan Riko yang hendak pergi ke dapur dengan membawa goodie bag di tangannya.
“Sudah, Pak … tadi saya mengantarkan beliau sampai ke lobi sekalian mengambil makanan pesanan Pak Daniel di resto bawah,” ucapnya sembari menunjukan godie bag berisi makanan.
“Dimana Ning?” Athar mengedarkan pandanganya mencari keberadaan Ning.
“Tadi pas saya masuk, dia pergi keluar ….” ucapnya menunjuk ke arah pintu.
“Apa? Ning pergi keluar?” Athar terkejut bukan main.
“Iya, sambil membawa tas pakaian yang tadi saya letakan di kamar Pak Daniel ….”
“Apa? Dasar bodoh!! Kenapa kau membiarkan Ning pergi?” bentak Athar kesal, ia pun bergegas keluar untuk mengejar Ning.
Namun sayang ia kalah cepat, karena sesaat setelah keluar dari unit apartment-nya, ia melihat Ning sudah berada dalam lift dan saat ia berlari ke arah lift, pintunya sudah tertutup.
“Argh sial ….” Athar menekan- nekan tombol lift, namun lift nya sudah terlanjur turun. Ia berlari menuju lift yang lain, dan beruntung ada orang yang baru saja keluar dari lift tersebut. Athar pun dengan segera masuk.
“Brengsek!!!” Athar semakin kesal, karena lift yang ia naiki ternyata menuju ke lantai atas. Ia terus menekan- nekan tombol angka 1 dengan perasaan cemas.
“Percuma, Mas … lift nya akan naik dulu ….” ucap orang yang berada dalam lift bersama Athar tersebut.
Athar mendekat lalu menarik kerah baju pria yang bicara padanya itu.
“Diam!!! Ini semua gara- gara kau!!” ucapnya memaki orang itu yang nampak terkejut dan takut melihat tatapan kemarahan Athar.
Ting …
Terdengar bungi lift yang menandakan telah sampai di tempat tujuan. Pintunya pun terbuka secara otomatis. Athar mendorong orang itu keluar dari lift, hingga orang itu hampir jatuh.
“Dasar sinting!!” maki orang tersebut kesal.
Athar memalingkan wajah dan kembali menekan tombol penutup pintu lift kemudian menekan tombol L menuju lobi.
“Arghhh … kenapa lama sekali sih!!! rasanya ingin ku hancurkan saja lift ini!!!” umpatnya semakin kesal, padahl lift-nya berjalan cepat.
Ting …
Athar segera keluar setelah pintu lift nya terbuka. Ia berlari ke arah lobi sembari mengedarkan pandangannya kesana- kemari.
“Pak, apa anda melihat seorang wanita yang mengenakan dress biru dongker dengan rambut panjang yang dikuncir?” tanya Athar dengan memberikan ciri- ciri Ning pada salah satu penjaga keamanan.
“Oh yang menenteng tas agak besar di tangannya?” penjaga keamanan itu ternyata melihat Ning sebelumnya.
“Ya.” ucap Athar.
“Dia baru saja keluar, Pak…. “ucap si penjaga keamanan.
Athar langsung berlari ke arah pintu keluar. Beruntung ia masih melihat Ning dari kejauhan yang baru saja keluar dari pintu gerbang gedung apartment itu sembari berlari. Athar pun berlari sekencang yang ia bisa untuk mengejar Ning.
“Ning … tunggu!!” teriaknya pada Ning yang berlari di trotoar.
Ning menoleh ke belakang dan mempercepat lari nya. Namun sayang, ia tak bisa kalah cepat dari Athar yang sudah mendekat padanya hingga ia menggapai tangan Ning dan menariknya. Keduanya pun berhenti berlari.
Grep …
Athar langsung memeluk Ning dengan erat.
“Lepaskan!!” Ning berontak mencoba melepaskan diri.
“Aku tidak akan melepaskan mu, karena kau pasti akan kabur ….” Athar semakin mengeratkan pelukannya.
“Lepaskan aku … Biarkan aku pergi!!” Ning terus berontak.
“Mau pergi kemana? Sebentar lagi gelap … dan kau tidak punya tempaat tinggal, Ning … Ayok kembali ke apartment.” Athar tetap tak mau melapaskan Ning.
“Aku gak mau … aku mau pergi kemana pun itu bukan urusan mu ….” tolak Ning dengan nada ketus.
“Ikut dengan ku atau aku akan memaksa mu ….” Athar tak menyerah.
“Ihh, lepaskan … kalau tidak akau akan berteriak ….” Ning pun balik mengancam.
__ADS_1
“Berteriak saja … aku tinggal bilang kalau kau ini istriku yang nakal dan mau kabur … Orang- orang akan menganggap kita suami istri yang sedang bertengkar ….” ucap Athar yang entah dari mana bisa memikirkan hal seperti itu.
Ning mendengus kesal, ia pun berhenti berontak. Ia terdiam sejenak sembari memikirkan sesuatu.
“Tolong, lepaskan … aku gak bisa benafas,” ucapnya memelas.
Athar yang baru menyadari jika ia memeluk Ning begitu erat, perlahan melepaskan tangannya.
“Awww ….” Athar meringis kesakitan, karena Ning menginjak kaki kiri Athar kemudian mendorongnya sekuat tenaga hingga Athar terjatuh.
Ning langsung kabur, lari sekencang yang ia bisa sembari memeluk tas nya.
“Ning … tunggu!!!” teriak Athar yang kemudian bangun dan kembali mengejar Ning walaupun kaki kirinya terasa sakit.
“Dasar licik … berani sekali kau mengelabuhi ku,” umpatnya kesal, ia yang masih mengejar Ning, tiba- tiba terpikir akan sesuatu.
“Copet … copet … tolong … wanita itu sudah mencopet ku ….” Athar berteriak minta tolong karena Ning sudah berlari cukup jauh darinya.
“Mana copet nya, Mas?” tanya seorang pria yang menghampiri Athar.
“Itu wanita yang membawa tas dan memakai baju biru ….” Athar menunjuk pada Ning yang lari terbirit- birit. Athar pun mendapat bala bantuan untuk mengejar Ning.
“Copet … copet ….” teriak orang itu meminta bala bantuan yang lainnya untuk mengejar dan menangkap Ning yang dikira copet.
“Tangkap wanita itu … dia copet!!!” teriak orang tersebut pada orang- orang yang ada di pinggir jalan.
Beberapa orang pria meneriaki Ning sembari berlari mengejarnya. Hingga Ning dihadang dan ditangkap oleh orang yang mendengar teriakan copet dari yang rombongan pengejar.
“Waduh … gawat ….” Athar segera mengejar mereka. Ia tak menyangka jika ulah konyolnya membuat Ning dikejar oleh beberapa orang.
“Lepaskan aku!!” teriak Ning berontak pada dua pria yang memegang tangannya agar tidak kabur.
“Mau lari kemana kau dasar pencopet ….” bentak salah satu dari mereka yang mencengkram tangan Ning.
“Lepaskan!! Saya bukan copet ….” Ning terus berusaha melepaskan dirinya.
“Pak, tolong lepaskan dia ….” ucap Athar yang menghampiri mereka dengan nafas ngos- ngosan.
“Mas … ini bukan pencopetnya?” tanya orang yang memegang Ning.
“Iya, Pak ….” angguk Athar masih dengan nafas ngos- ngosan.
“Saya bukan copet!! Tolong lepaskan saya … Si kudanil itu menipu kalian ….” ucap Ning menoleh ke arah Athar.
“Mana ada copet ngaku … ayok kita bawa ke kantor polisi.” Orang- orang tak mau mendengar ucapan Ning.
“Tolong lepaskan dia, Pak … Biar saya sendiri yang akan membawa copet ini ke kantor polisi ….” ucap Athar hendak menyelamatkan Ning dari amukan warga yang mengiranya copet.
“Mas yakin? Nanti kalau dia kabur lagi gimana?” salah seorang bapa- bapa nampak ragu melepaskan Ning.
“Saya yakin, Pak … saya ucapkan terimakasih banyak pada bapak- bapak yang sudah membantu saya menangkap dia ….” ucapnya meyakinkan.
“Baiklah kalau begitu ….” Mereka pun bubar barisan dan meninggalkan Athar bersama Ning berdua saja.
“Sini kamu ….” Athar menarik tangan Ning dengan cukup kasar.
“Lepaskan!!!” hadrik Ning kesal dengan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Athar.
“Mau nurut atau mereka membawa mu ke kantor polisi, hah?” Athar pun mengeluarkan ancaman.
“Aku tidak perduli … toh aku bukan copet dan tidak ada bukti … jadi poisi juga akan membebaskan ku dengan senang hati ….” Ning tak takut dengan ancaman Athar.
“Kau ini … benar- benar ya … Jangan membuat kesabaran ku habis!!” Athar yang sudah sangat kesal, melepaskan tangan Ning. Namun bukannya membiarkan Ning pergi, ia justru malah menggendong Ning seperti memanggul sekarung beras di pundaknya.
“Iiiihhh … dasar brengsek … turunkan aku!!!” Ning terus berontak memukul- mukul punggung Athar.
“Diam!!! jika terus bergerak dan memukul ku, aku akan melempar mu ke tengah jalan!!”
Athar pun membawa Ning kembali ke apartment nya dengan berjalan terpincang- pincang, karena kaki kirinya masih terasa sakit. Ditambah satu tangannya membawa tas pakaian Ning.
Brukk
Athar melempar Ning dari pundaknya ke atas tempat tidur dengan kasar. Beruntung kasurnya sangat empuk hingga Ning tidak merasa kesakitan.
“Memangnya aku ini karung beras apa, sampai dilemper seperti ini!!” bentak Ning kesal. Ia lalu bangkit dan duduk di ranjang.
“Oh, jadi kau mau di lempar dari balkon sana, hah?” Athar pun sama kesalnya.
“Apa sih mau mu? Kenapa Tuan Om membawa ku kembali ke sini … aku mau pulang ….”
“Pulang ke mana? Ke jalanan? Apa kau lupa kalau kau sudah tidak punya rumah? Atau kau akan kembali ke kostan mu itu dan pemiliknya akan melecehkan mu lagi, hah?” cerocos Athar.
Ning tercengang dengan ucapan Athar. “Da dari mana tuan Om tahu soal itu?”
Athar menghela nafas kasar. “Bu Asri sudah menceritakannya pada ku saat aku membuat kan bubur untuk mu ….”
Ning yang masih terkejut kemudian terdiam dan menundukkna kepalanya. Athar mendekat dan duduk di sisi ranjang sebelah Ning duduk. Nampaknya ada rasa bersalah karena sudah membentak Ning dan mengingatkan Ning pada hal buruk yang hampir dialaminya.
“Ning … apa kau tahu? Di malam yang sama saat Kinanti menemukan mu … Aku bermimpi buruk tentang mu dan setelah mendengar cerita Bu Asri, mimpi itu seperti memberitahukan tentang apa yang kau alami ….” ucap Athar bicara dengan lembut.
Ning hanya terdiam, namun ia menegakkan kepalanya dan memberanikan diri menatap mata Athar.
“Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi lagi pada mu, Ning," ucapnya lirih.
“Aku tidak mau merepotkan tuan Om ….” Ning pun nampaknya sudah mulai melembut lagi dan kembali menundukkan kepalanya.
“Tinggalah di sini setidaknya sampai besok … Aku janji tidak akan berbuat macam- macam pada mu ….” pintanya memohon.
“Aku tidak mau kalau sampai Nyonya besar marah pada tuan Om gara- gara aku ….”
“Maksud mu?” tanya Athar heran. “Apa kau menguping pembicraan ku dengan Bang Aufar?”
Ning kembali terdiam dan tak menjawab pertanyaan Athar.
Athar menghela nafas kasar.
“Malam ini kau tinggal di sini, besok kita akan mencari tempat tinggal untuk mu ….” Athar bangkit lalu beranjak pergi.
“Kenapa tuan om begitu peduli pada ku?”
Athar yang sudah membuka pintu, tiba- tiba menghentikan langkahnya.
“Aku pun tidak tahu kenapa aku begitu memperdulikan mu, Ning ….” gumamnya dalam hati.
“Pak Daniel … makannya sudah saya siapkan … Apa masih ada lagi yang arus saya kerjakan?” ucap Riko yang berada diluar kamar.
“Tidak … kau boleh pulang….”
“Baik, Pak ….” ucapnya lau beranjak pergi, begitu pun Athar yang kleuar dari kamar tanpa memberi jawaban pada Ning
“Apa? Pak Riko disuruh pulang? Itu berarti aku hanya berdua saja di apartmen ini sama si kudanil ….” Ning bergumam dalam hati usai mendengar percakapan Athar dan Riko.
“Pak Riko tunggu!!!” teriaknya kemudian ia keluar dari kamar dengan berlari untuk mengejar Riko. Namun sayang Riko baru saja menutup pintu dan sudah keluar dari apartement tersebut.
Ning berlari ke arah pintu. Ia menekan peggangan pintunya, namun pintunya tak kunjung terbuka.
“Iiihhh … kok susah sekali … kuncinya mana lagi ….” Ning mngedarkan pandangannya mencari keberadaan kunci pntu tersebut.
“Eh, ini kok ada papan tombol digital… jangan- jangan membukanya harus pakai ini ….” Ning menekan angka secara acak pada keypad door lock itu, namun terus ditolak dan membuat pintunya tak kunjung terbuka.
“Ihhh, kok gak bisa dibuka juga sih ….” cicitnya mulai kesal.
__ADS_1
Tiiiit tiiiit …
“Hah … kok jadi error gini sih?” Ning mulai panik, namun tangannya terus menekan beberapa angka.
“Apa yang sedang kau lakukan?” suara baritone dari arah belakangnya membat Ning terkejut. Ia lalu membalikan tubuhnya.
“Hehehe … aku lapar, jadi mau beli makanan keluar …” ucapna memberi alasan palsu sembari cengengesan.
“Kenapa itu keypad pintunya terus bunyi?” Athar melangkah mendekat pada Ning. “Minggir!!” titahnya dengan mengibasakan tangannya. Ning pun bergeser ke samping.
“Kenapa seperti ini? Berapa kali kau memasukan password yang salah?” tanya Athar menatap tajam pada Ning.
“Tiga kali, hehehe,” ucapnya sembari menunjukan lima jarinya.
“Itu lima bukan tiga ….” Athar kemudian meyentuh keypad door lock tersebut hingga tak mengeluarkan suara lagi. Ia melirik pada Ning yang nampak takut dan munculah sebuah ide di benaknya. Ia lalu menatap Ning dengan menunjukan raut wajah marah.
“Apa kau tahu? Gara- gara kau salah memasukan password-nya berkali- kali, pintunya tidak akan bisa dibuka….”
“Apa?” Ning kembai terkejut.
“Ya …”
“Memangnya tidak bisa paka kunci biasa gitu?” tanya Ning.
“Tentu saja tidak … aku sengaja memakai keypad di luar dalam supaya aman … Jadi untuk membuka pintu harus diperbaiki dulu keypad- nya .…”
“Memangnya tuan om tidak bisa memperbaikinya?” tanya Ning sembari nyengir.
“Kau pikir aku ini tukang servis elektronik? Tentu saja aku tidak bisa ….”
“Terus gimana dong?” Ning mulai was- was.
“Kita berdua terkunci di dalam apartment ini dan tidak akan bisa keluar ….” ucap Athar pura- pura kesal, padahal itulah yang diinginkannya, agar Ning tetap tinggal.
“Apa? Kita gak akan bisa kluar dari sini? Apa kita akan sampai tua di sini?” Ning berpikir sampai sejauh itu. Sementara Athar nampak menahan tawa mendengar ucapan konyol Ning.
“Kau pikir kita terdampat di pulau dan kehilangan perahu apa? Tentu saja tak akan selama itu …”
“Terus sampai kapan?” tanya Ning lagi.
“Aku akan menghubungi teknisi nya ….” ucap Athar yang masih menahan tawa, ia melengos begitu saja.
“Tuan Om mau kemana?”
Athar tak menjawab dan terus berjalan. Ia pura- pura tak menghiraukan Ning yang mulai panik.
“Tuan Om ….” Ning pun mengikuti Athar yang mengacuhkannya. “Tuan Om !!” Ning menarik tangan Athar yang sedang berjalan sehingga menghentikan langkahnya.
Athar menoleh.” Ada apa?”
“Mau kemana?” tanya Ning.
“Aku kebelet mau ke kemar mandi … kau mau ikut, hem?”
“Ih, ogah ….” Seketika Ning melepaskan tangan Athar dengan kasar. Athar pun masuk ke kamarnya dan pergi ke kamar mandi. Tak lama ia pun kembali.
“Aku sudah menghubungi teknisi nya … Katanya dia baru bisa datang besok pagi …." ucap Athar yang memegang ponsel di tangannya.
“Apa? Jadi kita akan terkurung disini sampai besok pagi?” Ning makin was-was.
“Mau bagaimana lagi ….” Athar mengedikkan bahunya.
“Ihh … kok bisa gini sih? Semua ini gara- gara tuan Om!!” Ning jadi menyalahkan Athar.
“Loh … kenapa jadi menyalahkan ku?” ucap thar heran.
“Tentu saja ini salah Tuan Om yang membawa ku kembali ke sini ....”
“Lalu siapa yang memasukan password salah berkali- kali sampai keypad pintu nya error?” sindir Athar.
“It itu … it itu ….” Ning gelagapan, karena memang itu adalah kesalahannya.
“Aaaaaaakkk ….” Ning berteriak karena tiba- tiba semua lampu mati. Secara reflex ia langsung memeluk Athar.
“Kenapa semuanya jadi gelap gini?” ucap Ning lalu memejamkan matanya.
“Jangan- jangan Riko lupa mengisi token listriknya,” ucap Athar sembari menahan tawa.
“Gimana ini Tuan Om …?”Ning semakin mengeratkan pelukanya
“Apa kau takut?” ucap Athar nampak khawatir, karena ia bisa merasakan Ning begitu ketakutan.
Ning menganggukkan kepalanya, ia semakin mengeratkan pelukannya pada Athar yang tak disangka memberi kenyamanan dan rasa aman bagi dirinya yang sedang ketakutan.
Baru kali ini ia berhasil meredam rasa takut dan paniknya hingga tak mengeluarkan gas beracun yang biasanya suka meledak- ledak.
Perlahan rasa takutnya pun berkurang, namun ia masih tak berani membuka mata dan masih betah berlama- lama dalam pelukan si om tamvan-nya.
Lain halnya denga Athar, ia senyam senyum sendiri karena sudah berhasil mengerjai Ning. Ia pun mengirim pesan pada asisten pribadinya untuk kembali menyalakan sikring listrik apartement-nya.
Brayyy ...
Semua lampu pun kembali menyala, namun Ning masih belum menyadarinya karena msaih menutup matanya.
Ceklek …
Terdengar suara pintu terbuka.
“Tuan Om ….” panggil Ning yang masih memejamkan matanya dalam pelukan Athar.
“Hmmmm ….”
“Apa itu suara pintu utama yang terbuka?” tanya Ning.
“Sepertinya begitu ….” ucap Athar.
“Hah? Kok bisa?” Ning membelakan matanya.
“Daniel Athar Sahulekha... Apa yang sedang kalian lakukan??” suara itu mengejutkan Ning dan Athar. Keduanya langsung melepaskan diri dan berbalik menghadap ke orang tersebut.
“Mami ….”
“Nyonya besar ….”
Ucap Athar dan Ning bersamaan dengan raut wajah shock.
Plak …
Satu tamparan yang cukup keras dilayangkan oleh Nyonya besar yang begitu murka melihat mereka berdua yang sedang berpelukan di apartment tersebut.
--------------- TBC --------------
*************************
Happy Reading …😉
Monmaaf Ning sama Om Tamvan baru nonghol lagi …. 🙏🙏
Tilimikicih selalu menantikan kisahnya😉😘😘
Aylapyu all ….😍😘🥰
__ADS_1