
“Ning… Ning… hallo….” ucapnya melambai- lambaikan tangan di depan wajah Ning.
“Iy iya, tuan om… Eh, maksudnya Pak Daniel….” Ning terperanjat dan bicara gelagapan.
“Panggil seperti biasanya saja, tidak usah pakai embel- embel Pak segala… Saya bukan atasan kamu….” ucap orang itu yang ternyata adalah Athar.
“Hehehe… Ma maaf ada apa ya?” Ning tersenyum kaku.
“Handphone saya hilang… Dan saya sudah mencarinya di apartment, tapi tidak menemukannya… Ditelpon juga, nomornya tidak aktif….”
“Lalu? Kenapa tuan om mencarinya kemari?” tanya Ning heran.
“Riko bilang, semalam kamu mengantarkan saya ke apartment… Dan menghubunginya menggunakan handphone saya… Saya sudah coba menghubungi kamu, tapi nomor kamu juga tidak aktif… Makanya saya datang kemari, untuk menanyakan nya langsung pada mu….”
“Astaga… hape nya dia kan masih ada dalam tas ku… Kenapa aku bisa sampai lupa mengembalikannya semalam….” gumam Ning dalam hati yang baru teringat.
“Ning… Ning ….” Athar kembali memanggil Ning yang terlihat melamun.
“Iy iya… kenapa?”
“Jadi, handphone saya di simpan di mana? Banyak data penting di sana dan saya harus menghubungi beberapa rekan bisnis di London….”
“Oh … iy iya, maaf… hapenya ada di______”
Gedebuk
“Huaaaaaaaa….”
Terdengar suara benda jatuh cukup keras dari dalam rumah, yang diiringi suara jerit tangisan.
“Nana….” Ning terkejut mendengar tangisan yang cukup keras dari dalam sana.
“Nana? Di dalam ada Nana?” tanya Athar yang sama- sama terkejut. Ning berlari masuk ke dalam rumah, dan Athar mengikutinya masuk hingga ke dalam kamar.
Keduanya mendapati Nana tersungkur di lantai sembari menangis.
“Ya ampun Nana, kamu kenapa?” Ning yang cemas segera menghampiri Nana, ia berjongkok dan hendak menggendong Nana, namun Athar mencegahnya.
“Jangan… Biar aku saja yang menggendong Nana….” Ucapnya dengan segera berjongkok dan menggendong Nana. Ia lalu membawanya keluar kamar.
“Huaaaaaaa…. Huaaaaaa…..” Nana terus menangis dengan memejamkan mata dan masih belum menyadari keberadaan Athar yang sedang menggendong nya.
“Tuan Om… Itu dari mulutnya keluar darah….” ucap Ning yang mengekori Athar dari belakang. Athar pun langsung duduk di kursi dan mendudukkan Nana yang masih menangis di pangkuannya. Sementara Ning bergegas pergi ke belakang.
“Huaaaaa… huaaaaa…..” Nana tak hentinya menangis.
“Sssstt… sayang… udah nangisnya ya… Lihat ini Dady, sayang... Ini Dady….”Athar mencoba menenangkan Nana yang kemudian membuka matanya dan tangisannya pun mulai mereda.
“Huhuhuhuu… sakiiiit….”
“Mana yang sakit nya, sayang?”
Nana menunjuk bibirnya yang berdarah. Athar mengangkat dagu Nana dan memperhatikan bibirnya. “Sepertinya bibir peri kecil tergigit saat jatuh tadi,” ucap Athar.
“Sakit… huhuhuhu….”
“Ning tolong_____”
“Ini…” Ning menyodorkan segelas air pada Athar yang terlihat bingung dan heran. Ning lalu berlutut di depan Athar dan Nana. “Pari kecil, kumur- kumur dulu ya pakai air ini… Terus nanti muntahin air nya ke baskom kecil ini… Supaya darahnya gak ketelan….” ucapnya yang kemudian diangguki oleh Nana yang mulai berhenti menangis.
Perlahan Ning membantu meminumkan airnya, dan Nana pun melakukan apa yang Ning ucapkan tadi sebanyak tiga kali sampai bibirnya tak mengeluarkan darah lagi.
Ning menyimpan gelas serta baskom kecilnya di kolong meja depan Athar duduk. Ia mengoleskan salep dengan perlahan pada bibir Nana yang terluka.
“Huhuhuhu… sakit….”
“Udah, gak apa-apa kok… sebentar lagi juga luka nya peri kecil sembuh….” ucap Ning menenangkan Nana.
“Kenapa bibirnya dioles salep? Kalau kemakan gimana? Bisa bahaya itu….” protes Athar nampak cemas.
“Tenang saja, ini salep yang biasa digunakan untuk luka sariawan… Jadi kalau kemakan juga aman kok….” ucapnya tersenyum.
“Dia begitu perhatian pada Nana… Caranya mengobati Nana yang terluka pun, ia lakukan dengan telaten dan tanpa rasa jijik… Ning memang sangat cocok menjadi ibunya Nana….” Gumam Athar dalam hati sembari menatap wajah Ning. Senyuman manis pun terukir di bibirnya.
“Aduh…. Kenapa dia menatap ku seperti itu? Apa ada yang salah dengan wajahku? Perasaan tadi udah cuci muka dan gosok gigi deh…”batin Ning yang nampak salah tingkah. Ia lalu memberanikan diri menatap balik Athar.
“O em ji… Kenapa dia makin ganteng sih dilihat dari dekat gini….” gumam Ning memuji yang kedua matanya saling bertatapan dengan Athar. Padahal semalam ia sudah memuaskan diri memandangi Athar yang tertidur setelah mabuk. Namun nampaknya, memandangi saat sadar sensasi nya berbeda, lebih gimana gitu pokonya.
Ning terperanjat saat jemari Athar menyentuh ujung bibirnya. Dengan segera ia menghempaskan tangan Athar, dan langsung berdiri.
“Tuan om apa- apaan sih? Megang- megang bibir orang seenaknya!! Di sini kan ada anak kecil!! ”protes Ning nampak marah.
“Kamu itu habis gosok gigi atau habis keracunan?” tanya Athar terkekeh.
“Ma maksudnya?” Ning malah balik bertanya.
“Itu di ujung bibir mu ada busa nya….” Athar menunjuk ke arah wajah Ning.
Ning langsung meraba bibirnya dengan telapak tangan. Dan benar saja ia mendapati busa di jemarinya yang di lap dari ujung bibirnya itu.
“Ya ampun… kenapa masih ada busa di bibir ku?? Ini pasti karena aku tadi buru- buru gosok giginya….” gumam Ning dalam hati yang merasa malu.
“Hahahaha….”Athar tiba- tiba tertawa melihat raut wajah Ning.
__ADS_1
“Dady kenapa ketawa?” tanya Nana heran.
“Lihatlah, peri kecil… Rambut kak Ning lucu sekali, seperti rambut singa….” Athar menunjuk ke arah rambut Ning dan Nana pun melihatnya.
“Hahahahaha… Iya... Rambut momy kok gitu sih?” Nana ikut tertawa melihat penampilan rambut momy- nya itu.
Ning baru menyadari jika ia belum merapikan rambutnya sejak bangun tidur tadi. Ia sudah tak bisa menyembunyikan rasa malunya lagi. Ia lalu bergegas pergi ke kamarnya. Sementara Athar dan Nana masih menertawakannya.
“Ya ampun… kenapa sih, penampilan ku berantakan gini saat ketemu sama dia… Kenapa juga aku tadi sampai lupa untuk merapikan rambutku… Malu banget, sumpah….” Ning mengerutuki dirinya sendiri sembari berdiri di belakang pintu kamarnya.
Ia mengambil handuk, pakaian ganti serta peralatan makeup kesehariannya. Ia lalu keluar dari kamarnya dan bergegas ke kamar mandi.
Ning hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk mandi dan berdandan alakadarnya. Ia pun keluar dari kamar mandi. Kini ia terlihat segar dan cantik, walau dengan makeup sederhana. Rambutnya yang basah usai keramas, masih dibalut oleh handuk.
Ia baru teringat jika tamu nya belum diberi minum. Ning membuatkan minuman dingin, yang kemudian diletakan di atas nampan dan dibawanya ke ruang tamu. Di sana ia mendapati Nana sedang asyik bercanda dengan Athar.
“Aduh, geli… ampun… ampun…Dady, hahahaha….” Nana tak hentinya tertawa karena digelitiki oleh Athar. “Momy, tolong….” ucapya saat melihat Ning datang menghampiri mereka. Athar pun melepaskan Nana, yang kemudian bangun dan dengan segera berlari masuk ke dalam kamar Ning.
“Hei, jangan kabur peri kecil….” Athar nampaknya masih ingin bermain- main dengan peri kecilnya.
“Wle wle wle….” Nana menjulurkan lidahnya mengejek Athar, ia lalu menutup pintu kamar. Ning yang melihat hal itu hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala.
“Peri kecil… hati- hati … jangan sampai jatuh lagi….” ucap Ning mewanti- wanti.
“Iya, Momy….” teriak Nana dari dalam kamar.
“Silahkan diminum….” Ning meletakan minuman yang sudah dibuatnya di atas meja tepat di depan Athar. Ia lalu duduk di kursi yang satunya lagi, sehingga keduanya duduk saling berhadapan dan hanya terhalang oleh meja saja.
“Terimakasih….” Athar mengambil minuman itu, lalu meminumnya. “Ummm, segar… Ternyata kamu masih ingat minuman kesukaanku….” ucapnya tersenyum.
Deg...
Ning baru sadar, jika Athar paling suka minum es kopi.
“It itu… eng itu… Aku pikir ini kan sudah siang, mana mungkin aku memberikan kopi atau teh panas… Pasti lebih segar minum yang dingin, hehehe….” Ning yang terlihat gugup, bicara dengan gelagapan.
“Oh… Terimakasih untuk kopi dingin nya… Eng, memangnya kamu suka minum kopi?”
“Eng enggak… kok… Itu mungkin punya Ocha atau Siti… Aku mengambilnya dari laci di dapur, lalu menyeduhnya dan memberinya es batu gitu....” Ning masih terlihat gugup.
“Hehehe….” Athar terkekeh menyadari kegugupan Ning. “Oh ya, bagaimana kondisi kesehatan mu?” tanyanya mengalihkan topik.
“Alhamdulillah baik… Tapi masih harus rutin kontrol dan minum obat….”
“Baguslah….”
“Hehehe….” Ning hanya tersenyum simpul.
Athar kembali meminum es kopinya sedikit demi sedikit, dengan mata yang terus menatap Ning. Hingga tak terasa ia menghabiskan minumannya itu. Dan yang tersisa hanya es batu saja beserta gelasnya.
“Ning….”
“Iy iya….”
“Terimakasih….” ucapnya tersenyum.
“Itu kan cuma kopi saja, tuan om… Gak usah terus- terusan berterimakasih, kali….”
“Bukan soal kopi ini… Tapi soal semalam….”
“Se semalam?” tanya Ning heran. Gugup dan grogi yang dirasakannya, seolah membuatnya amnesia seketika.
“Iya… Terimakasih sudah menolongku… Aku minta maaf, kamu harus melihat hal memalukan seperti itu….” Athar mulai bicara aku- kamu. Padahal saat baru datang, ia menggunakan bahasa baku.
“Oh… iya iya, soal semalam itu ya… hehehe…. Eng, gak perlu berterimakasih… Aku kebetulan aja lewat di sana dan gak mungkin kan membiarkan tuan om pingsan di jalan… hehehe….” Ning semakin gugup dibuatnya.
“Memangnya semalam aku pingsan?” tanya Athar.
“Hah? Iy iya… pingsan karena mabuk, kan?” ucap Ning yang merasa heran dan aneh.
“Memangnya semalam aku mabuk?” Athar kembali bertanya.
“Hah? Iy iya… Tuan om semalam mabuk… Kan di tangannya bawa sebotol minuman….”
“Masa sih? Memangnya kalau orang pegang botol minuman, sudah pasti dia mabuk?”
“Hah? Jadi semalam tuan om gak mabuk?” tanya Ning kaget.
“Masa sih dia gak mabuk? Tapi kelakuannya kayak orang gila gitu… Kalau sadar, mana mungkin dia bertingkah seperti itu di jalanan… Apa dia pura- pura mabuk?” Ning yang tercengang, bertanya- tanya dalam hatinya.
“Oh Astaga naga… Kalau semalam dia gak mabuk berarti ungkapan cinta itu? Jangan- jangan dia menyadari jika aku memeluknya saat di pinggir jalan itu? Atau bahkan dia juga mendengar apa yang aku ucapkan semalam saat dia mengigau menyatakan perasaannya….” batin Ning nampak takut jika ungkapan perasaannya diketahui oleh Athar.
“Ning… Ning….” Athar kembali memanggil Ning.
“Iy iya….”
“Kamu itu masih suka melamun ternyata ya….” Athar terkekeh.
“Hehehe… maaf, aku lagi mikirin kerjaan… Ocha dan Siti belum ngasih kabar soalnya, hehehe….” ucapnya memberi alasan palsu. Ia nampak semakin gugup. Jika terus berada di sana, lama- lama kentut beliungnya bisa keluar dan membuat kekacauan saat itu juga.
“Emangnya semalam tuan om gak mabuk?” tanya Ning yang ingin memastikan.
“Entahlah… aku tidak ingat….” Athar mengedikkan bahu.
__ADS_1
“Hufh… Ning ning … dasar bego lo… Orang mabuk mana nyadar kalau dirinya lagi mabuk… Selamet selamet….” batin Ning bernafas lega.
“Kamu kenapa, Ning?” tanya Athar yang merasa aneh dengan tingkah Ning.
“Eng enggak apa- apa, kok….” Ucapnya lalu berdiri.
“Kamu mau kemana, Ning?”
“Ke dapur iya ke dapur, hehehe….” ucapnya gelagapan.
“Mau ngapain?”
“Mau ngeringin rambut, tadi habis keramas jadi masih basah … hehehe….”
“Ngeringin rambutnya pakai kompor?” tanya Athar menahan tawa.
“Ya enggak lah… Pakai hairdryer dong, tuan om … hehehe….”
“Oh, kamu menyimpan hairdryer di dapur… Biasanya kalau perempuan menyimpan hairdryer itu di laci meja rias atau di laci yang ada di dalam kamarnya….”
“Iya, maksudnya itu… mau ke kamar….” Ning bicaranya semakin membingungkan.
“Kamar mu ada di dapur?” Athar tak hentinya bertanya.
“Iya… eh, enggak… Kamar ya di sini, kalau dapur di situ….” Ucap Ning menunjuk- nunjuk.
“Jadi kamu mau ke kamar atau ke dapur?”
“Eng_____” Ning yang bingung sendiri nampaknya kehabisan kata, karena saking gugup nya.
“Hahahahahaa… Kamu kenapa Ning? belum minum obat?” Athar tak kuat menahan tawa melihat ekspresi wajah Ning yang terlihat bingung seperti orang linglung.
“Iy iya, kayaknya… aku ngambil obat dulu, ya….” ucap Ning beranjak pergi. Namun bukannya pergi ke kamar atau ke dapur, ia malah melangkah menuju pintu keluar rumahnya.
“Hahahahahaha….” Melihat hal itu, Athar tak hentinya tertawa, hingga tanpa sadari kakinya masuk ke kolong meja. “Eh air apa ini?” Athar terkejut saat kakinya merasakan tersiram air, kemudian berdiri dan melangkah menjauh dari meja.
“Ya ampun… itu air muntahan nya Nana….” Ning yang terkejut segera menghampiri Athar. Ia lalu berjongkok di hadapan Athar. Dengan segera ia melepaskan handuk dari kepalanya yang kemudian digunakan untuk melap kaki Athar yang basah.
“Ning… apa yang kau lakukan?” Athar terkejut melihat hal yang dilakukan Ning, seperti seorang pelayan sedang melayani majikannya.
“Membersihkan kaki mu…” ucapnya sambil melap kaki Athar.
“Tidak usah… Biar akau membersihkannya sendiri ke kamar mandi… Ayok bangun, jangan seperti ini….” Athar menggerakkan kakinya dan berusaha menghindari dari apa yang dilakukan Ning, namun sayang kakinya malah menginjak tangan Ning.
“Aww…. Adududuh….” Ning menjerit kesakitan. Athar segera mengangkat kakinya dari tangan Ning, ia lalu menggenggam tangan Ning dan membawanya berdiri.
Ning secara reflex menghempaskan tangan Athar. Ia mengibas- ngibaskan tangannya yang terasa sakit.
“Aduh… sakit banget sih….” Ning meringis kesakitan..
“Maaf… maaf Ning… coba ku lihat tanganmu,” Athar kembali menggenggam tangan Ning. “Yang mana yang sakit?” tanyanya cemas sekaligus merasa bersalah.
“Keempat jariku ini sakit semua….”
Athar sedikit membungkuk dan menundukkan kepala, ia lalu meniup- niup jari tangan Ning yang sudah terinjak olehnya tadi. Jemarinya mengusap setiap jari- jari Ning dengan perlahan dan penuh kelembutan.
Deg deg serr….
Ning tertegun melihat apa yang dilakukan Athar. “Ya Allah… apalagi ini?? Jantungku rasanya mau copot… Please… jangan seperti ini, tuan om….” jerit Ning dalam hati.
Athar yang tak mendengar suara ringisan Ning lagi, menegakkan kepalanya hingga keduanya saling bertatapan. Matanya seolah tak ingin berkedip memandangi kecantikan wanita yang begitu dirindukannya.
Rambut Ning yang basah terurai tak karuan, membuatnya terlihat sexy di mata Athar. Ditambah Ning yang menggigit bibirnya yang menggunakan lipstik mate nude itu, semakin membuat Athar tak ingin melepaskan pandangannya.
Desiran hebat di dadanya pun semakin menggebu. Ingin rasanya ia melahap dan melumut bibir yang pernah memberinya rasa pecel lele itu. Namun sebisa mungkin ia berusaha mengendalikan dirinya.
Apalah daya, ia hanya lelaki normal yang tak bisa berlama- lama tahan dengan godaan makhluk yang ada di depan matanya itu. Rasa menggebu di dada membuatnya hampir hilang akal jika terus- terusan menahan jiwa kelelakiannya. Perlahan ia memajukan wajahnya inci demi inci mendekat pada wajah Ning.
Ning terbelalak melihat apa yang dilakukan Athar. Tak bisa dipungkiri, ia pun merasakan hal yang sama. Debaran jantung yang berdetak lebih cepat, desiran hebat di dada yang membuatnya sesak seolah sulit untuk bernafas.
Wajah Athar semakin mendekat, Ning pun secara reflex menutup matanya. Meski dengan perasaan takut dan penuh keragu- raguan.
Kini hanya gelap yang terlihat oleh matanya, namun suara hembusan nafas Athar terdengar begitu dekat di telinganya.
Athar yang melihat Ning seolah sudah berpasrah diri, nampak tak ingin menyia- nyiakan kesempatan emas itu. Ia melanjutkan aksinya hingga bibirnya hampir mendekati bibir Ning. Dimiringkan lah sedikit kepalanya, agar ia lebih mudah melancarkan aksinya. Ia pun ikut memejamkan matanya.
Ceklek…
Suara pintu terbuka membuat keduanya terperanjat dan membuka matanya. Athar melepaskan tangan Ning dan melangkah mundur.
Mereka sama- sama terbelalak seolah takut sesuatu yang nyaris saja terjadi, dipergoki oleh orang lain. Keduanya pun memberanikan diri melihat ke arah pintu tersebut untuk melihat orang yang baru saja masuk ruangan itu.
Dan terjadi lagi... Kisah lama yang terulang kembali.... (Bacanya sambil nyanyi Peterpan versi dangdut ya🤭😉)
-
-
------------- TBC ---------------
************************
-
__ADS_1
-
Happy Reading….