NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Ketahuan Oleh Calon Mertua


__ADS_3

Ning POV


“Aduh…” Dia mengaduh kesakitan karena dadanya dipukul olehku.


“Gak usah pura- pura!!” ketus ku sebal. Seketika raut wajah ku berubah kesal. Dia tidak tahu apa, jika aku merasa malu setengah mati setelah menyosor dirinya. Lalu aku melepaskan diri dari pelukannya.


“Hahahaha… Kau itu memang galak ya… Udah dipeluk, ujung- ujungnya di pukul… Udah dicium, berakhir dipukul juga… kejam….” pria mesum itu malah menggoda ku. Tapi memang hal itu benar adanya sih. Itulah dia, selalu senang menggoda ku.


“Ish….” Aku malah semakin bertambah kesal.


“Ternyata kamu sudah pandai berciuman ya… siapa yang mengajari mu, hem?” Dia tak hentinya menggoda ku, hingga aku mendelik tajam padanya. Ingin ku teriakan padanya jika dialah satu- satunya lelaki yang pernah mencium ku, bahkan ku cium barusan.


Bugh…


Aku kembali memukul dadanya sebagai luapan kekesalan ku padanya, lalu ku melangkah mundur.


“Ya Tuhan, lama- lama bisa babak belur kalau dipukul terus….” ia mengeluh, namun akubtahu itu hanyalah candaannya.


“Salah sendiri, kenapa selalu bicara mesum…..” ketusku.


“Hahahaha….” Ia kembali tertawa dan membuat ku menjauh darinya untuk beranjak pergi. Namun dia segera mendekat kemudian memeluk ku dari belakang dan melingkarkan tangannya pada perutku “Mau kemana, hem?” bisiknya dengan menopangkan dagu di bahu kanan ku.


“Ih lepasin….” Pinta ku agar ia melepaskan pelukannya.


“Jawab dulu mau kemana?” Dia malah mengeratkan pelukannya, hingga kedua tanganku sulit digerakkan seolah sudah terkunci.


“Mau ke kamar mandi, cuci muka terus kumur- kumur gosok gigi….” Cerocos ku dengan nada kesal.


“Apa? Untuk apa kumur- kumur segala? Memangnya dari bibir ku banyak kuman?” nampaknya ia merasa tersinggung. Ingin ku katakan jika bibirnya itu manis dan hangat, namun itu terlalu memalukan untuk diakui. Yang ada dia malah akan besar kepala.


“Ya ampun… anak kecil saja tahu, kalau sebelum tidur itu harus gosok gigi, cuci tangan, cuci kaki….” ucapku.


“Aaaahhh, jangan sekarang….” Dia malah merengek dengan nada manja, menyebalkan. Tentu itu membuat ku menggeliat, karena merasa geli dengan pergerakan dagu nya di bahu kanan ku.


“Memangnya kenapa?” tanya ku yang masih berusaha melepaskan diri.


“Mau lagi….” Dia berbisik di telingaku. Aku paham apa ya g dimaksudkannya.


“Ihh… lepasin aku….” aku menggoyangkan tubuhku agar bisa terlepas.


“Cium dulu… baru ku lepaskan….” ucapnya memberi syarat.


“Enggak!!” Aku menolak tegas.


“Anggap saja tadi itu hanya sebatas pelipur rindu ku yang sudah ditinggalkannya selama setahun. Enak saja dia malah ketagihan,” hanya kuucap dalam hati.


“Kalau begitu aku yang akan mencium mu….” Si mesum ini sungguh sangat menyebalkan, sekali terpancing langsung mesumnya gak ketulungan. Nyesel tadi aku nyium dia.


“Kan tadi udah ih…. Gak ada siaran ulang….” Ucapku bersikeras menolak dan masih berusaha melepaskan diri darinya.


“Hahahahaa… Kau benar- benar membuat ku gemas, muachhh….” Dia malah mencium pipi kanan ku, hingga membuatku tak berontak lagi minta dilepaskan. “Diam dulu, biarkan seperti ini… sebelum aku pulang….” Ucapnya dengan nada lembut dan memelukku dengan mesra. Pelukan yang selalu membuatku nyaman.


Deg


Mendengar kata pulang sungguh membuat ku takut. Takut ia pergi dan tak kembali lagi seperti sebelumnya. Aku pun terhenyak, diam tak berontak lagi.


Rasa takut yang muncul saat tadi ia bicara di telpon dengan Pak Riko, kini timbul lagi. Aku benar-benar takut jika ia akan kembali ke London besok, sesuai yang ia katakan pada temannya kemarin di mall.


“Pulang kemana?” tanyaku lesu dengan menundukan kepala.


“Tentu saja ke apartement, memangnya kemana lagi, hem?”


“Bukan ke London kan?” aku kembali bertanya memastikan.


“Tentu saja aku akan kembali ke London..."


Ku tarik nafas dalam- dalam, lalu aku melepaskan diri. Ia pun tak menahan ku lagi. Aku berbalik, lalu berdiri tepat di hadapannya. Ku tatap kedua bola matanya.


“Kau sudah berjanji tidak akan meninggalkan ku… Kenapa mau pergi ke London lagi?” tanyaku dengan tatapan sendu.


“Pekerjaan ku sekarang di sana, Ning… Perusahaan yang baru dibangun setahun yang lalu sudah berkembang pesat… Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja….” ia pun terlihat sedih, mengindari tatapanku.


“Itu artinya kau akan meninggalkan ku?” lirihku merasa kecewa, ku tundukkan tatapanku. Rasa takut ku pun semakin besar.


“Hehehe….” Ia malah terkekeh. Tangan kanannya mengusap kepalaku dengan lembut. “Kamu sendiri tadi yang bilang, jangan tinggalkan aku kalau perlu bawa aku bersama mu… Berarti aku pilih opsi kedua….”

__ADS_1


“Maksudnya? Aku ikut bersama mu ke London?” tanya ku kembali menatapnya.


“Tentu saja….” ucapnya yakin.


“Tapi_____”


“Tapi apa? Berat meninggalkan Singgih?”


Aku tertegun, karena baru ingat jika aku masih berstatus tunangannya Mas Igih. Namun ku rasa bukan hal itu yang mengganggu pikiran ku saat ini.


“Hei… kebiasaan mu ini tak pernah berubah…. Masih saja suka melamun….” Ia mencolek pipi ku, hingga aku membuyarkan lamunanku. Aku kembali menundukan kepalaku.


“Ning… kamu kenapa?” ia menyentuh lengan bahu ku. Dia tahu pasti aku sedih.


“Ini salah… Yang kita lakukan ini salah….” lirihku dengan nada sedih.


“Salah? Salah apa maksud mu?”


“Aku… Kita tidak seharusnya begini… Aku… aku sudah bertunangan….” Entah mengapa ucapan itu malah terlontar dari mulut ku. Sungguh bukan itu yang menjadi alasan ku. Bahkan saat ini aku tak memperdulikan tentang Mas Igih.


“Ning… Bukankah kau sudah mengatakan kalau kau sangat mencintai ku… Kita saling mencintai, apanya yang salah? Kamu tidak mencintai Singgih… Untuk apa kau menjalankan hubungan tanpa rasa cinta… Dan lagi… aku tidak yakin dia mencintai mu….”


“Maksudnya?” aku tercengang mendengar ucapan terakhirnya.


Ia nampak menghela nafas panjang. “Ning… aku tanya sama kamu… Apa Singgih pernah mengatakan jika dia mencintai mu?”


Aku kembali tertegun. Ku coba mengingat moment saat aku sedang berdua dengan Mas Igih, baik itu saat pergi mengajak Nana jalan atau sekedar makan di luar. Kami hanya lebih sering ngobrol biasa, membahas Nana atau seputar kesehatan ku.


Tapi… Aku tak pernah sekali pun mendengar ungkapan cinta darinya, bahkan saat ia melamar ku. Ditambah dengan sikapnya kemarin dan tadi saat di pesta, membuat ku ragu untuk menikah dengannya.


“Kenapa diam?” ucapnya yang masih menunggu jawaban ku. “Pasti tidak pernah kan?” ia terdengar begitu yakin.


Matak terbelalak, aku menatapnya dengan penuh tanda tanya.


”Bagaimana ia bisa menebak seyakin itu? Apakah memang dia sangat mengenal Mas Igih dan tahu dalam- dalamnya? Apakah Mas Igih memang masih mencintai mendiang Diandra dan tak bisa melupakannya? Lalu, untuk apa di melamar ku jika tak mencintaiku?” semua pertanyaan itu berkecamuk di kepala ku.


Tring tring …


Tiba tiba terdengar suara ponsel berdering, dan itu adalah suara nada dering ponsel ku. Keheningan malam membuat suara itu terdengar jelas, padahal ponsel ku ada di dalam tas di atas kursi tamu. Hal itu membuat ku membuyarkan lamunanku.


“Hallo… waalaikumsalam, Bu…. Ada apa ya Bu?”


------------------------------*


“Apa? Iya iya… aku segera ke sana….” ucapku dengan segera mengakhiri sambungan telponnya.


“Ada apa Ning? siapa yang telpon? Kok kamu kayak cemas gitu?” tanyanya nampak penasaran.


“Nana…” ucapku lirih.


“Nana kenapa?” ucapnya yang berubah cemas.


“Ibu bilang Nana sakit…”


“Loh, tadi pagi gak apa- apa kok saat ku antar sekolah….” ia terlihat kaget dan heran. Ternyata tadi pagi dia yang mengantar Nana sekolah, pantas anak itu tak menelpon ku dan merengek


“Bu Asri bilang, sepulang sekolah Nana demam… Udah dibawa ke dokter dan minum obat… Tapi sekarang demamnya makin tinggi… Nana terus nangis dan memangil- manggil aku… Di rumah Cuma ada Ibu dan Maya….” ucapku sesuai dengan apa yg dikatakan oleh Bu Asri.


“Yasudah… ayok kita segera ke sana….” ajaknya nampak khawatir.


“Tapi… Kalau kita berdua kesana… Apa kata Bu Asri nanti?” tiba- tiba rasa takut itu muncul, belum lagi jika di sana ketemu dengan Mas Igih. Ibu pasti menghubunginya juga.


"Nanti ku pikirkan alasannya… Yang penting kita segera ke sana….” ucapnya yang terlihat lebih khawatir dari ku. Kami pun bergegas pergi untuk menemui Nana di rumah Bi Asri.


Sepanjang perjalanan, aku tak hentinya memperhatikan Tuan om tamvan ku yang terlihat khawatir. Ia menyetir dengan kecepatan tinggi, aku yakin ia ingin cepat sampai untuk melihat kondisi Nana. Tapi hal ini membuat ku sport jantung takut setengah mati, hingga aku memejamkan mata. Bukannya cepat sampai rumah Bu Asri, nanti malah cepat sampai alam kubur, pikirku.


Namun aku berusaha tenang dan beberapa kali memperingatkan dia agar mengurangi kecepatannya. Namun ia tak menggubris permintaanku. Aku hanya bisa berusaha menenangkan diriku sendiri. Karena tak terbayang jika gas beracun ku keluar, bisa membuat penyakit anehnya kambuh dan akan berakibat fatal.


Cekiit …


Dia merem sekaligus saat kami sudah sampai di depan pintu gerbang rumah Bi Asri. Ia segera keluar dari mobil dan meninggalkan ku yang masih ketakutan.


Dut dut durut dut dut…


Gas beracun yang sejak tadi ku coba jinakan, akhirnya keluar juga.

__ADS_1


“Pantas saja dia buru- buru keluar. Sepertinya bukan karena ingin segera menemui Nana, melainkan menghindari kentut beliung ku yang bisa memuatnya sesak nafas dan pingsan.


"Baguslah, ia sudah mengerti kapan aku bisa membahayakan dirinya dan segera menghindari ku….” Ucapku berdialog sendiri.


Aku pun keluar dari mobil. Namun tak segera masuk, melainkan membuka seluruh pintu mobil agar gas beracun ku pun ikut keluar dari seluruh penjuru mobil. Sehingga tak mencemari udara mobil saat nanti dia kembali ke mobil nya. Tentunya aku tak mau kalau dia pingsan dan kejang- kejang di dalam mobil saat akan pulang nanti.


“Hufh… sepertinya di dalam sudah tidak bau lagi,” ucapku berdialog sendiri. Sembari mengendus- endus ke dalam. Aku kembali menutup pintu mobilnya satu persatu, tak lupa kunci mobil yang masih menggantung pun ku bawa.


“Ya ampun, kenapa aku bisa lupa dengan tujuan ku datang kemari,” gumamku yang baru tersadar.


Akhirnya aku pun memasuki pintu gerbang, lalu masuk ke dalam rumah karena terlihat pintunya terbuka. Sepertinya bekas si mesum itu masuk tak ditutup lagi karena terburu- buru.


“Momy… huhuhuu … Momy….” Baru saja aku memasuki ruang tengah, aku mendapati Nana yang sedang digendong oleh Maya menangis tapi dengan mata terpejam. Dahinya ditempelkan byebye paper. Di sana ada pula Bu Asri dan si tuan om.


“Lihat sayang, ini Dady… buka mata mu peri kecil….” Nampaknya Dia sedang membujuk Nana agar tak menangis lagi dan hendak menggendongnya. Namun Nana terlihat tak mau lepas dari gendongan Maya dan terus menangis merancau.


“Nana sayang, buka matanya coba… ini Dady ada di sini loh… Tadi katanya gak mau kalau Dady pergi,” Maya ikut membujuk Nana, dengan mata yang melirik diam- diam pada si mesum. Aku pun dengan segera menghampiri mereka.


“Peri kecil… Ini momy sayang… sini digendong sama Momy….” Ucapku mengusap punggung Nana. Ia yang masih menangis, langsung membuka matanya dan menatap ku. Wajahnya terlihat pucat dan matanya pun sayu.


Nana mengulurkan tangannya, aku tahu ia minta digendong. Aku segera merangkul untuk mengendongnya. Namun tak disangka, si mesum langsung nyerobot mengambil alih Nana kemudian menggendongnya.


“Biar aku saja yang gendong….” ucapnya tersenyum.


“Tapi, Nana pengen digendong sama aku….” aku meminta Nana yang masih merancau memanggil ‘momy momy’.


“Kamu gak boleh angkat-angkat beban berat,” ternyata ia begitu peduli dengan kondisi kesehatan ku, padahal Nana sangat membutuhkan ku.


Ia mengayun-ayunkan Nana dipangkuan nya dengan mengusap- usap punggung anak itu. Namun ia masih tak berhenti menangis.


Ku sentuh dahinya, yang ternyata begitu panas. Lehernya pun sama. Bahkan aku memasukan tanganku ke dalam bajunya untuk meraba punggung anak itu yang juga panas.


“Seluruh badanya panas… kita bawa ke rumah sakit saja….” ucapku menyarankan.


“Tadi juga muntah- muntah, Mbak… Tapi udah dikasih obat….” Ucap Maya.


“Panggil saja dokter atau perawat kemari!!” titah si tuan om.


“Badannya panas banget, kita harus _____” belum selesai aku bicara, si mesum langsung nyamber.


“Dia tidak akan mau dibawa ke rumah sakit, Ning… Percuma, bukannya sembuh, Nana di sana gak akan berhenti menangis….” Ucapnya yang sangat mengenal putri asuhnya itu.


“Mas Igih sudah dikasih tahu, Bu?” tanyaku yang tak melihat keberadaan Mas Igih di sana.


“Sejak pagi sampai saat ini nomor Singgih tidak aktif... Ibu bingung harus menghubungi siapa, Kinan tidak bisa ke sini karena sedang bedrest, kehamilannya sempat bermasalah… Makanya ibu telpon kamu Ning… Ibu minta maaf jadi merepotkan mu tengah malam begini….”


“Dasar berengsek!!” baru juga aku akan membalas ucapan Bu Asri, terdengar suara umpatan si tuan om yang berdiri di sebelah ku dengan raut wajah nampak menahan amarah. Aku yakin ia sedang mengumpati Mas Igih, meski suaranya sangat pelan namun aku masih bisa mendengarnya.


“Daniel… kamu kok bisa ke sini? Kamu tahu darimana kalau Nana sakit? Perasaan Ibu gak menelpon mu, karena kamu bilang mau mempersiapkan keberangkatan mu ke London besok…” tanya Bu Asri yang seolah baru menyadari kehadiran si tuan om.


Deg


Pertanyaan yang ku takutkan dilontarkan juga oleh Bu Asri. Aku melirikan mata pada pria yang berdiri di sebelah ku itu. Penasaran dengan apa yang akan ia katakan, karena sebelumnya dia bilang akan mencari alasan tentang kedatangannya kemari.


“Semoga dia tak mengatakan jika tadi dia sedang bersama ku….” Batinku harap- harap cemas.


“Tadi saat ibu menelpon Ning, aku sedang ada bersamanya….” Ucapnya berterus terang.


“Apa?” Bu Asri nampak terkejut dengan pengakuan si mesum. Begitu pun aku, mataku membulat sempurna. Bu Asri menatap tak percaya, matanya menatap ku kemudian bergantian menatap si mesum. Entah itu tatapan heran atau kecurigaan.


Deg


“Astaga… apa- apaan dia ini… Kenapa malah bicara terus terang… Apa yang harus ku katakan pada Bu Asri? Bagaimana ini? Padahal kan tadi aku masuk beberapa menit setelah ia... Ini kok malah ngaku sedang bersama ku....” Jerit ku dalam hati dengan menundukkan kepala.


Aku tak sanggup menatap ibunya tunangan ku itu. Dan aku sudah seperti calon menantu yang ketahuan berselingkuh oleh calon mertua dengan pria lain.


-


-


---------------- TBC -------------------


******************************


Happy Reading....😉😘

__ADS_1


__ADS_2