
Ceklek
“Ning… lo mau sarapan apa?” Ocha masuk tanpa mengetuk pintu.
Dengan segera Ning menghapus jejak air matanya. Ocha pun menghampiri Ning yang duduk di bibir ranjang dengan kedua kaki menapak lantai. Ia lalu duduk di sebelah Ning.
“Gak capek apa lo, dari kemarin nangis mulu? Itu mata udah bengkak gitu….” ucapnya yang melihat mata sembab Ning, dan ia tahu pasti sahabatnya itu baru saja menangis.
“Lo gak usah khawatir… Siti udah nyampe tadi malam, dia chat gue,” lanjutnya. Ia tahu persis sahabatnya itu meskipun marah tapi masih peduli dan mengkhawatirkan Siti.
“Syukurlah,” ucapnya bernafas lega. “Udah beberapa hari ini gue gak masak… Masak yuk….” Ajak Ning yang kemudian berdiri. Nampaknya ia menghindari percakapan lain dengan sahabatnya.
“Oke….” Ocha pun bangkit, dan keduanya keluar dari kamar. Ning memasak di dapur, sementara Ocha beres- beres rumah.
Mulai hari ini mereka harus membiasakan diri tanpa bantuan Siti yang setiap harinya selalu melakukan tugas layaknya asisten rumah tangga. Ia memasak, membersihkan dan membereskan rumah, mencuci pakaian, sebelum ia pergi bekerja di tempat kerja Ning.
Meski Ning sering melarangnya, namun Siti selalu mengatakan tak enak jika berdiam diri saja numpang di rumah itu. Akhirnya Ning pun membiarkannya dengan syarat, Siti akan tetap menerima upah kerja di rumah juga di tempat kerjanya. Ya meskipun tak sebesar yang pernah diberikan oleh Riko yang menurut pengakuan Siti sebagai orang yang mempekerjakannya dulu.
***
“Lo gak nganter Nana sekolah, Ning?” tanya Ocha setelah keduanya selesai makan.
“Semalam Bu Asri nelpon, katanya hari ini sekolah Nana diliburkan… Pemilik sekolahnya meninggal, dan guru- gurunya mau pergi takziah ke Bogor….” jawab Ning yang kemudian berdiri dan membereskan bekas makan mereka.
“Udah biar gue aja, Ning….” cegah Ocha.
“Gak apa- apa, Cha… Lo istirahat aja… Kan capek tadi abis nyapu sama ngepel….”
“Yaelah, gitu doang mah gak akan bikin gue capek… Orang udah biasa ngerjain itu tiap pagi di ruah gue….”
“Hhehehe….” Ning membawa bekas makan ke dapur, lalu mencuci piring dan gelas serta sendok bekas makan mereka. Ia mengambil baskom kecil yang kemudian diisi es batu, dan juga mengambil handuk kecil. Ia kembai duduk di meja makan bersama Ocha.
“Kirain lo mau ngemil es batu, ternyata buat ngompres toh….” ucap Ocha terkekeh.
“Iya, biar mata gue gak bengkak….” ucapnya mengompreskan es batu yang dibungkus handuk kecil ke bawah mata nya. “Oh iya, nanti siang gue mau pergi… Titip kerjaan ya….”
“Lo mau kemana emang?” tanya Ocha heran.
“Ada sedikit urusan….”
“Oh iya, kemarin lo katanya diajak pergi sama sekretarisnya cowok lo? Dia udah pulang emang?” tanya Ocha yang baru teringat.
Ning menggeleng. “Belom sih katanya… Ntar deh gue cerita….”
“Yaudah, gue pulang dulu ya… Pengen mandi nih, soalnya mau nganter barang ke Bekasi….” Ocha pun paham dan tak memaksa. Nanti juga Ning bakal cerita, pikirnya.
“Oke….”
“Jangan lupa minum obat lo….” Ocha mengingatkan.
“Iya….” angguk Ning.
Ocha beranjak pergi, sementara Ning masih mengompreskan es batu pada bawah matanya.
**
Hari mulai siang, Ning yang sudah bersiap, membuka aplikasi di ponselnya dan memesan taksi online untuk mengantarkannya ke tempat yang akan ia datangi hari ini.
Ia menatap dirinya dalam pantulan cermin dengan raut wajah sedih. Entah apa yang membuatnya merasa demikian.
Ning menghela nafas panjang berkali- kali, seolah ingin melepas beban berat di dadanya. Ia menutup mata sejenak. Sepertinya ia ingin menenangkan pikirannya.
Tin tin
Terdengar suara klakson mobil di depan rumah Ning. Ia pun langsung membuka matanya. ia mengambil tas, kemudian bergegas keluar.
Sepanjang perjalanan Ning yang duduk bersandar di jok penumpang, terlihat melamun tenggelam dalam pikirannya. Hingga taksi yang ditumpanginya tiba di depan pintu masuk sebuah hotel mewah.
“Mbak, sudah sampai di titik sesuai aplikasi….” ucap sang driver yang membuat Ning membuyarkan lamunannya.
“Oh, sudah sampai ya, Pak….” Ucapnya yang kemudian mengambil uang dan membayar ongkos sesuai yang tertera di aplikasi. “Terimakasih, Pak ….” Ucapnya kemudian turun.
Ning kembali menghela nafas panjang. Ia melangkahkan kakinya memasuki hotel mewah tersebut.
“Maaf, ada yang bisa kami bantu?” sapa salah seorang penjaga di depan pintu kaca besar.
“Saya ada janji bertemu dengan seseorang di resto hotel ini, Pak….”
“Silahkan masuk,” ucapnya tersenyum kemudian mempersilahkan Ning.
Ning melangkah masuk, usai melewati pintu kaca otomatis yang terbuka sendiri saat orang melewatinya.
Ia berjalan hingga tiba di depan meja resepsionis dan berhenti di sana untuk menanyakan letak restoran hotel tersebut. Ini kali pertamanya ia menginjakan kaki di hotel mewah ini.
“Loh, Nona… anda ada di sini?” sapa seseorang yang nampak mengenali Ning. Sang gadis pun menoleh ke samping kanannya.
“Pak… Pak Dandy?” Ning nampak terkejut melihat keberadaan kakaknya Athar itu.
“Masih ingat ya… Nona ini calon istrinya Singgih, kan?” tanya pria itu memastikan.
“Iy iya, eh bu bukan… Eng, maksudnya kami sudah tidak bersama lagi….” Ning menjawab dengan gelagapan.
“Hah? Kalian putus?” Dandy nampak terkejut..
“Iy iya, Pak….” angguk Ning dengan sopan dan ramah.
“Wah, sayang sekali Dayana gagal punya mama baru, dong….”
“Hehehe….” Ning tersenyum kaku.
“Nona sedang ada janji di sini?”
“Iy, iya… Saya mau ke resto hotel ini… Eng, tapi saya gak tahu tempatnya….”
“Kebetulan kalau begitu, saya juga mau ke sana… Mari kita sama- sama ke sana….” ajaknya, Namun Ning nampak ragu menerima ajakan tersebut. Pria yang bernama Dandy itu pun terkekeh.
“Tenang saja, saya tidak akan macam- macam… Saya sudah punya anak istri… hehehe….”
Ning semakin tak enak menerima ajakannya. Apalagi mengingat ini adalah sebuah hotel. Bisa- bisa orang salah paham melihat ia berjalan berdua pria yang sudah beristri. Yang ia pikirkan jika ada orang yang mengenal Dandy melihat mereka, karena tak mungin kenalan Ning ada di hotel mewah tersebut.
“Nona… kenapa malah bengong?”
“Eng….”
“Tempatnya tidak jauh kok, nanti setelah bundaran air mancur itu kita tinggal belok kiri dan jalan lurus….” ucapnya menunjuk arah pintu kaca menuju tempat bundaran air mancur yang tak terlalu jauh dari lobi tersebut. “Mari….” Ajaknya kemudian mulai melangkahkan kakinya.
__ADS_1
“Iy iya….” Ning yang merasa segan, terpaksa mengikuti langkah Dandy yang ia biarkan berjalan di depannya. Ia tak mau ambil resiko jika harus berjalan bersebelahan dengan kakak kandung Athar.
Baru saja beberapa langkah mereka berjalan, tiba- tiba ponsel Dandy berdering. Ia menghentikan langkahnya. “Sebentar saya angkat dulu….” ucapnya lalu berjalan sedikit menjauh dari Ning yang juga ikut menghentikan langkahnya.
Ning mengambil ponsel untuk mengabari seseorang dan memberitahukannya jika ia sudah sampai di hotel tersebut.
Semetara di luar hotel, baru saja berhenti sebuah mobil sport di depan pintu masuk. Keluarlah seorang pria tampan nan gagah yang memakai stelan jas hitam kotak- kotak yang merupakan pengemudi mobil tersebut. Ia berjalan mengitari mobilnya.
Salah seorang penjaga yang menyambut, membukakan pintu mobil depan untuk seseorang yang sebelumnya duduk di sebelah pengemudi. Kaki putih, mulus, jenjang yang menggunakan sepatu high heels pun menapaki lantai. Wanita cantik itu turun dari mobil.
“Hai, romantislah sedikit….” bisiknya pada pria yang baru saja menyerahkan kunci mobilnya pada penjaga.
“Apa?” tanya Athar mengernyitkan dahi.
“Kita harus berjalan bergandengan, supaya lebih meyakinkan….” Wanita itu pun mendekat, hingga keduanya berdiri berdampingan.
“Ck, terserah….” Athar pun tak protes.
Wanita cantik yang mengenakan dress hitam motif bunga berlengan panjang namun punggung terbuka yang memperlihat kan lekukan tubuhnya itu pun, menggandeng tangan pria itu. Keduanya melangkah masuk dengan bergandengan layaknya sepasang kekasih yang terlihat mesra.
Para pelayan yang dilewati mereka pun membungkuk memberi hormat. Dan mereka masuk tanpa harus menemui resepsionis dulu.
“Ih, kok Pa Dandy lama sih? Mending aku pamit duluan aja deh, tadi kan dia udah bilang letak restorannya,” gumamnya pelan berdialog sendiri.
"Aunty sudah menunggu katanya...."
" Iya, tahu...." jawab pria itu singkat.
Deg
Ning yang hendak menghampiri Dandy, seketika langkahnya terhenti saat mendengar suara orang yang dikenalinya. Saat orang itu berjalan melewatinya.
“It itu….” Ning yang melihat pasangan yang tengah bergandengan itu nampak terkejut. ia kenal betul postur tubuh pria itu.
“Tuan om!!!” panggil Ning dengan suara cukup keras.
Deg
Pria yang bergandengan dengan wanita itu sontak menghentikan langkahnya. Ia kenal betul dengan suara itu, dan hanya satu orang yang suka memanggilnya dengan sebutan Tuan Om. Seketika ia menoleh ke arah belakang, begitu pun wanita yang masih menggandeng tangannya.
Betapa terkejutnya ia melihat kekasihnya tengah berdiri tak jauh darinya di belakang sana, dengan ekspresi sama terkejutnya seperti dirinya. Bahkan aura kemarahan terpancar jelas dari tatapan Ning.
“Ning….” lirihnya terkejut.
Ning menggeleng pelan merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia tak menyadari jika Dandy menghampirinya.
“Maaf, Nona, tadi____” belum selesai Dandy bicara, tanpa menyahut Ning malah pergi begitu saja berlari menuju pintu keluar gedung hotel tersebut.
Dengan segera Athar melepaskan tangan wanita yang berdiri di sebelahnya, kemudian ia bergegas mengejar Ning.
“Ning, tunggu….” teriaknya agar sang kekasih berhenti. Namun Ning yang sudah berlinang air mata, tak menggubrisnya. Ia terus berlari hingga keluar dari pintu gerbang hotel tersebut, menyusuri jalan trotoar.
Beruntung Athar berhasil mengejarnya, dengan segera ia menarik tangan Ning saat keduanya berjarak sangat dekat.
“Lepas!!” sentak Ning menarik tangannya yang malah dicengkeram oleh Athar.
“Penjelasan apa lagi? Wanita itu calon istri mu kan? Dan kalian pulang untuk bertunangan!! Hiks hiks, “ sentaknya terisak.
Deg
Sekali lagi Athar dikejutkan dengan apa yang diucapkan oleh Ning.
“Sayang, aku bisa jelaskan semuanya….”
“Aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri, kalian berjalan dengan begitu mesra, hiks hiks….” Ning tak kuasa menahan rasa sakit di dadanya
“Sayang, semuanya gak seperti yang kamu lihat… Tolong dengarkan penjelasan ku dulu….” pinta Athar memohon.
“Aku gak mau mendengar apa-apa lagi dari pria pembohong seperti mu, lepaskan tangan ku, hiks hiks!!”
Bukannya melepaskan, Athar malah menarik Ning ke dalam pelukannya.
“Lepaskan aku!! lepaskan, pembohong, penipu!!”
“Aku tidak akan melepaskan mu, sebelum kamu mau mendengarkan ku!! Please, aku akan jelaskan semuanya, sayang….”
“Lepaskan!! Berhenti memanggil ku sayang, brengsek!!!” Ning terus berontak.
“Jika kau terus berteriak dan berontak, aku akan mencium mu di sini di depan jalan raya seperti ini….” terpaksa Athar yang sudah kehabisan akal, mengeluarkan ancaman.
Seketika Ning pun menghentikan aksinya. Ia tahu pria mesum itu bisa nekat melakukan hal apa yang diucapkannya.
Bukanya tenang, Ning menangis sejadi- jadinya di pelukan Athar, meluapkan rasa sakit dan marah yang dirasakannya. Ia memukul- mukul dada bidang pria itu dengan kepalan tangannya.
Athar pun membiarkannya, ia tahu hal ini tak akan lebih sakit dari apa yang dirasakan oleh Ning.
“Kau jahat!!!” pekik Ning di selah tangisannya, ia masih terus memukul-mukul dada Athar.
“Maaf….” ucapnya lirih. “Ayok pergi dari sini, kita masuk lagi ke hotel… Aku akan jelaskan semuanya….” ucapnya dengan nada lembut.
Ning yang masih menangis menggelengkan kepala. Athar pun paham, ia lalu menghentikan sebuah taksi yang melewati jalan raya itu.
“Ayok, kita bicarakan di tempat lain… Taksi sudah menunggu,” ucapnya dengan nada lembut.
Perlahan ia melepaskan pelukannya, kemudian menuntun Ning membawanya menghampiri taksi yang sudah berhenti di depan mereka.
“Aku bisa naik sendiri, gak usah dipegangin gini!! Aku bukan nenek- nenek,” ucap Ning ketus meski dengan suara tersenggal. Athar pun melepaskan tangan Ning, kemudian membukakan pintu mobil.
“Silahkan….” ucapnya tersenyum.
“Minggir!!” ketus Ning membuat Athar melepaskan tangannya dari pintu taksi. Ning pun masuk.
Blam
Ning langsung menutup pintu mobil dan menekan pengunci pintunya.
“Sayang, buka pintunya!!” Athar mengetuk- ngetuk kaca pintu taksi tersebut.
“Jalan, Pak!!” titah Ning.
“Tapi, Mbak____” Sang sopir nampak ragu saat melihat pria di luar sana terus mengetuk kaca mobilnya.
__ADS_1
“Sudah cepat jalan!! Apa bapak mau dia menghancurkan kaca mobilnya!!”
“Iya, Baik Mbak….” dengan segera sopir taksi itu pun melajukan mobilnya.
“Argah, sial !!!!” Athar mengerang frustasi, karena tak mampu mengejar taksi tersebut yang melaju kencang, kebetulan jalanan sedang senggang. Ia mengusap kasar kepalanya, saking kesalnya.
Athar mengedarkan pandangannya untuk mencari taksi lainnya. Namun suara deringan ponsel membuatnya berhenti sejenak. Ia kembali naik ke trotoar dan mengambil ponsel dari dalam saku jas nya. Di sana tertera nama ibunya, Athar semakin kesal dibuatnya.
Ia berpikir sejenak saat teringat keberadaan Ning yang tiba- tiba di hotel itu, dan kakaknya pun ada di sana.
"Jangan- jangan Mami yang sudah memberi tahu Ning jika kami ada pertemuan di hotel itu,” gumamnya menebak perbuatan ibunya.
Athar yang sudah tahu jika kekasihnya sedang sedih pasti akan kembali ke rumahnya dan mengurung diri di kamarnya, menunda untuk mengejar Ning. Tanpa mengangkat panggilan telpon yang tak kunjung berhenti, ia bergegas kembali ke hotel dengan raut wajah dipenuhi amarah.
Ceklek
Brakk
Athar membuka pintu, kemudian membanting pintu ruang VIP restoran tersebut hinga beradu dengan dinding tembok yang menghasilkan suara cukup keras. Hingga membuat semua orang yang berada di dalam sana terkejut.
Ia langsung menghampiri meja makan yang sudah diduduki oleh Nyonya Andini, Dandy, Aufar, Rosmala, serta wanita yang sebelumnya datang bersama Athar.
“Kenapa Ning bisa ada di sini?” Athar melemparkan pertanyaan dengan tatapan menghunus tajam pada ibunya.
“Athar, duduklah dulu… Makan siang kita sudah disiapkan?” Nyonya Andini bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Namun sang anak memilih tetap berdiri di depan meja makan yang masih tersisa satu kursi kosong.
“Kenapa Ning ada di sini?!” Athar kembali bertanya dengan menaikan nada bicaranya.
“Athar… Jaga sopan santun mu saat bicara dengan Mami!!” Aufar memperingatkan sang adik.
“Aku sudah menuruti semua keinginan Mami, tapi kenapa Mami masih mengusiknya?” Athar kembali menurunkan nada bicaranya, namun masih nampak menahan amarah.
“Kau yang lebih dulu melanggar kesepakatan kita….” Nyonya Andini membalas tatapan tajam Athar.
“Apa yang sudah Mami katakan padanya?” dadanya yang sudah ingin meledak, semakin bergemuruh memikirkan apa saja yang sudah dilakukan ibunya pada wanita yang sangat dicintainya.
“Kau pikir Mami akan tinggal diam, di saat kau akan menikah tetapi wanita murahan itu menggoda mu lagi?”
Gebrak
Athar menendang kursi kosong di depannya hingga terjungkir ke samping.
"Dia bukan wanita murahan!! Jangan pernah menghinanya!!” bentakan pun sudah tak tertahan lagi.
“Athar!! Jaga sikap mu!!” kini Aufar ikut naik pitam melihat tingkah adiknya.
“Kalau bukan wanita murahan, lalu apa namanya? Dia sudah bertunangan dengan Singgih tapi malah menggoda mu !!” Nyonya Andini masih saja meladeni Athar yang nampak sudah dalam batas kesabarannya.
“Mereka sudah putus dua bulan yang lalu!! Jadi Ning sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Singgih… Jadi dia bebas mau menjalin hubungan dengan siapa pun!” tegas Athar.
“Lantas, apa kau tidak malu berhubungan dengan mantan calon istri adik ipar yang juga masih sepupu mu, hah? Tidak kah kau memikirkan perasaan calon istrimu, Nadira?” ucapnya menoleh pada wanita yang duduk di sebelahnya. Wanita yang bernama Nadira itu nampak menundukkan kepala.
“Lupakan wanita itu, Athar… Sebentar lagi kau akan menikah….”
Athar tersenyum kecut. “Ya, Mami benar… Aku memang akan menikah… Dan satu- satunya wanita yang akan aku nikahi hanyalah Ning, tidak ada yang lainnya….”
“Athar!! Hentikan omong kosong mu, jangan keterlaluan kamu!!” bentaknya yang kemudian memegang dadanya yang terasa sesak. Tubuhnya pun tiba- tiba lemas, hingga beliau tak sadarkan diri.
“Mami….” Semua orang panik melihat Nyonya Andini pingsan. Beruntung, Dandy yang duduk di sebelah beliau masih bisa menahan tubuh Nyonya Andini yang hampir oleng jatuh ke lantai.
“Mami….” lirih Athar yang sebelumnya sangat marah pun ikut mengkhawatirkan ibunya.
“Cepat panggilkan dokter, bodoh!!” teriak Dandy pada sang adik yang hanya diam mematung di tempat. Sementara yang lain menghampiri nyonya Andini.
Athar pun segera menghubungi dokter. Sementara Dandy mengendong ibunya dibantu oleh Aufar untuk dibawa ke salah satu kamar hotel agar beliau bisa dibaringkan di tempat nyaman.
Tak lama dokter yang biasa menangani Nyonya Andini pun datang, dan langsung memeriksa keadaan beliau.
“Jika terjadi sesuatu pada Mami, aku tidak akan pernah memaafkan mu!!” ucap Aufar pelan namun dengan nada penuh penekanan pada Athar yang berdiri di ambang pintu kamar. Keduanya memperhatikan Nyonya Andini yang sedang diperiksa.
Setelah mendengar penjelasan dokter jika Nyonya Andini baik- baik saja, hanya kelelahan dan butuh istirahat, Athar pun beranjak keluar dari kamar yang cukup besar tersebut.
Dandy yang sejak tadi terus menemani ibunya, berpamitan keluar dan ia mengejar sang adik.
____________
Keduanya kini duduk di salah satu meja yang ada di restoran hotel tersebut. Salah seorang pelayan baru saja menyajikan dua gelas kopi dingin pesanan mereka.
“Hai, anak Mami… apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Dandy yang nampak masih penasaran, setelah keduanya duduk dalam diam selama beberapa saat.
“Kenapa Abang bisa bersama Ning disini?” bukannya menjawab Athar malah melempar pertanyaan dengan tatapan tajam. “Apa Mami yang menyuruh Abang membawanya ke sini?”
Dandy mengangkat alisnya “Kau menuduh ku?”
“Aku bertanya!!” Athar memperjelas.
“Tapi itu terdengar seperti tuduhan, Athar….”
“Tidak usah bertele- tele!!” Athar mulai jengah.
“Dia ada janji bertemu dengan seseorang….” ucap Dandy.
“Mustahil!! Aku tahu betul siapa dia dan jenis usaha yang digelutinya…. Tidak mungkin ada pertemuan di hotel mewah seperti ini….” Atar tak percaya.
Dandy menghela nafas sejenak. “Aku tak sengaja bertemu dengannya di meja resepsionis… Dan ia bilang mau bertemu seseorang,” ucapnya berterus terang.
"Aku benar- benar tidak tahu jika gadis itu kekasih mu yang ditentang oleh mami…. Heh, pantas saja… Kau merebut calon istri orang….” Dandy tersenyum mengejek.
"Aku bukan perebut!!" Athar mendengus kesal mendengar hal itu. Meskipun itu benar adanya, tapi ia tak terima dengan kata ‘merebut’. Karena ia yang lebih dulu mengenal Ning jauh sebelum gadis itu bertemu dengan Singgih.
Bicara soal Ning, Athar baru teringat jika ia belum memberi penjelasan pada sang kekasih akan kesalah pahaman yang terjadi
Ia mendorong kursi dengan bokongnya, kemudian bangkit dan bergegas pergi meninggalkan Dandy yang nampak masih penasaran tentang hubungan Athar dan Ning yang sebelumnya ia ketahui sebagai calon ibu sambungnya Nana.
Dandy menggelengkan kepala, lalu mengambil gelas dan menghabiskan minumannya.
-
-
------------- TBC -------------
**********************
Happy Reading....
__ADS_1