
Hari mulai siang, udara dingin berganti panas efek dari terik matahari yang mulai menyebar dan menyeruakkan hawa panas di bumi pertiwi. Namun, di taman kota malah semakin ramai orang berdatangan.
Singgih menghampiri Nana yang masih asyik bermain bersama Sheryl untuk mengajaknya pulang. Nana sempat menolak, namun setelah mengatakan akan mengajaknya menjenguk Bu Asri yang masih dirawat di rumah sakit, ia langsung berhenti bermain.
Rosmala yang sejak tadi mengobrol dengan Singgih pun mengajak kedua anaknya untuk ikut menjenguk Bu Asri. Mereka beranjak pergi meninggalkan taman kota dan berangkat menuju rumah sakit dengan menaiki mobil yang berbeda tentunya.
Namun sayang, saat baru masuk ke dalam rumah sakit Nana dan Sheryl dilarang memasuki ruang rawat inap. Hal itu membuat Nana sedih dan menangis, karena tak bisa bertemu nenek yang sangat disayanginya dan sudah dua hari ini tak bertemu.
Beruntung di sana ada area bermain anak. Sehingga Nana bisa sedikit terhibur dan berhenti menangis, karena bisa bermain kembali bersama Sheryl dengan dijaga oleh Ning.
Sementara Singgih bersama Rosmala dan Dino pergi menjenguk Bu Asri di ruangan tempatnya dirawat.
“Bagaimana keadaan Bu Asri, Pak?” tanya Ning saat melihat Singgih sudah kembali.
“Alhamdulillah sudah membaik … Dokter bilang, besok atau lusa Ibu sudah boleh pulang ….”
“Syukurlah, kalau begitu ….” Ning merasa lega.
“Oh ya Mbak Ning, bolehkah saya minta tolong?” ucapnya nampak ragu.
“Minta tolong apa, Pak?” tanya Ning.
“Sebenarnya ini di luar tugas Mbak sebagai pengasuh Nana … Saya akan menganggap ini sebagai kerja lembur.”
“Kerja lembur apa, Pak?” Ning nampak bingung.
“Jadi begini, Kinan mau pulang dulu… Kalau tidak keberatan, saya meminta Mbak Ning menggantikan Kinan untuk menjaga Ibu sampai sore nanti … Ibu canggung katanya kalau dijaga sama saya, malu kalau pengen ke kamar mandi ….”
“Oh iya, gak apa- apa, Pak … Biar saya yang menjaga Bu Asri … Kasihan kan Mbak Kinanti belum istirahat,” ucap Ning bersedia.
“Terimakasih banyak, Mbak Ning ….”
“Gak usah sungkan gitu, Pak ….”
Sepeninggalnya Singgih dan yang lainnya, Ning melaksanakan tugas lemburnya untuk menjaga Bu Asri hingga sore hari. Kinanti pun datang setelah magrib.
“Terimakasih banyak ya, Ning … Sudah membantu menjaga Ibu ….” Kinanti berterimakasih.
“Sama- sama, Mbak Kinan ….”
“Saya sudah pesankan taksi online untuk mengantarkan mu pulang ke rumah Ibu, ini nama driver nya ….” ucapnya memperlihatkan layar ponsel pada Ning.
“Ini kunci rumah, dan ini untuk Mbak Ning ….” Kinanti memberikan kunci dan tiga lembar uang pecahan seratus ribuan.
“Eh, gak usah Mbak … Tadi Pak Singgih sudah memberi saya uang buat beli makanan untuk saya dan Bu Asri. Ini juga masih sisa banyak ….” Ning menolak pemberian Kinan.
“Gak apa- apa ambil saja ….” Kinan memaksa.
“Gak usah Mbak, terimakasih banyak sebelumnya … Saya pamit pulang ya, takutnya kemalaman dan taksi pesanan Mbak Kinan mungkin saja sudah sampai ….” ucapnya berpamitan, ia melihat ke arah Bu Asri. Ia pun menyalami tangan Bu Asri.
“Cepat sembuh ya, Bu … Saya pulang dulu. Assalamu’alaikum ….”ucapnya pamit.
“Wa’alaikumsalam … Terimakasih Ning ….”
Ning hanya membalas dengan senyuman. Ia segera pergi meninggalkan ruangan tersebut, sebelum Kinanti memaksanya menerima uang itu lagi.
**
“Pak, berhenti di rumah yang ke-tiga itu ya ….” ucap Ning pada sang driver sambil menunjuk ke arah depan.
“Baik, Mbak ….” Angguk sang driver paham.
Taksi yang ditumpangi Ning berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah Bu Asri. Ning pun turun dan memasuki pintu gerbang.
Baru saja masuk, ia sudah mendapati Athar yang tengah duduk di kursi yang ada di teras rumah.
“O My God … Tadi pagi udah beberapa kali sial … Sekarang harus bertemu sama orang menyebalkan itu … Ngapain sih dia datang ke sini segala,” gerutu Ning dalam hati.
Ning berjalan menuju teras rumah tanpa memperdulikan keberadaan Athar. Ia kini berdiri di depan pintu, kemudian mengambil kunci rumah dari dalam saku celananya.
“Dari mana saja kau? Pergi sejak pagi, baru kembali malam begini ….” Athar melayangkan pertanyaan layaknya seorang suami yang mendapati istrinya baru pulang.
Ning tak menghiraukannya, ia lalu memasukan kunci pada lubang pintu untuk membukanya.
“Hei apa kau tidak dengar?” ucapnya nampak kesal
Ning melihat kesana kemari. “Suara siapa itu? kok ada suara tapi gak ada orangnya?” ucapnya bergidik ngeri.
Ceklek
Ning membuka pintu dan hendak melangkah ke dalam.
Athar menarik tangan Ning dengan cukup kuat, hingga membuat tubuh Ning oleng dan kini duduk di pangkuannya. Ia merasa kesal karena Ning sudah mengacuhkannya, bahkan pura- pura tak melihatnya yang jelas- jelas sedang duduk di kursi tepat di samping Ning berdiri.
Ning berusaha untuk bangun, namun Athar melingkarkan kedua tangan ke tubuh Ning agar ia tak bisa kabur.
“Lepaskan!!!” berontak Ning.
“Siapa suruh mengacuhkan ku, hah!!”
“Lepas!!”
“Diam!! Atau aku akan mencium mu!!” ancaman pun keluar dari mulut Athar.
Ning mendengus kesal, ia pun tak berontak lagi. “Ih, apa sih mau mu!?” bentaknya kesal.
“Darimana saja kau seharian ini, hem?” ucapnya muai melembut.
“Dari taman kota ngasuh Nana bermain, terus ke rumah sakit menjenguk Bu Asri … Karena Mbak Kinan mau pulang dulu, jadi aku disuruh menjaga Bu Asri sampai Mbak Kinan kembali … puas !?” hardik Ning.
“Lalu, kenapa kau tidak mengabari ku?” masih dalam mode lemah lembut.
“Hallo … apa anda lupa sudah mengambil dompet dan ponsel ku? Mau menghubungi pakai apa? Pakai telepati?” bentak Ning.
“Ya ampun, selain bar- bar … kau itu galak sekali ya … Aku sedekat ini masih aja berteriak- teriak ….” goda Athar.
“Karena sepertinya anda itu orang yang tuli!!” pekik Ning.
“Oh ya ….” Athar mendekatkan wajahnya pada wajah Ning dengan memperlihatkan senyum merekah.
“Tu tuan om mau apa?” tanya Ning nampak takut. Takut dicium maksudnya. 🤭
“Aku lapar," ucap Athar.
“Terus?”
“Tentu saja aku ingin makan ….”
“Makan apa?” tanya Ning terheran- heran.
“Makan kamu ….” ucapnya menatap Ning sembari tersenyum.
Ning membelakan matanya. “Ap apa?” Ning kembali gelagapan.
“Hahahaha … Cepat mandi sana! Kita akan pergi makan malam di luar ….”
“Gak, aku gak lapar!!” tolak Ning.
Kruk kruk kruk …
Terdengar bunyi keroncongan dari perut Ning. Athar terkekeh mendengarnya.
“Perut mu itu lebih jujur dari pada mulut mu … hahahaha … Sudah mandi sana, aroma tubuhmu bisa mencemari udara …”
Bugh …
Ning memukul dada Athar dengan kepalan tangannya. Ia segera bangkit melepaskan diri dari Athar, kemudian bergegas masuk ke dalam rumah.
“Uhhh … pukulan mu mesra sekali, Nona galak ….” goda Athar sembari mengusap dada yang sudah dipukul Ning.
Blam
Ning menutup pintu dengan cukup keras. Ia pun langsung mengunci pintunya kembali, agar Athar tak bisa masuk.
__ADS_1
“Kunci saja … aku sudah hafal seluk beluk rumah ini … Jadi bisa masuk lewat mana saja ….” teriak Athar dengan nada santai.
Ning tak menggubrisnya dan ia segera masuk ke kamar Kinanti. Ia beristirahat sejenak, kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah setengah jam lamanya, Ning yang sudah selesai mandi dan shalat keluar dari kamar Kinanti.
“Sudah selesai mandinya?” tanya Athar dengan santainya sembari memainkan ponsel.
Ning terperanjat, ia terkejut melihat keberadaan Athar yang sedang duduk di kursi ruang tamu.
“Tu tuan om kenapa bisa masuk ke sini? Jelas- jelas tadi aku sidah mengunci pintunya ….”
“Tadi kan sudah ku bilang, aku sudah hafal seluk beluk rumah ini. Jadi aku bisa masuk lewat mana saja sesuka hati ku ….” ucapnya masih tak menoleh bahkan tak melirik Ning sama sekali.
“Ternyata seorang tuan Daniel Athar Sahulekha punya keahlian seperti pencuri juga ….” sindir Ning.
“Tentu saja … termasuk pencuri hati ....” ucapnya tersenyum dan memberi tatapan genit pada Ning. “Hei, kenapa tidak dandan? Aku kan bilang kita akan makan di luar,” protesnya saat melihat penampilan Ning yang polos tanpa makeup dan hanya memakai daster lengan pendek dengan panjang sebetis.
“Ih … memangnya kapan aku menerima ajakan mu?” sanggah Ning ketus.
“Ck …” Athar berdecak, ia lalu bangkit dan melangkah menghampiri Ning. “Ayok kita makan di luar, aku sudah memesan makanannya dan kita tinggal makan ….” Athar menarik tangan Ning.
“Aku gak mau!!” Ning menepis kasar.
“Oh, jadi mau dipaksa? Atau mau pergi dengan suka rela?” Athar memberi pilihan.
“Yang dipaksa- paksa itu gak enak loh ….”
Ning mendelik tajam dan menatap tak suka pada Athar.
“Jagan menatap ku seperti itu ….” Athar mendekatkan bibirnya pada telinga Ning. “Aku bisa memakan mu, mumpung di sini tidak ada siapa- siapa,” bisik nya.
Ning melangkah mundur, ia lalu menunjuk wajah Athar dengan tatapan marah.
“Kau!!!” Ning menunjuk wajah Athar dengan tatapan kesal dan marah.
“Aku kenapa, hem?” godanya terkekeh.
Ning mendengus kesal, namun Athar tak memperdulikannya. Ia menggenggam tangan Ning, kemudian menarik untuk membawanya keluar.
“Lepaskan tanganku … aku tidak mau pergi dengan mu!!” berontak Ning.
“Sudah, ikut saja … makan di luar apa susahnya sih.” Athar tak menghiraukan penolakan Ning.
“Ihhh … gak mau ….” Ning mencoba melepaskan tangannya, meski kakinya tetap melangkah mengikuti Athar karena tarikannya begitu kuat. Hingga keduanya sampai di halaman depan rumah Bu Asri.
Keduanya berdiri di atas rerumputan hijau diantara tanaman peliharaan sang pemilih rumah.
“Hah, apa ini? Kenapa meja makan bisa pindah ke sini?” tanyanya dengan ekspresi terkejut.
Ia mendapati meja makan dimana di sana terdapat dua piring steak beserta minumannya dan dihiasi dengan lilin- lilin serta satu pot bunga mawar cantik. Hanya ada dua kursi yang diletakan saling berhadapan dan meja itu terdapat di tengahnya.
“Silahkan duduk, nona galak ….” Athar menarik kursi dan mempersihakan Ning duduk. “Hei, jangan bengong saja … ayok duduk ….”
Ning yang masih terkejut dan bingung secara bersamaan pun duduk. Athar juga duduk di kursi yang berbeda.
“Bagiamana? Apa kau suka kejutannya?” tanya Athar tersenyum.
“Hah? Apa? Kejutan?” Ning nampak bingung.
“Ya.” angguk Athar.
“Ini maksudnya apa?” Ning terlihat semakin bingung.
“Bukankah tadi aku sudah bilang kita akan makan diluar … Ya seperti ini ….”
“Jadi makan diluar itu di sini?” tanya Ning memastikan.
“Ya ….”
“Apa ini namanya berkencan?” Ning terus saja bertanya.
“Jadi kau ingin berkencan dengan ku?” Athar malah balik bertanya.
“Hah?” Ning ternganga.
“Ck … Ih, kenapa makan Daging seperti ini lagi sih? Mana gak pakai nasi lagi ….” gerutu Ning saat melihat hidangannya.
“Kau harus belajar makan steak … Nanti aku akan mengajak mu menghadiri makan malam dengan rekan bisnis ku … Dan bisa saja, Mami mengundang mu untuk makan malam bersama keluarga ku …”
“Apa? Untuk apa tuan om mengajak ku ke acara makan malam seperti itu?”
“Apa kau lupa, kalau kita ini adalah sepasang kekasih? Jadi kita harus membuat semua orang percaya, kan?”
“Huft … orang kaya itu ribet banget sih … Sudahlah, aku lapar ….” ucap Ning jengah.
“Hei, jangan pakai tangan lagi … Kau harus makan dengan benar ….” Athar memperingatkan Ning.
“Bagaimana caranya? Aku kan gak tahu ….”
“Pertama, pegang pisau dengan tangan kanan dan garpu dengan tangan kiri ….” Athar mencontohkan dan Ning mengikutinya.
“Jari telunjuk harus tegak seperti ini, jangan memegangnya seperti pensil atau mengepalnya seperti itu.” Athar mengoreksi cara Ning memegang pisau dan garpu.
“Iya, terus?” ucap Ning.
“Gunakan garpu untuk menjepit daging, lalu potong menggunakan bagian daging dengan presisi cukup untuk gigitan … Kira- kira sebesar ini ….” Ia meperlihatkan cara hingga hasil potongannya.
“Letakan pisau diatas piring, jangan sampai jatuh ke meja atau pun diletakan di atas taplak meja … pindahkan garpu ke tangan kanan dan tusuk potongan steak yang baru dipotong tadi, lalu aaamm … makan deh ….” ucapnya lalu mengunyah daging yang sudah masuk ke dalam mulutnya.
Sementara Ning masih kesulitan memotong daging dengan cara yang benar itu.
“Ihh, ini gimana sih?” Ning mengeluh karena ia tak bisa melakukan semudah yang dilakukan Athar.
Athar terkekeh, ia meletkan garpunya di atas piring dan bangkit dari duduknya. Ia menghampiri Ning dan berdiri tepat di belang kursi Ning. Ia sedikit membungkuk, kedua tangannya memegang kedua tangan Ning.
“Tu tuan om mau apa?” Ning menepis tangan Athar.
“Mengajari mu cara makan steak yang benar, memangnya apalagi?” Athar kembali memegang tangan Ning.
“Gak usah pegang- pegang gini kali … Cukup sebutkan caranya aja ….” Ning menepiskan lagi tangan Athar.
“Tadi sudah disebutkan, kau masih saja belum bisa … Sudahlah, sini aku ajarkan yang benar, biar cepat bisa.” Athar kembali memegang tangan Ning dan entah mengapa kali ini Ning menurut saja.
“Nah, cara memegang pisau seperti ini, cara memegang garpu seperti ini … Kau harus tetap duduk tegak, jangan membungkuk ….”
“Aduh, kenapa musti sedekat ini sih? Pakai pegang- pegang tangan ku segala … Gak tahu apa ini jantung rasanya pengen loncat keluar ….” jerit Ning dalam hati.
“Sekarang, jepit dagingnya, dan potong dengan cara seperti ini ….”
“Ya ampun, kenapa dia bicara tepat di dekat telinga ku … Rasanya gerah sekali, padahal cuaca di luar sangat dingin,” gumam Ning dalam hati.
“Letakan pisaunya di sini dan pindahkan garpunya ke tangan kanan mu … tusuk potongan steaknya, dan aaak … buka mulut mu ….” Athar membantu Ning mengangkat tangan untuk menyuapkan steak ke mulut Ning. Ia pun membuka mulutnya dengan ragu, karena debaran jantungnya semakin kuat.
“Aaammm ….” Athar malah menyuapkan steak yang ada di tangan Ning pada mulutnya sendiri.
Ning terkesiap saat mendengar suara Athar mengunyah daging yang dimakannya sembari terkekeh tepat di telinga kanannya itu, seolah ia baru tersadar dari hal yang membuatnya terlena sebelumnya. Ia kembali menutup mulutnya yang sempat mangap.
“Ihhh, kenapa dimakan sama tuan om, sih??” protes Ning kesal, karena ia sudah mangap namun tak mendapat makanan itu.
“Hahahah….” Athar melepaskan tangannya dari Ning. Ia kembali berdiri tegak sembari tertawa.
“Sekarang kan kau sudah bisa, jadi potong sendiri ya ….” ucapnya mengusap pucuk kepala Ning dengan lembut. Ia lalu kembali ke kursinya untuk melanjutkan makan.
Mungkin itu hanya sentuhan biasa, namun mampu membuat jantung Ning kembali berdebar- debar. Ia kembali diam mematung.
“Hei, kenapa bengong … Ayok dimakan steaknya … Atau mau aku bantu lagi memotongnya?”
“Gak … gak usah, aku bisa sendiri kok ....” tolak Ning dengan gelagapan. Ning memindahkan garpunya ke tangan kiri dan mengambil pisau dengantangan kanan. Ia melakukan apa yang Athar ajarkan tadi, dan ia bisa melakukan dengan benar dan mudah.
Ning pun menusuk daging hasil potongannya. Namun sayang, baru saja hendak menyuapkan steak itu ke dalam mulutnya, tiba- tiba hujan turun dengan deras. Athar segera bangkit dan mengajak Ning untuk meninggalkan meja makan tersebut. Mereka pun berlari dan masuk ke dalm rumah.
“Hahahahahaha …..” Athar tertawa dengan renyahnya.
__ADS_1
“Hei, kita ini basah kuyup karena kehujanan … Kenapa tuan om malah tertawa?” protes Ning kesal.
“Lihat lah, saat kau bisa melakukan cara makan steak dengan benar, langit pun langsung menurunkan hujan … Hahahahha ….” Athar tak bisa berhenti menertawakan Ning.
“Tertawa saja terjawa … kau memang suka sekali mengejek ku.”
“Ini lagi hujan kurang ajar … harusnya nanti turunya setelah aku menghabiskan steak itu … Bahkan aku belum mengigitnya sedikit pun,” gerutu Ning kesal.
“Uluh kasihan … sepertinya kau masiih lapar,” ucapnya berhenti tertawa.
“Tentu saja, sejak tadi aku belum makan apa pun ….”
“Sebaiknya kau ganti pakaian dulu, basah itu … Dan sebagai ganti makan malam yang kacau tadi, aku akan memasakn sesuatu untuk mu,” ucapnya hendak melangkah untuk pergi ke dapur.
“Tunggu … tuan om mau kemana?” Ning menghentikan langkah Athar.
“Ke dapur lah … Tempat memasak itu kan di dapur, nona ….”
“Tuan om menyuruhku beganti pakaian, sedangkan pakain om sendiri basah gitu … Nanti bisa masuk angin ….”
Athar tersenyum dan terlihat senang. “ Ternyata kau perhatian juga ya ….”
“Ap apa? jangan ge-er ya … Aku cuma gak mau aja nanti kalau tuan om sakit di sini, malah akan merepotkan ku.” Ning terlihat salah tingkah.
“Hmm, gitu ya … Kalau begitu, aku mau sakit saja deh.” Athar malah menggoda Ning.
“Ihh, dasar orang aneh … Ganti baju sana !!”
“Apa aku harus menganti baju dan meminjam pakaian mu, begitu?” goda Athar.
“Ya enggak lah … masa tuan om mau pakai baju perempuan ….”
“Tuh kan, baju gantinya gak ada … Sudah sana kau ganti pakaian mu dan aku mau ke dapur… Nanti juga kena panas kompor, badan ku hangat dan baju ku kering dengan sendirinya ….”
“Enggak … kalau tuan om gak ganti baju, aku juga gak akan ganti baju,” ancam Ning.
“Hei, dress mu itu basah kuyup. Kau bisa sakit nanti ….”
“Baju tuan om juga basah, kalau gak ganti baju tuan om juga bisa sakit.” Ning malah mengembalikan ucapan Athar.
“Oh, jadi pengen sakit bareng- bareng ceritanya?” Athar kembali mengoda Ning.
“Iiihhhh ….” Ning menghentakkan kakinya. Ia mendengus kesal kemudian duduk di kursi yang ada di ruang tamu itu.
“Hei, kenapa malah duduk? Sana ganti pakaian mu di kamar!!” titah Athar.
“Enggak!!!” tolak Ning tegas.
Athar menghela nafas kasar. “Kau ini benar- benar keras kepala ….” Ia lalu mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan menghubungi seseorang.
“Bawakan tas ransel dan godie bag yang ada di mobil ku,” ucapnya lalu memutus sambungan telponnya.
“Sekarang kau ganti pakaian mu, sebentar lagi sopir akan mengantarkan pakainku kemari,” ucapnya pada Ning.
“Jangan bohong !!” Ning tak percaya.
“Astaga … lihat saja sendiri keluar. Mobil ku ada di depan.”
“Tadi pas aku datang gak ada mobil siapa- siapa …”
“Saat kau datang mobilnya sedang dipakai sopir untuk membawa makanan dan perlengkapan makan malam di luar tadi.”
“Baiklah ….” Ning bangkit, kemudian masuk ke kamar Kinanti untuk berganti pakaian. Tak lama ia pun keluar dan melihat Athar sedang bicara di depan pintu.
“Kenapa kau masih di sini? Bukannya tadi kau bilang sedang ngopi di warung sana?” ucap Athar pada orang tersebut.
“Iy iya, Pak … Saya permisi,” ternyata itu adalah sopirnya.
“Hmm ….” Athar menutup pintu dan berbalik dengan membawa tas serta sebuah godie bag di tangannya.
“Hei, kau sudah selesai ganti baju,” sapanya tersenyum.
“Iya … dan sekarang giliran tuan om....”
Athar melangkah menghampiri Ning. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam godie bag. “Ini ….” ucapnya menyerahlan sebuah map.
“Apa ini?” tanya Ning heran.
“Kontrak perjanjian kerja jadi pacar pura- pura ku ….”
“Hah? Kenapa musti pakai surat perjanjian segala?”
“Supaya kau tidak kabur … Dan ini dompet juga ponsel mu ….” Athar menyerahkn godie bag pada Ning dan ia pun menerimanya dengan terheran- heran.
“Tuan om ....”
“Hmmm ….” sahut Athar.
“Kenapa aku?” tanya Ning.
“Maksudnya?” tanya Athar heran.
“Kenapa tuan om memilih aku untuk menjadi pacar pura- pura tuan om? Padahal, di luaran sana masih banyak gadis- gadis yang cantik, anggun serta berkelas yang jauh lebih baik dari aku yang kampungan dan tak beretika seperti ini.” Ning memperjelas maksud pertanyaanya.
Athar terdiam sejenak dengan menatap Ning nampak memikirkan sesuatu. Ia lalu menghela nafas panjang.
“Karena kita sama- sama saling membutuhkan,” ucap Athar.
“Maksudnya?” Ning belum paham.
“Aku membutuhkan orang untuk menyingkirkan gadis- gadis yang datang silih berganti untuk mendapatkan ku … Sedangkan kamu butuh pekerjaan agar bisa menebus rumah orang tuamu, bukan? Sebut saja ini sebagai simbiosis mutualisme ….”
Kini Ning yang terdiam, seolah ia berharap Athar memberinya jawaban lain dan bukan jawaban itu yang ingin di dengarnya. Ia menundukkan kepala untuk menyembunyikan raut kekecewaannya.
Jleger …
“Aaaaaaaak ….”
Suara menggelegar disertai kilatan petir membuat Ning berteriak ketakutan, hingga membuatnya memejamkan mata serta kedua tangannya menutup telinga.
Jleger …
Suara petir kembali mengegelar.
“Aaaaaaak….” Ning kembali berteriak.
Tanpa pikir panjang Athar langsung memeluk Ning yang nampak begitu ketakutan. Tubuh Ning bergetar hebat dengan nafas yang berat dan terdengar sesak. Air mata pun berjatuhan begitu saja dari matanya yang masih terpejam, namun tak disertai suara isak tangis.
“Ning … Ning … tenanglah … Ada aku di sini ….” ucap Athar sembari mengusap lembut kepala Ning. Ia terus berusaha menenangkan Ning, dan beruntung suara petir tak terdengar lagi.
Perlahan Ning mulai terlihat tenang. Deru nafasnya pun kembali normal. Ia melepaskan tangan dari kedua telinganya dan secara spontan ia membalas pelukan Athar.
Nampaknya, berada di pelukan pria yang dijulukinya sebagai kudail mesum, telah menjadi tempat ternyaman baginya saat ini. Dan ia ingin berada di sana selama mungkin.
Athar pun tersenyum. Setali tiga uang dengan Ning, Athar nampak enggan melepaskan pelukannya. Tak bisa dipungkiri, ia merasakan nyaman dan bahagia yang membuncah di dadanya.
“Tetaplah seperti ini … menjadi pacar pura- pura hanya alasan ku saja agar aku bisa tetap dekat dengan mu dan menjaga mu, Ning ….” ucapnya lirih dengan suara yang begitu pelan seolah ia tak ingin Ning mendengarnya. Tangan Athar masih mengusap lembut kepala Ning, membelai rambut panjangnya yang terurai semu basah.
Tanpa Athar sadari, Ning ternyata mendengar ucapannya itu. Ia membuka matanya, senyuman pun terukir di bibir manisnya. Ketakutan yang tadi dirasakannya pun sirna seketika. Ia membenamkan wajahnya pada dada bidang si om tamvannya itu. Rasa bahagia sekaligus malu membuat pipinya merona dan ia tak ingin Athar melihat hal itu.
Ceklek …
Tiba- tiba ada yang membuka pintu dari luar rumah, yang mengagetkan keduanya. Sontak Athar dan Ning melepaskan pelukan mereka.
“Sial !! Dasar pengganggu!!” umpat Athar kesal dalam hatinya.
---------- TBC-------------
*********************
Happy Reading ….😉
Mohon maaf kebanyakan … jari jemari eceu tiba- tiba kesurupan ….🙏🙏
__ADS_1
Tilimikicih selalu setia menantikan kisah Ning Galak dan Kudanil Mesum ….😍🥰
Aylapyu all …😘😘