NINGRAT Antara Dia Dan Duda

NINGRAT Antara Dia Dan Duda
Terguncang


__ADS_3

Gegara insiden bombardir kentut beliung Ning, pasien yang berbaring di ranjang tempat USG kini digantikan oleh Athar. Ning tak hentinya menitikkan air mata, walau Athar sudah terlihat membaik dan tidak sesak nafas lagi seperti sebelumnya.


“Dok, bagaimana kalau kita bawa pasien ke ruang UGD agar mendapatkan penanganan lebih serius,” ucap suster memberi saran.


“Tidak usah, suster … Dalam beberapa saat juga dia akan normal kembali … Ini hanya reaksi alergi saja, sudah biasa terjadi padanya ….” Dokter yang nampaknya sudah benar- benar paham dengan apa yang terjadi pada Athar.


“Kalau begitu, bawa ke ruang rawat inap tempat saya aja, Dok… Ruangannya kan besar.” Ning yang sudah berhenti menangis, memberi usulan.


“Iya, Dok … bawa saya ke sana saja dan silahkan lanjutkan pemeriksaan terhadap Ning” Athar yang masih nampak lemas pun setuju dengan usulan Ning.


“Tapi____” Ning nampaknya hendak protes.


“Baiklah … tolong bawa Pak Daniel ke ruang rawat inap Mbak Ningrat ….” titah Dokter pada perawat lelaki.


Suster membantu Ning berdiri dan sementara perawat lelaki dan dokter membantu Athar bangun. Mereka bertukar posisi, Ning naik ke ranjang sementara Athar didudukan di kursi roda.


Kedua perawat mengantarkan Athar, sedangkan Ning menjalani pemeriksaan USG oleh dokter.


“Mbak Ningrat … seperti yang sudah saya katakan pada Pak Daniel, setelah melihat hasil USG Abdomen ini, anda akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mendapatkan hasil lebih detail lagi,” ucap dokter setelah selesai melakukan USG.


“Hah? Pemeriksaan lanjutan?” tanya Ning terkejut.


“Iya ….” angguk sang dokter.


“Apa saya terkena penyakit parah, Dok?” Ning kembali merasa cemas.


“Kita akan lihat hasilnya nanti setelah pemeriksaannya … Mbak Ning tidak perlu takut, yang rileks saja ya….”


“Suster, tolong bawa pasien ke tempat pemeriksaan selanjutnya … Dan infusannya dilepas saja, kondisinya juga sudah membaik….” titah Dokter pada suster yang sudah kembali dengan membawa kursi roda kosong.


“Baik, Dok ….” Ia pun mengambil peralatan untuk melepas infusan yang sudah hampir habis dari tangan Ning. Dan setelah selesai, ia membawa Ning ke tempat pemeriksaan selanjutnya.


Kali ini Ning tidak merasa takut seperti sebelumnya. Justru ia ingin segera menuntaskan pemeriksaannya, karena ia terus memikirkan keadaan Athar dan ingin segera menemuinya.


Setelah beberapa saat, Ning pun diantar kembali ke ruangannya dengan kembali menaiki kursi roda. Ia melihat Athar berbaring di atas ranjang pasien yang sebelumnya ditempati oleh nya.


“Apa perlu menambahkan ranjang nya?” tanya suster.


“Tidak perlu, saya sudah merasa baikan… selang oksigennya juga sudah dilepas ….” Athar yang malah menjawab suster.


Ia lalu bangun dan duduk. “Silahkan baringkan Ning di sini, saya akan duduk di sana,” ucapnya lalu turun dan berjalan menuju sofa yang ada di ruang rawat inap VVIP tersebut.


“Mari saya bantu.” Suster menawarkan bantuan.


“Gak usah, suster … terimakasih … Nanti saya naik sendiri, saya udah baikan dan gak lemas lagi kok ….”tolak Ning dengan halus.


“Baiklah, kalau begitu saya permisi … Nanti saya akan kembali untuk membawakan obat yang diresepkan dokter,” ucapnya lalu pamit undur diri.


“Iya, Suster terimakasih ….” sahut Ning. Ia menggerakkan kursi roda ke dekat sofa tempat Athar berbaring.


“Tuan om,” panggil Ning dengan raut wajah merasa bersalah.


“Hmmm ….” Athar yang berbaring dan hendak memejamkan matanya, menoleh ke arah Ning.


“Aku minta maaf … Gara- gara aku tuan om sampai___” ucapnya menundukkan kepala.


“Gak apa- apa, Ning … aku juga sudah baik- baik saja kok ….” Athar langsung memotong ucapan Ning. Nampaknya ia tak ingin membuat Ning sedih dengan apa yang telah terjadi padanya.


“Oh ya, Kamu tidak mengacau di ruang pemeriksaan selanjutnya kan?” Athar yang rebahan di atas sofa mengalihkan topik.


“Enggak….” Ning menggelengkan kepalanya.


“Baguslah … sebaiknya kamu istirahat dulu … Sebentar lagi Riko datang membawakan sarapan untuk kita … Atau kamu mau makan yang itu?” tanya Athar menunjuk meja yang sudah tersedia satu nampan makanan.


“Nanti saja, biar bareng makan nya sama tuan om ….”


“Kalau gitu kamu minum dulu susu nya, nanti keburu dingin ….”


“Iya ….” Ning lalu turun dari kursi roda, ia berjalan perlahan untuk mengambil susu dari atas meja. Ia duduk di atas ranjang, lalu meminum susu nya sampai habis.


Ning menutup mulut dengan telapak tangannya untuk meredam suara sendawa yang biasanya selalu dikeluarkan tanpa melihat ada atau tidak ada orang di dekatnya. Sepertinya kini ia sudah mulai tahu malu jika sedang di dekat Athar, namun lain halnya dengan perkara kentut yang tak sanggup ditahannya.


Athar terus memperhatikan Ning sembari tiduran. Ia nampak menahan tawa saat melihat Ning menahan suara sendawa.


“Lepaskan saja suara sendawa nya Ning, jangan ditahan … Nanti malah keluar kentut …. Hahahaha,” ejek Athar yang kemudian tertawa.


Ning mengerutkan bibirnya, lalu meletakan kembali gelas yang sudah kosong di atas meja. Hal itu membuat Athar tertawa gemas melihatnya.


“Itu bibir jangan dimonyongin gitu … Nanti aku bisa khilaf….”


“Dasar mesum !!” hardik Ning.


“Nah gitu dong … Nona sudah kembali galak … Aku suka….” goda Athar.


Ning mencebikkan bibirnya. “Lagi sakit juga, masih aja bisa bicara mesum!!” gerutunya sebal.


“Hahahaha … Justru dengan begitu, bisa membuat ku langsung sembuh….”


“Dasar gila!!” Ning semakin kesal.


“Tapi kamu suka kan??” Athar tak hentinya menggoda Ning. “Apa kamu tahu, Ning … Bibirmu masih sangat terasa di bibirku ….” Ia tak berhenti bicara mesum.


“Gak sengaja bibir kena aja, masa sampai ingat terus….” ejek Ning.


“Siapa bilang gak sengaja? Aku sengaja dan dalam keadaan sadar saat mencium bibir mu….”


“Aku gak ngerasa tuh,” ucap Ning acuh.


“Masa? Apa kau tahu? karena mencium bibir mu aku jadi tahu rasanya pecel lele tanpa pernah memakannya, hahaha.”


“Hah? Maksudnya?” Ning terkejut mendengar ucapan Athar.


“Ya ampun … jangan bilang kamu lupa soal ciuman yang di mobil itu? Bukan kah kamu terlihat menikmatinya, bahkan sampai pingsan segala saking enaknya kayaknya ya….”


“Apa? Ciuman? Pecel lele? Jadi waktu itu aku tidak bermimpi?” Ning yang masih syok baru menyadari akan hal yang dianggap mimpi itu.


“Mimpi? Mimpi apa? Mimpi basah? hahahaha ….” Athar semakin nikmat menertawakan Ning.


“Jadi malam itu, tuan om beneran mencium ku?” Ning nampaknya masih tak percaya akan kenyataan yang baru diketahuinya.


“Tentu saja… Karena kamu tidak menolak, jadi aku lanjutkan saja … Tapi sepertinya kamu belum pandai membalas ciuman, ya… masih kaku …."


"Oh apa itu berarti, aku orang yang pertama kali berciuman dengan mu, Ning?” Athar nampak berbangga diri.


“Iiihhhh, dasar kudaniel mesum menyebalkan !!” teriak Ning yang merasa kesal dan marah. Ia turun dan menghampiri Athar dengan membawa bantal di tangannya.

__ADS_1


Bugh


Ia melempar bantal tepat ke wajah Athar yang masih dengan posisi berbaring di atas sofa.


“Uhhh, terimakasih bantalnya … tahu aja aku butuh bantal … Sebagai upahnya mau dicium lagi gak?” Athar malah semakin menggoda Ning yang terlihat murka.


“Ihhh, dasar menyebalkan!!”


Ning yang semakin kesal, mengepalkan tangannya. Ia melangkah untuk memukul Athar. Namun sayang entah kenapa kakinya tiba- tiba tersandung dan membuat tubuhnya hilang keseimbangan, hingga ia jatuh tepat di atas tubuh Athar.


“Ughh … Kamu sungguh tidak sabaran, Ning….” ejek Athar yang tertimbun tubuh Ning.


“Ihhh …” Ning berusaha bangun, namun Athar malah memeluknya hingga Ning tak bisa berkutik. “Lepaskan!!” ucapnya berontak.


“Kamu kan yang datang sendiri, kenapa aku harus melepaskan mu?” Athar tak menggubris.


“Ihh, lepaskan aku!!” Ning kembali berusaha melepaskan dirinya. Namun Athar malah semakin mengeratkan pelukannya. Ia tersenyum penuh kemenangan.


“Ayok ….” ucapnya dengan genit.


“Ap apa?” Ning gelagapan dibuatnya.


“Bukankah kamu ingin mencium ku ….” Athar memonyongkan bibirnya, menantikan Ning menciumnya.


Ning membelakan matanya. “Kau!!” pekiknya.


“Hei, sudah jangan bergerak lagi … Kau bisa membangkitkan sesuatu….” ucap Athar.


“Apa?”


“Kemarin kamu terus- terusan memelukku, dan aku hanya pasrah … Sekarang giliran mu untuk pasrah,” goda Athar tersenyum. Saat melihat Ning tak berontak lagi, Athar pun melepaskan pelukannya.


“Apa kau tahu Ning, jika aku sangat merindukan mu…. Melihat foto mu saja tidak bisa mengobati kerinduan ku,” ucapnya dengan menatap intens mata Ning terlihat mulai luluh. Ia tertegun seolah terbuai dengan ucapan Athar yang terdengar gombal.


“Aku ju_____” Ning hampir saja mengakui hal yang sama dirasakan oleh Athar. Bahkan ia jauh lebih merindukan Athar, karena ia tak memiliki satu pun foto Athar yang bisa dipandanginya kapan pun ia mau.


Ceklek …


“Pak Daniel, ini saya bawakan makanan pesanan Bap____” Riko yang masuk dengan selonong boy, terkejut melihat Ning dan Athar dalam posisi seperti itu.


“Ma maaf, Pak … “ ucapnya gelagapan, karena sudah mengganggu atasannya.


Ning yang sama terkejutnya, langsung bangun. Ia hendak berdiri, namun Athar menarik tangannya.


“Kamu duduk di sini saja,” ucapnya lalu bangun dan duduk di sebelah Ning.


“Riko, berikan makanannya pada ku….” Titahnya pada sang asisten pribadinya dengan tatapan kesal.


Riko menutup pintu dan berjalan menghampiri Athar juga Ning, dengan membawa dua kantong kresek putih di tangannya.


“Bagaimana keadaan Bapak, apa sudah membaik?” tanya Riko basa- basi.


“Hmmm, seperti yang kau lihat….” Athar menjawab dengan nada malas.


“Ini makanannya, Pak … Dan kopinya sudah saya simpan tadi saat Pak Daniel dan Nona Ning sedang keluar ruangan,” ucap Riko dengan menyerahkan bang bawaannya pada Athar.


“Baiklah, kau boleh pergi,” ucap Athar setelah menerima kantong kresek tersebut. Riko pun segera beranjak pergi, sebelum kena semprot atasannya itu.


“Nih ….”Athar memberikan kantong kresek itu pada Ning.


“Tentu saja untuk kita berdua … Kamu jangan rakus begitu, dong….”


“Baiklah, aku akan menyiapkannya ….” Ning menerima kantong kresek itu dan membuka isiannya.


“Sekalian suapi aku ya….” ucapnya lalu duduk bersandar menantikan pelayanan Ning.


“Apa? Tuan om kan baik- baik saja, kenapa akau harus menyuapi mu?” tolak Ning protes.


“Hei apa kau lupa siapa yang sudah membuat ku hampir mati karena sesak nafas? Ditambah tadi kau memukul kepala ku menggunakan bantal, sakit tahu … Kau juga sudah menindih tubuhku dengan tubuhmu, kau pikir tidak berat apa? Dan satu hal lagi….” Athar memikirkan hal lain.


“Apa?” tanya Ning penasaran.


“Kau tidak jadi mencium ku.” Athar kembali ke persoalan mesum.


“Ihhhh, otak mu itu isinya mesum semua!!” Ning mencebikkan bibirnya.


“Pokoknya kau harus menyuapi ku, titik.” Bukan Athar namanya kalau tidak memakai system pemaksaan.


“Iya, bawel ….” ucap Ning ketus.


“Nah gitu dong, nona galak yang manis….” Athar mengedipkan sebelah matanya.


“Dasar genit….”


“Woah, aku sudah mendapat predikat baru lagi ….” Athar tak hentinya menggoda Ning.


Ning yang tak punya pilihan lain, bersedia menyuapi Athar dengan memperlihatkan raut wajah kesal dan penuh keterpaksaan. Walau sebenarnya, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ia sangat senang melakukan hal itu pada orang yang sudah menjaganya semenjak ia dirawat di rumah sakit.


Dan konyolnya, Athar mengambil makanan Ning lalu memaksa menyuapinya. Yang akhirnya mereka saling menyuapi makanan.


“Daripada seperti ini, mending kita makan masing- masing saja,” protes Ning yang merasa tidak nyaman makan seperti itu.


“Gak apa-apa kali, biar romantis ….”


“Romantis apanya? Kita lebih mirip anak TK yang saling mencicipi bekal makanan saat makan di kelas….” ejek Ning.


“Kalau begitu, bagaimana kalau nyuapin makannya dari mulut ke mulut saja,” goda Athar mengedipkan satu matanya.


“Makan saja sendiri!! Aku sudah gak nafsu…” Ning meletakan makanannya di atas sofa. Ia bangkit lalu pergi ke kamar mandi. Athar tertawa gemas melihat kekesalan Ning.


Meski mereka memiliki hal aneh yang berlawanan, yang satu suka kentut sembarangan dan yang satu alergi bau kentut. Namun mereka memiliki beberapa kesamaan, diantaranya sama- sama gila. Mungkin Athar yang lebih terlihat gila, tapi Ning mau saja mengikuti kegilaan Athar, sehingga membuatnya ikutan gila. (Semoga yang baca gak disangka gila yaa, sering ketawa sendiri… hahaha)


“ hoek hoek hoek ….” Terdengar suara muntah- muntah di dalam kamar mandi. Athar bergegas menghampiri Ning.


Tok tok tok


“Ning … kamu baik baik saja?” tanya Athar cemas.


“Hoek hoek hoek…” Ning tak menjawab, nampaknya ia masih muntah- muntah.


Athar yang semakin mengkhawatirkan Ning, berusaha membuka pintu kamar mandi, namun sayang ternyata Ning menguncinya dari dalam.


“Ning, apa kamu baik- baik saja? buka pintunya Ning….” Athar menggedor pintu, namun Ning tak menyahut. Terlintas di benaknya untuk mendobrak pintu kamar mandi itu.


Ceklek

__ADS_1


Ning akhirnya membuka pintu, ia pun keluar.


“Ning kamu gak apa-apa?” tanya Athar cemas.


“Enggak, tadi perut ku mual banget….” ucapnya nampak lemas.


“Kalau gitu kamu istirahat saja ya ….” Athar memapah Ning berjalan menuju ranjang. Ning dibaringkan di sana. Athar mengambil air minum dan memberikannya pada Ning. “Minum dulu….”


“Enggak ah, nanti muntah lagi ….” Ning menolak minum. Athar kembali menaruh gelas di atas meja. Ia menyelimuti Ning.


“Kamu istirahat dul, biar aku panggilkan suster agar memasangkan infusan lagi….”


“Gak usah tuan om … Aku mau pulang saja….” pinta Ning.


“Pulang kemana? Ke rumah Bu Asri? Sopir sudah membawa semua pakaian mu dan sekarang ada di lemari itu,” ucap Athar.


“Kalau aku di sini terus, siapa yang akan menjaga Nana? Lagi pula aku sudah merasa baikan, kok…” Ning kekeuh ingin pulang.


“Baikan apanya? Baru saja kamu muntah- muntah lagi… Kamu gak usah mikirin Nana, sudah ada pengasuh baru di sana… Yang terpenting sekarang adalah kesehatan mu ….”


“Tapi aku gak mau lama- lama di sini…. Apalagi dengan ruangan besar seperti ini, pasti biayanya sangat mahal … Aku gak puna banyak uang untuk membayar biaya rumah sakitnya ….”


“Jangan pikirkan hal itu, aku yang akan menanggung semuanya ….”


“Aku sudah terlalu banyak merepotkan tuan om … Aku mau pulang saja ….”


Athar terdiam sejenak. Ia memikirkan cara agar Ning berhenti merengek minta pulang.“Oke, kamu boleh pulang … Tapi nanti setelah hasil pemeriksaannya keluar....” akhirnya ia mengabulkan permintaan Ning.


“Kapan?” tanya Ning.


“Eng, dokter bilang dua sampai tiga hari lagi….” ucapnya menghindari tatapan Ning.


“Hufh… kenapa lama banget sih … Aku mau ngapain coba di sini? infusan juga udah dilepas."


“Tadi kan suster bilang kalau kamu diberi resep obat oleh dokter, jadi kamu masih belum boleh pulang ….”


“Tapi kan minum obat bisa sambil rawat jalan, jadi aku bisa pulang….”


“Cukup… Kamu akan tetap di sini sampai hasil pemeriksaan keluar … Jangan merengek seperti anak kecil lagi!! Sekarang kamu istirahat….” ucap Athar dengan nada tegas. Ning pun akhirnya diam dan menuruti ucapan Athar.


Saat Ning sudah tertidur pulas, Athar keluar dari ruangan VVIP tersebut. Ia kembali sore hari saat Ning baru selesai mandi dan berganti pakaian dengan pakaian miliknya.


“Tuan om dari mana?” tanya Ning saat Athar baru masuk.


“Apa kau lupa kalau aku ini bukan seorang pengangguran ….” ucapnya berjalan menghampiri Ning.


“Maaf… Gara- gara aku, tuan om jadi ninggalin pekerjaan ….” ucapnya merasa tidak enak.


“Enggak, kan tadi aku sudah menyelesaikan pekerjaan ku … kamu sudah makan dan minum obat?” tanya Athar yang berdiri depan lemari pakaian.


“Udah….”


“Masih mual muntah?”


“Enggak….” ucap Ning menggaruk lengan dan pinggangnya.


“Kamu udah mandi?”


“Udah.”


“Kenapa masih garuk- garuk gitu?” tanya Athar heran.


“Aku juga gak tahu … tapi emang suka gini … Eng, tuan om pulang aja, gak usah nginap di isni lagi … Nanti bisa sakit kalau tidur di sofa terus….”


“Kalau aku pulang, kamu sama siapa di sini?”


“Makanya, aku juga mending pulang saja kan ….”


“Jangan bahas itu lagi!!” tegas Athar sembari melonggarkan dasinya.


“Iya.” Ning yang melihat Athar nampak begitu lelah, tidak ingin berdebat dengannya.


Athar mengambil pakaian yang digantung di dalam lemari, serta handuknya. Ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Usai itu ia mengajak Ning berjalan- jalan sekitar rumah sakit, agar ia tak merasa bosan dan jenuh hanya berdiam diri di dalam kamar.


**


Keesokan harinya, usai sarapan dan minum obat, Ning kembali tidur. Dan saat ia terbangun ia tak melihat keberadaan Athar di ruangan itu.


“Kemana dia? Apa sudah berangkat ke kantor….” gumamnya berdialog sendiri. Ia pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka, lalu kembali ke tempat tidurnya.


“Arhhh, bosan banget sih… Kerja ku hanya makan, minum obat dan tidur … Badan ku rasanya pegal sekali … mending aku jalan keluar deh….”


Ning pun keluar dari kamar. Ia berjalan dengan beralaskan sandal khusu pasien rumah sakit tersebut. Langkahnya terhenti saat melewati sebuah ruangan yang terletak di sebelah tempat para perawat jaga bertugas, yang pintunya sedikit terbuka.


Ia mendengar suara yang sudah tak asing lagi baginya. Dan saat namanya di sebut, ia semakin penasaran dan mengintip di balik pintu. Ia mendengar jelas pembicaraan dua orang di dalam ruangan yang nampaknya bukan kamar rawat inap itu.


Ning begitu terkejut dengan apa yang ia dengar, bagai tersambar petir di siang bolong. Ia membekap mulutnya sendiri, menahan suaranya agar tak terdengar, walau sesungguhnya ia ingin menjerit saat itu juga.


Dadanya terasa sesak, pikirannya dipenuhi segala perkiraan buruk. Ingin rasanya ia masuk ke dalam mempertanyakan kebenarannya, namun raganya terasa lemas dan berat untuk melangkah.


Tubuhnya merosot begitu saja, hingga ia terkapar duduk di lantai bersandar pada dinding tembok. Air matanya mengalir tak tertahan, namun ia masih berusaha meredam suaranya.


Beruntung sedang tidak ada orang yang lewat, atau pun perawat di tempat berjaga. Mungkin mereka sedang memeriksa pasien.


Ning berusaha bangun sekuat tenaga. Hingga ia berhasil berdiri. Meski terasa lemas, ia memaksakan berjalan sembari meraba- raba dinding agar ia tak jatuh terkapar di sana. Ia pun berhasil masuk ke dalam kamar dengan susah payah. Ia duduk di pojokan dan menangis sejadi- jadinya.


“Huaaaaaaaa…. Huaaaaaa….” tangisnya pecah seketika. Ia terlihat begitu kacau juga terguncang. Dan hanya menagislah yang bisa ia lakukan saat ini.


-


-


-------------- TBC---------


*************************


Happy Reading ….😉


Tilimikicih selalu seti menantikan kisah Ning nong neng jring ….😍😍🥰


Jangan luva tinggalkan jejak mu … like, komen, rate bintang 5, vote dan hadiah seikhlasnya …😉


Aylapyu all…😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2