
"Ngapain sih, Bang? Udah malem juga ketok - ketok pintu kamar orang!" Seru Jonatan yang merasa kesal atas tingkah Kevin yang selalu saja mengganggu dirinya yg sedang bermesraan dengan sang istri.
"Gue lagi ngidam," ucap Kevin seperti anak kecil yang sedang menginginkan sesuatu.
"Hah? Ngidam? Bang, jangan becanda deh, gue serius capek banget, lagian ini jam dua dini hari, Bang!" saut Jonatan yang mulai merasa kekesalannya sudah dipuncaknya.
"Gue gak ngidam makanan, gue cuma pengen tidur," ucap Kevin.
"Kalau lo emang cuma mau tidur, ya udah sih tinggal tidur, ribet amat hidup lo!" ketus Jonatan.
"Gue mau tidur di sini, sama lo!" ucap Kevin yang betul-betul sukses membuat Jonatan membelalakkan matanya.
"Eh, bang, gak lucu ya! Masa iya gue biarin lo tidur di sini bertiga sama istri gue? Gak ada, gak ada! Mending lo balik deh sebelum gue beneran menggal kepala anak lo besok pagi," ucap Jonatan yang benar-benar tak habis pikir akan keinginan Kevin.
"Eh ****, maksud gue, gue mau tidur sama lo, istri lo biar tidur di kamar sebelah sama Dira dan Davin. Yang mau tidur bertiga sama istri lo juga siapa? Bisa dimutilasi gue sama Dira," saut Kevin sambil memutar matanya jengah karena kelebaian Jonatan yang dinilai terlalu berlebihan.
"Ouh, gue kira lo mau tidur bertiga, gak cuma Dira yang akan mutilasi, lo! Gue juga pasti anyutin lo ke dasar samudera, tau gak!" seru Jonatan.
"Eh tapi, bang ini malam pertama gue tidur bareng sama istri gue, lo tega banget sih mau misahin gue sama Aira? Kapan lo punya ponakan kalau lo selalu gangguin gue dan Aira?" tanya Jonatan.
"Kan bisa besok malem, Natan! Please ya, gue bener-bener pengen tidur sama, lo!" ucap Jonatan sambil memelas.
"Huft, ya udah deh, bentar gue bilang dulu sama Aira. Kalau dia nolak, berarti lo harus balik tidur ke kamar lo dan Dira juga Davin," ucap Jonatan sambil menghela napas pasrah.
Meladeni Kevin yang tengah mengidam tidak akan bisa Jonatan lakukan. Hal itu justru akan membuatnya semakin kesal karena Kevin pasti akan keras kepala dengan keinginannya. Jadi, mau tidak mau Jonatan harus mengalah untuk sementara waktu, setidaknya Jonatan masih bisa membujuk Aira agar istrinya itu mau menolak keinginan Kevin.
"Ada apa Kevin malem-malem ke sini?" tanya Aira setelah Jonatan menghampirinya yang tengah duduk di atas kasur.
"Dia lagi ngidam katanya," ucap Jonatan dengan nada sedikit lesu.
"Ngidam? Ngidam apa? Kamu mau keluar?" tanya Aira.
"Gak, dia gak ngidam makanan. Dia ngidam pengen tidur di sini," ucap Jonatan. Apa yang Jonatan ucapkan ternyata juga sukses membuat Aira terkejut mendengarnya.
"Yang, gak bercanda kan? Maksudnya Kevin mau tidur bertiga sama kita gitu?" Tanya Aira mastikan.
"Ya gak lah, Yang bukan bertiga. Kevin maunya tidur di sini sama aku, sedangkan kamu, diminta tidur di kamar sebelah sama Dira dan juga Davin," ucap Jonatan menjelaskan maksud keinginan Kevin.
Aira begitu lega mendengar penuturan Jonatan tentang apa yang Kevin inginkan. Tanpa pikir panjang, Aira langsung beranjak hendak keluar dari kamarnya.
"Yang, mau kemana?" tanya Jonatan menghentikan langkah Aira.
"Ya mau pindah ke kamar sebelah lah, Jo! Biar Kevin bisa tidur di sini!" ucap Aira polos.
"Elah, Yang! Gak gitu juga!" seru Jonatan yang mulai merasa frustasi dengan permintaan Kevin dan juga istrinya yang terlewat sangat polos hingga tak memahami maksudnya.
"Yang, kamu bisa kan nolak keinginan Kevin? Biar dia tidur di kamar sebelah aja sama anak dan istrinya, kamu tetap tidur di sini aja sama aku," ucap Jonatan.
__ADS_1
"Jo, please deh gak usah lebay! Lagian aku juga capek, gak bisa kamu apa-apain juga, aku juga pengen sesekali tidur sama Davin," ucap Aira yang membuat Jonatan berdecak kesal.
"Ra, ayolah, ini pertama kalinya kita tidur bareng! Masa iya kamu tega nuker posisimu sama Kevin?" ucap Jonatan sambil memelas berharap sang istri mau menolak keinginan Kevin yang ia anggap menjengkelkan itu.
Jonatan benar-benar tak habis pikir. bagaimana bisa Kevin setega itu mengerjainya hingga membuat ia tak bisa tidur dengan istrinya, padahal sudah jelas malam ini adalah malam pengantin mereka.
Berkali-kali Jonatan mengumpat dalam hati setelah Aira keluar dari kamar itu dan membiarkan Kevin tidur bersama Jonatan. Malam yang seharusnya menjadi indah untuk Jonatan dan Aira, kini harus berubah menjadi malam yang begitu kelabu baginya. Berbeda dengan sang istri yang memang sebenarnya belum siap untuk melakukan hal itu, Aira begitu senang, Kevin bagaikan penyelamat dalam kegundahan hatinya.
Rasanya, ingin sekali Aira berterimakasih kepada Kevin, namun ia tak mungkin setega itu membuat suaminya kecewa. Bukan, Aira bukannya tidak ingin memberikan hak suaminya, akan tetapi, Aira hanya belum siap melakukannya, terlebih saat teman-temannya yang sudah menikah menceritakan tentang bagaimana sakitnya malam pertama itu.
Terdengar kejam memang para sahabat Aira yang menceritakan hanya bagian yang mengerikan tanpa memberitahukan kepadanya bagian yang membuat semua orang terlena karena hal itu. Namun, mau bagaimana lagi, bukan sahabat Aira dan Jonatan namanya jika mereka tidak melakukan kejahilan pada Aira dan juga Jonatan.
"Loh, Ra, ada apa?" tanya Dira yang pura-pura tidak mengetahui jika Kevin menjahili pengantin baru itu.
"Gak ada apa-apa kok, Suami lo lagi ngidam pengen tidur sama Jo, jadi gue disuruh tidur sini sama lo dan juga Davin," jawab Aira. Mendengarnya hal itu, hati Dira bersorak sorai bak mendapar rezeki nomplok karena telah berhasil menggagalkan malam pengantin sahabatnya itu.
"Ouh, ya udah, lo tidur di sini aja," jawab Dira santai dan Aira pun merebahkan tubuhnya tepat di samping Kanan Davin yang tengah tertidur pulas.
"Ra, gue boleh tanya gak?" tanya Aira.
"Ada apa? Emang lo gak ngantuk? ini udah hampir subuh loh," jawab Dira.
"Kalau lo ngantuk, gak pa pa tidur aja duluan. Kita masih bisa ngobrol besok," ucap Aira serius.
Melihat sang sahabat yang sepertinya memang sangat ingin mencurahkan isi hatinya, membuat Dira tidak tega dan meminta Aira untuk menceritakan kegundahan yang tengah sahabatnya itu rasakan. Akan tetapi, Aira yang merasa tak enak hati karena memang saat ini sudah menjelang pagi, mengurungkan niatnya untuk menceritakan apa yang menyebabkan kegelisahannya saat ini.
Dira bukannya tidak mengantuk, tapi ia juga tidak bisa mengabaikan Aira begitu saja, pasalnya Dira tau betul sahabatnya ini sangat sulit menceritakan hal yang ia rasakan, namun jika hal itu benar-benar mengganggu pikirannya, justru akan membuat Aira akan semakin memikirkannya hingga membuatnya sakit.
"Lo gak ngantuk?" tanya Aira memastikan, dan Dira hanya menggelengkan kepalanya.
"Ra, waktu lo malam pertama sama Kevin, sakit banget ya?" tanya Aira ragu-ragu.
Mendengar pertanyaan itu, sontak saja Dira ingin tertawa sekeras-kerasnya jika saja ia tidak mengingat jika saat ini Davin sedang terlelap dengan pulasnya, dan jam yang masih menunjukkan pukul setengah tiga dini hari.
"Jadi, dari tadi lo kelihatan galau gundah gulana cuma karena mikirin hal itu?" tanya Dira dan Aira hanya menganggukkan kepalanya pertanda apa yang Dira ucapkan itu adalah benar adanya.
"Ra, semuanya pasti merasakan sakit untuk yang pertama kalinya, tapi lo gak perlu khawatir, setelah itu lo akan ketagihan, nih buktinya gue udah mau punya dua. Kalau seterusnya sakit, mungkin gak akan ada Davin dan si kecil ini dalam perut gue di antara gue dan Kevin," ucap Dira menjelaskan pada sang sahabat agar Aira tidak lagi tegang menghadapi Jonatan nantinya.
Aira hanya terdiam, mencerna setiap kata yang Dira ucapkan. Dan ya benar kata Dira, jika terus menerus sakit, mana mungkin sahabatnya bisa hamil dan rumah tangga mereka baik-baik saja.
"Lo cuma mau tanya itu?" tanya Dira dan Aira hanya mengangguk. Setelah itu, Dira tertidur karena memang dirinya sudah sangat merasa kelelahan. Sedangkan Aira masih memikirkan apakah dirinya mampu melayani Jonatan dengan baik!
Banyak hal yang melayang dalam pikiran Aira tentang bisakah ia menjadi istri yang baik untuk Jonatan dan juga ibu yang sempurna untuk anak-anaknya kelak.
Sedangkan di kamar sebelah, Jonatan sedang sangat gusar, merindukan istrinya. Seseorang yang harusnya menemani dirinya tidur saat ini, berbagi cerita dan berbagi kasih. Namun, apa daya, Jonatan memiliki kakak sepupu yang sangat menyebalkan dan seperti terencana, mampu melakukan apapun untuk menggagalkan malam indahnya bersama dengan Aira.
Akan tetapi, bagaimanapun menyebalkannya Kevin, Jonatan juga tidak setega itu jika hal itu sudah menyangkut tentang mengidam. Jonatan tau betul bagaimana susahnya seseorang yang tengah mengidam mengingat para istri sahabatnya yang lain juga sudah mengalami hal itu, walaupun saat ini, di kehamilan kedua Dira, Kevin yang merasakan hal itu, tetap saja Jonatan tetap melihat bagaimana perjuangan seseorang yang sedang mengidam.
__ADS_1
Hal itu membuat pikiran Jonatan melayang jauh ke masa depan, ia membayangkan jika suatu saat nanti Aira sudah mengandung anak mereka nantinya, Jonatan berharap calon anaknya kelak tidak akan merepotkan orang tuanya sejak dalam kandungan.
"Bang, lo udah tidur?" tanya Jonatan.
"Belum, gue gak bisa tidur," jawab Kevin.
"Lo kangen sama Dira?" tanya Jonatan.
"Gak juga sih, cuma kayaknya gue kena insom nih, kenapa?" tanya Kevin.
"Lo gak tidur?" lanjut Kevin dan Jonatan hanya menggelengkan kepalanya.
"Bang, gue boleh tanya?" ucap Jonatan dengan nada yang terdengar serius.
"Apa?" jawab Kevin sambil tetap mencoba memejamkan matanya.
"Bisa gak ya, Bang gue jadi suami dan ayah yang baik untuk Aira dan anak-anak gue nantinya, seperti papa, papa Bayu, dan juga lo?" tanya Jonatan dan pertanyaan itu sukses membuat Kevin membuka matanya kembali.
"Gue juga masih terus belajar untuk menjadi suami dan ayah yang baik untuk Dira dan anak-anak," ucap Kevin sambil tersenyum getir.
"Semua orang di dunia ini gak ada yang benar-benar baik, Natan! Yang ada hanya berusaha untuk tetap melakukan yang terbaik untuk orang-orang yang kita sayang," lanjut Kevin.
Jonatan terdiam sambil mencerna setiap perkataan Kevin. "Ada yang mau lo tanyakan lagi? Kalau gak, gue mau tidur, sepertinya gue udah mulai ngantuk nih," ucap Kevin yang benar-benar sudah merasa mengantuk.
"Gak ada, Bang! Lo tidur aja duluan," ujar Jonatan. Dan tanpa permisi, Kevinpun langsung tertidur pulas meninggalkan Jonatan dengan segala pikirannya yang melayang ke masa depannya bersama Aira.
.
.
.
.
.
Jangan lupa klik like, vote, dan komen yaa....
favoritin dulu juga boleh...
Biar author makin semangat nulisnya... 😉😉😉
Oh ya, mampir juga yaa ke karya author yang lain judulnya MY STUPIDITY dan SEMUA UNTUK CINTA?...
Bisa kalian cek d profil author loh...
tengkyu...,🙏🙏🙏
__ADS_1