
"Bang, Dir, gue ke sini gak cuma mau nganter pesenan lo aja sebenarnya, bang!" ucap Jonatan penuh keraguan.
"Terus?" tanya Dira penasaran.
"Gue mau... emm... gu-..." ucap Jonatan gugup.
"Diraaa!" teriak seorang gadis bersuara cempreng, dan tentu saja suara itu milik Aira, sahabat Dira sekaligus calon istri Jonatan.
"Berisik! Ini rumah gue, bukan hutan, bisa gak manggilnya santai, lembut, kalem aja? Ada calon suami juga," protes Dira.
Aira langsung salah tingkah saat melihat Jonatan benar-benar ada di rumah itu. "Ceh, kenapa lo, kayak orang **** gitu?" cibir Dira yang melihat sahabatnya itu salah tingkah.
"Udah lah sayang, jangan digodain merekanya, kasihan tuh mukanya udah pada kayak kepiting rebus, hahahaa," ucap Kevin sambil terkekeh melihat kearah sepasang calon pengantin itu.
"Sama aja lo, bang. Laki bini serasi emang, cocok lo pada," Jonatan mendengus kesal.
"Ceh, Ra, lo serius mau ama laki tukang ngambek kayak gini?" tanya Kevin.
"Tadinya sih gak mau, Kak, tapi mau gimana lagi, tuhan milihnya dia buat gue, mau nolak, gimana caranya coba!" jawab Aira yang langsung membuat Kevin dan Dira terkekeh mendengarnya. Sementara Jonatan menatap Aira seolah tak percaya akan apa yang diucapkan oleh sang calon istri.
__ADS_1
"Yang, kamu bukannya dukung aku malah masuk komplotan mereka," ucap Jonatan merajuk.
"Sok sok an ngambek lo, Jo! Lo tau sendiri dari dulu si Aira emang selalu ada di pihak gue," ucap Dira.
"Eh iya, lo tadi bilang ke sini gak cuma mau nganter pesenan gue, terus mau ngapain lagi?" tanya Kevin mengingatkan tujuan lain Jonatan datang ke rumahnya.
"Yang, kamu udah kasih undangannya ke mereka?" tanya Aira. Mendengar kata undangan, Kevin dan Dira saling memandang dan mengernyitkan dahi.
"Ya ini mau aku kasih, yang!" seru Jonatan.
"Jadi lo tadi kayak orang gagu cuma mau ngasih undangan doang?" tanya Dira memastikan dan langsung diiyakan oleh Jonatan.
"Masalahnya, gue gak cuma mau ngasih undangan doang, bang!" ucap Jonatan.
"Lah terus?" tanya Kevin sambil mengernyitkan dahi.
"Gu- gue mau minta gratisan catering dari resto, lo," ucap Jonatan ragu.
"Cuma itu doang?" tanya Dira.
__ADS_1
"Eh yang, ngapain kamu tanya gitu? Kalau nanti mereka minta lebih, gimana?" protes Kevin.
"Lo pelit banget sih jadi abang," ucap Jonatan.
"Yang, kamu punya malu dikit lah, masa iya kamu minta gratisan? Kayak gak punya modal aja deh," ucap Aira yang merasa malu karena tingkah calon suaminya itu.
"Yang, biaya hidup ke depannya itu makin mahal, jadi kita harus berhemat. Lagian duit abang kan udah banyak, apa salahnya coba sedekah sama kita!" ucap Jonatan dengan tidak tau malunya.
Pletak...
Dua jitakan Jonatan terima secara bersamaan, dan tentu saja pelakunya tak lain adalah Dira dan Kevin.
"Lo itu bukan hemat! Tapi Pelit! Beda tipis emang antara hemat dan pelit," ucap Kevin.
"Tau, lo. Gak malu apa sama calon istri? Emang om Vian dan tante Vina gak ngasih lo modal buat nikahan apa?" ucap Dira, sedangkan Jonatan hanya tertawa melihat kekeslan Kevin dan Dira seolah dirinya tak berdosa.
"Ra, yakin lo mau nikah sama cowok kayak gini? Gak mau lo pikir ulang lagi?" tanya Dira dengan nada kesalnya.
"Yang mau gue batalin, juga kasian tante Vina dan om Vian sih sebenernya, Ra," jawab Aira polos. Mendengar hal itu, Kevin dan Dira langsung tertawa puas sedangkan Jonatan terlihat kesal karena ucapan sang calon istri yang tak mendukungnya sama sekali.
__ADS_1
Untung gue cinta, coba gak, udah gue anyutin lo, Ra ke laut,~ batin Jonatan.