
"Alexa, cukup." Bentak Kevin.
"Gak usah cari, udah gak nafsu." Ucap Dira seraya pergi meninggalkan suaminya berdua dengan Alexa.
Kevin menatap gadis dihadapannya itu dengan tatapan penuh amarah. Jika saja yang dihadapannya saat ini dengan perkataan yang begitu melukai perasaan Dira bukanlah seorang wanita, sudah dipastikan Kevin akan memberinya pelajaran dan membuatnya bertekuk lutut di hadapan Dira, hinggan meminta pengampunan Dira agar Kevin melepaskannya.
Tapi Kevin bukanlah seorang laki-laki yang bermain kasar pada seorang gadis, walaupun dia akan berbuat kasar, pasti bukan melalui tangannya sendiri. Kevin mengepalkan tangannya yang siap kapan saja ia luncurkan pada seseorang dihadapannya.
"Apa aku salah ngomong? Bukankah itu juga untuk kebaikan kalian berdua?" Ucap Alexa yang nampak tidak merasa bersalah sedikitpun.
Kevin yang sudah tidak bisa lagi menahan emosinya langsung saja membentak Alexa dengan kasar, "Alexa, lo gak punya hak untuk berbicara seperti itu dihadapan Dira. Lo gak tau apa-apa tentang kita. Dia bukan cewek manja yang seperti lo pikirin. Dia sedang mengandung anak gue, jadi wajar kalau saat ini dia bersikap seperti itu. Tapi apapun alasannya, lo gak berhak mengatur bagaimana gue harus memperlakukan istri gue sendiri. Walaupun dia sedang tidak hamil, dia berhak bersikap manja, dan gue juga berhak untuk memanjakan dan memenuhi semua keinginannya. Lo gak punya hak apa-apa untuk ngatur sikap seperti apa yang harus gue berikan untuk Dira. Sekarang lebih baik lo pergi dari hadapan gue dan jangan pernah muncul lagi. Kalau enggak, gue akan buat lo bertekuk lutut dihadapan Dira untuk memohon maaf darinya."
Alexa yang sangat terkejut melihat amarah Kevin, yang belum pernah ia lihat sebelumnya selama mengenal Kevin, memilih untuk pergi dengan rasa takut dihatinya. Dia benar-benar tidak menyangka jika Kevin tega membentaknya dengan penuh amarah di depan umum.
Kevin langsung pergi untuk menyusul istrinya, namun sudah hampir seluruh area taman tempat berlangsungnya resepsi pernikahan Eka dan Fany, Kevin tak dapat menemukan keberadaan istrinya. Seketika itu juga Kevin mulai panik, namun sebisa mungkin ia menunjukkan ekspresi yang biasa-biasa saja agar tidak membuat orang tua dan kakak iparnya itu ikut khawatir jika mengetahui apa yang baru saja terjadi.
"Sayang, kamu dimana?" Batin Kevin yang masih tetap mencari Dira.
*****
Dira yang mendengar ucapan Alexa begitu menyakitkan untuk dirinya, memutuskan untuk pergi.
"Pak Dadang, tolong antar saya pulang." Ucap Dira.
"Tapi, nyonya..."
"Panggil saya nona." Sela Dira.
"Maaf, nona, tapi acaranya kan belum selesai. Dan bukannya nona berniat menginap di sini?" Tanya pak Dadang yang sebenarnya sangat takut jika istri majikannya itu akan marah.
"Saya bosan dan ingin segera pulang. Pak Dadang mau antar saya atau tidak?" Tegas Dira.
"Baik, non, tapi saya pamit sama tuan dan nyonya besar dulu, ya non." Ucap pak Dadang.
__ADS_1
"Pak Dadang mau antar saya pulang sekarang juga atau saya akan pulang sendiri?" Ucapan Dira yang sama sekali tidak ingin dibantah, membuat pak dadang harus mengurungkan niatnya untuk berpamitan pada majikannya. Saat ini lebih penting untuk mengantar istri majikannya itu pulang. Setidaknya walaupun dia kena marah, Kevin tidak akan memarahinya berlebihan, dibandingkan jika ia membiarkan istri majikannya itu pulang sendiri, maka sudah bisa dipastikan jika pekerjannya lah yang akan menjadi taruhan.
"Baik, non. Silahkan masuk." Ucap papa Dadang seraya membuka pintu mobil untuk Dira dan mempersilakannya untuk masuk.
Mobil itupun keluar, dan meninggalkan rumah keluarga Wijaya menuju rumah keluarga Kevin.
*****
"Vin, kamu dicariin dari tadi, ayo tinggal kamu dan Dira yang belum foto bersama." Ucap mama Naira yang sedari tadi memang mencari Kevin dan Dira.
"Loh, Dira mana, Vin?" Lanjutnya.
"Mmm, itu bun, mungkin Dira lagi kumpul sama teman-teman SMA nya. Kevin cari Dira dulu ya." Ucap Kevin tentu saja membohongi mertuanya.
"Ya udah, nanti langsung aja naik dan foto ya, soalnya Eka udah nanyain Dira dari tadi. Bentar lagi Eka dan Fany mau turun untuk menemui teman-teman nya." Ucap mama Naira yang hanya diangguki oleh Kevin.
Kevin langsung mencari Dira lagi. Bahkan di dalam rumah dan kamar Dira pun sudah Kevin cari, tapi tetap tidak menemukan Dira. Kevin tidak memperdulikan acara foto keluarga itu, saat ini dia lebih perduli pada keberadaan Dira.
Lama Kevin mencari-cari Dira dan tak menghiraukan beberapa kliennya yang juga merupakan kenalan Eka saat nencoba menyapanya.
"Eeemmmm, itu Ka, gue juga lagi nyari Dira. Gue udah coba cari dia tapi belum ketemu juga. Handphonenya gue hubungi juga gak aktif." Ucap Kevin yang sudah tidak bisa berbohong lagi.
"Maksud kamu, menantu mama hilang, Vin?" Tanya mama Vera yang tiba-tiba datang dan terkejut mendengar apa yang dikatakan Kevin.
"Argh, sial. Johan." Teriak Eka memanggil seseorang. Sontak orang tersebut menghampiri Eka.
"Iya, tuan?" Ucap orang bernama Johan itu.
"Apa kamu terlalu menikmati pesta ini hingga kamu melupakan tugas utamamu?" Ucap Eka dengan nada dingin.
"Maaf tuan, tidak tuan." Ucap Johan.
"Lalu bagaimana Dira bisa hilang, huh?" Bentak Eka.
__ADS_1
"Maaf tuan, tapi non Dira tidak hilang. Dia sudah pulang ke rumah keluarga tuan Bayu, tuan." Ucap Johan.
"Apa?" Kevin terkejut mendengar ucapan Johan.
"Apa maksudmu pulang ke rumahku? Dira tadi pergi bersamaku dan kami akan menginap di sini untuk beberapa hari atas keinginannya. Bagaimana bisa dia pulang ke rumahku?" Lanjut Kevin.
"Dira pulang sendiri? Apa dia menyetir mobil sendiri?" Tanya Eka memastikan.
"Tidak, tuan. Nona Dira diantar oleh pak Dadang. Supir pribadi nona Dira dari keluarga tuan Kevin." Jelas Johan.
"Tapi mama yang bawa kunci rumah, kunci cadangan hanya papa, kamu, dan bu Rita yang pegang, Vin. Dan jam segini, bu Rita sudah istirahat." Ucap mama Vera yang mulai khawatir pada menantunya itu.
"Kevin susul Dira dulu ma." Ucap Kevin seraya langsung pergi meninggalkan acara itu.
"Apa kau ingin menceritakan sesuatu padaku Johan?" Tanya Eka.
"Iya tuan, tapi nanti setelah acara stelesai saya akan menceritakannya pada tuan." Jawab Johan yang mengerti maksud dari pertanyaan Eka.
"Aku mau tau sekarang juga." Sentak Eka dan tidak bisa dibantah.
Akhirnya Johan pun menceritakan kejadian yang membuat Dira pergi meninggalkan pesta itu, setelah mengajak Eka berbicara berdua di ruang kerja Eka. Eka sangat geram setelah mendengar cerita Johan. Rasanya ia ingin meluapkan kemurkaannya detik itu juga. Namun mengingat ini bukanlah pesta yang hanya untuk dirinya saja, melainkan Fany juga, Eka berusaha keras menahan Emosinya agar tak mengacaukan pesta pernikahan yang Fany impikan.
"Cari gadis itu dan berikan sedikit pelajaran padanya, hingga dia selalu mengingat untuk tidak pernah lagi berkata omong kosong pada siapapun." Titah Eka yang langsung dituruti oleh Johan.
♥️♥️♥️
Terus support author yaa...
Jangan lupa untuk langsung klik like, vote dan komennya juga yaa setelah kalian baca ceritanya, biar author makin semangat updatenya...
Berbagi poin untuk author juga bisa nambah pahala loh karena bisa membuat author senang... heheheee #pamaksaan
Oh ya, silakan yang mau promosi, tapi sewajarnya saja ya...
__ADS_1
terimakasih 🙏 🙏 🙏