Our Love (REVISI)

Our Love (REVISI)
Ep 65


__ADS_3

"Sayang, aku temui ayah dulu ya." Pamit Kevin yang diangguki Dira, setelah itu Kevin mencium kening Dira dan langsung pergi ke ruang kerja papanya.


Sementara Kevin pergi, Dira memutuskan untuk mandi, membersihkan dirinya. Cukup lama Dira berdiam diri di kamar mandi. Sedikit merenungi masalah-masalah yang terjadi saat ini.


"Sayang, kamu ada di dalam?" Panggil Kevin dari luar kamar mandi setelah kembali dari ruang kerja papanya, membuyarkan lamunan Dira.


"Iya, bentar lagi selesai." Ucap Dira yang langsung memakai handuk kimononya.


"Masih mual?" Tanya Kevin setelah Dira keluar dari kamar mandi.


"Udah enggak." Jawab Dira.


"Apa sangat menyiksa? Apa itu akan terjadi setiap waktu?" Tanya Kevin lagi yang mencemaskan Dira.


"Ini gak sama sekali menyiksaku. Aku justru sangat menikmatinya. Lagi pula ini hanya akan terjadi di pagi hari, selebihnya hanya terjadi sesekali aja. Gak sesering waktu pagi." Jawab Dira dengan menampilkan senyum manisnya membuat tenang hati Kevin saat melihatnya.


"Ya udah, minum ini dulu. Supaya bayi kita sehat." Ucap Kevin seraya memberikan segelas susu khusus ibu hamil yang dibuat sendiri oleh Kevin.


"Makasih, ya." Balas Dira yang kembali menampilkan senyumnya sambil meminum susu yang Kevin berikan.


"Permisi, tuan, nyonya muda, ini sarapan untuk kalian." Ucap salah satu ART di rumah Kevin yang membawa nampan berisikan makanan sebagai sarapan untuk Kevin dan Dira dan diletakkannya di meja sofa kamar Kevin.


"Kenapa repot-repot? Aku masih sanggup berjalan untuk makan bersama di meja makan." Protes Dira pada ART tersebut.


"Maaf, nyonya muda, ini perinta nyonya besar. Dan saya hanya menjalankan perintah. Apa ada lagi yang bisa saya bantu?" Ucap ART tersebut.


"Tidak, pergilah. Dan terimakasih ya." Ucap Dira dengan lembut.


"Bunda berlebihan deh." Gumam Dira.


"Gak papa, sayang. Mama hanya ingin melakukan yang terbaik untuk cucunya. Jadi kamu tidak perlu capek-capek untuk mengurusi rumah ini." Ucap Kevin sambil tersenyum.


"Tapi itu kan udah tugas aku. Aku bisa mati karena bosan jika tidak melakukan apapun." Gerutu Dira namun sangat jelas terdengar di telinga Kevin.

__ADS_1


"Kata siapa kamu tidak melakukan apapun? Kamu itu sekarang cukup melayani ku di ranjang." Ucap Kevin sambil menarik lembut hidung Dira.


"Jadi, jangan buat dirimu sendiri lelah selain untuk melayaniku." Lanjutnya.


"Dasar mesum." Balas Dira sambil tersenyum lepas membuat Kevin sangat senang karena senyum yang kemarin hilang, kini kembali lagi. Karena itu Kevin sangat bersyukur pada Tuhan telah mengembalikan senyum dalam hidupnya.


"Mesum juga, ini ayah dari anak dalam kandunganmu, sayang." Ucap Kevin sambil mengelus perut Dira yang masih rata dan menatapnya intens.


Tolong bantu ayah menjaga bundamu. Bantu ayah agar ayah tetap bisa menjaga senyum indah bundamu. Doakan ayah agar ayah bisa secepatnya menyelesaikan masalah ini, agar bundamu tak merasakan sakit lagi." Ucap Kevin dalam hatinya yang tertuju untuk anak yang masih ada dalam kandungan Dira.


"Kenapa bengong?" Ucap Dira yang memperhatikan Kevin terdiam sambil mengelus perutnya yang masih rata.


"Enggak, aku cuma gak sabar ingin segera bertemu dengannya." Ucap Kevin.


"Hahahaaa... Kamu tuh gemesin, tau gak? Dia baru akan lahir sekitar tujuh bulan lagi. Jadi, kamu yang sabar ya!" Ucap Dira lembut dengan senyum yang merekah di bibirnya, dan tangan Dira mengelus lembut pipi suaminya itu.


"Oh iya, kamu gak di pukul lagi kan sama Ayah?" Tanya Dira sambil membolak balikkan wajah Kevin, menelitinya dengan seksama.


"Hei, jangan sedih lagi dong. Bayi kita juga akan sedih di dalam sana, kalau bundanya sedih." Ucap Kevin sambil menangkup wajah Dira yang sedang berkaca-kaca.


"Aku gak sedih. Aku hanya takut, aku takut kehilangan kamu." Balas Dira yang sudah tak kuasa membendung air matanya.


"Justru aku yang takut kamu akan pergi dariku. Aku sudah berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi, dan aku pasti menepati janjiku. Tapi kamu, aku takut adanya masalah ini, kamu akan pergi meninggalkan aku." Ucap Kevin lirih.


"Berjanjilah kalau semua ini akan segera berakhir. Walaupun pada akhirnya nanti kamu tetap menikahinya, tolong jangan sia-siakan aku dan anakku." Pinta Dira yang membuat Kevin terenyuh.


"Tidak akan. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan kalian. Tapi, jika keluargamu tau..."


"Aku tidak akan mengatakan apapun pada keluargaku. Itu sebabnya aku memintamu menikahinya dari pada mereka menyebarkan masalah ini ke media, orang tua ku pasti akan sangat marah dan memisahkan kita. Aku gak mau. Lebih baik aku di madu dari pada aku harus berpisah dari kamu ka-...."


"Sssttt, jangan lanjutkan. Aku tidak akan pernah menduakanmu." Kevin menggelengkan kepalanya sambil menutup mulut dira dengan jari telunjuknya.


"Aku rasa pembahasan ini sudah cukup. Intinya aku tidak akan pernah menduakanmu." Ucapan Kevin dengan nada dingin tidak ingin dibantah, dan Dira yang memahami itu langsung bungkam.

__ADS_1


"Berapa lama kamu berhubungan dengan Raya." Tanya Dira lirih, membuat Kevin menarik nafasnya panjang dan membuangnya perlahan.


"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya dari awal. Dan tolong, setelah ini, jika kamu merasa kecewa dan mau marah, pukul saja aku, jangan dipendam." Ucap Kevin dan Dira hanya mengangguk paham.


"Raya adalah pacar pertamaku."


Deg...


Hati Dira mulai terasa sesak mendengarnya, namun tetap ia tahan, dia ingin mengetahui semua tentang wanita yang membuat rumah tangganya berada dalam masalah besar.


"Awal aku masuk kuliah dulu, aku dan Raya mulai dekat. Tak lama setelah itu, Raya mengungkapkan jika dia menyukaiku dan ingin kami memiliki hubungan lebih dari sekedar sahabat." Ucapan Kevin terhenti beberapa saat.


"Tapi aku tidak langsung mengiyakan keinginannya. Karena dalam hati ku, aku hanya menginginkan kamu. Hingga suatu saat, aku pergi ke sini untuk memantaumu secara langsung. Aku ingin melihat gadisku yang kata kakaknya waktu itu, gadisku itu tumbuh menjadi gadis jelmaan bidadari. Akan tetapi saat aku ke sini, aku harus melihat sesuatu yang sangat membuatku terluka. Aku melihatmu pergi berlibur ke pantai bersama Natan." Lanjut Kevin sambil menunduk lesu saat mengucapkan kalimat terakhirnya.


"Di sana kalian terlihat sangat dekat, bahkan jika orang lain melihat kalian, mereka akan berpikir kalau kalian adalah sepasang kekasih. Kalian berpelukan, hingga Natan akan mencium mu. Setelah melihat itu, ada sesak yang aku rasakan di hati aku, kemudian aku memutuskan untuk pergi dari sana karena aku gak akan sanggup jika sampai melihat Natan menciummu." Lanjut Kevin yang semakin tertunduk mengingat hari itu. Hari yang membuatnya harus menanggung masalah berat saat ini.


"Cium? Tapi waktu it-..."


.


.


.


.


.


Tetap support author yaa...


Habis baca, jangan lupa like, komen, dan vote juga boleh banget... Hehehe...


terimakasih 🙏 🙏 🙏

__ADS_1


__ADS_2