
"Sayang, anak-anak sudah pada gede, sepertinya mereka butuh adik lagi, deh!" ucap Kevin.
Tentu saja Dira sangat shock mendengar hal tersebut. Bisa-bisanya suaminya itu berpikir untuk menambah anak di saat Davin sudah memasuki usia kuliah.
Dira memelototkan matanya ke arah sang suami, melayangkan protes dari pancaran mata bulat indahnya.
Sedangkan Kevin, seperti merasa tak bersalah, justru semakin menunjukkan sikap manja pada istri kesayangannya itu.
Laki-laki itu mulai mendekati Dira dan hendak memeluk tubuh ramping istrinya, sebelum akhirnya Davin muncul dan mengacaukan rencana Kevin.
"Hayo, Ayah mau ngapain tuh sama Bunda? Jangan sampai ya, Yah Bunda hamil lagi! Davin gak mau punya adik bayi! Mending Davin aja yang ngasih kasih kalian cucu dengan Kiara nanti," ucap Davin.
Dira yang mendengar penuturan tersebut, tak segan melempar tutup panci yang dipegangnya pada sang anak.
Davin tentu berdecak kesal karena Bundanya selalu saja melakukan hal itu jika dia salah berucap.
"Makanya, kalau ngomong dijaga! Awas aja ya, kalau kamu macam-macam ke Kiara sebelum waktunya!" Dira memberi peringatan keras pada Davin.
"Pagi, semua!" ucap Jonatan.
__ADS_1
"Hai, uncle Jo! Aunty gak ikut?" tanya Davin.
"Enggak, tantemu lagi enggak enak body," jawab Jonatan.
"Aira sakit apa, Jo?" sambung Dira.
"Biasa, morning sickness," ucap Jonatan santai.
"Ini gue ke sini karena Aira pengen makan masakan lo hari ini, Dir!" lanjutnya seolah hal itu sudah terbiasa.
Dira begitu kaget mendengar sahabatnya itu tengah mengandung lagi. Pasalnya, Aira sempat mengatakan jika dia tidak ingin hamil lagi mengingat usianya yang sudah memasuki usia beresiko tinggi untuk hamil lagi.
"Bunda mau hamil lagi? Wah ... Kei gak sabar pengen punya adik bayi lagi," ucap Keira dengan antusias.
Gadis remaja tersebut langsung mendapatkan tatapan tajam dari sang Bunda.
Akan tetapi, entah kenapa itu bukanlah hal yang menakutkan bagi Keira.
"Enggak lucu ya, kalau Bunda hamil lagi! Pokoknya Davin gak setuju kalau Bunda hamil lagi," ucap Davin seraya mengunyah sarapannya.
__ADS_1
Keira yang mendengar itu hanya berdecih kesal. Gadis itu ingin sekali merasakan menjadi seorang kakak, karena menurutnya, Davin
"Ya elah, gue pagi-pagi ke sini mau minta sarapan, malah disuguhi adegan percekcokan rumah tangga," ujar Jonatan.
"Untung lo bilang kalau Aira lagi ngidam. Coba enggak, gue enggak izinin Dira ngasih lo sarapan," sahut Kevin.
"Aunty hamil lagi?" tanya Keira, dan langsung mendapat anggukan dari Jonatan.
"Tuh, kamu nanti urus aja anaknya uncle Jo. Enggak usah suruh bunda hamil lagi! Atau kalau kamu mau ponakan, nanti kakak buatin sama kak Kiara."
Ucapan Davin langsung saja mendapat respon empat geplakan di kening mulusnya. Tak perlu ditanya lagi, karena pelakunya sudah jelas adalah orang tua, adik, serta omnya sendiri.
"Jangan asal ngejeplak tuh mulut! Kawin dulu!" seru Jonatan.
"Lo mau ngajarin anak gue yang enggak-enggak? Malah nyuruh dia kawin dulu! Nikah dulu, baru kawin," ucap Kevin dengan nada ketusnya.
Keira yang sudah terbiasa dengan adegan-adegan tersebut, tetap melanjutkan sarapannya dengan santai.
Rumahnya akan selalu ramai, bukan karena pertengkaran, melainkan karena canda tawa di dalamnya.
__ADS_1
Keira sangat bersyukur memiliki orang tua yang selalu terlihat harmonis. Dia tak pernah mengeluh jika ada kebanyolan yang tidak seharusnya dia dengar. Begitulah keluarganya. Begitulah orang tuanya. Mereka tetap kompak, walaupun sering ada perdebatan kecil di dalamnya.