
Tatapan tajam yang Dira berikan pada Kevin membuat Kevin takut Dira akan semakin marah.
"Ya udah, siniin foundation kamu, biar aku olesin leher kamu." Ucap Kevin meminta foundation yang biasa Dira pakai.
"Untuk apa?" Tanya Dira ketus.
"Ya untuk nutupi tanda-tanda ini sayang." Jawab Kevin sambil menunjuk puluhan tanda merah di leher Dira.
"Hahahahaa. Wajah kamu gemesin banget ciii kalo lagi khawatir." Ucap Dira sambil tertawa melihat ekspresi Kevin.
"Kok malah ketawa?" Tanya Kevin heran.
"Seperti kata kamu, tanda ini untuk menunjukkan bahwa aku milik kamu. Untuk di rumah, oke, aku akan bersikap santai dan gak akan peduli sama ini. Tapi kalau di luar rumah, aku akan tutupi ini. Toh kita udah nikah juga, jangankan hanya tanda ini, kamu memberi ku tanda dengan membuat perutku berisi seorang bayipun gak akan jadi masalah bukan?" Ucap Dira dengan nada manjanya sambil menunjuk beberapa tanda merah di lehernya dan langsung mengalungkan lengannya di leher Kevin sekaligus mengerlingkan mata pada lelaki tampan yang sudah sah menjadi suaminya itu dengan niat menggoda sang suami.
"Kalau gitu, mari segera kita isi rahim kamu dengan benih cinta kita." Ucap Kevin sambil memeluk tubuh ramping Dira.
"Ish, dasar genit. Lepas ih, aku mau masak. Emangnya kamu gak mau makan malam?" Balas Dira sambil berusaha melepas pelukan erat Kevin.
"Aku genit sama istriku sendiri, apa salahnya? Yang salah kalau aku genit sama wanita lain." Ucap Kevin.
"Coba aja kalau kamu berani mesum sama wanita lain, aku gantung kamu di pohon cabe." Mendengar ucapan Dira membuat Kevin bergidik ngeri.
"Gak akan, sayang," Ucap Kevin.
"Ya udah lepasin dulu, aku mau masak, sayang." Dira sengaja memanggil Kevin dengan sebutan sayang agar suaminya itu mau melepas pelukannya.
"Aauuuww..." Pekik Dira saat merasa perutnya sedikit kram.
"Yang, kamu gak papa? Atau kamu lagi bercanda supaya aku lepasin kamu?" Ucap Kevin khawatir.
"Aku serius. Perut aku kram. Aku mau ke kamar mandi dulu bentar ya." Ucap Dira yang merasa akan kedatangan tamu. Kevin pun mengiyakannya.
"Yang, kamu gak papa? Perutnya masih sakit? Aku panggilin dokter, atau kita ke rumah sakit aja ya?" Ucap Kevin yang kali ini benar-benar khawatir setelah melihat wajah Dira memucat setelah keluar dari kamar mandi, dan bergegas membopong tubuh mungil Dira ke ranjang agar Dira bisa beristirahat.
"Gak perlu. Aku gak papa kok. Ak-...."
__ADS_1
"Apanya yang gak papa sih, yang? Muka kamu pucat gitu, aku telfon dokter keluarga aku dulu." Ucap Kevin sambil meraih ponselnya hendak menelfon dokter keluarga Wiratama.
"Aku beneran gak papa kok, yang. Tapi sepertinya kamu yang akan kenapa-kenapa." Ucap Dira dengan tersenyum sambil meraih ponsel yang Kevin pegang.
"Udah tau aku akan kenapa-kenapa kalo sampek kamu sakit, masih aja bilang gak papa. Siniin hp aku, aku mau telfon dokter supaya kamu gak kesakitan lagi." Ucap Kevin hendak meraih ponselnya.
"Maksud aku, bukan gitu. Tapi kamu yang akan kenapa-kenapa karena harus nunggu seminggu lagi untuk bisa dapat hak kamu." Dira menjelaskan keadaannya membuat Kevin tersadar apa yang sedang terjadi pada istrinya.
"Maksud kamu, kamu lagi halangan?" Tanya Kevin memastikan.
"Iya." Ucap Dira singkat sambil tersenyum.
"Gak papa kan kamu nunggu seminggu lagi?" Tanya Dira sambil merangkulkan lengannya ke bahu Kevin.
"Aaarrrgghhh, Tuhan... Cobaan apa lagi ini?" Geram Kevin dalam hatinya.
"Hhmmmm, ya udah deh, mau gimana lagi?" Ucap Kevin lesu.
"Kamu sih nunda-nunda. Coba dari tadi mau," Lanjut Kevin.
"Ck. Kamu tuh ya, gak sabaran banget tau gak." Ucap Dira sambil menoel hidung mancung suaminya.
"Boleh, asal kamu bisa tahan," Ucap Dira sambil tertawa sengaja menggoda sang suami.
Cup...
"Aku pasti tahan kok, yang penting gak jauh dari kamu." Ucap Kevin setelah mengecup lembut kening Dira.
"Dasar, gombal." Gumam Dira.
"Ya udah, katanya mau masak? Ayo aku temenin. Aku juga pengen tau kamu beneran masak atau hanya bantu lihatin bibi masak." Ucap Kevin meragukan kemampuan Dira dalam hal masak memasak.
Pletak...
"Sakit, yang." Ucap Kevin sambil mengelus dahinya yang baru saja mendapat jitakan dari sang istri.
__ADS_1
"Makanya, jangan ngeremehin aku. Kamu pikir, gini-gini aku gak bisa masak?" Protes Dira.
"Mulai malam ini, kamu cuma boleh makan masakan aku, gak boleh makan masakan mama atau bunda apa lagi bibi." Putus Dira untuk meyakinkan sang suami.
"Kalau masakan kamu gak enak, hukumannya harus mijitin aku malam itu juga. Gimana?" Tantang Kevin.
"Oke, aku setuju. Tapi kalau masakan aku enak, kamu yang pijit aku, dan cium pun gak boleh. Deal?" Tantang balik Dira.
"Enak aja, gak bisa gitu dong, yang. Melayani kebutuhan biologis suami itu adalah kewajiban istri. Ngurus rumah mungkin masih bisa kita serahin ke ART, tapi urusan suami, hanya bisa dilayani oleh istri. Kamu mau nanggung dosa karena nolak aku?" Ucap Kevin yang kali ini sudah membawa kedudukannya sebagai suami.
"Ish. Bawa-bawa kedudukan. Ya udah Oke, aku ganti tantangannya. Gimana kalau masakannya enak, tiap habis makan, kamu harus pijitin aku dan kasih aku coklat." Ucap Dira memberi tantangan baru untuk Kevin.
"Oke, Deal. Tapi masalah pijit seperti apa, itu terserah aku. Kamu gak boleh atur aku, kamu cukup nikmati tanpa protes." Balas Kevin dengan ide jahilnya.
"Hhhmmm, Oke deh, aku setuju. Tapi kamu harus mijit yang bener! Jangan aneh-aneh." Tegas Dira.
"Gak aneh-aneh kok. Kamu tenang aja." Ucap Kevin dengan menampilkan senyum smirknya.
"Ya udah ayo masakin buat aku, aku jadi gak sabar pengen makan masakan kamu." Lanjut Kevin sambil beranjak dari duduknya dan mengajak Dira untuk pergi ke dapur.
Setelah mereka berdua di dapur, Dira mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan Dira gunakan untuk memasak.
Bibi yang baru selesai dengan pekerjaan rumah lain dan masuk ke dapur hendak membantu Dira untuk memasak, langsung Dira tolak secara halus, ia ingin suaminya memakan apa yang ia masak sendiri, bukan hasil bantuan dari mama atau bibi.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.