Our Love (REVISI)

Our Love (REVISI)
S2: Kecemburuan Dira


__ADS_3

Vin, gue lupa besok, lo harus tanda tangan kesepakatan kerjasama dengan perusahaannya Tania. ~ sebuah pesan singkat yang dikirim oleh Rian.


Tania? Kok aku seperti pernah denger nama itu ya? ~ gumam Dira dalam hati.


"Ada apa, Yang?" tanya Kevin yang baru saja keluar dari kamar Mandi.


"Eeee enggak, gak ada apa-apa kok," jawab Dira yang sedikit terkejut mendengar suara Kevin.


"Oh ya, kamu jadi dapet client baru dari papa?" tanya Dira.


"Iya, dan ternyata itu perusahaan milik keluarga temen kuliahku dulu," ucap Kevin.


"Namanya Tania?" tanya Dira. Kevin langsung menghentikan aktivitasnya yang tengah mengeringkan rambutnya saat Dira menyebut nama Tania.


"Iya," Jawab Kevin singkat dan kemudian melanjutkan lagi aktivitasnya.


"Aku sepertinya pernah denger nama Tania, tapi dimana ya?" tanya Dira.


"Kamu inget gak, dulu sebelum kita menikah, kamu pernah salah paham sama aku karena lihat aku dipeluk cewek lain pas kamu kebetulan lagi main ke kantorku, terus kamu marah dan pergi dari sana tanpa dengerin penjelasanku sampai akhirnya kamu kecelakaan," Kevin mencoba memgingatkan Dira tentang pertemuan pertamanya dengan Tania.


Sejenak Dira tertegun mengingat tentang gadis itu. Dadanya terasa sesak seperti ada yang meremas bagian ulu hatinya. Air matanya seolah memberontak ingin segera dialirkan namun sebisa mungkin ia tahan.


"Kamu kenapa?" tanya Kevin yang menyadari Dira hanya diam, tak memberi komentar apapun.


"A-aku gak pa pa kok," jawab Dira sambil menunjukkan senyum yang ia paksakan.


"Hei, aku gak ada apa-apa sama dia. Kamu gak perlu berpikir yang aneh-aneh," ucap Kevin lembut, seolah ia memahami apa yang sedanh istrinya itu rasakan.


"Aku gak pa pa, Vin, udah yuk tidur! Aku capek banget hari ini," ucap Dira sambil memalingkan wajah karena tak ingin melakukan kontak mata dengan suaminya.


Menyadari betul ada perubahan dari sorot mata istrinya, Kevin berusaha menenangkan Dira melalui pelukan, Kevin tak dapat mengutarakan isi hatinya saat ini karena memang Kevin tau betul jika ia memaksakan untuk berdebat hal itu tidak akan membuat Dira semakin tenang.


*****


"Sayang, nanti aku pengen makan siang buatan kamu, jadi tolong siapin biar di ambil sopir ya!" ucap Kevin sesaat sebelum dirinya berangkat ke kantor.


"Okey siap! Nanti biar aku yang antar setelah jemput Davin dari sekolahnya," saut Dira.


Dira begitu bersemangat memasak makan siang untuk suaminya. Dira memasak beberapa makanan kesukaan Kevin salah satunya udang asam manis yang selalu menjadi favorit suaminya itu sejak masih kecil.


Selesai memasak, Dira langsung bersiap untuk menjemput Davin di sekolahnya dan kemudian ke kantor Kevin untuk makan siang bersama di sana. Hati Dira begitu bahagia hari ini, sudah lama rasanya Dira tidak menginjakkan kaki di kantor suaminya itu.


Namun, setibanya di kantor Kevin, entah kenapa tiba-tiba saja perasaan Dira merasa aneh, perasaan itu sepertinya pernah ia rasakan dulu, apa mungkin karena Tania? Entahlah, Dira tidak ingin menerka apapun yang bisa membuat hatinya terluka. Dira hanya berusaha berpikir positif dan percaya pada sang suami.


Dengan langkah pasti Dira menyusuri lorong menuju ruangan Kevin. "Eh, Dir, kamu ke sini?" tanya Rian saat mereka bertemu di depan ruangan Kevin.


"Eh iya, ini aku mau antar makan siang untuk Kevin, sekalian nanti kak Rian juga ikut makan siang bareng kita ya!" pinta Dira.


"Wah, jadi gak enak dong aku dimasakin sama bu bos, hahahaa," ucap Rian sambil tertawa yang juga disambut senyuma manis oleh Dira.


"Oh ya, Kevin ada di dalem kan?" tanya Dira.


"Iya, Kevin ada di dalem, ada Tania juga sih di dalem, ini aku lagi mau antar berkas untuk kerjasama mereka," ucap Rian.


Mendengar nama Tania berada dalam ruangan suaminya entah kenapa rasanya hati Dira terasa nyeri seperti ada yang menghantamnya.


"Vin, ini berkas-berkas ya-..." ucapan Rian terhenti sebelum laki-laki tampan itu menyelesaikan kalimatnya. Hal itu stentu saja membuat Dira yang berada di belakang Rian penasaran dengan apa yang terjadi.


Deg


Hati Dira hancur, dengan sekejap kebahagiaan yang Dira rasakan beberapa saat lalu sirnah begitu saja saat melihat suaminya memeluk dan mengusap air mata perempuan lain di hadapannya.


"Dira," ucap Kevin.


"Ayah, siapa tante ini?" tanya Davin.


"Sayang aku bisa jelasin, ini gak seperti yang kamu pikirkan," ucap Kevin yang mengacuhkan pertanyaan Davin.


"Davin, ikut om Rian sebentar yuk, om punya banyak coklat di meja kerja om. Davin mau kan?" ucap Rian, mengajak Davin keluar dari ruangan Kevin agar bocah itu tidak terlalu jauh melihat adegan yang tidak seharusnya ia lihat.

__ADS_1


"Mau om, ayo ke meja om sekarang, Davin pengen makan coklat, nanti sisanya mau Davin kasih ke Cia," ucap Davin dengan kepolosannya.


"Bunda, Davin boleh kan makan coklat sama om Iyan?" tanya Davin.


"Boleh sayang, kamu ikut om Rian dulu aja, nanti bunda nyusul," ucap Dira dengan suara yang sudah bergetar seolah sedang menahan sesuatu.


"Gue bawa Davin dulu, kalian selesaikan dulu urusan kalian," ucap Rian yang kemudian langsung membawa Davin keluar ruangan tersebut.


Rasanya ingin sekali Rian mengumpat dan menghajar sahabat sekaligus bos nya itu. Rian benar-benar tak habis pikir dengan kebodohan yang Kevin lakukan. Bisa-bisanya sahabatnya itu memeluk wanita lain, di kantor pula. Tidak kah Kevin tau jika Dira hari ini akan ke kantor? Apakah Kevin sudah masuk ke dalam perangkap Tania? Apakah Kevin benar-benar mampu mengkhianati Dira yang tengah mengandung anak kedua mereka?


Begitu banyak pertanyaan yang muncul di benak Rian. Namun, apapun alasannya, Rian yakin betul jika Kevin sangat mencintai Dira. Namun adegan berpelukan dengan Tania tadi itu apa? Entahlah, Rian tak ingin menghakimi Kevin begitu saja, Rian akan menunggu penjelasan dari sahabatnya itu nanti.


"Dira, gue sama Kevin tadi cu-.."


"Gue gak butuh penjelasan apapun dari, lo!" ucap Dira dengan nada dingin.


"Aku cuma butuh penjelasan kamu!" lanjut Dira sambil menatap tajam ke arah Kevin.


Sekuat tenaga Dira menguatkan hatinya, menahan air matanya agar tak jatuh menetes di hadapan suami dan wanita yang telah sukses menghancurkan moodnya hari ini.


"Vin, kayaknya kehadiran gue di sini cuma bikin suasana panas, lebih baik gue pergi dulu, nanti kita laniutin meetingnya lain waktu aja, gue pamit," ucap Tania seraya pergi meninggalkan ruangan Kevin.


Setelah kepergian Tania, air mata yang sejak tadi Dira tahan, lolos meluncur begitu saja dari sudut mata indah Dira dan membasahi pipinya.


"Sayang, please jangan nangis, aku bisa jelasin semuanya, aku gak ada hubungan apapun sama Tania," ucap Kevin sambil hendak memeluk istrinya itu.


"Jangan mendekat! Aku gak mau kamu sentuh aku setelah kamu memeluk wanita lain," ucap Dira dalam isakannya. Ucapan Dira berhasil menghentikan langkah Kevin.


"Dira, tolong dengerin dulu, ak-.."


"Tuh kan, sekarang udah gak panggil sayang lagi," ucap Dira merajuk.


"Astaga, Sayang bukan gitu maksudku," ucap Kevin.


"Udah deh, bilang aja kalau kamu suka beneran kan sama Tania! Kamu mau ninggalin aku dan Davin kan karena sekarang aku gendut, gak seksi lagi, aku gak cantik lagi kan! Kamu lupa aku gini juga karena aku lagi hamil anak kamu!" cerocos Dira.


Bukannya menjawab, Kevin malah mengecup lembut bibir istrinya. "Kalau kamu gak mau berhenti bicara, aku akan cium kamu terus," ucap Kevin.


"Kamu apaan sih, gak lucu tau, masa cium-cium di kantor? Apa kata karyawan kamu nanti?" tanya Dira sambil tersipu malu.


"Ya biarin, ini kantor aku, kenapa memangnya? Gak akan ada yang berani protes. Lagian ini di ruanganku sendiri, jadi mau ngelakuin apapun di sini gak akan jadi masalah," ucap Kevin.


"Termasuk pelukan sama cewek lain seperti tadi?" tanya Dira. Hal itu membuat Kevin melepaskan pelukannya dan menatap tajam ke arah istrinya.


"Kenapa lihatin aku seperti itu? Omonganku salah?" tanya Dira polos.


"Gak salah kok sayang, tapi kan-..."


"Gak salah berarti bener kan, kamu emang sengaja pengen pelukan sama dia!" ucap Dira.


"Iya sengaja tapi gak ada niat sedikitpun untuk melakukan itu karena hal lain selain sebagai perpisahan," ucap Kevin.


"Perpisahan?" tanya Dira heran.


"Iya, maksudnya dia udah mau move on dari aku," ucap Kevin.


"Duduk dulu yuk! Aku jelasin semuanya," ucap Kevin.


Kemudian Kevin menjelaskan semua tentang Tania dan apa yang membuatnya memeluk dan menghapus air mata wanita itu. Jujur saja hati Dira masih terasa sakit, namun tidak alasan untuk Dira tidak mempercayai Kevin. Suaminya memang tidak pernah menyembunyikan apapun darinya, jadi kali ini pun Dira percaya dengan apa yang Kevin utarakan.


Setelah kesalah pahaman antara Kevin dan Dira bisa terselesaikan dengan baik, Kevin memanggil Davin dan juga Rian untuk makan siang bersama.


*****


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam namun Kevin belum juga pulang, hal itu tentu saja membuat Dira cemas dan khawatir. Terlebih lagi ponsel suaminya itu tidak bisa dihubungi, begitu juga ponsel pak Dadang yang memang setiap hari menyopiri Kevin kemanapaun suaminya itu pergi.


Dira mondar-mandir karena cemas memikirkan suaminya itu, hingga pukul sepuluh malam, Kevin juga belum pulang, banyak hal yang sudah Dira lakukan untuk mengalihkan kecemasannya, namun tak berhasil hingga rasa kantuk itu datang, membuat Dira tanpa terasa tertidur di sofa ruang tamu rumahnya.


"Pak Dadang, boleh pinjam hpnya? Saya mau telfon Dira, dia pasti sangat cemas karena saya pulang terlambat tanpa mengabarinya dulu tadi," ucap Kevin saat dalam perjalanan pulang.

__ADS_1


"Waduh, hp saya rusak, mas Kevin besok rencananya mau servis hp," ucap pak Dadang.


Hati Kevin begitu tak karuan, dia merasa bersalah karena tak mengabari Dira dulu tadi jika dirinya akan ada pertemuan di luar kantor. Dan sialnya lagi, Kevin lupa mencharge ponselnya hingga membuat ponselnya mati dan tidak bisa dihubungi.


Kevin tau betul jika saat ini Dira pasti sangat cemas memikirkannya. Akan tetapi Kevin sangat berharap jika Dira tidak berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya mengingat kejadian hari ini telah membuat perasaan istrinya itu begitu terluka.


Setelah tiga puluh menit, akhirnya Kevin sampai di rumah dan betapa terkejutnya Kevin saat melihat istrinya tengah tertidur di ruang tamu.


Perasaan bersalah Kevin menyeruak dan membuat Kevin ingin sekali memeluk tubuh istrinya sambil mengucapkan maaf, namun urung ia lakukan melihat wajah istrinya yang terlihat begitu lelah.


Dengan perlahan Kevin mengangkat tubuh istrinya untuk ia pindahkan ke kamar, namun belum setengah perjalanan, Dira terbangun sambil menatap Kevin dengan tatapan yang tak bisa Kevin artikan.


"Tidur lagi aja, biar aku gendong kamu ke kamar," ucap Kevin.


"Turunin aku sekarang, aku bisa sendiri ke kamar," ucap Dira dingin.


"Gak akan, kamu tidur aja," bantah Kevin.


"Kalau gak diturunin, aku berontak biar kita jatuh bareng," ucap Dira. Hal itu tentu saja berhasil membuat Kevin menurunkan Dira dari gendongannya.


"Kamu dari mana aja? Jam segini baru pulang!" ucap Dira sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Maaf sayang, tadi aku diajak papa menghadiri acara makan malam dengan dewan direksi," ucap Kevin.


"Terus kenapa gak bisa dihubungi? Dan kenapa tadi gak bilang sebelum aku pulang dari sana?" tanya Dira penuh selidik.


Dira bukan tidak percaya pada sang suami, akan tetapi Dira hanya ingin mendengar penjelasan Kevin. Bukankah suaminya itu memang bersalah karena sudah membuatnya cemas hingga ia tertidur di sofa ruang tamu?


"Handphone aku mati, tadi aku udah mau hubungi kamu dengan pinjam hp nya pak dadang, tapi ternyata hp dia rusak," jawab Kevin.


"Dan kenapa aku gak ngasih tau kamu tadi, karena ini juga acara dadakan. Pas aku mau pulang, papa telfon aku dan minta aku dateng ke restaurant untuk nemenin papa, kalau kamu gak percaya, kamu bisa telfon papa atau kita ke rumah papa sekarang juga!" ucap Kevin yang berusaha membuat Dira percaya.


"Okey, aku percaya, tapi kalau sampai kamu bohong, jangan harap aku akan maafin kamu, dan jangan pernah mimpi bisa ketemu aku dan anak-anak lagi," ucap Dira dengan nada penuh ancaman.


Bukannya takut, Kevin justru tersenyum dan semakin gemas pada istrinya itu. Tanpa aba-aba, Kevin langsung menggendong Dira ala bridal style menuju ke kamar mereka.


"Mau ngapain?" tanya Dira setelah Kevin menidurkannya di atas ranjang.


"Gak mau ngapa-ngapain, cuma pengen nidurin kamu," ucap Kevin jahil.


"Hah!" seru Dira. Melihat ekspresi sang istri menjadi semakin gemas dan ingin sekali untuk memakan istrinya itu malam ini. Akan tetapi badannya yang terasa lengket membuatnya harus menunda keinginannya.


"Gak usah heran gitu deh, bukannya udah sering?" goda Kevin sambil menunjukkan senyum jahilnya. Melihat hal itu Dira langsung bergidik ngeri, membayangkan apa yang akan Kevin lakukan nanti.


"Aku mau mandi dulu," ucap Kevin sambil mengedipkan sebelah matanya pada Dira.


Kayaknya gak akan baik deh malam ini, mending aku tidur aja,~ batin Dira.


Setelah lima belas menit, Kevin pun keluar dari kamar mandi dengan badan yang sudah lebih terasa segar. Dengan perasaan senang Kevin mendekat kepada sang istri, namun kesenangannya tak berlangsung lama saat melihat istrinya itu sudah tertidur pulas.


"Puasa lagi deh," gumam Kevin, namun masih terdengar jelas di telinga Dira yang hanya pura-pura tidur, dan tentu saja, dira tersenyum puas dari balik selimutnya.


.


.


.


.


.


jangan lupa like, vote, dan komen yaa...


jangan lupa juga untuk meramaikan karya author yang lain yang judulnya MY STUPIDITY dan SEMUA UNTUK CINTA?...


2 karya author yang lain itu bisa kalian cek langsung di profil author yaa...


terimakasih 🙏 🙏 🙏

__ADS_1


__ADS_2