
Tok... Tok... Tok...
Mendengar ketukan pintu kamar, Kevin dan Dira mengakhiri kegiatan mereka. Dan Kevin langsung menuju kearah pintu untuk melihat siapa yang sudah mengganggu kegiatan yang baru saja akan dimulainya.
"Huft. Hampir aja." Dira bernapas lega. Dan buru-buru masuk ke dalam kamar mandi sebelum Kevin nanti akan menggodanya lagi.
Ceklek...
"Bunda? Ada apa bun?" Ucap Kevin yang sedikit kaget karena ternyata sang mama mertualah yang tengah mengganggu kegiatannya bersama sang istri.
"Oh enggak, mama cuma mau mastiin Dira gak kesusahan kan buka gaunnya?" Tanya mama Naira sambil mengintip ke dalam kamar pengantin itu.
"Dira... sayang?" Kevin menoleh memanggil Dira namun tak terlihat siapapun di belakangnya. Kemudian terdengar suara gemericik air dari kamar mandi, menandakan ada seseorang di dalamnya.
"Dira lagi mandi, bun." Ucap Kevin.
"Ya udah, nanti selesai mandi, kalian segera turun ya, sekalian makan bareng." Ucap mama Naira yang langsung diiyakan oleh Kevin. Setelah mengucapkan itu, mama Naira langsung pergi dari kamar pengantin itu menyisakan Kevin yang masih terpaku, entah apa yang ada dalam pikiran lelaki tampan itu.
Sambil menunggu Dira selesai dari ritual mandinya, Kevin merebahkan tubuhnya di atas kasur yang setiap hari digunakan istrinya itu untuk tidur. Sambil memainkan ponselnya untuk sekedar mengecek pekerjaannya.
"Aaahhhh sial, kenapa bisa lupa sih bawa baju ganti." Gumam Dira yang karena terburu-buru masuk ke dalam kamar mandi jadi melupakan baju gantinya. Sebenarnya memang itu kebiasaan Dira, tapi sekarang kan dia sudah menikah, jadi tidak mungkin baginya selalu melilitkan handuk setelah keluar dari kamar mandi. Karena bagaimanapun juga, seorang laki-laki dewasa pasti tidak akan membuang kesempatan jika melihat kemolekan tubuh seperti yang dimiliki Dira.
Kalau hal itu terjadi setiap hari, hal itu justru akan membahayakan Dira sendiri karena sudah pasti dia akan selalu di serang oleh Kevin.
Dira pun mengintip keluar untuk memastikan keberadaan Kevin. Namun Kevin yang menyadari Dira membuka pintu kamar mandi, langsung berpura-pura untuk tidur dan itu sukses mengelabui Dira yang akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar mandi.
Dengan berbekal handuk yang dililitkan ditubuhnya, Dira dengan perlahan keluar dari kamar mandi setelah beberapa kali memastikan Kevin benar-benar tidur, berniat untuk mengambil pakaiannya lengkap dengan pakaian dalamnya, kemudian segera kembali ke kamar mandi untuk memakai pakaian yang sudah ia ambil. Namun tangannya tertahan saat hendak membuka kembali pintu kamar mandi.
"Kevin." Dira terlonjak saat mengetahui Kevin yang menahan tangannya. Hatinya mulai tak menentu, degup jantung Dira mulai berdetak tak beraturan.
"Aku lapar, sayang." Ucap Kevin lirih seraya menarik tangan Dira hingga tubuhnya terpental dan masuk dalam pelukan Kevin, dan baju yang sedang Dira pegang tadi, sudah jatuh ke lantai.
"Ya, makanya ayo cepet kamu mandi, habis itu kita makan di bawah. Aku juga laper." Ucap Dira sambil berusaha melepaskan pelukan Kevin dari tubuhnya.
"Aku mau makan kamu, bukan mau makan masakan bunda." Balas Kevin yang semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"I-iya, makan akunya nanti aja ya, aku beneran laper, Kevin." Ucap Dira berusaha menghindari serangan Kevin.
"Nanti? Setelah makan?" Tanya Kevin dengan senyum jahilnya.
"Nanti malem, Kevin." Saut Dira.
"Aku maunya sekarang, atau aku gak akan berhenti begini walaupun di depan ayah dan bunda." Ucap Kevin dengan memberi sedikit ancaman pada Dira membuat Dira semakin salah tingkah.
"Please, nanti malem, ya, Vin. Kalau kamu mau nanti malem, aku janji, aku gak akan minta berhenti sampai kamu sendiri yang menghentikannya." Ucap Dira sambil membujuk Kevin.
"Oke, gak papa. Aku terima permintaan kamu, kita lakuin nanti malam." Ucap Kevin membuat Dira sedikit bernapas lega.
"Ya udah, kalo gitu lepasin dulu ini, aku sesak." Pinta Dira agar Kevin melepas pelukannya yang sangat erat.
"Panggil aku sayang, baru akan ku lepaskan." Kevin memberi syarat pada Dira jika ingin melepaskan pelukannya. Dira hanya mendengus kesal karena suaminya itu selalu saja membuatnya kelimpungan.
"Oke... Oke, Sayang. Udah kan?" Ucap Dira.
"Yang ikhlas dong, sayang. Kalau gak ikhlas, gak akan aku lepas." Goda Kevin pada istrinya.
"Oke... oke..." Kevin pasrah melepas pelukannya pada sang istri. Namun belum melepaskan sepenuhnya, Kevin kembali mendaratkan ciumannya pada Dira, dan perlahan menurunkan ciumannya ke leher Dira, sebelum akhirnya Kevin mengakhiri kegiatannya dan bergegas masuk ke kamar mandi dan meninggalkan Dira yang masih sedikit shock akibat serangan yang Kevin lancarkan.
"Aah, sial! Sabar, ya. Nanti malam kita akan mendapatkannya." Gumam Kevin yang merasakan sesak sekaligus ngilu sambil berusaha menetralkan pikirannya.
"Ya Tuhan... Apa yang Kevin lakukan tadi? Duh, berhenti gak lo? Bisa mati mendadak gue kalo lo tiba-tiba loncat keluar." Gumam Dira yang merasakan detak jantungnya berdetak cepat sambil mengembalikan kesadaran dan menetralkan pikirannya.
Setelah selesai mandi dan bersiap, Kevin dan Dira turun menuju meja makan karena kini mereka berdua sudah sangat kelaparan.
Di meja makan, sudah ada keluarga Dira dan juga para sahabat yang sudah lebih dulu memulai makan mereka, Kevin dan Dira yang baru bergabung langsung menjadi pusat perhatian. Dan mata Jonatan yang sangat jeli, menangkap sesuatu di leher Dira yang kebetulan memang Dira duduk berhadapan dengan Jonatan.
"Ekhm, bang, ini masih siang, udah lo makan aja. Gak sabaran banget lo nunggu malem. Takut gue duluin?" Ucap Jonatan yang ditujukan pada Kevin sambil tetap melahap makanannya tanpa melihat kearah Kevin ataupun Dira.
Ucapan Jonatan sontak membuat orang mengerutkan wajahnya sambil mengalihkan perhatiannya pada Kevin dan Dira.
"Maksud lo apa, Jo?" Tanya Dira polos, sedangkan Kevin tetap santai menyantap makanannya.
__ADS_1
Aira yang paham maksud Jonatan langsung meneliti setiap inci wajah hingga leher Dira akhirnya juga menangkap sesuatu yg ada di leher sahabatnya itu, kemudian langsung tersenyum.
"Kenapa juga lo, Ra malah senyum-senyum sendiri." Tanya Dira yang mulai tak nyaman dengan tatapan orang-orang yang berada di meja makan. Karena memang Dira belum menyadari adanya tanda yang Kevin berikan di lehernya. Tanpa menjawab Aira langsung mengeluarkan cermin kecil dari tasnya dan menunjukkan tanda merah di leher Dira pada sahabatnya itu melalui pantulan cerminnya.
Blushing.
"Astaga Keviiiinnnn." Dira menggeram dalam hatinya dengan pipi yang memerah karena malu langsung menutupi lehernya dengan telapak tangannya, menatap sang suami yang masih bersikap santai sambil tetap melahap makanannya seolah tak terjadi apa-apa. Sedangkan yang lain, yang sudah tak sanggup lagi menahan tawanya langsung terkekeh melihat ekspresi Dira membuat pipi gadis itu semakin memerah karena malu dan kesal yang menjadi satu.
Sudah tak tahan lagi menahan malunya karena semua orang makin meledek pengantin baru itu, akhirnya Dira memutuskan kembali ke kamarnya tanpa permisi.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Jangan bosen yaa untuk dukung author...
setelah baca per episode, langsung aja klik like, dan berikan cinta ♥️ kalian untuk author, jangan lupa komennya juga yaa...
Supaya author makin semangat nulisnya...
Kalo boleh juga, bagi dong poin atau koin kalian para readers untuk vote author... hehehe...
terimakasih...😊😊😊🙏🙏🙏🙏***
__ADS_1