
"Ada apa sih ini?" Tanya mama Dira khawatir akan putrinya begitupun juga dengan papa Dira serta orang tua Kevin.
"Mending kita susul mereka sekarang." Ajak Vera yang betul-betul penasaran dengan apa yang sedang terjadi dan diangguki oleh orang tua Dira dan suaminya juga.
*****
Dira yang sudah sampai rumah duluan, langsung masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu kamarnya dan tak lupa juga langsung menguncinya karena tak ingin diganggu oleh siapapun.
"Kenapa? Kenapa kamu gak pernah bilang dari awal kalau kamu itu Kevin! Aku benci sama kamu. Keviiiiinnn..." Teriak Dira yang sambil menangis di kamarnya.
"Bi, Dira udah pulang?" Tanya Eka pada bi Mina yang disusul dengan kedatangan Kevin.
"Non Dira baru sampai, den. Tapi non Dira langsung masuk ke kamarnya sambil banting pintu, den. Bibi juga denger non Dira teriak-teriak." Jelas bi Mina pada Eka dan Kevin.
"Ya udah, bibi balik aja ke kamar bibi. Biar Dira saya yang urus." Ucap Eka dan langsung dituruti oleh bi Mina yang memang tak berani untuk bertanya lebih jauh tentang masalah Dira.
__ADS_1
"Biar gue aja yang ke sana. Gue harus jelasin semuanya sama Dira langsung. Gue mau minta maaf sama Dira." Ucap Kevin tulus membuat Eka mengizinkan Kevin untuk menemui adiknya.
"thank's, bro." Ucap terimakasih Kevin dan langsung bergegas ke kamar Dira. Ya memang Kevin tau kamar Dira. Dia masih ingat betul rumah itu. Karena dulu hampir setiap hari ada di rumah itu.
tok...tok...tok...
"Dir, buka pintunya, please! Aku mau jelasin semuanya." Ucap Kevin memohon agar Dira mau membuka pintu dan mendengarkan penjelasannya.
Sudah lama Kevin berusaha membujuk Dira, tapi Dira tetap tidak mau membuka pintunya. Justru terdengar suara tangisan yang semakin menjadi setiap suara Kevin terdengar.
"Kenapa baru sekarang? Kenapa gak dari awal kamu jelasin, Vin? Sekarang semuanya udah terlambat. Aku sudah menerima perjodohan itu. Untuk menemuimu saja rasanya aku sudah tidak memiliki hak. Pergilah, Vin. Pergilah. Cukup selama ini aku menunggumu." Ucap Dira lirih dalam tangisannya.
"Gimana, Vin?" Tanya Eka namun Kevin hanya menggelengkan kepalanya lesu.
"Nak, buka pintunya sayang. Ini bundamu. Apa kamu tidak merindukan bunda? Apa kamu tidak ingin menemui bunda lagi?" Ucap Vera yang berusaha membujuk Dira agar mau membuka pintunya. Namun masih tidak ada tanda-tanda bahwa Dira akan membuka pintunya.
__ADS_1
"Baiklah, nak jika kamu tidak ingin menemui bunda, bunda, ayah, dan Kevin pamit. Kami akan pergi, dan tidak akan menemuimu lagi jika kamu memang menginginkan itu." Ucap Vera dengan berkaca-kaca karena calon menantunya itu seperti tak ingin memberinya kesempatan untuk memeluknya. Gadis kecilnya menolaknya. Ya gadis kecil, sedari Dira masih kecil, Vera sudah sangat menyayangi Dira melebihi Kevin putranya sendiri. Vera yakin kelak gadis itu akan menjadi menantu di keluarganya.
cklek...
Tiba-tiba Dira membuka pintu saat Vera, Bayu, dan juga Kevin akan pergi.
"Dira, sayang. Kamu kenapa? Siapa yang membuatmu sedih sampai seperti ini?" Ucap Naira yang langsung memeluk Dira setelah Dira membuka pintu kamarnya.
"Kita bicara di dalam yuk, biar Dira bisa sambil istirahat. Ayo, Bay, Ver." Ajak papa Rey pada kedua sahabatnya itu. Dan mereka semua langsung masuk ke dalam kamar Dira, kecuali Kevin.
Rey yang merasa Kevin tidak mengikutinya tiba-tiba berbalik dan mengajak serta Kevin masuk ke kamar Dira.
"Kevin! Kenapa kamu masih di situ? Ayo masuk!" Seru papa Rey.
"K-Kevin di sini aja yah, gapapa kok. Dira pasti tidak ingin bertemu dengan Kevin lagi." Ucap Kevin sambil menahan sesak di dadanya karena teringat gadisnya itu menolak bertemu dengannya lagi tadi.
__ADS_1
"Sudah, ayo masuk! Nanti ayah yang akan bicara sama Dira." Suruh papa Rey pada Kevin. Dan akhirnya Kevinpun ikut masuk ke kamar Dira.
#####