Our Love (REVISI)

Our Love (REVISI)
Ep 63


__ADS_3

Setelah kegiatan panas mereka selesai, Dira langsung tertidur pulas, Dira terlalu lelah. Lelah dengan semua yang terjadi hari ini, dan tentu lelah karena pergumulan panasnya dengan Kevin yang dibumbui dengan amarah di dalamnya membuat aktivitas malam itu semakin panas.


Kevin yang berada di samping Dira, memeluk erat tubuh istrinya, sesekali menciumi punggung istrinya. Dia tidak bisa tidur, sangat sulit untuknya memejamkan matanya. Dia sungguh frustasi dengan masalah yang menimpanya saat ini, terlebih orang tuanya sangat marah dan tak lagi mempercayainya. Di sisi lain, Kevin beruntung masih memiliki sedikit kepercayaan dari istrinya itu.


Kevin gusar, entah keputusannya menyutujui permintaan sang istri ini benar atau salah. Karena sejujurnya Kevin tak ingin sedikitpun melukai hati Dira. Tapi ia juga tak berdaya jika Dira memohon seperti dilakukannya tadi.


Setelah lama berpikir, akhirnya Kevin beranjak dari ranjangnya, memakai kembali dalaman yang ia lepas untuk bergumul dengan sang istri, mengambil ponselnya dan berjalan menuju balkon kamarnya untuk menelfon seseorang.


Kevin menelfon orang kepercayaannya untuk mencari tau tentang Raya dan kehamilannya, karena Kevin ingat betul, dia tidak pernah sekalipun mabuk, jadi bagaimana bisa ada foto dirinya yang tidur di pelukan Raya.


Kevin memang pernah sesekali beristirahat di rumah Raya saat orang tuanya tidak ada, tapi tidak pernah sampai menginap. Dan bukan berarti Kevin akan melakukan hal bejat seperti itu.


Selesai menelfon, Kevin masih berdiri di balkon itu. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nanti. Ia takut jika suatu saat Dira akan tiba-tiba pergi. Tidak, Kevin tidak akan membiarkan itu terjadi. Dira adalah miliknya dan samapai kapanpun akan tetap seperti itu.


Sekilas dia ingat ancaman yang Jonatan lontarkan sebelum dirinya menikahi Dira. Sial! Masalah ini membuat Kevin pusing.


Tak terasa sekarang sudah pukul enam pagi. Dira mengerjapkan matanya saat merasakan Kevin tak ada di sampingnya. Dia hendak bangun dan mencari Kevin.


"Huweekkk... Huweeekkk..." Dira mengalami morning sickness. Suara Dira yang mual terdengar oleh Kevin yang masih berada di balkon kamarnya. Dan seketika itu juga dia langsung berhambur, mencari Dira.


"Kamu kenapa?" Tanya Kevin panik saat melihat Dira memuntahkan isi perutnya namun hanya cairan bening yang keluar.


"A-aku gak papa." Ucap Dira yang juga panik, takut jika Kevin mengetahui kehamilannya.


"Kalau gak papa, kenapa muntah-muntah begini?" Tanya Kevin yang sekarang sudah memijit tengkuk Dira dengan pelan.


"Huweekkk... Huwekkk..." Dira kembali memuntahkan cairan bening, membuat Kevin benar-benar panik dan hendak menelfon dokter.


"Kamu mau telfon siapa?" Tanya Dira yang melihat Kevin yang sedang panik dan hendak menelfon seseoran.


"Aku mau telfon dokter. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa." Ucap Kevin, membuat Dira terkejut dan khawatir. Jika dokter itu memeriksanya, maka semua orang akan mengetahui jika dirinya tengah mengandung. Tidak, Dira tidak akan membiarkan itu. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk Kevin mengetahui kehamilannya.


"Aku gak pa pa. Mungkin asam lambungku aja yang kambuh karena gak makan semalem." Ucap Dira sambil berusaha mengambil ponsel Kevin.


Melihat kepanikan Dira yang seolah sedang menutupi sesuatu saat Kevin hendak menelfon, membuat Kevin mencurigai sesuatu. Terlebih memang ada yang berbeda pada Dira. Kevin bukannya tak menyadari itu, karena mereka sudah sepakat akan melakukannya setiap malam, kecuali jika istrinya itu tengah datang bulan.

__ADS_1


"Apa yang kamu sembunyikan? Apa kamu sakit?" Ucap Kevin yang sengaja memancing Dira agar istrinya itu mau mengakui sesuatu.


"Ak-Aku gak papa. Aku cuma... Aku... Asam lambung aku kambuh. Nanti aku akan meminum obat yang telah dokter berikan untukku. Beberapa hari yang lalu aku sudah periksa ke dokter dan dokter mengatakan asam lambungku kambuh. Jadi kamu gak perlu khawatir." Ucap Dira berbohong.


"Obat? Dokter? Kemarikan obat mu, aku ingin tau obatmu. Dan tadi katamu dokter? Dokter siapa? Rumah sakit mana?" Tanya Kevin bertubi-tubi membuat Dira semakin panik untuk mencari alasan.


"Huweekkk... Huweeekkk..." Lagi-lagi Dira merasakan mual yang tak tertahan, dan langsung berhambur kembali masuk ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.


"Aduuuhh, kenapa disaat sekarang malah mual terus. Hei, sayang, bantu ibumu ini untuk menutupi keberadaanmu sementara waktu dari ayahmu ini. Apa memang kau ingin ayahmu mengetahui keberadaanmu di dalam sana?" Ucap batin Dira pada anak dalam kandungannya.


"Tidak ada bantahan atau alasan apapun aku akan tetap memanggil dokter Firman kemari untuk memeriksa kondisi mu. Aku harap, kamu sedang tidak menutupi apapun dariku." Ucap Kevin yang tidak ingin di bantah. Dan Dira hanya menundukkan kepalanya.


"Oke Dira, lo harus santai. Gak boleh terlihat panik, lo pasti bisa atasi ini. Saat periksa, jangan biarkan Kevin berada di dalam dan katakan pada dokter itu untuk merahasiakannya. Oke, lo harus benar-benar tenang." Batin Dira saat Kevin tengah menelfon dokter keluarganya.


"Kemarikan obat-obat yang doktermu berikan." Pinta Kevin pada Dira. Mau tak mau membuat Dira menyerahkannya.


"Siapa nama doktermu? Dan rumah sakit mana yang kamu kunjungi?" Tanya Kevin yang sepertinya sedang menahan amarah karena Dira sama sekali tidak ingin mengakui sesuatu.


"Jawab, sayang, jangan sampai aku memaksamu untuk mengatakannya." Ucap Kevin dingin sambil mengelus pipi Dira.


"Dok-Dokter Mellinda, rumah sakit permata medika." Ucap Dira terbata.


"Rumah sakit permata medika?" Tanya Kevin sambil tersenyum dan Dira hanya mengangguk.


"Duduklah. Aku tidak mau kamu kecapean." Ucap Kevin lembut dan langsung dituruti oleh Dira karena memang saat ini kepalanya sungguh sangat pusing, perutnya seperti diaduk-aduk.


Tok... tok... tok...


Ceklek...


"Vin, kamu panggil dokter?" Tanya mama Vera setelah pintu kamar dibuka.


"Iya, ma. Sudah datang?" Tanya balik Kevin.


"Sudah, tapi yang datang adiknya dokter Firman. Karena pagi ini katanya dokter Firman ada praktik. Kamu sakit?" Ucap mama Vera.

__ADS_1


"Dira yang sakit, ma." Jawab Kevin sambil menoleh pada Dira.


"Nyonya." Panggil bu Rita.


"Oh, mari dokter, ini kamar anak saya." Ucap mama Vera seraya mempersilahkan dokter tersebut masuk.


"Ini dokter Mellinda, Vin. Dia dokter kandungan, jadi nanti bisa sekalian konsultasikan untuk program kalian." Ucap mama Vera memperkenalkan adik dokter Firman tersebut setelah memasuki kamar Kevin.


Sepertinya mama Vera sudah mulai melupakan masalah yang terjadi kemarin, dab mulai sedikit memaafkan Kevin. Sedangkan Dira langsung membelalakkan matanya saat mama Vera menyebut tentang dokter Mellinda dan langsung menatap dokter tersebut dengan cemas. Berbeda dengan dokter tersebut yang sangat senang ternyata pasiennya kali ini adalah sahabatnya sendiri.


"Mellinda? Dokter Mellinda?" Tanya Kevin memastikan dan Mellinda pun mengiyakan pertanyaan Kevin.


"Sayang, apakah dokter Mellinda ini yang memeriksamu tempo hari?" Tanya Kevin pada Dira membuat mama Vera terkejut, pasalnya Dira tak pernah mengatakan apapun jika dirinya sudah menemui dokter.


Dira yang mendapat pertanyaan hanya mengangguk ragu.


"Apa yang terjadi dengan istri saya, dok? Dokter sudah memeriksanya, bukan? Apa diagnosanya?" Tanya Kevin to the point.


"A-..."


.


.


.


.


.


.


Tetap support author yaa...


Habis baca, jangan lupa like, vote, dan komennya...

__ADS_1


terimakasih... 🙏🙏🙈


__ADS_2