
"Ayo buruan masuk, nanti pada sakit lagi." Titah mama Vera yang langsung dituruti oleh tujuh orang itu.
"Aira, Fany, dan Mellinda bisa ganti baju di kamar sebelah ya. Tante udah siapin baju ganti untuk kalian di sana." Ucap mama Vera seraya menunjuk kamar tempat untuk tiga gadis itu berganti pakaian.
"Dan untuk Natan dan Eka, bisa ganti di kamar Natan." Lanjut mama Vera.
"Iya tante. Makasih ya." Ucap mereka berlima secara bersamaan.
"Ck, kayak paduan suara, aja. Kompak banget." Cibir Dira. Mereka berlima hanya merespon dengan dengusan pada Dira dan berlalu meninggalkan kamar Kevin menuju kamar yang sudah ditunjuk mama Vera sebelumnya.
"Dira, kamu buruan ganti baju. Nanti kamu masuk angin. Bunda gak mau kamu dan cucu bunda sampai sakit." Ucap mama Vera pada Dira yang tak ingin dibantah.
"Bunda gak perlu khawatir, di sini kan ada dokter kandungan Dira, jadi Dira pasti akan baik-baik aja, bunda." Ucap Dira lembut.
"Hhmmm, anak bunda mulai bandel ya. Dasar." Ucap mama Vera sambil mencubit pelan pipi Dira.
"Ma, jangan di cubit dong istri Kevin, entar cubbynya ilang, Kevin gak bisa mainin pipi Dira lagi." Protes Kevin. Sedangkan Dira sudah langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Cih, dasar playboy, gombal aja terus." Cibir mama Vera yang langsung mendapat delikan dari Kevin namun mama Vera hanya tertawa melihat ekspresi putra kesayangannya itu.
"Nih, kamu pakai dulu handuknya. Nanti setelah Dira selesai, kamu langsung siap-siap, karena bentar lagi penghulunya dateng." Ucap mama Vera yang sudah berubah ekspresi jadi sedih. Begitupun juga dengan Kevin yang menatap mama Vera dengan tatapan penuh arti.
"Ma, kenapa Tuhan biarin semua ini terjadi sama Kevin dan Dira, ma? Kevin masih bisa terima kalau Kevin sendiri yang harus nanggung kesalahan Kevin di masa lalu. Tapi Kevin gak sanggup kalau harus lihat Dira dan anak Kevin yang kena imbasnya, ma. Kevin gak sanggup lihat Dira tiap hari nangis karena Kevin. Tapi untuk melepas Dira agar dia mencari kebahagiaan yang lain pun Kevin gak bisa." Ucap Kevin dalam isakannya, yang sudah terduduk lemas sambil memeluk pinggang sang mama.
"Maaf, mama gak bisa membantu banyak dalam masalah ini. Tapi mama minta kamu jangan putus asa. Apa lagi kamu menunjukkannya di hadapan Dira. Saat ini, hanya kamu kekuatan terbesar yang dia miliki. Kita masih punya harapan, kita sama-sama berdoa ya, semoga Rian berhasil membawa laki-laki itu kehadapan kita tepat waktu. Hm." Ucap mama Vera mencoba menenangkan hati Kevin sekaligus memberinya kekuatan.
"Oh ya, apa Rian sudah ada kabar?" Tanya mama Vera.
"Belum, ma. Hp Rian masih belum bisa dihubungi." Jawab Kevin.
"Ekhm..." Dira berdekhem saat melihat suami dan mertuanya itu berpelukan setelah keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Sayang, kamu udah selesai mandinya?" Tanya Kevin.
"Kamu lihat aku udah keluar dari kamar mandi, itu artinya aku udah selesai mandi." Ucap Dira sambil mendengus kesal mendengar pertanyaan konyol dari sang suami.
"Ya, maaf sayang. Kali aja kamu keluar untuk ngajak aku mandi bareng." Ucap Kevin cengengesan. Dalam hatinya, Kevin bersyukur memiliki istri seperti Dira, Kevin juga bersyukur setidaknya istrinya itu sudah mulai bersikap seperti biasa.
"Iih, dasar kamu tuh ya, gak tau malu deh, ada bunda juga malah bilang begitu." Balas Dira dengan pipi yang memerah menahan malu atas ucapan Kevin di hadapan mertuanya. Sedangkan mama Vera hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak dan menantunya itu.
"Ya, biarin aja, toh kalo mama pengen juga, bisa ajak papa mandi bareng juga di kamar mandinya." Jawab Kevin dengan tidak tau malunya, membuat pipi Dira semakin memerah.
"Bunda, bunda kok bisa sih punya anak mesum kayak gini? Padahal ayah dan bunda baik." Pertanyaan konyol yang terlontar dari mulut Dira itu membuat mama Vera semakin tidak bisa menahan tawanya.
"Sayang, Kevin itu sama kayak papanya. Mesum. Apa lagi pas masih anget-angetnya dulu, bunda aja sampai capek dibuatnya. Ya kayak kalian ini." Ucap mama Vera sambil tertawa membuat Dira tak habis pikir.
"Nah, tuh sayang, jadi jangan salahin aku kalau aku mesum, kamu salahin papa aja. Eh tapi, kamu nikmatin, juga loh, nih, buktinya." Ucap Kevin sambil mengelus lembut perut Dira yang masih rata.
"Keviiiinnn, iiihhh, buruan mandi, gak?" Ucap Dira yang mulai gemas pada tingkah sang suami, dan Kevin yang menyadari istrinya itu akan segera meletupkan emosinya, langsung berhambur masuk ke kamar mandi, membuat mama Vera semakin terkekeh melihatnya.
"Kalian berdua ngingetin bunda saat masih baru nikah sama papanya Kevin." Ucap mama Vera sambil mengingat awal pernikahannya dengan papa Bayu.
"Ya udah siniin sisirnya, bunda sisirin rambut kamu." Ucap mama Vera seraya meminta sisir pada Dira.
"Dir, dari awal kehamilan kamu, kok bunda perhatiin kamu gak pernah ngidam sih? Emang kamu beneran gak ngidam atau kamu tahan?" Tanya mama Vera setelah selesai menyisir rambut Dira.
"Gak tau juga bunda. Dira emang gak lagi pengen apa-apa sih. Mungkin bayi Dira pengertian ya bun, dengan kondisi orang tuanya yang lagi ada masalah. Makanya dia gak mau ngerepotin." Jawab Dira sambil mengusap lembut perut ratanya.
"Kalo kamu emang lagi pengen sesuatu, kamu bilang aja, apapun akan aku penuhi demi kamu dan anak kita. Gak perlu kamu tahan cuma karena kita lagi ada masalah. Karena masalah apapun yang terjadi sama kita, kamu dan bayi kita, tetap menjadi prioritas aku." Ucap Kevin lembut yang baru saja keluar dari kamar mandi dan kini sudah duduk menghadap istrinya.
"Tapi emang beneran, aku gak lagi pengen apapun. Kalau aku ingin sesuatu, aku pasti langsung bilang sama kamu." Balas Dira.
"Eh, kamu kok cepet banget mandinya?" Tanya Dira yang terheran karena biasanya Kevin akan membutuhkan waktu yang lama kalau sedang mandi.
__ADS_1
"Ngapain juga mandi lama-lama, sayang? Toh gak ada yang penting juga. Kecuali, mau ke kantor, mau nemenin kamu jalan, mau ke rumah orang tua kamu, baru harus mandi lama, dan harus sebisa mungkin tampil sempurna. Kalau gak ada yang penting, ngapain juga, lama-lama di kamar mandi?" Jawab Kevin santai.
"Kamu tuh ya, bentar lagi kan kamu mau nikah. Jad...."
"Sssttt... Jangan diterusin. Buat aku, pernikahan ini gak ada artinya. Cukup sekali aku nikah, dan cukup kamu istriku." Ucap Kevin dingin dan langsung menghentikan perkataan Dira dengan menutup mulut Dira dengan jari telunjuknya.
"Ekhm, Vin, masih ada mama di sini kalau kamu lupa." Tegur mama Vera.
"Dir, apa kamu mau bunda temenin?" Tanya mama Vera yang khawatir tentang menantunya itu. Mengingat sebentar lagi, acara pernikahan yang tak pernah di harapkan itu akan segera berlangsung.
"Gak perlu bunda, toh nanti kan teman-teman Dira dan juga kak Eka ada di sini. Jadi bunda temenin Kevin aja. Kevin lebih butuhin bunda saat ini." Tolak Dira halus.
"Siniin, aku bantu rapihin baju kamu." Lanjut Dira yang kini berniat merapihkan pakaian yang akan Kevin kenakan.
"Gak perlu rapih, sayang. Ini acara gak penting." Tolak Kevin.
"Ya udah kalau gitu, bunda tunggu di bawah aja ya. Baper bunda lama-lama lihat kalian berdua." Ucap mama Vera yang langsung keluar dari kamar Kevin.
.
.
.
.
.
.
Terus support author yaa...
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan komennya...
terimakasih 🙏 🙏 🙏