
"Tuhan tolong selamatkan istri dan juga anakku. Jangan biarkan hal buruk menimpa mereka. Aku siap menggantikan rasa sakit yang sedang istriku rasakan. Tapi tolong, beri keselamatan untuk mereka. Aku tak kan sanggup hidup lagi jika terjadi sesuatu pada mereka. Beri aku hukuman apapun yang ingin Engkau berikan padaku, tapi jangan biarkan istri dan anakku menanggung akibat perbuatanku di masa lalu yang selalu mempermainkan hati banyak wanita." Ucap batin Kevin.
"Sayang, kamu harus bertahan, demi anak kita." Ucap Batin Kevin lagi yang tertuju untuk Dira.
Tak berapa lama, akhirnya Mobil Kevin terparkir di depan pintu rumah dokter Firman. Mama Vera langsung turun dan memencet bel rumah itu. Sedangkan Kevin membopong tubuh Dira dari dalam mobil.
"Nyonya, ada ap-... Vin, kenapa?" Tanya dokter Firman setelah membuka pintu rumahnya.
"Mellinda ada?" Tanya Kevin tanpa basa basi.
"Siapa kak?" Ucap Mellinda yang baru keluar.
"Ya ampun, Dira. Ayo, bawa masuk, ikut saya ke ruangan saya." Mellinda terkejut saat melihat yang berada dalam gendongan Kevin sedang tak sadarkan diri, sambil menyuruh Kevin membawa Dira ke dalam ruangannya.
"Saya periksa Dira dulu, tolong kamu tunggu di luar." Ucap Mellinda setelah Dira diletakkan di atas ranjang prakteknya. Kevin pun mengangguki ucapan Mellinda dan langsung keluar dari ruangan itu.
"Kevin, gimana Dira? Apa kata dokter?" Tanya mama Naira setelah melihat Kevin keluar dari ruangan Mellinda.
"Dira masih diperiksa, bun. Kita berdoa ya bun agar mereka baik-baik saja." Ucap Kevin lembut pada mama mertuanya.
"Nai, kita perlu bicara. Ini tentang Kevin dan Dira." Ucap mama Vera. Mama Naira pun menyetujui ajakan sahabatnya itu.
"Vin, titip Dira sebentar ya. Mama mau bicara dengan bundamu dulu." Pamit mama Vera dan Kevin hanya merespon dengan anggukan, karena pikirannya sekarang hanya terfokus pada Dira dan bayi yang sedang Dira kandung.
Setelah pergi sedikit menjauh, mama Vera menceritakan yang sebenarnya terjadi kepada mama Naira. Berhara agar sahabatnya itu mau memahami sedikit tentang situasi saat ini.
"Baiklah, kalau ceritanya memang seperti itu, aku akan coba berbicara pada Rey. Mudah-mudahan Rey dan Eka mau membantu." Ucap mama Naira setelah mendengar penjelasan dari mama Vera.
"Gak ada yang perlu dibicarakan lagi, ma. Keputusan papa sudah bulat. Dira dan Kevin harus berpisah." Ucap papa Rey yang baru saja tiba.
"Pa, ikut mama dulu, atau papa akan menyesal nanti." Ucap mama Naira yang tidak ingin dibantah. Mau tidak mau, papa Rey pun menurut pada istrinya.
Mama Naira mengajak papa Rey bicara di luar. Sedangkan yang lain sudah menunggu hasil pemeriksaan Dira.
__ADS_1
"Pa, mama mohon, berikan satu saja kesempatan pada Kevin. Apa papa mau, cucu kita lahir tanpa adanya seorang ayah yang mendampinginya? Dira juga sangat mencintai Kevin, pa. Tolong lakukan ini demi cucu kita, pa." Ucap mama Naira memelas.
"Baiklah, demi cucu papa, papa akan memberi Kevin kesempatan, dan papa juga akan membantu mereka." Ucap papa Rey.
"Makasih, ya pa." Balas mama Naira sambil memeluk papa Rey.
"Ma, pa. dokter Mellinda mau bicara sama kita semua." Ucap Eka yang tiba-tiba menghampiri kedua orang tuanya. Mereka bertiga pun masuk untuk mendengarkan penjelasan Mellinda tentang kondisi Dira dan janinnya.
Setelah mendengarkan penjelasan Mellinda, mereka semua menunggu di ruangan yang telah Mellinda siapkan untuk keluarga sahabatnya itu.
"Gue minta maaf, bang. Tanpa denger apapun penjelasan lo udah bertingkah gegabah. Sorry, karena gue, Dira jadi seperti ini." Jonatan membuka pembicaraan di suasana yang sangat dingin, karena keheningan yang mereka ciptakan sendiri. Seketika itu Kevin yang sedang menunduk sambil memegang kepalanya langsung menoleh pada Jonatan.
Ya, Jonatan kini sudah tau duduk permasalahannya. Karena setelah mendengar penjelasan dokter Mellinda tentang kondisi Dira, mama Naira langsung menceritakan permasalahan yang sedang Kevin dan Dira hadapi. Tidak hanya Jonatan, bahkan semua orang kini sudah mengetahuinya, mereka pun kini mendukung Kevin, walaupun belum ada yang mengatakannya kecuali Jonatan.
"Bukan salah, lo. Gue yang salah. Karena kebrengsekan gue dulu, pantas jika kalian selalu memberikan cap buruk padaku." Balas Kevin.
"Kevin, ayah akan memberi kamu kesempatan. Dan ayah juga akan membantumu menyelesaikan masalah ini. Ayah akan menyuruh orang-orang ayah untuk menyelidiki kebenarannya." Ucap papa Rey yang kini sudah berada di samping Kevin, sambil mengusap bahu menantunya itu.
"Jangan menolak, ini ayah lakukan demi putri dan cucu ayah juga." Ucap papa Rey yang tak ingin dibantah.
"Kevin, Dira sudah sadar dan ingin ketemu sama kamu." Ucap Mellinda yang tiba-tiba menghampiri Kevin.
"Tapi tolong, jangan membuatnya berpikir berat hingga membuatnya tertekan lagi." Lanjut Mellinda saat Kevin sudah beranjak dari tempatnya duduk tadi. Kevinpun hanya mengangguk paham.
"Sayang, gimana keadaan kamu sekarang? Apa perutmu masih sakit?" Ucap Kevin lembut sambil mengelus puncak kepala Dira, setelah dirinya memasuki ruangan, tempat Dira kini di rawat.
"Aku udah gak papa. Sayang, papa gak akan misahin kita kan? Pap-..."
"Sssttt... Kamu jangan terlalu banyak pikiran dulu ya. Itu tidak akan baik untuk bayi kita." Ucap Kevin lembut, menutup bibir Dira dengan jari telunjuknya.
"Papa kamu gak akan misahin kita kok. Ayah udah tau duduk permasalahannya. Dan sekarang, ayah mau bantu kita menyelesaikan masalah ini. Jadi, sekarang kamu, jangan lagi mikirin masalah ini ya. Kamu harus banyak istirahat. Kasihan anak kita juga ikutan stres karena bundanya stres." Lanjut Kevin sambil tersenyum pada istrinya, membuat hati Dira menjadi lebih tenang.
*****
__ADS_1
Beberapa hari sudah berlalu, kini kesehatan Dira sudah mulai membaik. Tapi sebaliknya Kevin yang sedang tidak baik-baik saja.
"Aaarrrgggghhh... Kenapa susah banget sih
cuma cari laki-laki brengsek itu?" Ucap Kevin yang sudah sangat frustasi karena sudah 5 hari berlalu, tapi orang-orang kepercayaan keluarganya belum mampu menemukan lelaki yang telah menghamili Raya.
"Besok adalah waktu terakhir. Kalau sampai besok belum juga menemukan titik terang tentang laki-laki itu, itu artinya aku harus menikahi Raya." Batin Kevin seraya mengusap kasar rambutnya.
"Vin, apa gue boleh bantu lo?" Tanya Rian yang sedari tadi melihat Kevin mondar-mandir di depannya. Rian memang sudah mengetahui permasalahan yang sedang Kevin hadapi.
"Bolehlah. Lo suruh orang-orang lo untuk nyelidikin tentang Raya. Berapapun bayaran yang mereka minta, gue akan penuhi." Ucap Kevin yang sudah benar-benar tidak tau harus berbuat apa lagi untuk menghentikan masalah ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tetap support author yaa...
Jangan lupa untuk like, vote, dan komennya yaa...
terimakasih 🙏 🙏 🙏
__ADS_1