
"Loh, lo masih di sini, bang?" Tanya Jonatan yang kini sudah kembali ke kamar Kevin untuk menemani Dira bersama dengan sahabatnya yang lain.
"Emang gue mau kemana?" Tanya balik Kevin dengan santainya.
"Lah, lo kan mau nikah, tuh udah di tungguin sama calon istri kedua lo." Jawab Jonatan.
"Istri gue cuma satu, dan gak akan ada yang kedua, ketiga dan seterusnya. Dan cukup satu di hati gue." Ucap Kevin tulus dengan sambil menatap Dira.
"Vin, mending lo turun sekarang, sebelum tuh cewek nyamperin lo kemari." Ucap Eka.
"Karena kalo sampek dia kemari, gue gak jamin kalo gue gak akan bunuh tuh cewek sekarang juga." Lanjut Eka.
"Kak, udah dong. Lagian ini juga kemauan aku. Oh ya, papa dan mama...." Ucap Dira sengaja ia gantungkan mengingat kedua orang tuanya.
"Papa dan mama gak ikut, karena papa gak akan bisa nahan diri untuk gak ngehajar suami kamu ini, kalo sampek papa juga ikut ke sini." Jawab Eka dengan nada dingin.
"Gue rela kalo kalian mau habisi gue sekarang juga, asal Dira bisa bahagia setelah itu. Dan gak akan pernah nangis lagi karena gue." Ucap Kevin.
"Aku gak akan bahagia kalo kamu gak ada di sisi aku." Ucap Dira tulus dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Hey, jangan. Jangan keluarin lagi. Aku gak akan sanggup ngelakuin semua ini kalau kamu masih terus nangis. Tolong beri aku kekuatan." Pinta Kevin lembut sambil mengusap pipi Dira.
"Bang, lo kali ini harus bener-bener janji sama gue, jangan pernah nyakitin Dira lagi. Gue bisa kasih kesempatan lo sekali. Tapi gue gak akan ngasih lo kesempatan berkali-kali kalo lo nyakitin Dira lagi." Ucap Jonatan sungguh-sungguh dengan ancamannya.
"Sekali lagi lo nyakitin Dira, saat itu juga gue bener-bener bawa Dira pergi tanpa pamit sama lo seperti waktu itu." Lanjutnya. Dan Kevin hanya mengangguk paham sambil tetap menatap mata Dira.
"Sayang, kalau Rian gak bisa bawa laki-laki itu kehadapan kita tepat waktu, aku minta maaf sama kamu. Tolong jangan pernah membenciku. Tapi aku siap menghentikan semua kekonyolan ini kalau kamu memintanya." Ucap Kevin.
"Ini permintaanku, dan aku sudah benar-benar ikhlas dengan segala kemungkinan yang akan terjadi hari ini. Jika ini semua tetap terjadi, aku anggap ini adalah takdirku. Tapi satu permintaan ku, tolong berlakulah adil. Aku tau, walaupun kalian nantinya akan menikah dengan perjanjian, tapi dia tetaplah istrimu juga, dia juga berhak atas kamu. Aku gak akan pernah melarangmu untuk melakukannya jika nanti memang kamu ingin melakukannya." Balas Dira sambil menangkup wajah Kevin dan berusaha tetap menampilkan senyumnya, walau sebenarnya, sangat sakit saat Dira mengatakan itu semua. Karena tidak ada istri yang benar-benar ikhlas untuk di madu.
"Kevin, ayo." Panggil mama Vera dari ambang pintu pertanda acara yang sangat menyakitkan itu akan segera dimulai.
Kevin beranjak, dengan tetap menatap intens istrinya. Dira terlihat begitu tegar, namun tidak dengan hatinya yang kini benar-benar sudah hancur. Beberapa detik kemudian Kevin menatap Eka, seolah memastikan sesuatu.
"Semua sudah gue atur. Dan gue harap akan sesuai rencana. Lo tenang aja." Ucap Eka yang memahami tatapan Kevin. Kevin mendengar itu, merasakan sedikit kelegaan dalam hatinya.
Kevin keluar dari kamar itu dengan sangat berat hati. Dia hanya menggumamkan maaf berkali-kali di hatinya yang tertuju untuk Dira.
dddrrrtttt...dddrrrrtttt...ddddrrrtttt."
"Yang, hp kamu bunyi nih. Dari Rian." Ucap Fany setelah mengambil ponsel Eka dari dalam tasnya dan melihat siapa yang melakukan panggilan. Ekapun segera mengangkat telfonnya.
Deg...
"Rian?" Batin Mellinda.
"Halo, gimana? Lo udah dimana?" Tanya Eka pada Rian yang berada di seberang telfon.
__ADS_1
"....."
"Gue udah siapin semuanya. Tinggal kita jalanin aja rencananya." Ucap Eka.
"....."
"Ya udah, gue turun sekarang." Ucap Eka sebelum akhirnya memutuskan panggilan tersebut.
"Dir, kakak turun dulu ya. Kakak pastiin setelah ini kamu akan bahagia. Gak akan ada lagi yang akan membuat kamu nangis." Ucap Eka sambil mengacak rambut adiknya.
"Jo, tolong jaga Dira dulu. Nanti, kalo gue telfon lo, lo segera bawa Dira turun." Lanjut Eka memberi perintah pada Jonatan dan langsung diiyakan oleh Jonatan.
"Yang, tolong ya." Ucap Eka pada Fany memberi isyarat. Fany langsung tersenyum manis dan mengiyakan isyarat dari Eka, sebelum akhirnya Eka keluar dari kamar itu.
"Ada apa sih? Kok gue jadi penasaran." Ucap Dira yang memang belum tau tentang rencana kakaknya.
"Nanti lo juga bakal tau. Udah, anteng aja di sini dulu." Ucap Fany dan Dira hanya mengerucutkan bibirnya, kesal karena kekepoannya tidak Fany jawab.
"Halo? Oke." Ucap Jonatan setelah menerima sebuah telfon. Sebelumnya mereka sudah menunggu sekitar 15 menit hingga akhirnya Eka menelfon Jonatan.
"Dir, ayo, sudah waktunya kita turun. Kalian juga bisa ikut. Kita harus menyaksikan drama di bawah." Ucap Jonatan sambil terkekeh. Walaupun Dira tetap tak mengerti apa yang sedang direncanakan oleh kakaknya, namun ia tetap mengikuti Jonatan.
*****
"Saya terima nikah dan kawinnya Ray...."
"Kok, berhenti? Ayo lanjutkan." Ucap tante Rani yang mulai tak enak hati saat melihat senyum merekah yang Kevin tunjukkan.
"Oh, enggak kok, lo gak telat." Balas Kevin, menghiraukan ucapan tante Rani.
"Hai, Ray." Sapa Rian pada Raya.
"Lo ngapain di sini? Gue gak ngundang lo, jadi lebih baik lo pergi. Jangan ngerusak acara gue." Balas Raya kesal melihat kedatangan Rian yang membuat Kevin menghentikan prosesi ijabnya.
"Sahabat gue mau nikah, gak mungkin gue gak hadir. Tapi sebelum dilanjut, gue mau kasih kado pernikahan dulu buat kalian." Ucap Rian sambil tersenyum sinis pada Raya.
"Lo mau kan, Vin terima hadiah dari gue dulu sebelum acaranya dilanjutin?" Tanya Rian dengan senyum smirknya.
"Gue gak keberatan. Bawa sini aja hadiah lo. Anggep aja ini hadiah double untuk nikahan gue sama Raya, dan untuk kehamilan Dira." Jawab Kevin yang tak mau kalah menampilkan senyum kemenangannya.
"Apa ini? Apa rencana mereka sekarang? Apa mereka udah berhasil nemuin Gilang? Gak, gak mungkin. Gilang udah pergi jauh dan gak ada seorangpun yang tau tentang Gilang." Batin Raya yang mulai merasa khawatir.
"Rian, jangan berulah kamu." Sentak om Bram.
"Om, Rian gak berulah, santai dong. Kenapa om gugup begitu?" Tanya Rian yang sarat dengan ancaman.
"Rian, kasih hadiahnya nanti aja ya, setelah acaranya selesai. Biar Kevin lanjutin dulu akad nikahnya." Ucap tante Rani lembut.
__ADS_1
"Yah, tan, kalo nanti hadiahnya, udah gak seru lagi. Gak surprise lagi, jadi Rian maunya kasih hadiahnya sekarang setelah itu baru acaranya di mulai lagi. Biar Kevin juga relax, tan." Jawab Rian yang lagi-lagi santai.
"Rian, lo pergi sekarang juga, atau kalau gak, gue akan minta anak buah papa Bayu buat ngusir lo dari sini." Ucap Raya yang sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.
"Hei, sayang, santai dong, gak usah marah-marah sama Rian. Sebentar lagi kamu akan menikah, gak baik, calon pengantin wanitanya marah-marah seperti ini. Lagi pula, gak baik untuk anak kamu. Biarin lah si Rian kasih hadiahnya sekarang. Kamu duduk dulu ya." Ucap Kevin lembut sambil menatap Raya penuh arti.
"Lo mau ngusir gue dengan nyuruh anak buah calon mertua lo? Tapi sayangnya, anak buah calon mertua lo ini, lagi bantuin gue megangin hadiah gue." Ucap Rian.
"Gimana om? Boleh Rian bawa masuk sekarang?" Tanya Rian meminta persetujuan pada papa Bayu.
"Suruh masuk aja, jangan kelamaan. Udah capek om nunggunya." Ucap papa Bayu sambil tersenyum penuh arti.
Raya langsung menoleh pada papa Bayu dan makin mengeraskan rahangnya.
"Apa ini? Hadiah apa yang mereka maksud? Awas aja kalo sampek ada yang berani gagalin rencana gue, gue bakal habisin kalian semua." Batin Raya.
"Guys, bawa sini." Perintah Rian pada beberapa orang.
"Lo harus rapih dulu sebelum masuk." Ucap Rian pada seseorang sambil merapihkan pakaian orang tersebut.
BRUGH...
Rian mendorong seseorang itu hingga terjatuh tepat di bawah kaki Raya.
Raya membelalakkan matanya saat mengetahui sosok orang yang jatuh tepat di bawah kakinya.
"Gilang." Batin Raya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terus support author yaa readers...
kalo udah baca, langsung klik like, vote, komen dan bagi cinta ♥️♥️ kalian untuk author...
__ADS_1
terimakasih 🙏 🙏 🙏