
"Ada apa, ma?" Tanya Kevin setelah mereka berdua ada di balkon kamar Dira.
"Apa terjadi sesuatu dengan anakmu? Mellinda hanya mengatakan keadaan Dira tapi tidak dengan bayi kalian." Tanya mama Vera.
"Kandungan Dira melemah, ma. Dira cukup tertekan dengan masalah ini." Jawab Kevin.
"Kalau sampai terjadi sesuatu pada Dira dan calon cucu mama, kamu yang akan menanggung akibatnya." Mama Vera memberi peringatan keras pada Kevin.
"Kevin juga tidak akan memaafkan diri Kevin sendiri, ma jika terjadi sesuatu pada mereka berdua." Balas Kevin. Terlihat jelas raut kesedihan di wajah lelaki tampan itu.
"Kevin cuma berharap, orang-orang kepercayaan Kevin dan papa, bisa segera menemukan bukti-bukti jika Kevin tidak bersalah." Lanjut Kevin.
"Tapi kamu mencintai Raya?" Tanya mama Vera penuh selidik.
"Itu dulu, ma. Dan Kevin juga menyadari kalau itu hanya cinta pelarian saja." Jawab Kevin jujur.
"Jika benar, bahwa anak yang dikandung Raya adalah anakmu, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya mama Vera memastikan.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mendengar percakapan mereka.
"Anak itu bukan anak Kevin, Kevin gak pernah nyentuh wanita selain Dira, ma. Mama, yang mengandung dan melahirkan Kevin, merawat Kevin hingga dewasa, apa mama tidak mampu membedakan Kevin berbohong atau tidak?" Bantah Kevin meyakinkan jika anak yang dikandung Raya bukan anaknya.
"Mama akan bantu kamu sebisa mama. Mama gak mau kalau sampai kehilangan Dira dan cucu mama. Kalau sampai itu terjadi karena ulahmu, mama pastikan, akan mencoretmu dari ahli waris keluarga kita." Ancam mama Vera.
"Bukan harta yang Kevin pikirkan saat ini, ma. Tapi kesehatan Dira dan keselamatan bayi kami. Dan Kevin akan lakukan apapun untuk mereka. Kevin juga tidak akan segan untuk menghabisi Raya jika sampai terjadi sesuatu pada istri dan anak Kevin karena masalah ini." Ucap Kevin.
*****
Aira yang sudah berada dalam kamar Dira menatap sahabatnya yang tengah pingsan itu dengan tatapan iba.
"Aduh." Ucap Dira sambil berusaha bangun.
"Ra, lo jangan banyak gerak dulu. Lo harus banyak istirahat demi bayi, lo." Ucap Aira yang langsung mendekat pada Dira seraya menahan Dira, agar tetap berbaring.
"Lo kenapa? Kayak habis nangis gitu?" Tanya Dira yang melihat mata Aira sembab.
"Gu-Gue gak papa kok. Cuma kelilipan aja, tadi." Jawab Aira berbohong, karena tak mungkin mengatakan yang sebenarnya, terlebih Aira sadar bukan hanya mereka berdua yang berada di kamar itu.
"Maaf, Ra, gue harus bohongin lo dulu." Batin Aira.
"Dira sudah bangun? Gimana keadaanmu sekarang, nak? Apa masih pusing?" Tanya mama Vera.
__ADS_1
"Bunda? Ada di sini? Kevin?" Jawab Dira yang bingung mengapa suami dan mertuanya ada di sini.
"Tadi mama kamu telfon bunda dan bilang kalau kamu pingsan. Jadi kita buru-buru kemari karena tidak ingin terjadi sesuatu sama kamu." Mama Vera menjelaskan tentang keberadaannya.
"Dira baik-baik aja kok bun. Cuma tinggal pusing aja dikit." Ucap Dira.
"Ya udah kalau gitu, bunda keluar dulu ya. Aira, tolong titip Dira sebentar ya cantik." Ucap mama Vera dengan menampilkan senyum manis pada Aira.
"Iya tante." Jawab Aira.
"Aku juga tunggu di luar, kalau kamu butuh atau sedang ingin makan sesuatu, kamu bisa bilang sama aku, aku akan memenuhinya." Ucap Kevin sambil mengacak rambut Dira.
"Oh iya, aku juga akan menginap di sini. Terserah kamu menolak atau tidak. Yang pasti aku tidak akan pernah lagi membiarkanmu sendiri." Lanjut Kevin sebelum keluar dari kamar Dira. Dira hanya diam tak merespon suaminya itu sedikitpun
"Kenapa lo gak cerita sama gue, Ra?" Ucap Aira yang langsung memeluk Dira setelah Kevin dan mamanya keluar dari kamar itu.
"Maksud, lo?" Tanya Dira yang bingung dengan pertanyaan sahabatnya itu.
"Kenapa lo gak pernah cerita sama gue kalau Kevin hamilin cewek lain?" Tanya Aira yang membuat Dira terkejut mendengarnya.
"Lo tau dari siapa?" Tanya Dira terkejut dan penuh selidik.
"Gue denger sendiri saat Kevin dan nyokapnya lagi ngobrol tadi. Kenapa lo gak cerita sama gue? Apa lo udah gak mau berbagi kesedihan lo lagi sama gue?" Tanya Aira.
Seseorang membuka pintu kamar Dira dengan kasar, Dira dan Aira menatap orang tersebut dengan terkejut, ada amarah yang sangat besar tersimpan dalam mata orang itu.
"Ikut gue sekarang, Dir!" Ucap Jonatan yang sudah menarik tangan Dira dengan paksa. Ya, orang itu adalah Jonatan, yang tanpa sengaja mendengar percakapan Aira dan juga Dira.
"Jo, lepasin gak? Dira harus istirahat. Kandungan dia lemah." Ucap Aira yang mencoba menghalau Jonatan. Namun bukan melepaskan, Jonatan justru menggendong Dira dan membawanya keluar dari kamar itu.
"Auuww... Jo, turunin gak. Lo mau bawa gue kemana, Jo. Turunin. Gue bilang turunin gue, Jonatan Adityatama." Ucap Dira dengan nada tinggi sambil terus meronta agar Jonatan menurunkannya dari gendongannya.
Namun Jonatan tak menggubris perkataan gadis itu. Jonatan terus melangkah tanpa perduli ucapan Dira yang sudah menyumpah serapahi dirinya.
"Jo, lo mau bawa Dira kemana? Jo, tunggu, Jo." Panggil Aira seraya mengejar Jonatan yang juga tak menghiraukan Ucapan Aira.
Keributan yang berasal dari arah tangga, membuat semua orang menoleh ke arah tangga yang di dapati Jonatan sedang menggendong Dira, sedangkan Aira mengejar nya di belakang.
"Ada apa ini? Jo, mau kamu bawa kemana anak om? Apa terjadi sesuatu sama Dira." Tanya papa Rey yang mencoba menghentikan Jonatan.
"Maaf, om. Jo harus bawa Dira pergi dari sini. Gak terjadi apa-apa kok sama Dira, Jo cuma sedang mengingatkan seseorang sama janjinya." Ucap Jonatan pada papa Rey sambil menatap sinis pada Kevin.
__ADS_1
"Jo, turunin gue gak?" Ucap Dira dengan penuh emosi.
"Diam, Dir, atau lo akan jatuh." Ucap Jonatan.
"Brengsek..!" Geram Kevin sambil hendak memukul Jonatan yang mulai melangkahkan kakinya kembali, namun berhasil di tahan oleh mama Vera.
"Natan, dengerin mama, sayang. Dira kakak iparmu. Dia sedang mengandung, dan kandungannya lemah. Tolong turunkan Dira, biar Dira bisa istirahat." Ucap mama Vera memohon.
"Sekarang Natan tanya sama mama, siapa yang udah bikin kandungan Dira melemah? Siapa yang sudah membuat Dira menangis hingga merasa sangat tertekan?" Tanya Jonatan pada mama Vera dengan nada tinggi.
"Natan, turunkan nada bicaramu. Dia ini tantemu." Ucap papa Bayu.
"Natan akan bersikap baik jika kalian tidak menghalangi Natan untuk membawa Dira pergi dari sini." Balas Jonatan.
"Jonatan Adityatama, gue peringatin lo, turunin istri gue, atau gue habisi lo sekarang juga di tempat ini." Ucap Kevin dengan amarah yang sudah di ubun-ubun.
"Lo masih berani ngancem gue? Perlu gue ingetin tentang janji lo waktu itu?" Balas Jonatan dengan nada dingin.
"Gue gak perduli, persetan dengan janji, kalo lo berani bawa istri gue selangkah aja keluar dari rumah ini, gue pastiin lo bakal masuk ke rumah tante Vina cuma tinggal nama. Turunin brengsek." Bentak Kevin.
Mendengar ucapan Kevin, membuat Jonatan menurunkan Dira dan langsung menghadap kearah Kevin serta langsung menatapnya tajam penuh kemarahan.
"Lo pikir gue takut sama ancaman lo, huh? Lo sendiri yang udah janji, gue bisa bawa Dira pergi dari sisi lo kalo sampek sekali aja lo bikin Dira nangis? Lo lupa, Kevin Aryatama?" Ucap Jonatan dengan membalas bentakan Kevin.
Kurang ajar!" Geram Kevin.
..
.
.
.
.
.
tetap support author yaa...
jangan lupa langsung like, vote dan komen setelah baca ceritanya...
__ADS_1
terimakasih 🙏 🙏 🙏