Our Love (REVISI)

Our Love (REVISI)
Ep 64


__ADS_3

"A-.."


"Aku sudah bilang, kalau asam lambungku kambuh. Untuk apa menanyakannya lagi padanya, jika dia saja sudah mengatakannya langsung padaku?" Ucap Dira mendahului Mellinda yang hendak menjawab pertanyaan Kevin.


"Sayang, apa kamu tau kalau dokter Mellinda adalah dokter kandungan, bukan dokter penyakit dalam? Lalu bagaimana dia bisa memberikan diagnosis itu padamu?" Skakmat, Dira dibuat bungkam oleh ucapan Kevin.


"Ah, ya, lagi pula aku tidak bertanya padamu, sayang. Aku menanyakan dokter Mellinda. Tadi aku sudah memberimu kesempatan untuk mengatakan apa diagnosa dokter Mellinda, tapi sayangnya, kamu tidak mau mengatakan apapun padaku." Ucap Kevin membuat Dira semakin takut.


"Dokter, apa benar, ini obat yang anda berikan untuk istri saya?" Kevin bertanya pada Mellinda sambil menunjukkan obat yang Dira berikan tadi, dan Mellinda mengiyakan pertanyaan Kevin.


"Apa ini obat asam lambung? Seperti yang Dira katakan barusan?" Tanya Kevin lagi.


Mellinda melirik kearah Dira sekilas dan Dira menggelengkan kepalanya pada Mellinda memberi kode untuk tidak mengatakannya pada Kevin. Mellinda paham dengan raut wajah Dira, saat ini sahabatnya itu sedang ada masalah. Dan Mellinda berniat untuk memihak pada sahabatnya. Sayangnya, tingkah dua gadis itu selalu Kevin perhatikan.


"Dokter Mellinda, anda bekerja di rumah sakit permata medika. Dokter juga adalah adik tercinta dari dokter Firman. Harusnya anda tau betul siapa saya, siapa keluarga saya, dan apa kedudukan keluarga kami di rumah sakit tempat anda bekerja." Ucap Kevin dingin membuat perasaan Mellinda tak enak. Bahkan untuk menelan salivanya sendiripun kini ia sangat sulit. Tubuhnya gemetar, dan keringat mulai bermunculan di keningnya.


"I-iya, tuan. Anda adalah pemilik saham terbesar di rumah sakit." Ucap Mellinda gugup.


"Ada apa ini? Mellinda?" Ucap papa Bayu yang terkejut dengan keberadaan dokter Mellinda di kamar putranya.


"Kebetulan papa saya ada di sini. Pa, dokter Mellinda sedang memeriksa istriku yang sedang sakit. Sekarang aku sedang menunggu diagnosanya." Ucap Kevin dengan tatapan yang tak bisa diartikan oleh siapapun.


Dira dan Mellinda semakin panik. Terlebih saat ini sudah ada papa Bayu. Mellinda merasa kasihan pada sahabatnya itu, akan tetapi dia juga memikirkan nasib keluarganya jika Kevin dan keluarganya akan bertindak di luar dugaannya jika sampai Kevin mengetahui jika dirinya akan berbohong demi membantu sahabatnya.


Sedangkan Dira, dia tidak ingin suaminya mengetahui kehamilannya sekarang, karena menurutnya ini bukan waktu yang tepat. Di sisi lain, Dira juga merasa kasihan pada Mellinda jika sampai dia dipecat hanya karena berbohong demi dirinya. Jadi Dira sekarang memilih pasrah jika memang Mellinda akan mengatakan semuanya pada Kevin.


"Mellinda, ada apa dengan menantuku? Apa dia baik-baik saja? Apa ada sesuatu yang sangat mengkhawatirkan?" Papa Bayu kini juga ikut mengintrogasi Mellinda.


"Apa saya perlu menelfon pihak rumah sakit dan meminta mengantar hasil rekam medis istri saya? Tentunya itu tidak akan baik untuk karir anda, dokter." Ucap Kevin dengan sedikit mengancamnya karena Mellinda masih terdiam.

__ADS_1


"Katakan saja." Ucapan Dira yang tertuju pada Mellinda. Mendengar ucapan sahabatnya membuat Mellinda yakin untuk mengatakannga.


"Se-sebenarnya, Dira.... Dira adalah sahabat saya." Ucap Mellinda gugup dan terdiam sejenak.


"Dokter, tentu anda pernah dengar dari dokter Firman jika saya tidak suka bertele-tele." Ucap Kevin yang sudah mulai kesal karena gadis itu masih saja mengulur waktu untuk mengatakan apa yang terjadi pada istrinya.


"Ba-baik. Sebenarnya Dira sedang mengandung, usia kehamilannya saat ini sudah menginjak sembilan minggu." Ucapan Mellinda sontak membuat orang tua Kevin terkejut dan bahagia sekaligus. Sedangkan Kevin, dia hanya tersenyum tipis, dihatinya sangat bahagia karena apa yang ia duga itu benar adanya. Dia akan segera menjadi seorang ayah, bukan dari wanita lain bernama Raya, melainkan dari istrinya sendiri, Dira, istri SAHnya.


"Kenapa kamu tidak mengatakan apapun pada bunda? Apa kamu tidak ingin membagi kebahagiaanmu pada bundamu? Hm?" Tanya mama Vera yang kini sudah berada di samping Dira dan memeluknya.


"Ma-Maaf bunda. Bukan maksud Dira ingin menyembunyikannya dari bunda. Tapi sejujurnya..." Ucapan Dira terhenti karena kini Dira sudah mulai terisak.


"Sejujurnya, kemarin Dira ingin memberi kejutan pada Kevin setelah dia pulang bekerja. Mengatakan bahwa aku sedang mengandung anak kami." Ucap Dira sambil menatap Kevin sekilas.


"Tapi, sebelum Dira mengatakannya, Dira justru mendapatkan kejutan terlebih dulu." Lanjut Dira yang sudah semakin terisak.


"Bukan berarti, karena apa yang terjadi kemarin membuat kamu bungkam dan menyembunyikannya dari aku. Aku ayah dari bayi yang kamu kandung. Aku harus tau tentang anak aku." Ucap Kevin sambil mengusap rambutnya kasar.


"Maaf, kalau begitu, saya permisi dulu. Sepertinya tidak seharusnya saya mendengar ini semua. Tuan Kevin..." Ucapan Mellinda memecah fokus keluarga yang tengah berdebat itu, mereka melupakan jika masih ada Mellinda di sana.


"Panggil saja saya Kevin." Ucap Kevin.


"Kevin, saya juga ingin meminta izin untuk menjadi dokter tetap yang mendampingi Dira selama masa kehamilannya hingga melahirkan nanti." Ucap Dira.


"Tentu, silahkan. Anda adalah sahabat istri saya, pasti istri saya tidak keberatan untuk itu." Ucap Kevin menyetujui permintaan Mellinda.


"Baiklah, ini kartu nama saya, jika terjadi sesuatu pada Dira, segera hubungi saya." Ucap Mellinda seraya menyerahkan kartu namanya pada Kevin. Kevin pun menerimanya. Kemudian Mellindapun beranjak pergi dari rumah itu.


"Sayang, aku mohon, jangan lampiaskan amarahmu pada bayi kita. Kamu boleh memukulku hingga kamu puas, tapi tolong jangan sakiti bayi kita." Ucap Kevin memelas yang kini sudah berlutut di hadapan Dira. Membuat Dira semakin terisak dibuatnya.

__ADS_1


"Sssttt, jangan menangis. Ibu hamil gak boleh sedih, gak boleh stres, bunda janji semuanya akan baik-baik saja." Ucap mama Vera sambil mengusap lembut pipi Dira, menghapus air mata yang mengalir deras di pipi menantunya.


"Ayah akan membantu Kevin. Jadi, jangan bersedih lagi. Jangan sampai calon cucu ayah kenapa-kenapa." Ucap papa Bayu.


"Aku mohon, maafkan aku." Ucap Kevin lirih.


"Mama tinggal dulu ya. Oh ya, sampai anakmu lahir, bunda gak akan membiarkan kamu melakukan apapun yang melelahkan. Termasuk memasak. Jadi Kevin, mulai detik ini harus terbiasa lagi dengan masakan mama." Ucap mama Vera yang tidak ingin dibantah, dan langsung diangguki oleh Kevin dan Dira. Setelah itu mama Vera keluar dari kamar Kevin.


"Kevin, setelah ini, temui papa di ruang kerja." Ucap papa Bayu yang juga langsung beranjak dari kamar Kevin.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tetap support author yaa...


Jangan lupa, setelah baca, langsung like, komen dan votenya... Biar author makin semangat nulisnya... Hehehe...

__ADS_1


terimakasih 🙏 🙏 🙏


__ADS_2