Our Love (REVISI)

Our Love (REVISI)
Ep 59


__ADS_3

"Pagi, ma." Sapa Kevin yang baru saja turun dan duduk di meja makan. Hari ini papa Bayu tidak ikut sarapan bersama karena sejak pagi buta tadi, papa Bayu sudah berangkat untuk melakukan perjalanan bisnis.


"Loh, Vin sendirian? Dira mana? Apa dia sakit?" Pertanyaan mama Vera yang mencecar Kevin karena hanya melihat Kevin turun seorang diri tanpa Dira. Gadis itu juga tidak memasak pagi ini.


"Dira masih tidur, ma. Sengaja emang gak Kevin bangunin. Dia pasti capek, baru tidur hampir subuh tadi." Jawab Kevin sambil mengoles roti dengan selai coklat. Karena Dira pagi ini tidak masak, jadi Kevin memutuskan hanya akan sarapan dengan roti dan segelas susu yang memang setiap hari di buat oleh mama Vera.


"Kecapean? Baru tidur? Kamu apain menantu mama sampek dia baru tidur?" Goda mama Vera yang mengerti tentang apa yang di katakan Kevin. Terlebih saat melihat tanda merah di leher Kevin. Walau itu terlihat samar, tapi mama Vera paham betul apa yang dilakukan sepasang suami istri itu hingga membuat Dira kelelahan dan baru tertidur menjelang subuh.


"Mama rempong deh, dari kemarin minta cepet-cepet dibikinin cucu, sekarang di bikinin malah Kevin dimarahi. Bukannya melakukan itu memang melelahkan? Kalau mama gak mau Dira kelelahan, ya udah, Kevin gak akan melakukannya lagi, biar Dira gak kecapean." Ucap Kevin sambil mendengus pada sang mama dan melahap rotinya dengan sedikit kekesalan. Kevin juga lelah dan kurang tidur, maka wajar saja dia akan gampang emosi. Tapi emosinya tidak akan meletup-letup mengingat yang membuatnya kelelahan adalah sebuah kenikmatan yang diberikan oleh istrinya.


"Kenapa kamu jadi sensi sih? Mama kan cuma bercanda, Vin. Oke, mama gak akan tegur lagi karena bikin Dira kecapean. Tapi cepet bikinin mama cucu yang banyak. Mama udah bosen lihat kamu udah gede. Pengennya lihat kamu yang versi junior." Ucap mama Vera sambil tertawa membuat Kevin semakin mendengus kesal mendengar ucapan terakhir sang mama.


"Ya udah, Kevin berangkat dulu, ma. Oh ya ma, nanti tolong suruh siapapun (para ART di rumah Kevin) antar sarapan untuk Dira ke kamar ya ma." Ucap Kevin sambil pamit dan mencium pipi sang mama.


"Iya. Kamu hati-hati ya." Ucap mama Vera.


"Bu Rita." Mama Vera memanggil kepala Art keluarga mereka saat Kevin sudah pergi.


"Iya, nyonya?" Saut bu Rita setelah menghadap pada mama Vera.


"Tolong nanti antarkan sarapan ke kamar Kevin. Dira sedang tidak enak badan." Ucap mama Vera yang diangguki oleh bu Rita.


"Baik, nyonya." Jawab Bu Rita dan pergi dari hadapan mama Rita untuk menyiapkan apa yang di perintah sang majikan.


Di kamar Kevin, Dira saja terbangun dari tidurnya, dia merasakan pegal-pegal di sekujur tubuhnya. Lama Dira meregangkan otot-ototnya agar terasa sedikit menyegarkan, sambil tersenyum mengingat kejadian semalam, dimana ia melayani sang suami, memberikan dirinya seutuhnya untuk Kevin miliki. Rasa nyeri itupun juga masih terasa. Terlihat juga bercak darah kegadisannya di sprai ranjang empuk itu. Membuatnya semakin tersenyum.


Namun tiba-tiba dia teringat Kevin dan langsung menoleh pada tempat Kevin biasa tidur, namun Dira tak menemukannya di sana. Dira berjalan kearah kamar mandi memastikan laki-laki tampan itu berada di dalam, namun lagi-lagi, dia tak menemukannya. Dira menengok ke arah jam dinding terkejut dengan apa yang dilihatnya.


"Whaattt? Jam 9? Kevin pasti udah berangkat dari tadi. Kenapa dia gak bangunin aku coba? Udah kayak ****** aja, gue. Udah digituin, tau-tau di tinggal pergi tanpa pamit. Ish..." Gumam Dira sambil mendudukkan dirinya dengan kasar ke atas ranjang. Saat dia hendak mengambil ponselnya diatas nakas, Dira melihat secarik kertas dengan tulisan tangan Kevin yang terletak di bawah ponselnya. Tak membuang waktu, Dira langsung membaca tulisan di kertas itu.

__ADS_1


*Untuk Istriku tercinta...


Terimakasih untuk tadi malam. Maaf aku tidak sempat untuk mengucapkannya langsung karena aku tidak ingin mengganggu tidurmu.


Terimakasih karena sudah memberikan segalanya yang pertama untukku, cintamu, kesetiaanmu, dan juga mahkotamu.


Terimakasih sudah menjadikan ku lelaki beruntung yang bisa memiliki wanita sepertimu.


Jangan lupa sarapan, nanti akan ada pelayan yang akan mengantar sarapan untukmu.


Dan tolong hubungi aku saat kamu sudah bangun. Karena aku pasti akan sangat merindukanmu, terlebih pagi ini aku belum melihat tatapan sendu dari mata indahmu.


Suamimu tercinta


Kevin*.


Melihat itu, Dira pun langsung melakukan panggilan video pada sang suami. Bermanja-manja ria pada Kevin. Tentu itu membuat Kevin senang dan ingin sekali rasanya untuk cepat pulang dan memakan istrinya yang hari ini sangat menggemaskan itu. Lama mereka melakukan panggilan video akhirnya Dira yang merasa sudah sangat lapar, memutuskan panggilan tersebut untuk memakan sarapannya.


*****


Tiga bulan sudah usia pernikahan Kevin dan Dira. Hampir semua perasaan mereka lalui rasakan bersama. Senang, sedih, marah, kesal, bahagia, semuanya mereka rasakan.


Resepsi pernikahan sudah mereka gelar dengan sangat mewah, hanya satu permintaan Dira waktu, Dira tak ingin pernikahannya di sorot media. Jadi hanya keluarga, sahabat, kolega, dan klien-klien penting saja yang mereka undang. Semua nampak ikut berbahagia atas pernikahan Kevin dan Dira.


Dan sesuai janji Kevin, Skripsi Dira selesai tepat beberapa hari sebelum acara resepsi pernikahan mereka dan beberapa hari lalu, Dira telah resmi menyandang gelar sarjananya setelah prosesi wisuda.


Dira melakukan aktivitasnya sebagai seorang istri. Yaitu memasak untuk Kevin. Karena sejak saat pertama kali memakan masakan Dira, Kevin tidak ingin makan masakan lain, sekalipun itu masakan sang mama.


Pernah suatu hari, Dira menemani Bu Rita (kepala ART keluarga Kevin) berbelanja hingga membuatnya terlambat memasak. Bersyukur sang mama mertua dan ART lain sudah menyiapkan makan malam sebelum Dira pulang.

__ADS_1


Namun di luar dugaan, Kevin saat itu enggan untuk memakan makanan yang sudah Dira sajikan di piring Kevin. Menurut Kevin, rasanya berbeda, dan Kevin sangat yakin bahwa bukan Dira yang memasaknya. Berbagai bujukan agar Kevin tetap mau memakannya, gagal, membuat Dira harus rela turun tangan langsung untuk memasak agar sang suami mau makan. Dan benar saja, Kevin sangat lahap memakan makanan itu. Lidahnya kini sudah terbiasa dengan masakan Dira, beruntung sang istri dengan senang hati bersedia selalu memasak untuknya.


Pagi itu, entah kenapa badan Dira rasanya sangat letih, perutnya seperti diaduk-aduk, membuat Dira ingin memuntahkan isi dalam perutnya. Kepalanya begitu pusing, di tambah lagi sudah hampir dua bulan ini ia tidak kedatangan tamu bulanannya. Tidak, Dira bukannya tidak menyadari tanda-tanda ini. Akhirnya Dira memutuskan, setelah memasak dia akan langsung pergi ke apotek untuk membeli sesuatu.


"Dir, kamu sakit? Wajah kamu pucat gitu. Udah biar bunda aja yang masak untuk Kevin. Biar nanti bunda juga yang jelasin sama Kevin kalau kamu lagi gak sehat." Ucap mama Vera dengan penuh kekhawatiran saat melihat wajah menantu kesayangannya itu pucat.


"Gak papa bun, Dira baik-baik aja kok. Cuma kurang istirahat aja." Jawab Dira sambil tersenyum agar mertuanya iti tak khawatir lagi.


Dira bukan tak ingin bertanya tentang tanda-tanda itu. Dira hanya tak ingin jika hasilnya nanti tak sesuai harapan justru akan membuat mertuanya kecewa. Jadi Dira memutuskan untuk tidak menceritakan tanda-tanda itu kecuali memang dia sudah pasti mengetahui hasilnya.


.


.


.


.


.


.


.


Tetap support author yaa... supaya author makin semangat nulisnya.


Jangan lupa like, komen, vote, dan berikan cinta ♥️♥️ kalian untuk author...


terimakasih... 😊😊🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2