
Keesokan harinya persiapan pernikahan Kevin dan Raya sudah selesai. Raya bersama orang tuanya tinggal di paviliun samping rumah mewah milik keluarga Kevin. Mereka sangat merasa bahagia karena tujuan mereka untuk mendapatkan Kevin sekaligus harta keluarganya akan segera tercapai.
Entah mengapa hari itu hujan turun dengan lebatnya dan tak ada tanda-tanda akan berhenti, hingga mataharipun seolah enggan menampakkan sinarnya. Mendung yang disertai hujan pagi itu seolah memahami jika saat ini hati Dira juga sedang suram.
Di kamar Kevin dan Dira, mereka berdua hanya berdiam diri. Tak ada satupun yang memulai pembicaraan.
Ceklek...
"Sorry gue gak ketok pintu dulu. Lagian gue tau gak mungkin kalian lagi ngapa-ngapain sekarang." Ucap Jonatan yang tiba-tiba membuka pintu kamar Kevin. Dira dan Kevin hanya menatap Jonatan sekilas.
"Bang, mama nyuruh gue untuk bawa Dira jalan-jalan dulu sampai acaranya selesai." Ucap Jonatan. Namun Kevin tak memberi respon apapun. Dia masih berdiam diri, berdiri di pintu yang menuju ke balkon kamarnya, menatap hujan. Sedangkan Dira, gadis itu duduk bersandar di sofa, menatap langit-langit kamar yang sudah hampir empat bulan ini ia tempati.
"Gue gak mau kemana-mana. Lagian hujan juga. Gue mau di sini aja." Jawab Dira, kemudian beranjak keluar menuju balkon.
"Hujan, yang. Kamu takut hujan, ayo masuk, gak baik juga kan hujan-hujanan dalam kondisi kamu yang seperti ini." Ucap Kevin seraya menarik lengan Dira yang akan melangkah ke area balkon yang terkena hujan.
"Lepasin, aku. Aku udah gak takut lagi sama hujan." Ucap Dira menepis tangan Kevin sambil terus berjalan untuk bermain hujan-hujanan.
"Ta-..."
"Biarin aja, bang. Biarin dia lakuin apa yang bisa bikin hatinya tenang hari ini. Biarin dia meluapkan semua perasaannya di bawah guyuran air hujan. Setidaknya itu akan sedikit mengurangi rasa sakit yang dia rasakan hari ini." Ucap Jonatan menahan Kevin yang hendak menghampiri Dira. Kevin pun mengangguk paham dan mengurungkan niatnya untuk menahan Dira agar tidak main hujan-hujanan.
"Jo, siniin hp lo. Gue pinjem bentar." Ucap Dira menghampiri Jonatan.
"Buat apaan? Hp gue gak waterproof yaa, Dir! Jangan macem-macem deh, lo mau bawa hp gue hujan-hujanan." Ucap Jonatan.
"Kayak orang miskin aja sih, lo. Kalo rusak tinggal beli hp baru. Gampang kan. Udah siniin hp lo. Gue mau setel musik yang waktu itu lo download." Ucap Dira.
"Banyak lagu yang gue download, peak. Lagu yang mana? Biar gue yang cariin." Balas Jonatan.
"Dasar adik ipar kurang ajar emang lo, ngatain kakak ipar sendiri peak." Kesal Dira.
"Bintang Di Hati." Lanjut Dira menyebutkan judul lagu yang ingin dia dengar.
"Kenapa gak pake hp lo sendiri aja sih? Repot banget lo sampek pinjem hp gue." Ucap Jonatan yang tanpa sadar membuat Dira merasa sedih. Pasalnya Dira sengaja mematikan ponselnya. Karena Raya selalu saja mengiriminya pesan, menceritakan tentang kisahnya bersama Kevin dulu yang membuat Dira ingin sekali menjambak wanita yang sesaat lagi akan menjadi madunya itu.
"Kalo lo gak ikhlas, gak usah, gue akan ambil hp gue sendiri." Ucap Dira dingin.
"Mau pake hp aku aja? Di sini juga ada kok lagu yang kamu ingin dengarkan." Kevin memberikan ponselnya pada Dira.
"Gak usah, makasih." Ucap Dira dingin dan hendak beranjak masuk ke kamarnya mengambil ponsel.
πΆπΆπΆπΆπΆ
Sekejap aku melamunkan
Resah menyibukkan hati ini
Tak pernah 'ku meminta dihadirkan
Ke dunia ini
Tiba-tiba Langkah Dira terhenti saat terdengar lagu yang sangat ingin ia dengarkan terdengar jelas ditelinganya.
Lalu Kevin menunjukkan ponselnya yang sedang memutar lagu tersebut pada Dira.
"Makasih." Ucap Dira dingin, dan kembali bermain hujan dengan riang, memengadahkan kepalanya seolah menantang hujan dan merentangkan kedua tangannya, bibirnya menyunggingkan senyum termanisnya, namun matanya tetap mengeluarkan air mata yang sudah tertutupi oleh tetesan air hujan. Hingga jika orang melihatnya tak akan nampak jika Dira sedang menangis. Justru gadis itu tengah bersenang-senang di bawah guyuran hujan.
πΆπΆπΆπΆπΆ
Andai semua yang kucintai
Tak lagi ada di hidupku ini
__ADS_1
Bisakah 'ku menawar pada Tuhan
Aku saja yang pergi
Andai 'ku jadi bintang, bintang hatimu
Andai aku jadi awan kau pelangiku
Meramaikan dunia
Cinta sahabat mewarnai hidupku
Sahabat yang sejati itulah kita
Biarkan 'ku menari di derasnya hujan
Biarlah aku menggantikan sulitmu
Duhai semua yang terkasih
Terima kasih atas semua cinta
Membuat aku jadi merasa
Hidupku ada gunanya
Andai 'ku jadi bintang, bintang hatimu
Andai aku jadi awan kau pelangiku
Meramaikan dunia
Cinta sahabat mewarnai hidupku
Sahabat yang sejati itulah kita
Biarkan 'ku menari di derasnya hujan
Biarlah aku menggantikan sulitmu
'Ku menari di tengah hujan
Bahagia jadi bagian kisah hidup
Andai 'ku jadi bintang, bintang hatimu
Andai aku jadi awan kau pelangiku
Meramaikan dunia
Cinta sahabat mewarnai hidupku
Sahabat yang sejati itulah kita
Biarkan 'ku menari di derasnya hujan
Biarlah aku menggantikan sulitmu
πΆπΆπΆπΆπΆ
Jonatan dan Kevin menyadari betul jika gadis dihadapannya itu kini bukan tengah bermain hujan. Melainkan sedang menyembunyikan air matanya.
Ingin sekali rasanya kedua lelaki tampan itu memeluk Dira. Meringankan beban hati Dira.
__ADS_1
Terlebih Kevin rasanya ingin sekali memeluk erat istrinya dan menggumamkan kata maaf pada istrinya, seandainya saja dia sudah memegang bukti di tangannya, mungkin saat ini dia akan lngsung menghentikan kegiatan Dira bermain di bawah guyuran hujan.
"Kayak anak kecil aja sih, main hujan-hujanan." Ucap Eka yang sudah berada dalam kamar Kevin dan mendapati adik kesayangannya itu sedang bermain hujan-hujanan.
"Lo juga, kenapa lo biarin, bini lagi hamil hujan-hujanan." Lanjut Eka yang kini menegur Kevin yang hanya melihat sang istri. Semua orang menoleh pada Eka dan tiga orang gadis yang tak lain adalah sahabat Dira yang juga sudah berada dalam kamar itu.
"Ayo masuk, kamu takut hujan. Lagian gak baik ibu hamil main hujan-hujanan." Ucap Eka yang sudah menghampiri adiknya, tak perduli jika dirinya kini juga tengah di guyur hujan.
"Gak mau, anakku mau main hujan, kak." Tolak Dira.
"Kakak tau, kenapa hari ini aku gak takut lagi sama hujan?" Lanjut Dira tersenyum dan dibalas gelengan oleh Eka.
"Karena aku baru tau kalau hujan bisa membantuku. Membantu menyembunyikan kesedihan dan air mataku yang udah dari tadi keluar kak. Kalau kakak lihat aku sekarang, pasti kakak gak bisa kan lihat kalo aku lagi nangis?" Ucap Dira sambil tetap berusaha menampilkan senyumannya. Eka hanya diam sambil menatap dalam mata adik tersayangnya itu. Dan ya, tersimpan banyak kesedihan di mata indah itu.
Mendengar kalimat terakhir sang adik, Eka langsung memeluk erat adiknya, tak terasa air mata ekapun lolos dari sudut matanya namun juga tertutupi oleh tetesan hujan.
"Menangislah. Keluarkan semua kesedihanmu. Jangan kamu pendam. Sudah ada kakak di sini. Kakak gak akan biarin siapapun menyakiti kamu lagi. Lepaskan semua beban kamu dalam pelukan kakak." Bisik Eka tulus memeluk Dira dan mencium puncak kepala Dira.
Hingga kinipun Dira sudah terisak dalam pelukan kakaknya yang terdengar oleh semua orang yang berada di sana tak terkecuali Kevin. Menumpahkan semua kemarahan, kesedihan, dan kekecewaan yang tengah ia rasakan dalam pelukan Eka.
Mendengar isakan Dira, hati Kevin merasa sesak, seperti ada yang meremasnya. Ingin sekali rasanya dia melampiaskan amarahnya pada wanita yang sudah membuat rumah tangganya yang baru seumur jagung bersama Dira berantakan.
Kevin ingin sekali memeluk istrinya, untuk bisa sama-sama saling menguatkan. Jujur saja, hati Kevin juga sangat hancur melihat orang yang sangat Kevin cintai itu menangis terisak seperti itu. Namun, ia sadar, saat ini mungkin Dira lebih membutuhkan pelukan Eka, sebagai kakaknya.
Melihat pemandangan haru Dira dan Eka, membuat semua orang itu juga ikut merasakan kesedihan yang tengah Dira rasakan hingga tanpa terasa, air mata merekapun lolos dari sudut mata masing-masing.
"Ra." panggil Aira yang kini sudah mendekat pada Dira dan membuat tubuhnya juga terkena guyuran hujan.
"Aira." Ucap Dira menoleh pada sahabatnya setelah melepas pelukan sang kakak.
Tak mengulur waktu, Aira langsung merengkuh tubuh Dira dan mendekapnya dalam pelukannya.
"Lo harus berbagi sama gue juga. Kita sahabat, lo selalu ada di saat gue sedih, jadi sekarang saatnya gue yang ada di saat tersulit dalam hidup lo." Ucap Aira dalam isakannya. Dirapun semakin terisak mendengar ucapan Aira.
"Nangis aja, Ra. Keluarin semuanya." Ucap Fany yang ikut memeluk Dira.
"Tapi setelah ini lo harus berhenti main hujan, karena bayi lo belum boleh terlalu lama kehujanan." Timpal Mellinda yang kini juga ikut memeluk tiga sahabatnya itu.
Mendengar ucapan Mellinda, membuat tiga sahabat itu menoleh pada Mellinda dan tersenyum bersama, Lalu kembali berpelukan dan berbagi kesedihan.
"Tadinya gue juga pengen meluk kalian, tapi gue sadar, kalo gue lakuin itu bakal ada dua orang yang siap bunuh gue sekarang juga." Ucap Jonatan sambil melirik ke arah Eka dan Kevin yang kini sudah berada di samping Eka bersama dengan Kevin. Mereka bertujuh pun kini sudah basah kuyup karena guyuran hujan.
Mendengar ucapan Jonatan, membuat empat gadis itu melepaskan pelukannya memberikan tatapan tajam pada lelaki tampan yang merupakan sahabatnya itu, beberapa detik kemudian, mereka tertawa.
"Sayang, udah kan main hujannya? Masuk yuk. Aku gak mau kamu sakit." Ucap lembut Kevin meminta Dira menyudahi kegiatannya. Dira pun mengangguk mengiyakan.
"Loh kok malah pada main hujan? Mama cariin dari tadi juga, malah pada di sini main hujan-hujanan." Ucap mama Vera. Dan merekapun hanya tersenyum pada mama Vera.
.
.
.
.
.
.
Tetap support author yaa...
Jangan lupa like, vote, dan komennya yaa...
__ADS_1
terimakasih π π π