
"Lo harus rapih dulu sebelum masuk." Ucap Rian pada seseorang sambil merapihkan pakaian orang tersebut.
BRUGH...
Rian mendorong seseorang itu hingga terjatuh tepat di bawah kaki Raya.
Raya membelalakkan matanya saat mengetahui sosok orang yang jatuh tepat di bawah kakinya.
"Gilang." Batin Raya.
"Lo pasti suka sama hadiah gue. Lo gak perlu berterimakasih karena gue udah bawa ayah kandung dari bayi ayang dalam perut lo." Ucap santai Rian.
"Apa maksud lo? Siapa dia? Gue gak kenal sama dia." Ucap Raya seraya menyembunyikan keterkejutannya.
"Cih, dasar ular." Rian berdecih.
"Ada yang mau lo jelasin, Ray?" Ucap Kevin dengan nada dingin.
"Jelasin apa? gue gak kenal sama dia. Lo jangan dengerin omongan Rian. Dia cuma mau ngehasut lo doang, Vin." Bantah Raya.
"Ray, please, hentikan semuanya. Aku ayah dari bayi yang kamu kandung, kamu tau itu, dan kamu gak bisa ngelak lagi." Tiba-tiba seseorang itu bersuara.
"Eh, jangan gila ya lo. Gue gak kenal sama lo." Ucap Raya dengan nada marah.
"Udahlah Ray, aku memang gak sekaya Kevin, tapi aku pasti sanggup membiayai hidup kamu dan anak kita. Hentikan semua drama ini. Kamu udah jebak Kevin dengan obat perangsang itu. Kamu tau kamu sudah hamil saat itu tapi kamu gak mau aku bertanggung jawab sama kamu, karena aku gak sekaya Kevin. Tolong pikirkan anak kita juga Ray, dia butuh ayah kandungnya. Bukan ayah yang sesuai dengan keinginanmu. Kevin juga sudah bahagia dengan keluarga kecilnya. Tolong beri aku kesempatan untuk bertanggung jawab atas kamu dan anak kita." Ucap laki-laki itu.
"Udah ah dramanya, mending sekarang lo akuin aja, Ray. Mumpung Kevin dan keluarga Dira masih berbaik hati sama lo. Seenggaknya itu akan mempermudah gue untuk mendapatkan promosi di perusahaan Kevin. Iya, gak bro?" Ucap Rian yang mulai jengah seraya mengedipkan matanya pada Kevin.
"Jijik gue, Ian. Tapi, okelah, untuk kerja lo ini, jangankan promosi, gue bahkan ikhlas ngasih lo satu cabang perusahaan gue untuk lo." Balas Kevin.
"Bonus yang menarik, tapi sayang gue gak pantes dapetin itu. Karena sebenernya yang udah dapetin nih orang bukan gue. Tapi Eka, kakak ipar lo sendiri." Ucap Rian.
"Eka?" Tanya Kevin memastikan.
"Iya, tapi, udah lah lo bisa tanyain dia nanti. Sekarang, mau lo apain nih orang-orang licik?" Ucap Rian seraya menanyakan tindakan Kevin untuk keluarga Raya.
"Seret mereka ke penjara. Laporin atas tuduhan penipuan, pencemaran nama baik, dan perbuatan yang tidak menyenangkan atas pesan-pesan yang di kirim ke istri gue." Ucap Kevin dengan nada dingin membuat keluarga Raya bergidik ngeri.
"Kevin, tolong maafin Raya, tolong kasihani dia. Dia sedang mengandung anak gue. Gue akan lakukan apapun tapi tolong, jangan penjarain mereka." Ucap laki-laki itu.
"Nama lo siapa?" Tanya Kevin.
"Gue, Gilang." Jawab laki-laki itu.
__ADS_1
"Gue minta, lo ceritain sedetail mungkin kejadian yang sebenarnya dihadapan keluarga gue terutama dihadapan istri gue." Perintah Kevin yang diiyakan oleh Gilang.
"Sayang, ayo ikut aku." Ucap Kevin mengajak Dira untuk ikut bersamanya. Dan Dirapun menurutinya.
"Ini istri gue, Dira. Sekarang lo bisa ceritain semuanya." Titah Kevin.
Akhirnya Gilang menceritakan semua kejadian itu hingga alasan kenapa Raya nekad menjebak Kevin dengan sengaja memberikan Kevin obat perangsang. Dan beruntungnya, hal itu tidak sampai terjadi karena Gilang datang di saat yang tepat dan membawa paksa Raya untuk pergi bersamanya.
Keluarga Kevin merasa lega setelah mendengar penjelasan dari Gilang. Tak terkecuali Dira, ia sangat bersyukur karena suaminya itu memang tak pernah menyentuh wanita lain selain dirinya. Namun, dibalik kelegaan hati keluarga Kevin, kini hati Raya sangat murka karena semua yang ia rencakan gagal.
"Gak, itu bohong. Gue gak pernah kenal sama lo. Dan ini, ini bukan anak lo. Ini anak Kevin. Vin, jangan percaya dia, dia mau fitnah aku. Ini anak kamu, Vin. Malam itu kamu melakukan itu dengan penuh cinta. Dan in-..."
"Tutup mulut lo, Ray sebelum kesabaran gue habis. Gue nyesel pernah punya hati sama lo. Cewek licik yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya." Sentak Kevin yang merasa jijik akan semua perkataan Raya.
PLAK...
"Tante." Lirih Raya saat mendapat sebuah tamparan dari mama Vera.
"Itu karena kamu sudah berusaha untuk menghancurkan rumah tangga anak saya." Ucap mama Vera.
PLAK...
PLAK...
Dua tamparan keras lagi yang mama Vera layangkan pada pipi mulus Raya.
PLAK...
"Tante!" Bentak Raya.
"Itu karena kamu, saya hampir saja kehilangan cucu saya."
"Kurang ajar." Umpat Raya.
"Jangan pernah lo sentuh mertua gue, dengan tangan kotor lo itu. Atau gue gak akan segan matahin tangan lo." Ucap Dira menepis tangan Raya yang hendak membalas tamparan mama Vera.
"Lo? Lo berani sama gue?" Sentak Raya.
"Auuuww..." Pekik Dira saat Raya sudah membalik posisinya dan kini tengah memiting leher Dira.
"Raya, lepasin istri gue." Bentak Kevin.
"Gak akan. Kalo gue gak bisa milikin lo, itu artinya gak ada wanita lain yang bisa milikin lo juga, termasuk Dira." Ucap Raya yang kini sudah memegang gunting dan mengarahkannya ke leher Dira.
__ADS_1
"Lepasin Dira, atau gue ledakin kepala lo dengan sekali tembak." Ucap Eka dengan nada dingin yang kini sudah mengarahkan Pistol berjenis Raging Bull 454 ke kepala Raya.
"Gue gak takut sama ancaman lo." Sentak Raya.
"Oke, kalo gitu, gue akan buat lo selalu berkumpul dengan keluarga lo." Ucap Eka sambil menunjuk pada 2 anak buahnya yang kini juga sudah mengarahkan pistol ke kedua orang tua Raya.
"Papa, mama." Ucap Raya lirih.
"Gue kasih lo pilihan, lepasin Dira dan menikah dengan Gilang hari ini juga setelah itu jangan pernah ganggu Kevin lagi, atau gue akan kirim lo dan orang tua lo ke surga juga hari ini." Ucap Eka dengan nada penuh ancaman.
"Oke, oke, gue bakal lepasin Dira, tapi lepasin dulu orang tua gue. Urusan kalian sama gue." Ucap Raya panik.
"Lo pikir gue bodoh? Lepasin Dira." Bentak Eka yang sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya hingga urat-uratnya terlihat jelas di dahi Eka. Sambil memberi kode pada Fany, dan Fany pun mengangguk paham dan segera melaksanakan perintah yang Eka berikan melalui kode itu.
Raya yang mendengar amarah Eka merasa sangat ketakutan dan menjatuhkan gunting yang ia pegang. Seketika itu juga, Fany langsung balik memiting Raya, membuat Raya melepaskan Dira. Dira langsung berhambur kepelukan sang kakak setelah Raya melepaskannya.
"Jangan takut, di sini ada kakak." Bisik Eka seraya mengecup pucuk kepala Dira.
"Karena lo udah milih pilihan yang pertama, sekarang lo harus nikah sama Gilang, baru gue akan lepasin kalian." Ucap Eka dengan nada dingin dan Raya langsung menurutinya.
Setelah pernikahan Raya dan Gilang selesai, sesuai janji Eka, dia melepaskan Raya dan juga orang tuanya yang sebelumnya sudah menandatangani surat perjanjian untuk tidak mengganggu Kevin dan Dira lagi.
"Ka, selama ini, lo yang nyekap Gilang?" Tanya Kevin setelah Raya dan keluarganya pergi dari kediaman keluarga Kevin.
"Kok kamu tanya gitu, yang sama kak Eka? Mana mungkin kak Eka yang sekap Gilang? Dia aja bantuin kamu kan nyariin Gilang?" Tanya Dira yang masih belum paham.
"Hahahaaa, sorry, gue gak ada maksud bikin lo panik. Tapi, gue cuma mau lihat usaha lo. Seberapa besar cinta lo untuk Dira, dan seberapa keras lo berjuang untuk adek gue. Tapi, gue salut sama lo. Dan sekarang, gue bener-bener percaya sama lo." Ucap Eka sambil tertawa.
"Pantes aja susah ngelacak keberadaan tuh orang, lah di sekap ketua mafia." Ucap Kevin sambil mendengus kesal pada kakak iparnya itu dan Eka semakin terkekeh mendengar itu.
"Tunggu deh, tadi kamu bilang apa? Kak Eka? Ketua mafia? Apa sih maksudnya?" Tanya Dira yang kebingungan.
.
.
.
.
.
Terus support author yaa...
__ADS_1
Dan jangan lupa like, vote, komen dan bagi cinta ♥️♥️kalian untuk author...
terimakasih 🙏 🙏 🙏