
"Pagi bunda, ayah. Halo calon kakak ipar yang bentar lagi nyusul jadi calon pengantin." Suara Kevin terdengar saat keluarga Wijaya akan melakukan sarapan mereka. Tak lupa Kevin menyalami calon mertuanya dan menjabat tangan calon kakak iparnya.
"Loh, udah dateng aja kamu, Vin?" Tanya mama Naira yang sedang menyiapkan makan untuk papa Rey.
"Iya, bun. Sekalian mau sarapan di sini. Hehehee. Oh iya, bun, Dira dimana?" Jawab Kevin sambil menanyakan calon istrinya karena Dira belum menampakkan batang hidungnya.
"Emang tante Vera gak masak apa, sampek lo numpang sarapan di sini?" Cibir Eka. Mereka berdua memang selalu saling ledek satu sama lain, tapi hal itu tentu tidak serius mengingat persahabatan mereka yang memang sudah terjalin sejak kecil. Sedangkan mama Naira dan papa Rey hanya tersenyum melihat tingkah keduanya.
"Mama gue udah masak, tapi gue maunya makan masakan calon mertua gue, salah emang?" Jawab Kevin.
"Udah-udah, gak baik berantem depan makanan. Kevin tolong kamu panggilkan Dira di kamarnya ya, suruh dia cepat turun." Pinta mama Naira yang diangguki Kevin namun sebelum Kevin berhasil beranjak, Eka sudah terlebih dulu menahan Kevin.
"Biar Eka aja ya, ma." Pinta Eka.
"Ini masih pagi, kalau Dira belum ..."
"Mama percaya ya sama Eka." Sela Eka seolah memahami maksud sang mama. Dan mama Naira yang memang ingin kedua anaknya itu segera berbaikan menyetujui permintaan Eka, Eka pun langsung beranjak ke kamar Dira.
"Emang belum baikan, bun?" Tanya Kevin.
"Belum, tapi semalem bunda udah bicara sama Dira, semoga aja mereka bisa baikan sebelum pernikahan kalian besok." Jawab mama Naira yang masih khawatir tentang dua kakak beradik itu.
"Mama gak maksa Dira untuk berbaikan dengan Eka kan?" Tanya papa Rey yang khawatir jika istrinya itu akan memaksa Dira, mengingat Dira tidak suka dipaksa, akan membuat hubungan kakak beradik itu akan semakin rumit.
"Enggak kok, pa. Mama cuma minta Dira untuk memikirkan semuanya dan mau menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik." Jawab mama Naira membuat papa Rey bernapas lega.
*****
"Nadira, kakak boleh masuk?" Tanya Eka dari luar kamar Dira tanpa mengetuk pintu.
"Masuk aja." Jawab Dira dan itu membuat Eka sangat senang.
"Kenapa belum turun? Di bawah sudah ada Kevin." Ucap Eka yang masih canggung.
"Mm, ini aku mau turun, baru selesai make up." Jawab Dira lembut.
"Dir, kakak mau minta maaf." Ucap Eka memberanikan diri meminta maaf pada adiknya. Dira yang mendengar itu langsung menoleh pada sang kakak, menatapnya dengan tatapan yang tak bisa Eka artikan.
Menarik nafas dan menghembuskannya pelan, kemudian Dira memeluk sang kakak.
__ADS_1
"Kakak gak perlu minta maaf, harusnya Dira bisa lebih memahami kakak. Dira sayang sama kak Eka. Walaupun sekarang ada Fany dalam hidup kakak, berjanjilah kakak akan tetap memperhatikan aku. Jangan pernah jadikan Fany koleksi kakak, dia gadis baik. Dan jangan pernah berubah sama aku. Aku tetap adiknya kakak kan walaupun aku akan menjadi istri Kevin, dan kakak akan menikah dengan Fany." Ucap Dira dalam pelukan Eka karena sekarang Eka sudah membalas pelukan adik tersayangnya itu. Eka yang mendengar kalimat tulus dari sang adik, tak kuasa menahan rasa harunya.
"Kakak janji, walaupun nanti kita sudah sama-sama punya keluarga kecil masing-masing, kakak akan tetap memprioritaskan kamu saat kamu butuh kakak." Jawab Eka sambil mengelus lembut rambut adiknya itu.
"Kakak juga janji akan menjaga Fany dengan baik. Kakak gak akan nyakitin dia." Lanjut Eka.
Tak lama setelah moment mengharukan itupun seseorang masuk ke kamar Dira memecah keharuan yang terjadi beberapa saat lalu sekaligus membuat Dira melepas pelukannya dari sang kakak.
Flashback on...
Kevin yang khawatir jika Dira masih marah dengan Eka akhirnya memutuskan untuk menyusul sahabatnya itu.
"Bun, Kevin boleh susul Eka ke kamar Dira?" Tanya Kevin meminta izin pada calon mertuanya.
"Boleh. Susul aja. Suruh mereka cepat turun dan sekalian kamu cek takut mereka berantem." Titah papa Rey yang diangguki Kevin.
Sesampainya depan kamar Dira, Kevin mengurungkan niatnya untuk langsung masuk kekamar tersebut. Kevin memutuskan untuk mendengarkan percakapan mengharukan antara kakak beradik itu.
Namun merasa dirinya juga akan ikut meneteskan air mata jika lebih lama lagi menguping, Kevin pun memutuskan untuk masuk ke kamar Dira.
Flashback off...
"Gue gak akan rela nyerahin adek gue ke cowok brengsek kayak lo sebelum lo janji gak akan pernah nyakitin adek gue." Ucap Eka tiba-tiba.
"Ish, gue kan udah berapa kali bilang sama lo, gue udah tobat. Dan sekarang di hidup gue cuma ada Dira." Jawab Kevin.
"Ya kali aja lo masih ada niatan buat nyari cewek lain, gue acak-acak besok acara lo." Ujar Eka yang tentu itu hanya candaan saja.
"Kakaaaak." Ucap Dira dengan sedikit meninggikan suaranya.
"Iya... iya... sorry. Canda doank dek. Udah yuk sarapan, kakak laper. Oh iya dek, kakak boleh ikut gak, nemenin kamu cari gaun dan cincinnya?" Ucapan Eka dan meminta untuk ikut menemani sang adik. Mungkin Eka menyadari bahwa akan sulit untuk menemani adiknya lagi ketika Dira dan Kevin sudah menikah nanti. Walaupun dia tau Kevin tidak akan melarangnya, tapi tetap saja bukan kalau Dira tidak akan setiap hari lagi dilihatnya. Karena setelah menikah nanti, Dira akan tinggal di rumah Kevin, mengingat Kevin adalah anak tunggal.
"GAK BOLEH! Entar lo gangguin kita lagi." Protes Kevin.
"Gue gak lagi minta persetujuan lo. Tapi Dira. Karena jelas lo gak bakal bolehin gue ikut, karena lo gak bakal bisa nyosor-nyosor ke adek gue kan kalo ada gue." Balas Eka membuat Kevin memelototkan matanya pada Eka.
"Aish, lo kayak gak pernah aja sama Fany." Cibir Kevin yang langsung mendapat jitakan dari calon kakak iparnya itu.
"Lo lupa gue LDR? Gimana mau nyosor kalo cewek gue ada di negeri orang ****?" Saut Eka membuat Dira pusing mendengar perdebatan dua laki-laki tampan yang sangat Dira sayangi itu.
__ADS_1
"Udah donk... Kalian gak capek berantem mulu? Udah mau jadi ipar juga." Ucap Dira menengahi keduanya.
"Ayo lah, Dira udah laper. Sarapan yuk. Kalau kalian masih mau berdebat, aku kunciin nih di kamar." Lanjut Dira karena kedua lelaki itu ternyata masih belum beranjak dari tempatnya.
Mendengar hal itu, baik Kevin dan juga Eka bergegas menyusul Dira. Karena mereka tau Dira tak akan main-main dengan ucapannya jika mereka berdua sudah berdebat.
"Yang, tunggu donk." Teriak Kevin sambil berlari menyusul Dira dan diikuti oleh Eka.
"Pagi ma, pa." Sapa Dira sambil mencium pipi kedua orang tuanya yang berada di meja makan.
"Pagi juga sayang." Balas sapa papa Rey.
"Dir, kamu duduk sebelah kakak aja." Pinta Eka pada Dira.
"Enak aja, Dira calon bini gue, jadi dia duduk di sini dan melayani gue untuk makan." Protes Kevin atas permintaan Eka.
"Eh, lo kan baru besok jadi suami Dira, jadi sekarang Dira masih hak gue sebagai abangnya." Bantah Eka membuat Dira dan kedua orang paruh baya yang ada di sana hanya bisa berdecak kesal sekaligus lucu.
"Udah... udah... Gini aja, Dira akan duduk di tengah antara Kevin dan kak Eka. Jadi, kalian gak perlu berantem. Capek lihatnya." Dira memberi jalan tengah yang disetujui oleh Eka dan juga Kevin.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangn lupa like, komen, dan votenya yaa...
Terus dukung aku serta berikan kritik dan saran kalian agar karyaku bisa lebih baik lagi kedepannya...
__ADS_1
terimakasih...