
"Tapi aku akan menikahi Raya dengan beberapa syarat." Lanjut Kevin sambil tetap merengkuh bahu istrinya untuk saling menguatkan. Kevin tau saat ini hati istrinya sudah sangat hancur.
Seandainya dia tidak pernah menjadi seorang playboy, mungkin hari ini Kevin akan merasakan bahagia yang sangat luar biasa mendengar Dira tengah mengandung buah hati mereka.
"Syarat?" Tanya tante Rani memastikan ucapan Kevin.
"Ya, syarat yang harus kalian penuhi jika memang ingin aku menikahi Raya. Tante tentu tau aku tidak pernah takut berhadapan dengan media. Jadi, ancaman tante pun sebenarnya tidak mempengaruhi ku. Tapi karena istriku tercinta yang memintaku untuk menikahi Raya, maka aku akan melakukannya, tapi dengan syarat." Ucap Kevin.
"Baiklah, apa syaratnya?" Tanya tante Rani.
"Pertama, aku mau pernikahan ini dilakukan secara siri. Walaupun Dira selaku istri pertamaku mengizinkanku, tapi aku tidak akan melakukannya, jadi aku hanya akan menikahi Raya secara siri. Yang kedua, aku mau, tidak ada orang lain yang tau tentang pernikahan ini, hanya aku, istriku, orang tuaku, tante, om Bram, dan juga Raya sendiri yang tau tentang pernikahan ini. Jika sampai ada yang mengetahui selain kita, maka saat itu juga aku akan menceraikan Raya. Yang ketiga, pernikahan itu akan dilaksanakan di sini, bahkan setelah menikahpun Raya harus tinggal di rumah ini. Yang keempat, jangan pernah menuntut nafkah batin dari ku karena sampai kapanpun aku tidak akan memberikan hak itu pada orang lain selain pada Dira."
"Kevin." Bentak Dira.
"Sayang, aku belum selesai. Masalah nafkah uang, itu nanti Dira yang akan mengaturnya." Ucap Kevin.
"Raya juga nanti akan menjadi istrimu. Aku tidak berhak mengatur nafkah darimu untuknya." Ucap Dira sambil menundukkan kepalanya.
"Kamu istri pertamaku, kamu berhak untuk itu karena aku yang memberimu hak. Dan lagi, aku sudah bersedia memenuhi kemauanmu untuk menikahinya. Maka jangan tambah bebanku lagi dengan membantah semua syarat yang aku berikan pada mereka. Cukup penuhi janjimu untuk tetap setia di samping ku dalam keadaan apapun, aku juga akan memenuhi semua yang kamu mau yang pasti dengan syarat-syarat yang aku tentukan." Ucap Kevin sambil menatap tajam mata istrinya.
"Sekarang, cukup diam dan beri aku kekuatan untuk menghadapi semua ini. Aku akan menyelesaikannya dan tak akan pernah menyakitimu. Ku pastikan ini terakhir kali, kamu memberikan pilihan yang tak bisa aku terima tanpa kamu memohonnya." Lanjut Kevin yang berhasil membungkam Dira.
"Dan syarat yang terakhir, Raya harus siap untuk tes DNA nanti, sesaat setelah bayi itu lahir. Dan apapun hasilnya nanti, aku akan tetap menceraikan Raya setelah usia bayinya menginjak enam bulan. Datanglah lagi kemari besok hari untuk menandatangani surat perjanjian itu bersama dengan Raya dan om Bram, jika tante mau aku menikahi Raya dan menerima semua syarat yang aku ajukan. Jika tidak, silahkan sebar ke media, toh bukan hanya keluarga ku yang akan malu, tapi kalian juga, terlebih Raya adalah seorang wanita, tentu saja pandangan masyarakat padanya akan sangat buruk. Efeknya padaku? Tentu aku hanya akan kehilangan beberapa klien dan tak berdampak pada masa depanku juga istriku." Ucap Kevin yang masih berusaha menahan emosinya yang kian memuncak. Membuat tante Rani terkejut akan perkataan yang Kevin ucapkan dan tak memiliki pilihan lain. Karena memang benar apa yang diucapkan oleh Kevin.
__ADS_1
"Baiklah, tante akan datang lagi besok bersama Raya dan juga om Bram. Saya permisi dulu." Ucap tante Rani seraya pergi dari rumah itu.
Mama dan papa Kevin pun beranjak dari ruang tamu, mereka sedari tadi berusaha menahan emosi mereka pada putra semata wayangnya. Rasanya ingin sekali mereka menghajar Kevin, namun masih memikirkan perasaan Dira yang sudah mereka anggap putri kandung mereka.
"Sayang,..."
"Aku capek. Ingin istirahat. Tolong jangan menggangguku." Ucap Dira memotong ucapan Kevin dan langsung beranjak dari tempat itu menuju kamarnya.
Kevin yang tak ingin masalah ini berlarut-larut, menyusul Dira ke kamar mereka.
"Sayang ak-.."
"Kalau kamu mau membicarakan masalah ini, lebih baik aku tidur di kamar tamu." Ucap Dira tanpa menatap Kevin.
"Baiklah. Kamu istirahat saja. Aku akan membawakanmu makan malam." Ucap Kevin yang pasrah dengan kemarahan sang istri.
"Aku akan memberimu waktu, tapi jangan pernah mencoba pergi dariku. Karena sampai kapanpun juga aku tidak akan pernah melepaskanmu." Ucap Kevin yang langsung masuk ke kamar mandi, membersihkan dirinya, dan mendinginkan kepalanya. Dira mendengar ucapan Kevin, semakin membuatnya tak kuasa menahan tangisnya.
"Kenapa? Kenapa kamu tidak bisa menahannya? Dulu aku menahanmu pergi agar aku tak pernah kehilanganmu, tapi kamu yang berjanji akan kembali. Tapi kenapa saat kamu kembali, kamu juga memberiku rasa sakit yang seperti ini? Tak pernah aku bayangkan jika aku akan berbagi suami dengan wanita lain. Kenapa kamu harus melakukan hal bodoh itu? Tadinya aku ingin memberimu kejutan, memberi tahumu bahwa saat ini aku sedang mengandung anakmu, buah hati kita. Tapi di saat yang bersamaan, kamu yang justru memberi ku kejutan luar biasa ini. Tuhan, tolong jaga bayiku. Aku tidak akan membuatnya merasakan apa yang aku rasakan. Tolong beri aku kekuatan, Tuhan." Ucap Dira dalam hatinya sedangkan matanya tak henti-hentinya mengalirkan air mata.
Sungguh ini sangat menyakitkan hatinya. Jika saja Dira tidak sedang mengandung, mungkin saat ini Dira lebih memilih untuk menceraikan Kevin. Pergi sejauh mungkin dari lelaki brengsek yang berstatus suaminya itu.
Dira tak henti-hentinya menangis, membuat tubuhnya bergetar dan selimut yang ia gunakan juga ikut bergetar. Kevin yang baru selesai mandi itupun menyadari istrinya sedang menangis saat melihat selimut yang Dira kenakan itu bergetar.
__ADS_1
Kevin berjalan menuju ranjang, menarik selimut yang sedari tadi menutupi tubuh istrinya. Menarik badan Dira hingga terbangun, membuatnya menatap Kevin.
"Menangislah. Tapi setelah itu, tolong maafkan aku. Aku berani bersumpah demi apapun, aku tidak pernah menyentuh wanita selain dirimu. Akupun menikahinya hanya karena kamu yang memintanya. Tolong berhentilah menangis karena lelaki brengsek sepertiku. Berikan aku hukuman, pukul aku, tampar aku sesuka hatimu, tapi aku mohon, percayalah padaku. Beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku tidak bersalah. Itu bukan anakku. Aku mohon percayalah. Jangan seperti ini. Jangan menghukum dirimu sendiri. Aku sudah berjanji akan membahagiakanmu, jadi ku mohon beri aku kesempatan." Ucap Kevin yang sudah menangis di pangkuan Dira, memohon agar istrinya itu mau memberinya kesempatan dan mempercayainya lagi.
Dira mengangkat kepala Kevin agar menatapnya, memberikan kecupan singkat di bibir Kevin sambil menangkup wajah sang suami.
"Aku memberimu kesempatan, buktikan semuanya itu salah. Buktikan bahwa itu bukan anakmu. Dan tolong jangan sia-siakan kesempatan yang aku berikan. Aku sangat mencintai mu, aku tak sanggup lagi jika harus jauh darimu." Ucap Dira dengan diakhiri kecupan dan lumatan pada bibir Kevin.
Dan ya, malam itu berakhir menjadi malam yang panjang dan panas untuk sepasang suami istri yang tengah dirundung masalah. Saling meluapkan emosi di setiap hentakannya. Dan saling bertukar kenikmatan diantara amarah yang ada.
.
.
.
.
.
.
Tetap support author yaa...
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan komennya yaa...
terimakasih 🙏 🙏 🙏