
"Gu-gue..." Fany hendak menjawab pertanyaan Dira namun segera di potong oleh Eka.
"Iya, Fany pacar aku sekaligus calon istri aku." Ucap Eka yang membuat semua orang kaget mendengarnya.
"What? Sejak kapan? Kok lo gak pernah cerita sama gue, Fan? Lo juga kak, lo udah gak anggap gue adek ya?" Ucap Dira merasa kecewa pada kakak dan sahabatnya.
"Aku tadinya pengen cerita sama kamu, dek, tapi Fany selalu ngelarang aku karena takut kamu gak suka kalo kita deket." Eka berusaha menjelaskan agar adiknya itu tak salah faham.
Hubungan Eka dan Dira memang sangat dekat, selain karena mereka saudara kandung, mereka juga berkomitmen untuk gak nutupin apapun satu sama lain. Jadi wajar bila Dira merasa kecewa karena kakaknya menutupi sesuatu darinya. Bukan karena Dira tidak menyukai Fany. Tapi lebih karena merasa tidak lagi dihargai. Saat Dira selalu jujur tentang apapun dan Eka selalu ada untuknya, kini Dira merasa Eka tak membutuhkannya lagi.
"Dira mau ke kamar dulu ya. Capek. Oh ya, Ra, besok temenin gue dan Kevin nyari gaun dan cincin ya." Pamit Dira yang hendak masuk ke kamarnya seraya mengajak Aira untuk menemaninya esok hari dan Aira pun mengiyakannya.
"Yang, kamu gak papa kan?" Tanya Kevin yang menyadari gadis itu sedang tidak dalam mode baiknya.
"Aku gak papa. Aku masuk dulu." Ucap Dira yang langsung melangkahkan kakinya ke lantai atas menuju kamarnya dan tak lupa menatap semua orang satu persatu kecuali pada Eka dan Fany untuk berpamitan.
Sedangkan Eka dan Fany hanya bisa menatap nanar kearah Dira tanpa bisa melakukan apapun. Mereka sadar apa yang mereka tutupi itu membuat Dira kecewa. Namun dengan memaksa Dira untuk mendengarkan penjelasan mereka sekarang juga tidak akan baik. Dan yang lainpun juga tak bisa melakukan apapun untuk menghentikan Dira ketika gadis itu lebih memilih diam dan pergi, bukan marah-marah, mereka semua paham bahwa Dira bukan hanya sekedar marah. Melainkan juga kecewa.
Saat ini mungkin Dira hanya butuh waktu. Dia sangat menyayangi Eka, jadi tidak mungkin dia bisa berlama-lama untuk marah pada kakaknya.
"Eka, apa kamu serius dengan omongan kamu tadi? Bahwa kamu ingin menikah dengan Fany?" Tanya serius papa Rey.
"Iya, pa. Eka serius." Jawab Eka lantang.
__ADS_1
"Sejak kapan kalian berhubungan?" Kini mama Naira yang bertanya.
"Sudah 1 tahun, ma." Ucap Eka membuat Aira membulatkan matanya tak percaya jika sahabatnya itu tak menceritakan apapun tentang hubungannya sudah berjalan lama dengan lelaki tampan yang juga kakak dari sahabatnya yang lain padanya ataupun pada Dira.
"Kok lo gak pernah cerita sih sama gue ataupun Dira?" Bisik Aira yang kini sudah berpindah duduk di sebelah Fany. Namun gadis itu hanya diam dan tetap menundukkan kepalanya.
"Maaf, Eka gak pernah cerita sama kalian. Eka tau kalian pasti kaget. Apa lagi Dira, dia pasti kecewa banget sama Eka karena udah gak jujur sama dia. Tapi Eka gak punya pilihan lain, ma, pa. Fany terlalu khawatir sama Dira. Fany takut Dira gak bisa nerima dia sebagai pacar aku. Dan kita yang kemarin ngejalani LDR, buat Eka gak bisa berbuat apa-apa. Karena Eka gak mau ada masalah sama Fany selama kita masih LDR. Karena kalo sampai ada masalah, penyelesaiannya pasti akan ribet. Jadi mau gak mau Eka terpaksa nutupi ini semua dari kalian dan menunggu waktu yang tepat. Dan Eka pikir, sekarang waktu yang tepat." Eka menjelaskan tentang hubungannya dengan Fany dan mama serta papapun akhirnya menerima alasan Eka dan merestui hubungan mereka. Namun mama Naira dan papa Rey meminta Eka dan Fany untuk berbicara terlebih dahulu pada Dira agar kesalah pahaman ini tidak berlarut, mengingat Eka dan Dira tidak pernah bertengkar sampai Dira membungkam seperti saat ini. Tentu membuat mama dan papa khawatir tentang hubungan kakak beradik itu.
"Iya ma, pa, nanti Eka dan Fany pasti akan bicarain ini baik-baik dengan Dira. Eka juga gak mau Dira marah lama-lama sama Eka." Perkataan Eka membuat hati orang tuanya begitu lega.
"Om, tante, Fany minta maaf, gara-gara Fany, mas Eka jadi marahan sama Dira. Tapi Fany gak pernah bermaksud seperti itu. Fany sayang sama Dira. Tapi Fany juga gak tau kalau Dira akan semarah ini sama Fany. Ini yang Fany takut kan om, tan. Fany gak siap kalau harus kehilangan sahabat seperti Dira. Dan Fany juga siap untuk pisah sama mas Eka kalau Dira emang gak suka Fany punya hubungan dengan mas Eka." Ujar Fany memberanikan diri berbicara pada orang tua Eka dan Dira.
"Yang, kamu apa-apaan sih? Gak gitu juga. Aku tau Dira ...."
"Iya tante, Fany minta maaf. Nanti Fany akan jelasin semuanya sama Dira. Karena ini bukan sepenuhnya salah mas Eka. Mas Eka hanya menuruti keinginan Fany aja, tan. Fany bener-bener minta maaf." Ucap Fany dengan masih tertunduk.
"Iya, udah gak papa. Semuanya sudah terjadi kan. Sekarang tinggal meluruskan kesalah pahaman ini." Pinta mama Naira yang diangguki oleh Eka dan juga Fany.
"Lo tenang aja, tuh kan ada calon lakinya Dira, pasti dibantu deh sama dia. Gak mungkin kan dia diem aja liat calon istrinya marahan sama kakaknya lama-lama. Iya gak, Vin?" Ucap Jonatan sambil menunjuk kearah Kevin membuat Fany semakin merasa tenang.
"Iya, lo gak perlu khawatir, nanti gue coba bicara sama Dira." Timpal Kevin.
"Eh bentar deh, Dira bentar lagi nikah sama pak Kevin. Terus lo nyusul nikah sama bang Eka. Lah gue jomblo sendiri donk." Rengek Aira karena tersadar diantar tiga sahabat perempuan minus Jonatan tentunya, hanya Aira seoranglah yang masih jomblo. Sontak celotehan Aira itu membuat semua orang tertawa dan membuat suasana menjadi cair.
__ADS_1
"Lo sama si Jo aja, Ra. Kasihan kan si Jo bentar lagi ditinggal Dira nikah. Toh sama-sama jones ini." Ucap Eka meledek Aira dan juga Jonatan membuat semua orang semakin terkekeh. Sedangkan yang diledek hanya mendengus kesal dan menatap Eka dengan tatapan mematikan.
.
.
.
.
.
.
.
.
jangan lupa like, komen dan votenya yaa...
👍📃♥️
terimakasih...
__ADS_1