
Di rumah Jonatan...
Setelah pulang dari menemani Dira dan Kevin berbelanja guna kebutuhan pernikahan mereka, Jonatan langsung pamit pulang terlebih dulu. SESAK. Itu yang kini tengah lelaki tampan itu rasakan.
Jonatan sangat mencintai Dira, bahkan mungkin melebihi dirinya sendiri. Ada sedikit rasa sesal di hatinya mengapa tidak dari awal pertemuan mereka, Jonatan mendekati dan memberinya perhatian layaknya seseorang yang mencintai, bukan sebagai sahabat.
Ya, dulu Jonatan berpikir menjadi sahabat Dira adalah hal yang tepat untuk ia lakukan karena dengan begitu, Jonatan akan mudah mendekati Dira, mengetahui kebiasaan gadis itu dan bahkan mungkin bisa mencuri hati gadis itu juga. Tapi kenyataan pahit yang kini harus ia rasakan, karena pilihannya untuk menjadi sahabat Dira justru membuatnya kehilangan gadis yang sudah sejak SMA dia cintai. Terlebih, yang merebut gadisnya itu adalah sepupunya sendiri, Kevin.
Namun di sisi hati Jonatan yang lain, dia merasa sedikit lega, karena kebahagiaan yang tampak di wajah Dira sangatlah nyata, dan Kevin juga terlihat sangat mencintai gadis itu. Terlepas Kevin adalah seorang playboy, tapi saat ini Kevin mampu menunjukkan pada Jonatan bahkan dunia jika hanya Dira lah satu-satunya gadis yang Kevin cintai.
Jonatan juga sekarang sudah ikhlas melepas Dira karena apa yang ia khawatirkan tentang Kevin setelah melihatnya di hotel beberapa waktu lalu tak benar adanya. Jonatan hanya salah paham, setelah menyelidikinya langsung, niat awal yang ingin merebut Dira dari Kevin, ia urungkan setelah mengetahui fakta kejadian di hotel itu hanyalah jebakan untuk Kevin.
Kini Jonatan hanya mampu berpura-pura bahagia untuk Dira dan Kevin. Karena sejujurnya saat ini adalah saat paling terpuruk untuk Jonatan, jika Jonatan tidak bisa mengendalikan hatinya saat ini mungkin saja dia bisa menjadi gila karena pernikahan Kevin dan Dira yang sudah di depan mata.
Memang tak ada yang tau betapa dalamnya cinta Jonatan untuk Dira. Karena selama ini, ia hanya menunjukkannya dengan cara cengengesan yang jika orang lain lihat, Jonatan hanya bermain-main dengan perasaannya untuk Dira. Hanya mama Jonatan dan Aira lah yang mengetahui betapa besar cinta Jonatan untuk gadis pujaannya itu.
"Nak, lagi sibuk?" Ucap mama Vina diambang pintu kamar Jonatan.
"Gak, ma. Masuk aja." Ucap Jonatan yang sambil melihat fotonya bersama Dira saat mereka liburan bersama untuk pertama kalinya.
"Apa kamu sudah merelakan Dira, nak?" Tanya mama Vina yang sudah duduk di samping putranya yang sedang fokus pada foto yang ia pegang. Sontak pertanyaan itu membuat Jonatan langsung menatap sang mama intens lalu memeluknya.
"Apa Natan punya dosa di masa lalu, ma? Hingga Tuhan tidak membiarkan Jonatan memiliki orang yang paling Natan cintai?" Ucap Jonatan yang kini sudah terisak di pelukan sang mama.
"Apa Jonatan sangat buruk, ma hingga Dira tidak bisa memberi bahkan satupun kesempatan untuk bisa memilikinya walau sesaat?" Lanjut Jonatan.
"Kenapa harus Natan mencintai Dira sedalam ini jika memang Tuhan tidak mentakdirkan Dira untuk Natan, ma?" Jonatan terus mengeluarkan uneg-unegnya pada sang mama hingga ia tak sanggup lagi membendung air mata yang sejak lama ia tahan.
"Ya betul, Jonatan adalah seorang laki-laki, dia tampan, mapan, banyak gadis yang mau untuk menjadi kekasihnya. Tapi tak satupun dari mereka yang mampu memikat hati seorang Jonatan Adityatama. Hanya Dira lah yang mampu meluluhkan hati lelaki tampan itu, bahkan sejak pertama kali ia mengenal cinta, Dira lah gadis yang mendapat cinta pertama itu hingga saat ini. Namun sayang, perasaan Jonatan tak bisa terbalaskan karena memang di hati Dira sudah ada nama Kevin, bahkan jauh sebelum kehadiran Jonatan, nama Kevin sudah terpatri di hati seorang Nadira Putri Wijaya.
__ADS_1
"Menangislah, nak sepuasmu hari ini. Mama tau ini berat untukmu. Satu-satunya gadis yang kamu cintai dari pertama hingga saat ini cuma Dira. Tapi mama yakin, suatu saat, kamu akan menemukan seorang gadis yang lebih dari Dira, dan dia juga akan mencintaimu." Ucap mama Vina yang juga sangat sedih melihat kondisi putranya saat ini.
"Menangislah, sampai hatimu terasa ringan dan tak ada lagi beban. Terkadang memang cinta tidak harus memiliki, cinta yang tulus tidak akan mengharapkan balasan. Mama yakin Dira juga ingin yang terbaik untukmu. Dira gadis baik, dia pantas mendapat yang terbaik, tapi mungkin menurut Tuhan, kamu bukan yang terbaik untuk Dira. Begitupun sebaliknya, kamu laki-laki yang baik, juga pantas untuk mendapat gadis terbaik, tapi itu bukan Dira. Mungkin sekarang Dira sudah menemukan apa yang terbaik untuknya, kamu sudah memutuskan untuk menjadi sahabatnya, maka berbahagialah juga untuk Dira, kalau kamu sedih, Dira juga tidak akan merasa bahagia. Kamu mau kan Dira bahagia?" Ucap mama Vina berusaha menenangkan putra kesayangannya dan Jonatan hanya menjawabnya dengan anggukan yang masih terisak dalam pelukan sang mama.
"Kalau begitu, belajarlah ikhlas, dan buka hati kamu untuk wanita lain." Ucap mama Vina dan itu membuat Jonatan langsung melepas pelukannya.
"Untuk belajar ikhlas, Natan siap, ma. Tapi untuk membuka hati untuk wanita lain, Natan rasa sulit untuk saat ini. Butuh waktu, ma." Ucap Jonatan.
"Gak apa-apa, nak. Semuanya memang butuh proses, mama memahami itu. Tapi satu yang mama harapkan dari kamu, setelah hari ini, jangan pernah bersedih lagi. Hm?" Pinta mama Vina.
"Natan usahain ya, ma. Terimakasih, mama memang tempat curhat terbaik yang Natan punya. Terimakasih mama sudah selalu mengingatkan Natan. Natan gak tau kalau mama Natan bukan mama, mungkin Natan gak akan setegar ini." Ucap Jonatan sambil memeluk sang mama lagi.
*T*ok... tok.. tok...
"Permisi, aden, nyonya, di bawah ada den Kevin katanya mau ketemu sama den Natan." Ucap bi Rima, ART keluarga Jonatan.
"Kevin? Ada apa dia kemari?" Tanya mama Vina.
"Ya udah bi, suruh tunggu sebentar ya, dan tolong buatkan minuman." Titah Mama Vina yang langsung dilaksanakan oleh bi Rima.
"Kamu cuci muka dulu, gak enak di lihat Kevin habis nangis karena calon istrinya. Mama akan temui Kevin dulu, setelah itu kamu langsung nyusul kalau sudah selesai." Suruh mama Vina yang langsung diangguki Jonatan. Dan mama Vina pun langsung beranjak dari kamar Jonatan menuju ruang tamu untuk menemui keponakan kesayangannya itu.
"Aduh, tante kedatangan calon pengantin nih. Gimana kabar kamu, nak? Mama dan papa sehat?" Sapa mama Vina pada Kevin yang langsung memeluk keponakannya itu, tak lupa menanyakan kabar orang tua Kevin yang tak lain adalah kakaknya sendiri.
"Kevin, mama, dan papa sehat tante. Tante apa kabar?" Sapa Kevin balik.
"Seperti yang kamu lihat, tante sehat. Oh iya, udah siap belum nih jadi suami? Nanti jangan jadi playboy lagi ya, jaga Dira baik-baik, atau kalau gak, tante yang akan merebut Dira untuk Natan." Ledek tante Vina yang sukses membuat Kevin memucat.
"Becanda kok, Vin. Jangan tegang gitu deh. Kamu tenang aja, Natan gak akan ganggu rumah tangga kalian nanti." Ucap tante Vina membuat Kevin bernapas lega.
__ADS_1
"Iya tante, Kevin tau itu. Natan anak baik dan dia juga adik Kevin, jadi Kevin yakin Natan gak akan ganggu rumah tangga Kevin. Walaupun kelihatannya kita gak akur, tapi Kevin tau kita saling menyayangi. Kevin udah anggap Natan adik kandung Kevin sendiri, tan. Bukan adik sepupu." Ujar Kevin membuat tante Vina bahagia mendengarnya.
"Vin, ada apa? Bi Rima bilang lo mau ketemu sama gue." Sapa Jonatan yang kini sudah berada di ruang tamu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terus dukung karya ku yaa...
kalau boleh, bagi donk dikit poinnya untuk vote aku... hehehee...
jangan lupa tetap like, komen, dan berikan cinta ♥️ kalian untuk karya author yaa..
Biar author makin semangat nulisnya...
__ADS_1
terimakasih... 😉😉😉🙏🙏🙏