
"Kamu gak tau, yang kalau kakak kamu ini ketua mafia?" Tanya Kevin terkejut.
"Kak...." Ucap Dira menuntut penjelasan dari Eka.
"Huft... Iya, waktu kakak ke luar negeri waktu itu, sebenernya kakak lagi ngurus untuk keperluan pemindahan kekuasaan itu dari om Franky. Kakak mau cerita sama kamu, eh kamu malah lagi galau-galauan gara-gara nih curut." Eka menjelaskan pada Dira seraya menunjuk Kevin.
"Terus Fany, tadi, dari mana dia bisa bela diri gitu?" Tanya Dira.
"Ya, sama seperti kamu, kakak yang ngajarin. Masak iya calon istri ketua mafia gak bisa bela diri? Gak keren dong." Ucap Eka.
"Cih, eh tapi, kakak keren loh tadi." Ucap Dira yang kagum akan aksi kakaknya tadi.
"Masih ada makanan, gak? Gue laper nih." Ucap Rian yang baru saja kembali setelah memastikan keluarga Raya benar-benar pergi dari kota itu.
"Rian, jadi bener, kamu Rian yang dimaksud kak Eka tadi?" Batin Mellinda, dan langsung beranjak hendak pulang.
"Gue duluan, ya. Takut ada pasien." Pamit Mellinda untuk menghindari seseorang.
"Melly." Batin Rian.
"Mell, tunggu." Rian menahan lengan Mellinda saat hendak pergi, membuat semua orang yang melihatnya merasa heran.
"Sorry, gue buru-buru." Jawab Mellinda seraya menepis tangan Rian.
"Mell, gue bisa jelasin semuanya. Dan tolong, lo juga harus mau dengerin penjelasan gue." Ucap Rian memelas.
"Kalian udah saling kenal?" Tanya Aira.
"Mellinda mantan pacar gue yang mas-..."
"Itu masa lalu." Timpal Mellinda, memotong ucapan Rian.
Mendengar hal itu, membuat semua orang terkejut. Pasalnya mereka memang tidak mengetahui jika Rian dan Mellinda pernah memiliki hubungan.
"Jadi, Melly yang selalu bikin lo galau itu maksudnya Mellinda?" Tanya Kevin memastikan yang langsung diiyakan oleh Rian.
"Yang, kita kayaknya harus bantu Rian dan Mellinda deh." Bisik Kevin pada Dira yang tengah bersandar di dada bidang miliknya.
"Caranya?" Tanya Dira sambil mendongak ke arah Kevin.
Kevin membisikkan sebuah ide yang terlintas begitu saja di kepalanya pada Dira.
"Kamu yakin?" Tanya Dira. Kevin hanya mengangguk.
"Oke deh." Putus Dira.
"Aduuuhhh, perut gue, Mell, tolong Mell, perut gue kayaknya kram deh, aduh sakit." Dira meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Kamu kenapa yang?" Ucap Kevin dengan nada paniknya.
"Dir, lo gak papa kan?" Tanya beberapa orang yang ada di sana.
"Asli, bego emang, udah di bilangin gue sakit masih ditanya gak papa, kalo gue bilang sakit, berarti gue lagi kenapa-kenapa." Sentak Dira yang tak habis pikir akan pertanyaan yang terlontar dari sahabatnya yang lain.
"Tolong bawa Dira ke kamarnya, gue akan periksa Dira." Ucap Mellinda.
"Ka, tolong lo bawa istri gue ke kamar ya, gue masih ada perlu sama Rian sebentar." Ucap Kevin.
"Eh, lo bini sakit malah mentingan urusan lo sama Rian. Inget, lo yang bikin tuh bayi, kok malah gue sih yang repot?" Protes Eka namun Eka tetap melakukan apa yang Kevin minta.
"Dira juga adik lo kali, kalo lupa." Cibir Kevin menanggapi ucapan Eka.
"Aduh, malah berantem sih, ayo buruan kak, udah sakit ini perut aku." Tegur Dira.
"Iya ini udah jalan, dek. Sabar dong nanti jatuh gimana?"
"Duh, lelet banget sih kak?"
"Untung adek, kalo bukan, udah gue lempar lo ke bawah." Gerutu Eka namun masih terdengar di telinga Dira.
"Lo bilang apa barusan? Gak gue restuin lo nikah sama Fany baru tau rasa." Dengus Dira.
__ADS_1
"Bercanda doang dek. Sensi banget sih."
"Bodo."
*****
"Rian, ayo buruan ikut gue, Dira lagi ngidam, tapi dia minta lo yang harus menuhi." Ucap Kevin seraya menarik tangan Rian untuk segera menyusul istrinya ke kamar.
"Lo yang ngadon ngapain gue yang repot sih, Vin? Itu istri, istri lo, anak, juga anak lo, kenapa ngidamnya harus gue yang menuhi?" Protes Rian.
"Lo nolak? Lo mau gue pecat?" Ancam Kevin.
"Sialan emang lo, ancemannya kerjaan mulu. Tapi cabang perusahaan lo jadi kan buat gue satu?" Canda Rian.
"Iya, udah gampang, yang penting lo ikut aja dulu." Ucap Kevin dan Rian pun menuruti permintaan itu.
*****
"Ini gak papa loh. Lo beneran sakit atau lagi bercanda, Dir?" Ucap Mellinda setelah memeriksa perut Dira.
"Yang, nih, Rian nya." Ucap Kevin yang baru masuk.
"Ya udah, karena lo udah gak papa, gue pamit dulu." Ucap Mellinda yang langsung buru-buru mengemas peralatannya.
"Mell, please, jangan pergi dulu, tolong lo selesaikan dulu urusan lo sama kak Rian." Pinta Dira.
"Dir, ini bukan urusan lo, dan gak ada hubungannya sama lo. Please ya, kali ini aja lo gak perlu ikut campur." Ucap Mellinda yang tanpa sadar membuat hati Dira sedih.
"Oke, sorry." Ucap Dira sambil tertunduk.
"Gue sama Dira udah bantuin lo, dan lo gak mau jelasin apapun gitu ke Mellinda?" Tanya Kevin yang tertuju pada Rian.
"Oke, oke gue jelasin, tapi setelah gue jelasin, gue harap, lo gak ikutan marah sama gue." Ucap Rian.
"Jadi maksud lo, Dira yang ini, Rian?" Tanya Mellinda dan diangguki oleh Rian.
"Tunggu, tunggu, maksudnya apa ya, bawa-bawa istri gue?" Tanya Kevin yang tak paham tentang pembahasan Rian dan Mellinda.
"Sorry, Rian, gue gak bisa. Gue gak bisa ngasih hati gue buat laki-laki yang mencintai sahabat gue sendiri." Ucap Mellinda sukses membuat Kevin dan Dira terkejut bukan main.
"Maksudnya? Lo cinta sama Dira, Ian? Huh?" Tanya Kevin yang sangat kesal mendengar pernyataan Mellinda, namun Rian hanya diam.
"Jawab." Sentak Kevin yang sudah mengepalkan tangannya, siap memukul wajah tampan sahabatnya itu.
"Sorry, Vin, gue bisa jelasin semuanya." Ucap Rian tertunduk.
"Oke, gue akui, gue cinta sama Dira sejak pertemuan kita pertama kali di rumah Aira. Dan bisa di bilang, Dira cinta pertama gue, sebelum akhirnya, gue ketemu sama Mellinda." Lanjut Rian.
Kemudian Rian menjelaskan betapa Rian sangat mengagumi sosok Dira saat itu, hingga awal mula Rian mulai mendambakan Mellinda. Dira memang cinta pertama Rian, tapi Rian memastikan, itu hanya masa lalu dan perasaannya pada Dira sekarang sudah terkubur. Sekarang Rian hanya mencintai Mellinda dan hanya menginginkan Mellinda dalam hidupnya. Tentu itu membuat lega hati Kevin, Dira dan juga Mellinda.
"Hahahaaa... Gak salah emang gue bilang ke Kevin kalo adek gue satu-satunya ini adalah jelmaan bidadari. Buktinya sahabat-sahabat gue pada demen sama Dira. Dari Kevin, Jo, dan sekarang Rian." Ucap Eka sambil tertawa mengetahui para sahabatnya yang ada di kamar itu ternyata memiliki perasaan terhadap adiknya.
"Gue harus tanya nih sama papa, resep dan cara ngadonnya, biar entar anak gue juga bisa jadi primadona kayak Dira." Lanjut Eka dengan semakin terkekeh.
BUGH...
Satu lemparan bantal melayang tepat ke tubuh Eka.
"Somplak emang punya kakak satu." Cibir Dira.
"Lo cuma mau jelasin itu? Gak ada yang mau lo omongin lagi gitu?" Tanya Mellinda.
"Iya, gue cuma mau lo denger penjelasan gue." Jawab Rian.
"Gak ada yang mau lo sampein lagi gitu ke gue?" Tanya Mellinda memastikan namun Rian hanya menggelengkan kepalanya.
"Ck, lo gak peka banget sih, kak jadi cowok. Emang dasar ya, laki-laki itu gak pernah peka sama perasaan cewek." Cibir Dira.
"Kecuali aku kan, yang? Aku kan selalu peka sama kamu." Ucap Kevin.
"Apaan? Sama aja. Kamu tuh jarang tau gak, peka sama perasaan aku." Dengus Dira.
__ADS_1
"Loh, yang, aku selalu ngerti loh sama apa yang sedang kamu rasakan." Ucap Kevin.
"Peka apaan? Kalo peka gak akan kamu mau nuruti permintaan aku untuk nikahin Raya kemarin." Ucap Dira dengan nada kesalnya.
"Loh, yang itu kan kamu yang minta. Aku juga udah nolak kan? Tapi kamu yang mohon-mohon sama aku untuk nikahin dia." Balas Kevin.
"Iihhh, kamu tuh ya emang beneran gak peka deh, kemarin aku tuh cuma ngetes kamu aja, eh malah beneran mau." Ucap Dira mendengus kesal pada suaminya.
"Yah, salah lagi deh. Lagian itu juga udah lewat, yang. Toh aku gak jadi nikah kan sama Raya." Ucap Kevin lembut, berharap bisa meredam emosi istrinya.
"Iya, untung aja ada kak Eka. Coba kalo gak, udah di madu deh aku. Lagian juga, kenapa kamu bilang pernah cinta sama dia? Kamu pikir hati aku gak sakit dengernya? Huh?" Ucap Dira yang semakin menggebu-gebu karena emosi yang sudah memuncak mengingat kejadian itu.
"Huft, gara-gara Rian gue, juga kena imbasnya." Gerutu Kevin namun masih terdengar jelas oleh semua orang yang ada di sana.
"Ya udah, iya aku minta maaf, udah kurang peka sama perasaan kamu." Ucap Kevin mengalah.
"Tuh kan, kamu ngaku kalo emang kamu gak peka sama aku. Kamu tuh jahat tau gak? Aku tuh istri kamu, udah setia nunggu kamu, dan sekarang aku lagi hamil anak kamu, tapi kamu gak mau belajar untuk mengerti perasaan aku." Ucap Dira sambil berkaca-kaca.
"Aduh sayang, please dong, jangan nangis lagi. Iya udah aku emang yang salah, maafin aku ya." Ucap Kevin.
"Sabar, Vin. Sabar, ibu hamil, emosinya emang gak stabil. Inget dia istri lo dan lagi ngandung anak lo. Stokin sabar yang banyak ya. Sabar...sabar. Untung cinta, gak cinta udah gue anyutin kali ke laut." Batin Kevin.
"Tau ah, kesel aku sama kamu." Ucap Dira.
"Aduh, yang, kita lagi bahas Rian, kenapa kamu marahnya sama aku sih?" Ucap Kevin.
"Oh jadi kamu gak suka punya istri suka marah? Iya?" Tanya Dira, membuat Kevin kelimpungan untuk menjawabnya. Sedangkan yang lain hanya menahan tawa melihat tingkah konyol sepasang suami istri itu.
"Gak, bukan gitu, yang tap-...."
"Malam ini kamu tidur di luar. Aku gak mau tidur sekamar sama kamu." Ucap Dira yang sukses membuat Kevin panik.
"Yang, yang, please dong, jangan begitu. Aku minta maaf deh, aku salah, aku minta maaf, tapi please ya, jangan suruh aku tidur di luar." Ucap Kevin memelas.
"Tau ah." Ucap Dira memalingkan wajahnya.
"Terus kita gimana?" Tanya Mellinda tiba-tiba.
"Gimana? Gimana apanya?" Tanya Rian yang masih belum memahami ucapan Mellinda.
"Duh, emang bener ya, kata Dira, kalo cowok itu emang gak pernah peka sama cewek." Jawab Mellinda.
"Mellinda tuh minta kepastian hubungan kalian kedepannya, kak. Peka dikit kenapa sih? Malu-maluin gue aja lo kak." Ucap Aira menjelaskan maksud Mellinda.
"Oh, itu." Ucap Rian.
"Cuma Oh?" Tanya Mellinda memastikan.
"Kamu tuh ya, nyesel tau gak aku ngasih kamu kesempatan." Lanjut Mellinda kesal sambil melipat kedua tangan di depan dadanya.
"Karena temen-temen aku lagi marah sama pasangan mereka, aku juga marah sama kamu. Gih, jauh-jauh dari aku." Ucap Fany tiba-tiba yang membuat Eka terkejut mendengarnya.
.
.
.
.
.
.
.
Terus support author yaa...
Jangan lupa langsung like, vote, dan komennya yaa...
terimakasih 🙏 🙏 🙏
__ADS_1