Our Love (REVISI)

Our Love (REVISI)
Ep 66


__ADS_3

"Cium? Tapi waktu it-..."


"Iya aku tau, aku telah salah paham. Namun sayangnya, aku mengetahui itu setelah menjalin hubungan dengan Raya. Tepatnya setelah aku kembali ke Jogja, aku langsung menemui Raya, dan menyetujui permintaannya untuk menjadi kekasihnya. Pikiranku waktu itu kalut. Aku benar-benar berpikir kamu memiliki hubungan dengan Natan dan melupakanku. Ada penyesalan saat itu. Saat aku tau bahwa semua pikiranku tentang kamu dan Natan ternyata salah. Dan kamu masih setia menungguku. Tapi aku gak bisa berbuat banyak, karena waktu itu aku sudah terlanjur berjanji pada tante Rani untuk menjaga Raya sebagai syarat agar tante Rani menyetujui hubunganku dengan Raya."


"Kamu mencintai Raya, Vin." Ucap Dira, bukan, itu bukan pertanyaan. Tapi pernyataan untuk menyadarkan Kevin tentang perasaannya pada Raya.


"Aku hanya menyayanginya. Karena hanya Raya waktu itu yang menjadi teman wanita terdekatku. Sedangkan gadis-gadis lain yang aku pacari di belakang Raya, itu hanya pelampiasanku saja. Dan hanya Raya yang aku akui sebagai pacarku. Tapi cintaku, tetap tertuju untukmu. Aku tidak bisa mencintai gadis lain. Walaupun aku sudah pernah mencoba membuka hatiku sepenuhnya untuk Raya agar aku bisa melupakanmu, tapi itu semua gagal. Karena hati ku hanya menginginkan kamu."


Mendengar itu, sungguh membuat Dira semakin sesak dan sudah tidak bisa lagi membendung air matanya.


Bagaimana bisa, lelaki yang sangat ia cintai sampai sedekat itu dengan wanita lain? Apa tadi katanya? Hanya Raya yang dia akui sebagai pacarnya? Itu artinya gadis itu memiliki tempat spesial di hati Kevin selain Dira?


Disaat Dira berusaha mati-matian untuk setia menunggu Kevin kembali, berusaha menepis pikiran buruk tentang image playboy yang Kevin sandang, menolak puluhan lelaki tampan dan mampan hanya untuk menunggu cintanya kembali. Justru Kevin asyik dengan para wanitanya yang lain. Ini benar-benar menyakitkan, saat kesetiaanmu di balas dengan pengkhianatan dengan alasan pelampiasan.


"Selama itu kamu berpacaran dengan Raya, tidak mungkin tidak timbul sedikitpun rasa cintamu untuk Raya. Kalian sangat dekat, rasanya aku tidak percaya jika tidak ada cinta diantara kalian. Dan aku yakin perasaan itu ada dan masih ada hingga detik ini." Ucap Dira tertunduk sambik menahan isakannya sedangkan tangannya sudah menggenggam erat seprai ranjang empuk itu. Menahan emosi yang siap meledak kapan pun.


Kevin menarik nafasnya dan menghembuskan kasar dan itu terdengar jelas oleh telinga Dira.


"Kamu benar, rasa cinta itu memang ada, aku jujur padamu, aku memang mencintai Raya, aku tidak bisa lagi membohongimu, tapi, cinta itu tak sebesar rasa cinta aku sama Raya."


JEDAARRRR.....


Hati Dira semakin sakit mendengarnya, badannya sudah sangat lemas, hingga rasanya untuk berdiripun sudah tidak sanggup. Namun Dira hanya terus tertunduk, matanya masih mengalirkan buliran bening, yang semakin lama semakin deras alirannya.


"Tapi sejak satu tahun yang lalu, cinta untuk Raya sudah tidak ada lagi. Dia mengkhianatiku. Tapi aku diam, karena aku sadar akupun mengkhianatinya, karena hatiku hanya memilihmu."


"Cukup." Ucap Dira yang kini sudah terisak, iya tak mampu lagi mendengar ucapan Kevin. Hatinya sakit, hancur mendengar pengakuan Kevin.

__ADS_1


"Tolong jangan menangis, lebih baik kamu pukul aku. Luapkan semua amarahmu. Karena kesedihanmu juga akan mempengaruhi bayi kita." Ucap Kevin yang sekarang sudah memegang kedua tangan Dira dan memukulkannya ke dada bidangnya.


Sedangkan Dira sudah menangis meraung. Sungguh rasanya ingin sekali gadis itu pergi.


Dira meronta berusaha melepaskan cengkraman Kevin. Tapi ia tak kuasa. Dirinya benar-benar tak memiliki tenaga untuk itu.


"Lepas. Lepaskan aku, Vin." Ucap Dira dalam isakannya, yang masih berusaha melepaskan diri dari Kevin.


"Gak akan. Gak akan aku lepaskan. Ayo, luapkan semuanya padaku. Buat hatimu lega. Tapi setelah itu, aku mohon maaf kan aku, maafkan suamimu yang brengsek ini." Ucap Kevin lirih yang kini juga ikut menangis, karena istrinya yang terlihat begitu hancur karena pengakuannya.


"Kenapa, Vin? Kenapa kamu bohong? Kenapa kamu kembali jika akhirnya akan seperti ini? Aku tidak pernah merasakan sakit seperti ini. Ini terlalu menyakiti hatiku. Aku udah gak sanggup lagi, aku mohon lepaskan aku." Ucap Dira sambil memukul dada bidang suaminya. Dan Kevin hanya diam, menerima pukulan bertubi-tubi yang istrinya berikan.


"Aku selalu setia sama kamu, bahkan demi menunggumu, dan tak ingin mengkhianatimu, aku menolak kehadiran orang baru dalam hidupku. Kenapa, Vin? Apa salah aku? Kenapa kamu melakukan semua ini sama aku?" Lanjut Dira yang mulai merebahkan kepalanya di dada bidang Kevin sambil tetap menangis. Kevin memeluk Dira, mengelus rambutnya pelan.


"Maaf." Ucap Kevin lirih sambil mengecup puncak kepala istrinya. Sedangkan Dira masih terus menangis dalam pelukan Kevin.


Tok...tok...tok...


"Maaf tuan, tuan dan nyonya besar menyuruh tuan untuk segera ke ruang tamu, karena pengacara dan keluarga ibu Rani sudah datang." Ucap bu Rita di ambang pintu. Kevin mengangguk dan memberi kode pada bu Rita untuk pergi.


"Maaf tuan, nyonya besar menyuruh nyonya muda untuk tetap berada di kamar dan tidak ikut turun." Ucap Bu Rita sebelum pergi. Dira langsung mendongakkan kepalanya setelah mendengar ucapan bu Rita.


"Aku temui mereka dulu, kamu tunggu di sini aja. Percayakan semuanya sama aku dan papa. Aku janji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya, tanpa harus menikah dengannya." Ucap Kevin melepas pelukannya dan mencium kening Dira. Dira hanya terdiam, karena tak tau apa yang harus ia lakukan sekarang.


Lama Dira menunggu di kamar, pikirannya sedang melayang entah kemana. Hatinya gusar, langit yang cerahpun tak bisa membuatnya tenang. Dira hanya mondar-mandir di dalam kamar itu. Sesekali ke balkon untuk sekedar menghirup udara segar.


"Sayang." Panggil mama Vera yang sudah ada di balkon kamar Kevin, di samping Dira. Dira pun menoleh namun tak ada suara yang gadis itu keluarkan.

__ADS_1


"Semuanya akan baik-baik saja." Ucap mama Vera seraya memeluk Dira, memahami apa yang Dira rasakan saat ini. Dira hanya terdiam dalam pelukan hangat sang mertua. Pelukan yang sedikit menenangkan hatinya. Rasanya seperti mama Naira yang sedang memeluknya.


"Bunda, kenapa harus ada cinta kalau harus beriringan dengan rasa sakit?" Dira mulai membuka suaranya setelah hatinya mulai sedikit tenang. Mama Vera melepas pelukannya dan menatap intens mata Dira.


"Itu yang akan membuat hubungan kalian kuat kedepannya. Kalian belum pernah sekalipun mendapatkan ujian, hubungan kalian berjalan dengan mudah. Itu mengapa sekarang Tuhan memberi ujian, agar saat nanti anak kalian lahir, kalian sudah kebal dari berbagai godaan." Ucap mama Vera.


"Cinta itu membangun. Sedangkan rasa sakit itu menguatkan apa yang sudah di bangun. Kalau berhasil menguatkan apa yang telah dibangun, maka tak akan ada yang mampu lagi untuk merobohkannya." Lanjut mama Vera.


"Apa Dira mau meninggalkan Kevin?" Tanya mama Vera yang langsung di jawab gelengan kepala oleh Dira.


"Kenapa mama tanya seperti itu? Mama mau Dira ninggalin Kevin?" Ucap Kevin tiba-tiba yang sedari tadi memang tengah memperhatikan mama dan istrinya itu berbincang.


.


.


.


.


.


.


Tetap support author yaa...


Habias baca, jangan lupa langsung like, vote dan komen yaa... supaya author makin semangat nulisnya...

__ADS_1


terimakasih 🙏 🙏 🙏


__ADS_2