
"Bukan mau Dira ninggalin kamu, Vin. Mama cuma mau minta kepastian Dira aja. Apa dia masih mau setia mendampingi kamu dalam masalah ini atau dia akan pergi karena gak sanggup punya suami playboy kayak kamu." Jawab mama Vera ketus setelah menoleh pada putranya.
"Mulai deh, udah dibilangin juga, Kevin itu cuma cinta sama Dira, ma. Playboy cuma julukan doang." Protes Kevin karena disebut playboy oleh sang mama.
"Dira akan menemani Kevin, ayah dari anak yang Dira kandung. Apapun masalahnya, Dira akan berusaha untuk tetap setia mendampingi Kevin, bunda." Ucapan Dira membuat rasa bersalah Kevin akan masa lalunya yang tak sabar menunggu Dira dan berakhir memacari gadis lain sebelum akhirnya menikah dengan Dira, menyeruak ke relung hati Kevin.
Kevin tak berkutik mendengar ucapan Dira. Dia benar-benar merasa bersalah pada istrinya.
"Apapun keputusan kamu nantinya, bunda akan selalu mendukung keputusan kamu. Kamu tau kan kamu sudah bunda anggap putri bunda sendiri?" Ujar mama Vera, yang diangguki Dira.
"Jadi, mulai sekarang, berbagilah dengan bunda. Apapun yang kamu rasakan, ceritakan pada bunda. Hm?"
"Iya, bunda, terimakasih sudah sangat menyayangi Dira, menganggap Dira anak bunda sendiri." Ucap Dira sambil memeluk mama Vera.
"Iya sayang, sama-sama. Terimakasih juga sudah bersedia menjadi istri terbaik untuk anak bunda yang brengsek ini." Balas mama Vera sambil mendelik pada Kevin namun tak di hiraukan oleh putra sewayangnya itu. Sedangkan Dira, dia hanya tersenyum kecut mendengar kalimat terakhir mama Vera.
"Ya udah, bunda keluar dulu ya. Kalau kamu butuh apa-apa atau menginginkan sesuatu, bilang sama bunda." Pamit mama Vera yang diangguki Dira.
"Sayang." Panggil Kevin setelah memastikan mamanya benar-benar keluar dari kamarnya.
"Kapan kamu akan menikahinya?" Bukan jawaban yang Dira berikan namun pertanyaan ketus yang ia lontarkan pada suaminya itu.
"Minggu depan." Jawab jujur Kevin.
"Mau kemana?" Tanya Kevin yang menahan lengan Dira yang hendak pergi dari hadapannya.
"Ke rumah mama." Dira menjawabnya singkat.
"Aku antar, ya?" Kevin menawarkan diri mengantar sang istri.
"Gak perlu. Aku bisa sendiri. Sebelum kita menikah, bahkan sebelum kamu kembali ke sini, aku sudah terbiasa melakukan apapun sendiri, termasuk bepergian." Ucap Dira sukses menampar hati Kevin.
"Kamu juga gak perlu khawatir, aku tidak akan mengatakan apapun pada keluargaku. Aku akan menepati janjiku untuk setia mendampingi mu dalam kondisi apapun." Lanjut Dira.
"Aku janji, sebelum satu minggu, aku akan menemukan siapa ayah dari bayi itu." Ucap Kevin sebelum melepas lengan Dira.
"Hheem, jangan terlalu banyak mengumbar janji, jika kamu sendiri tak sanggup memenuhi semua janjimu, dan berakhir dengan menyakiti orang lain." Ucapan Dira sambil tersenyum tipis sukses membungkam Kevin.
Baiklah, aku akan membuktikannya. Tolong bersabarlah sebentar saja. Sebentar lagi, aku akan membongkar semuanya." Ucap batin Kevin.
Dira akhirnya pergi ke rumah orang tuanya seorang diri, karena dia tetep kekeh menolak Kevin yang ingin mengantarnya. Akhirnya, mau tidak mau Kevin mengalah dan memilih membiarkan istrinya pergi sendiri, namun tetap dalan pengawasannya.
__ADS_1
Kevin mengikuti Dira tanpa sepengetahuan Dira. Setelah memastikan istrinya itu benar-benar sampai di rumah mertuanya dan masuk ke dalam rumah mewah itu, Kevin memutuskan untuk pulang.
*****
"Dira mana, ma? Apa dia masih sakit?" Tanya papa Bayu yang tak melihat keberadaan menantu kesayangannya itu makan malam bersama.
"Dira pulang ke rumah orang tuanya, pa. Tadi Dira bilang, Eka meminta bantuannya, menyiapkan pernikahannya dengan Fany. Dan Dira bilang mau nginep selama satu atau dua hari." Ujar mama Vera.
"Kamu gak ikut, Vin?" Tanya papa Bayu pada Kevin, merasa ada yang aneh, tak biasanya Dira menginap seorang diri tanpa Kevin.
"Dira butuh menenangkan diri, pa. Kevin mengerti gimana perasaan Dira saat ini. Jadi Kevin akan memberikan Dira waktu." Jawab Kevin yang tampak kacau.
"Nyonya, ada telfon dari rumah keluarga Wijaya." Ucap salah satu ART.
"Terimakasih." Ucap mama Vera seraya mengambil telfon dari tangan ART nya.
"Ya, halo, ada apa, Nai?" Ucap mama Vera pada orang di seberang telfon.
"....."
"Apa? Kalau begitu, aku akan menyuruh dokter kandungan Dira untuk ke rumahmu sekarang juga." Ucap mama Vera dengan raut wajah cemas, dan memutus sambungan telfon itu.
"Pa, tolong segera hubungi dokter Firman, suruh dokter Mellinda ke rumah Dira sekarang juga. Dira pingsan." Ucap mama Vera menyuruh papa Bayu dengan suara yang sudah sangat panik.
Kevin yang mendengar istrinya itu pingsan, langsung berhambur keluar rumah, menuju mobilnya dan sesegera mungkin melajukan mobilnya ke rumah mertuanya, hingga tak memperdulikan orang tuanya yang ia tinggal.
*****
"Bunda, gimana keadaan Dira? Apa dia baik-baik saja? Bayi kami?" Ucap Kevin begitu tiba di kediaman keluarga Wijaya.
"Kamu tenang dulu, Vin. Dira sedang ditangani Mellinda di dalam. Kamu tenang ya, Dira dan bayi kalian pasti akan baik-baik saja." Ucap mama Naira yang berusaha menenangkan menantunya.
"Gimana Dira, Vin?" Tanya mama Vera yang baru saja tiba dengan papa Bayu.
"Tan...Eh kebetulan sudah ada Kevin. Kevin, tolong ikut saya sebentar. Ada yang harus saya bicarakan dengan kamu." Ucap Mellinda yang melihat keberadaan Kevin setelah selesai memeriksa Dira.
Apa Dira dan bayinya baik-baik saja?" Tanya mama Vera pada Mellinda.
Keadaan Dira baik-baik saja, tante." Jawab Mellinda namun tak menjelaskan tentang bayi yang Dira kandung.
Kevin mengikuti Mellinda masuk ke dalam kamar Dira.
__ADS_1
"Saya, tidak tau apa masalah yang sedang kalian hadapi sekarang. Tapi, yang jelas, hal ini membuat Dira sangat tertekan dan berpengaruh pada bayinya." Ucap Mellinda yang langsung menjelaskan keadaan Dira yang sebenarnya setelah mereka berdua berada di dalam kamar Dira.
"Maksud kamu? Anak kami gak kenapa-kenapa kan?" Tanya Kevin memastikan.
"Untuk saat ini, belum. Tapi...." Ucap Mellinda menghentikan sejenak ucapannya.
"Tapi apa? Jangan bertele-tele." Tegas Kevin.
"Kandungan Dira sekarang melemah. Jika kondisi ini terus berlanjut, akan membahayakan janin yang ada dalam kandungannya." Mellinda menjelaskan kondisi bayi dalam kandungan Dira.
"Apa tindakanmu selanjutnya?" Tanya Kevin.
"Bukan aku, tapi kamu. Aku sebagai dokternya, hanya bisa memberinya vitamin dan penguat kandungan. Sedangkan peran yang lebih besar itu dari diri kamu, Vin. Tolong jaga moodnya, jaga emosinya, dan jangan membuatnya tertekan. Buat dia selalu bahagia, maka bayi kalian juga akan baik-baik saja." Ucap Mellinda.
"Baiklah, terimakasih." Ucap Kevin dan Mellinda langsung keluar dari kamar Dira sekaligus pulang karena esok hari ia akan ada operasi secar.
"Vin, menginaplah di sini. Dira pasti sangat membutuhkanmu. Bunda tau, kalian sedang ada masalah. Tapi apapun masalah kalian, tolong segera selesaikan dengan baik, demi anak kalian." Ucap mama Naira yang sudah masuk ke dalam kamar Dira untuk mengecek keadaan putri kesayangannya itu.
"Terimakasih, bunda. Kevin janji, akan segera menyelesaikan masalah kami." Ucap Kevin dan direspon senyum oleh sang mertua.
"Ya udah, bunda keluar dulu, ya. Kamu temani Dira aja di sini." Ucap mama Naira dan meninggalkan kamar itu.
"Vin, mama mau bicara sama kamu. Ikut mama sebentar." Ucap mama Vera yang masuk ke kamar Dira setelah mama Naira keluar dari kamar itu. Mengajak Kevin untuk membicarakan sesuatu di balkon kamar Dira.
.
.
.
.
.
.
Tetap dukung author yah...
Jangan lupa like, vote, dan komennya setelah baca... 😊😊😊
terimakasih 🙏 🙏 🙏
__ADS_1