
"Mas! Cepat bangun! Tadi Emak nyuruh aku bangunin kamu!"
"Hah! Emak? Tapi kenapa??"
"Bantu aku pindahin bunga ke dalam pot!"
"Apa?? Ta-tapi!!"
"Udah, gak ada tapi-tapian. Buruan bangun! Kutunggu di luar, ya!" Alona kembali pergi.
"Apaa?? Gue, sang bos besar, disuruh bantuin nanam bunga! Apa-apaan!" Arya menggerutu kesal, turun dari atas ranjangnya.
Drrttt!
Drrttt!
Suara getaran dari panggilan telepon dalam ponsel Arya berhasil mengalihkan perhatiannya. Pria yang meletakkannya di samping ranjang itu mengurungkan niat untuk keluar menyusul Alona. Ia memilih mengangkat panggilan dulu sebelum benar-benar keluar.
Tertera dalam layar inisial M1, sebutan singkat untuk ketua kelompok Mafia yang memang sengaja ia samarkan.
Klik!
Hallo, maaf mengganggu anda, Tuan Arya!
"Ya, ada apa?"
Tawanan wanita ini sudah sadar, Tuan!
"Lalu?"
Apa Tuan ingin saya mengintrogasinya? Karena sedari tadi, dia terus saja berteriak!
"Tidak perlu! Kau hanya perlu memantaunya!"
Baik, Tuan!
Tut!
Tut!
Panggilan berakhir.
"Jadi .. Jesica sudah sadar, ya!" gumamnya.
"Maasss! Buruan!" teriak Alona dari kejauhan.
"Iya, iya!" sahutnya. "Duh, anak ini ganggu aja! Masih pagi juga! Mana gue belum cuci muka, lebih-lebih sarapan!"
__ADS_1
Kruuuk!
"Tuh kan, perut gue udah keroncongan aja!"
Arya berjalan gontai menuju halaman, dari atas teras dapat ia lihat gadisnya dengan pakaian khas berkebun. Sarung tangan, apron, penutup kepala, sudah melekat di tubuhnya. Ia terlihat sibuk menata bunga-bunga yang baru saja di pindah ke dalam pot.
Tanpa sengaja, gadis itu menoleh. Membuat Arya tersentak kaget dari lamunannya. "Sini!!" Ia melambai pada Arya. "Buruan! Jangan tunggu emak lagi yang panggil!"
Ocehannya berhasil menggelitik Arya. Pria itu akhirnya turun untuk memghampiri kekasihnya.
"Kamu tega banget ya sama Mas!" Mulai PD menyebut dirinya sendiri dengan panggilan Mas.
"Tega?? Maksudmu?"
"Aku baru aja bangun, dan kamu langsung menyuruhku membantumu membereskan tanaman ini! Apa kamu gak memikirkan keadaan perutku?"
Alona tertawa kecil mendengarnya. "Kamu lapar, Sayang!"
"Ya jelas! Apa menurutmu aku gak lapar!".
"Ya ya! Baiklah! Sebagai calon istri yang baik, aku bakal menyiapkan sarapan pagi untukmu, tapi ...."
"Tapi apa lagi?"
"Kamu yang lanjutkan menanam bunganya, yah!" Alona menyodorkan sekop dan sarung tangannya pada Arya. Tak luput melepas apronnya dan juga menyodorkan pada kekasihnya itu. Seketika wajah Arya berubah datar. Tanda bahwa ia kesal dengan perlakuan kekasihnya. Tapi Alona? Gadis itu justru terkekeh melihatnya. Ditinggalnya kekasihnya menuju rumah. Untuk kemudian mempersiapkan sarapan Arya.
Dengan rasa malas, pria tinggi dan tampan itu terpaksa melanjutkan pengerjaan yang terputus oleh Alona. Dan tanpa di duga, sepasang kaki wanita kembali menapak di hadapannya. Membuat Arya sedikit kaget
"Kapan Emak bilang gitu??" jawabnya.
"Ehh!" Arya terkejut mendengarnya. Ia mendongak untuk memastikan siapa wanita di hadapannya. Dan kini sipitnya nyaris membulat. "Emak?? Kirain tadi Alona!"
Wanita yang sedikit keriput itu mulai duduk di samping Arya. Dan langsung turut membantu menanam bunga ke dalam pot.
Keduanya hening sesaat. Arya sedikit canggung saat harus bersama ibu Alona. Tapi tidak dengan wanita tua itu. Ia terlihat biasa walau ini juga kali pertamanya melakukan hal bersama Arya sang calon mantu. 'Sial! Baru kali ini aku merasa kagok saat berbicara dengan orang! Hmm .. jadi ternyata begini rasanya berada di dekat mertua!'
"Apa setelah menikah, kamu akan membawa Alona ke rumahmu?" tanyanya tanpa menatap.
"Ya, aku akan membawanya, Bu!"
Seketika Ibu Alona menghentikan pengerjaannya.
"Nak!" Ia memalingkan wajahnya ke hadapan Arya.
"Ya?" Kini Arya hanya fokus menatapnya. Wajah Ibu Alona memancarkan aura khawatir. "Ada apa, Bu?"
"Bisakah kamu memperlakukan Alona sebaik mungkin! Kami ini orang tak punya! Ibu khawatir, kamu dan keluargamu tak bisa memperlakukannya dengan baik!"
__ADS_1
"Maksud Ibu?? Apa Ibu ragu denganku?"
"Ya, Ibu tak bisa menutupinya lagi. Biar bagaimanapun, Alona masih belum terbiasa dengan kehidupan mewah seperti keluargamu! Ibu khawatir, kalian tak bisa menerima kelakuan norak Alona nanti!"
"Bu!" Arya menggenggam tangan calon mertuanya itu. "Percayalah padaku! Aku berjanji akan membuat Alona merasa senyaman mungkin di sisiku! Bahkan, jika Ibu masih khawatir dan ingin tinggal bersama kami, aku tak akan keberatan!"
Ibu Alona tersenyum singkat pada Arya. "Tidak, Nak! Ibu harus tetap tinggal di sini!"
"Bu, saya mohon restunya untuk kami!"
"Itu pasti, Nak!" ucapnya masih terus menatap wajah Arya. Tapi mendadak senyuman hangatnya berubah saat melihat kelopak hitam di bawah mata Arya yang lebih mirip mata panda. "Heh! Apa semalaman kamu bergadang??"
"Ehh!" Arya terkejut. Bagaimana tidak, baru saja ia melihat kehangatan di mata ibu mertuanya. Kini ia harus menerima wajah garang bak singa mengamuk dari mata ibu mertuanya itu.
'Bagaimana bisa ibu tahu kalau semalam aku begadang??' gumamnya dalam hati. "I-itu, benar, saya memang begadang!"
"Apa yang kamu lakukan semalaman, hah? Apa kamu berniat mengganggu Alona sebelum sah kalian menikah??"
"Ehh, apa maksud Emak? Saya gak berpikir begitu, kok!"
"Dari nada bicaramu aja udah ketahuan kalo kamu berbohong! Pasti tadi malam kamu niat macam-macam sama Alona kan?"
"Ehh?? Enggak, Mak! Sumpah!" Arya mengacungkan dua jarinya. Berharap Ibu Alona memercayainya.
"Dasar anak nakal! Belum jadi suami aja kamu sudah mau berbuat nakal sama Alona!" Ibu Alona mulai memukuli punggung Arya dengan sekopnya.
"Aduh! Aduh! Ampun Mak! Sakit!" keluhnya.
"Emaaaak!" Seketika Alona berteriak dari atas teras. Terkejut melihat ibunya yang memukuli tubuh Arya dengan sekop. Walau terlihat tak begitu sakit. Tapi berhasil membuat jantung Alona berdegub karena khawatir. Gadis itu langsung berlari ke arah mereka berdua.
"Mak, Mak! Cukup Mak! Mak kenapa sih? Kok tiba-tiba mukuli Arya?"
Wanita keriput itu menghentikan pukulannya lalu menatap garang ke arah Alona. "Oh, jadi sekarang kalian sudah kompak yaa!! Inilah kenapa Emak gak ngizinin kamu biarkan calonmu nginap di rumah kita!"
"Maksud Emak apa sih??" Alona mengernyit bingung.
"Ahh! Banyak alasan kamu, Alona! Sini kamu! Kamu juga harus dapat ganjaran dari Emak!"
"Ehh??!!"
Ibu Alona kini mulai mengalihkan sekopnya ke arah Alona. Tapi sigap Arya melindunginya. Dan akhirnya, lagi-lagi Arya yang harus kembali menerima pukulan. 'Duuh! Apes! Apes!' batinnya meringis.
"Emak cukup, Maaak!"
Tapi Ibu Alona yang terlanjur kesal terus saja memukulinya. "Mak, lihat tuh, ada kiriman paket di depan rumah kita!" Alona berbohong. Terpaksa. Karena kini tak ada cara lain untuk menghindar. Dan ternyata cara itu cukup ampuh. Ibu Alona akhirnya menoleh.
"Mana?? Gak ada tuh! Kamu bohong ya?" katanya saat kembali membalikkan wajah. Dan betapa kagetnya ia karena kini kedua insan di hadapannya sudah tak ada. Menghilang bak di telan bumi. Sedetik kemudian, terlihat mereka berdua yang kini sudah berhasil kabur, berlari untuk menghindar dari ibunya. "Ohh, jadi mereka nipu Emak! Awas aja kalian, ya!" gerutu Emak.
__ADS_1
note:
Hari ini satu episode dulu ya, kita sambung besok! semoga tidak ada kendala βΊοΈπ yang mau follow grup author, silahkan! π