
Dua hari telah berlalu ....
Kini, hari yang ditunggu-tunggu oleh ratusan karyawan itu telah tiba. Hari di mana seluruh karyawan dapat menikmati pesta barbeque secara gratis.
Semua karyawan tampak sibuk. Sebagian wanita membuat bumbu saos dan bumbu barbeque, sedang para pria sibuk menyiapkan daging dan panggangan di halaman belakang hotel borneo.
Suasana yang begitu ramai pun begitu terasa pada setiap penghuni hotel borneo.
Tak ingin tertinggal, duo sahabat yang selalu bersama, Alona dan Jesica pun tampak menghadiri acara itu. Mereka ikut serta menyibukkan diri di sela sibuknya karyawan lain.
Sementara Boby sibuk menjadi pengganti CEO mereka. Mewakilkan semua beban yang seharusnya di emban oleh sang bos Arya.
Beberapa wanita tampak melirik genit ke arah Boby. Mereka tau pasti siapa Boby. Si Handsome asisten Arya. Sudah pasti pria itu memiliki banyak uang.
Tak ingin melewatkan kesempatan, Jesica yang saat itu melihat para gadis berkumpul di dekat Boby, seketika masuk dan langsung merapat di samping Boby. Menunjukkan pada mereka bahwa ia jauh lebih akrab ketimbang puluhan wanita yang tengah berkerumun itu.
Bahkan, yang ia lakukan jauh lebih genit dari para wanita itu. Membuat wajah manis mereka berubah sinis menatap Jesica.
Boby yang saat itu tengah sibuk merasa terganggu dengan kehadiran Jesica yang tiba-tiba menempel pada dirinya.
"Apaan sih lu, Jes!" tukasnya berusaha menepis lengan Jesica yang terus-terusan menempel padanya.
"Lu kenapa sih, Bob. Bukannya memang sudah biasa kita akrab begini?!" sahutnya berusaha bersabar menghadapi sikap Boby yang tampak acuh.
Pria itu tak menjawab. Hanya berdecak kesal saat menghadapi sikap Jesica.
"Iya, tapi .. jangan disaat begini juga, dong!" tukasnya.
"Memangnya kenapa? Lu malu? Masa dekat cewek cantik lu malu sih?"
"Aduuh, Jes. Bukan gitu .. masalahnya ...."
"Boby!!!" panggil seorang rekan pria padanya. Membuat netra Boby menatap ke arah suara. Bergegas ia menepis lengan Jesica lalu pergi meninggalkan sang gadis yang kini membisu.
Tampak puluhan wanita tadi tertawa menyeringai memandang Jesica yang hanya terdiam mematung.
Sindiran dari bibir mereka pun terasa lebih pedas dari sambel level dua puluh di telinga Jesica.
__ADS_1
"Sial!" gumam Jesica dengan wajah merah karena harus menahan malu.
Sementara di satu sisi, tampak seorang gadis mungil tengah sibuk menelpon seseorang.
"Ayoo! Angkat doooong!" gumam Alona. Berkali-kali ia mencoba menelpon, tapi selalu saja panggilan tak terjawab yang ia dapatkan.
"Duuuh! Lu di mana sih, Bim?!"" gumamnya masih dengan telepon yang ia letakkan di sela daun telinga.
Tuuuut! Klik! "Halo, lu di mana??" tanya Alona sedikit menggertak saat teleponnya mulai tersambung.
Terdengar suara parau dari seorang pria yang ia telepon. Tampaknya pria itu masih setengah sadar antara bangun dan tidur.
[ Hmm .... ] sahutnya dari dalam telepon.
"Bim, lu di mana? Jangan bilang lu masih tidur??"
[Hmm .... ] Kembali hanya deheman yang menjadi jawaban dari si penelpon.
"Astaga! Lu mandi sekarang gih!" hardik Alona.
Tuuuuut! Seketika panggilan terputus. Membuat gadis itu terkejut. Kesal. Dan geram.
"Anak pintar!" gumam Alona.
Bergegas ia menuju kamar yang tertera di lokasi GPS.
Tak butuh waktu lama, Alona pun tiba di depan kamar Arya.
Hotel penginapan pria itu hanya sejengkal dari halaman belakang tempat Alona berada saat itu. Itulah kenapa, sangat mudah bagi Alona untuk menemukan kamar Arya.
Tak ingin membuang waktu, segera Alona membuka gagang pintu yang tampak renggang itu. Dan langsung masuk tanpa izin ataupun mengetuk terlebih dulu.
Diedarnya pandangan, tampak seisi kamar berantakan. Kamar yang minimalis itu jauh lebih menyeramkan ketimbang kamar milik Alona.
"Astaga! Ini kamar apa sarang sih?!" gumam sang gadis begitu melihat seisi kamar yang lebih mirip rumah kelelawar.
Lalu, dari jarak dua puluh meter, terlihat satu buah matras empuk, di atasnya tampak seorang pria tengah tidur, sedang tubuhnya tertutup selimut tebal. Satu buah AC menyala di atas dinding kamar sang pria.
__ADS_1
"Oh pantes dia gak nyahut. Jadi lu masih terlelap yaaa!" gumam Alona.
"Awas ya! Gue kerjain loe!" Gadis itu kembali bergumam diiringi tawa yang menyeringai.
Segera ia mendekat ke arah sang pria. Begitu sampai di samping matras, gadis itu berjongkok, kedua lengan ia letakkan di bawah dagu. Kini tampak wajah tampan sang pria yang masih tertidur pulas. Sedetik Alona tertegun, wajah gadis itu merona saat memandang wajah sang pria. Lalu tiba-tiba ia tersadar.
"Sadar Alona! Sadaaar!" gumamnya sambil menggelengkan kepala dengan gerakan cepat.
Kembali ia berdiri. Disibaknya selimut yang menutupi tubuh sang pria. Namun, seketia ia terkejut. Hampir saja gadis itu berteriak menjerit saat melihat sosok dede kecil Arya yang lebih mirip ular piton dengan dada kotak-kotak. Penampakkan yang begitu menggoda.
"Astaga! Alona! Lu bego banget sih!" gumam si gadis.
Ditutupnya mata menggunakan sebelah tangan, sementara satu tangan lainnya menutup kembali tubuh sang pria dengan selimut.
Namun, tiba-tiba Arya mengigau dengan memanggil nama Jesica. Membuat netra sang gadis membulat menatapnya.
Dan terlihat mata sang pria yang masih terpejam.
"Oh! Ternyata cuma mengigau!" gumam Alona.
Gadis itu berbalik badan berniat pergi dari kamar Arya. Sepertinya, pagi itu bukan saat yang tepat baginya untuk mengganggu Arya.
Namun tiba-tiba, sebuah tangan kekar menariknya hingga tubuh gadis itu terjatuh tepat di atas tubuh sang pria tampan.
Mata Alona melotot dengan jantung berdegub kencang. Sementara mata sang pria masih saja tertutup rapat.
Namun anehnya, pria yang tampak tidur itu seketika memegang kepala Alona, dan langsung melumat bibir sang gadis untuk beberapa saat. Dan perlahan kembali melepas.
"Aku mencintaimu, Jesica!" ungkapnya masih dengan mata terpejam. Sang pria tampan tampaknya masih mengigau.
"Apa?? Dia masih mengigau? Tapi .. baru saja dia mengungkapkan perasaannya!" Seketika hati Alona runtuh.
Belum sempat gadis itu beranjak untuk melepas pelukan sang pria, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang memanggil nama Bima dari depan pintu.
"Bimaa!"
Sontak Alona memutar kepalanya. Dan betapa terkejutnya Alona melihat Jesica yang tengah berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
Dan disaat yang bersamaan, ternyata sang pria mendadak terbangun, membuka mata.
"Alonaaa? Bimaa??" Jesica terkejut dengan apa yang ia lihat.