Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Villa


__ADS_3

Kicauan burung di pagi itu membangunkan si gadis mungil. Ia bangkit, duduk dari tempat ia terbaring, mengucak mata sebelum akhirnya mengerjap.


Samar terlihat bayangan dinding yang terbuat dari kaca bening. Sedang hordennya sudah tersingkap.


Hanya bayangan hutan dengan nuansa hijau yang tertangkap pada penglihatan Alona. Dan sebuah danau yang letaknya sekitar dua kilo meter dari gedung itu. Pertanda jika ia berada di kamar gedung tingkat tinggi.


"Di mana gue?" Ia tersadar, berada di tempat asing.


"Apa mungkin gue di culik? Duuuuh! Mereka bego atau apa ya? Gue kan cuma gadis miskin! Minta tebusan sepuluh juta pun belum tentu keluarga gue sanggup menebus! Huh!"


Ditariknya selimut yang menutupi tubuh. Beringsut turun dari ranjang. Netranya mengedar.


"Kamar ini luas juga?" Tampak puluhan benda unik serta arsitek modern memenuhi penglihatan si gadis.


"Apa yang culik gue orang kaya?" Ia mulai terkekeh.


"Apa ini artinya awal dari terlepasnya gue dari kehidupan yang melarat? Apa ini awal dari kehidupan menyengkan gue! Yesss!" Di kepalnya tangan lalu berjingkrak di atas lantai. Berkali-kali berdansa meski tanpa alunan musik. Hanya nyanyian sumbang dari mulutnya sebagai pengganti musik.


Namun, seketika dansanya terhenti saat netranya tak sengaja menatap ke arah cermin besar.


"Loh! Kok baju gue udah ganti aja? Kok jadi pake baju tidur begini? Si-siapa yang sudah lancang ganti pakaian gue?" Dipeluknya tubuh dengan kedua lengan. Sedikit rasa canggung mulai menggerayunginya.


"Cih!"


Alona menoleh.


Tampak seorang pria bersandar dengan posisi menyamping di depan pintu. Sedang kedua lengannya melipat di atas dada. Pria itu sudah lama memerhatikan si gadis. Ia tertawa kecil melihat tingkah Alona.


"Bobby? Lu udah berapa lama di situ?"


"Udah dari tadi!"


Alona menenggak saliva. Menahan malu.


"A-apa yang terjadi sama gue? A-apa ini kamar loe?!"


Pria itu berjalan mendekat. Menuju kasurnya. "Iya! Lu semalaman tidur di kamar gue!"


"Tapi? Kenapa? Apa yang terjadi sama gue? Loe culik gue?"


"Lu lupa sama kejadian yang kemarin menimpa elo?"


Alona tampak diam. Bibirnya sedikit monyong. Sedang bola mata ia arahkan ke samping. Berusaha mengingat.


"Gak ingat ya?"


Gadis itu masih diam.


"Ya udah! Lupain aja!"


"Apa lu bilang? Lupain? Enak bener?"


Pria itu bersandar pada dinding kasurnya. Meraih satu buah majalah artikel terbaru. Membaca dengan santai tanpa menghiraukan Alona yang nada bicaranya sudah mulai meninggi. "Iya, kata gue lupain aja!"


"Aggghhh!" Alona geram. Tetap saja Bobby diam. Tak menghiraukan


Gadis itu mendekat dengan cepat. Begitu sampai, ia layangkan pukulan lemahnya di atas dada Bobby.


"Aduuh! Aduuh!" Pria itu pura-pura kesakitan.

__ADS_1


"Ngaku gak loe? Hah! Loe apain gue?"


"Gue gak ngapa-ngapain kok!"


Buug! Buug!


"Iyaa! Ampun! Aduuh!"


Sedetik ia berhenti memukul untuk sekadar mengoceh. Setelah puas kembali ia memukul. Kali ini Bobby menghindar. Membuat pukulan Alona meleset.


"Gak kena! Weee!"


"Ihh dasar nakal!" Kembali ia mencoba memukul. Namun, sandal tipis yang ia gunakan ternyata cukup licin. Membuat tubuhnya terjatuh tepat di atas dada Bobby.


Deg!


Jantung Alona berdegub. Pun dengan Bobby.


******


Beberapa menit sebelum insiden Alona jatuh di atas dada Bobby ....


"Bim! Lu bener tau Alona di mana kan?" Nada Jesica lirih saat bertanya pada Arya. Gerakannya terlihat sedikit gelisah.


"Iya!"


"Duuuh! Gue udah khawatir banget nih! Semalaman dia gak ada balik ke penginapan. Terus ponselnya gue dapetin dalam bak sampah. Menurut loe Alona baik-baik aja kan?"


Arya tersenyum. 'Wanita ini! Gue gak nyangka kalau ternyata hatinya benar-benar tulus sayang pada sahabatnya! Deuuh! Makin cinta aja gue.' batinnya bergumam.


"Ayo, buruan dong Bim! Gue mau jenguk Alona sekarang!"


"Tidur?"


"Iyaa! Karena efek obat bius. Biasanya lebih dari delapan jam baru dia bisa bener-bener bangun!"


"Apa? Obat bius?!"


"Heem!"


"Tuh kan! Duuuh, apa yang terjadi sama elo sih, Al?!" gumamnya keras agar terdengar Arya, seakan Alona berada di hadapannya.


Selesai menunggu Arya berberes. Bergegas Jesica menarik lengan Arya, mengajaknya berjalan lebih cepat menuju area parkiran.


'Yes! Akhirnya ada juga kesempatan bagi gue buat deket sama si tajir Bima!' batin Jesica bergumam. 'Mang lu doang Al yang bisa dekat sama Bima!' hatinya tertawa getir.


"Kita naik apa nih, Bim?"


"Naik ojek aja ya?"


"Apaaa???" Jesica terkejut mendengr jawaban Arya. 'Sialan! Giliran sama Alona dia naik mogenya! Giliran sama gue malah ngajak naik ojek!"


Dengan wajah kecut, Jesica mengiyakan tawaran Arya.


Selang beberapa waktu mereka sampai di sebuah villa yang cukup mewah. Jesica tertegun saat turun dari motor ojek. Matanya tak berkedip menatap arsitek dari bangunan itu.


Sebuah taman yang begitu luas cukup memanjakan penglihatan Jesica.  Pun dengan bagian dalam, terdapat pemandangan kolam renang sepanjang dua ratus meter dengan puluhan kursi santai menghampar di pinggiran kolam.


'Sialan! Apa bener Alona nginap di sini? Mewah banget! Jadi ngiri gue!' batinnya bergumam.

__ADS_1


"Bim?"


"Yaa!" Pria itu terus berjalan. Raut wajahnya  datar, seakan tak melihat keindahan pesona villa itu.


"Sebenarnya, ini bangunan apa?"


"Oh! Bangunan ini?"


"Iyaa!"


"Ini villa milik bos Arya!"


"Oh yaa! Tapi .. kenapa Alona ada di sini?"


"Selamam, Bos Arya sama asistennya melakukan bisnis. Dan gak sengaja nemuin Alona pingsan di pinggir jalan. Setelah membawa dan diperiksakan ke dokter, ternyata dia pingsan karena obat bius!" Arya berbohong.


"Oh gitu?"


"Heem!"


'Apa itu artinya, Alona sudah melihat sosok Arya ya?' batin Jesica berceloteh. 'Sumpah gue makin iri sama tuh anak!'


"Kenapa?" Arya menatap heran dengan raut yang diciptakan Jesica.


"Gakpapa!" Jesica tertawa kecut. "Oh iya, lu sendiri siapanya bos Arya. Kok bisa dengan gampangnya datang ke sini?"


"Lu lupa ya, gue kan temannya Bobby. Asisten bos Arya!"


'Oh iya gue sampai lupa kalo Bobby itu temenan sama Bima.' batin Jesica.


"Emm, kalo boleh tau, seberasa besar hak Bobby dalam villa ini?" Pertanyaan Jesica membuat Arya mengernyit.


"Ehehe! Gue cuma penasaran aja!" sambung Jesica. 'Duh! Bego banget sih gue sampai nanya hal begini! Kacau kan kalo sampai Bima curiga dengan tujuan gue deketin Bobby.'


Mereka terus melangkah menuju lift. Pria itu menekan tombol lantai delapan. Lalu masuk bersama Jesica.


Ting!


Pintu lift kembali terbuka.


"Yang gue tau sih, bos Arya memberikan satu buah kamar khusus di villa ini buat Bobby."


"Oh gitu!"


"Heem! Nah, sekarang kita sudah sampai! Ini kamarnya!"


Kedua insan itu langsung masuk begitu sampai di depan pintu kamar Bobby. Dan tak sengaja memergoki Alona yang tak terjatuh di atas dada Bobby.


"Bobby??" Jesica melotot tak percaya.


"Oh May God!" Arya pun sama melotot, tapi disertai tawa kecil.


Namun, hal yang sama tak terjadi dengan Jesica. Raut gadis itu merah padam menahan kesal.


Bobby pun sama terkejutnya melihat kehadiran Arya secara tiba-tiba.


Seketika mendorong tubuh Alona hingga terjengkal ke lantai.


"Auuu! Bokong guee!" Alona meringis. Gadis itu belum menyadari kehadiran Jesica dan Arya yang melihatnya terbaring di atas dada Bobby di dalam kamar itu.

__ADS_1


mohon dukung author dengan vote like dan komen yang menyenangkan. 🥰


__ADS_2