Pencarian Jodoh Sang CEO

Pencarian Jodoh Sang CEO
Diacuhkan


__ADS_3

Bobby masih menunggu Jesica di halaman parkir. Bersandar pada badan mobil.


Selang beberapa saat wanita yang ditunggu sudah siap dengan pakaian yang terlihat mencolok. Baju hitam yang tak memiliki bagian lengan dan menonjolkan sisi dada montoknya, panjangnya hanya di atas perut, dipadu dengan celana jeans yang melekat pres pada kaki sexy-nya. Dan heels setinggi tujuh senti. Juga satu buah tas jenteng yang talinya melingkar di pergelangan Jesica. Semua yang ia kenakan membuat Bobby melotot saat melihat penampilan wanita di hadapannya itu.


"Lu gak bawa jaket?"


"Enggak!" Tersenyum manis.


"Lu mau ke festival apa mau ke clubbing?"


"Kenapa emang?"


"Udah, buruan masuk!" Kesal. "Ckk! Ahh! Bima ada-ada aja sih, pake nyuruh gue jemput anak ini segala!" Bobby berdecak kesal, menggerutu.


"Kenapa sih, Bob?"


"Udah, masuk aja!" Masuk ke mobil tanpa membukakan pintu untuk Jesica.


"Apa penampilan gue kelihatan jelek?" tanyanya begitu berhasil merapatkan tubuh di kursi jok depan.


"Banget!"


"Serius?? Kalau gitu, gue ganti lagi aja ya!"


"Gak usah! Udah gak ada waktu lagi! Lu pake jaket ini aja!" Bobby menyerahkan satu buah jaket pria yang sangat besar ke atas pangkuan Jesica.


"Besar banget, jaket siapa nih?"


"Jaket supir gue!"


"Apa??" Spontan Jesica melempar balik ke arah Bobby. "Kalau gitu, gue gak mau pake!"


"Terserah! Kalo gak mau pake, lu pergi sendiri aja! Jangan bareng gue."


"Kok gitu sih, Bob?"


"Karena gue gak suka dengan penampilan loe yang over vulgar!"


Gadis itu tersungut, lesu. "Tapi jaket ini jelek banget di body gue, Bob! Kedodoran!"


"Itu sih bukan urusan gue, yang pasti, di mata gue jaket itu lebih cocok lu pake ketimbang baju yang lebih mirip telanjang."

__ADS_1


Jesica semakin tertunduk, lesu. "Ya udah, iya gue pake!" sungutnya yang kemudian melekatkannya ke tubuh.


Bobby tak lagi menyahut. Pria itu mulai menyalakan mesin dan mulai menyetir.


Sudah tiga puluh menit lamanya perjalanan. Namun, keduanya masih membisu. Hening. Sesekali Jesica melirik ke arah Bobby. Tapi pria itu sama sekali tak menatapnya. Bahkan menganggapnya seolah tak ada. Hingga mereka tiba di gerbang perayaan festival rakyat tahunan. Bobby turun setelah memarkirkan mobil di area yang disediakan. Berjalan tanpa mengajak Jesica beriringan dengannya.


"Bobby, tunggu!" Wanita itu berusaha mengejar. Namun tak disangka, hanya sedetik saja, puluhan karyawan wanita sudah berhasil mengerumuni Bobby.


"Hai, Pak Direk? Tumben sendiri aja! Kita temenin ya!"


"Pak Direk, kita ke sana yuk!"


"Pak Direk, bareng aku aja!"


"Pak Bobby, yang ngejar itu siapa? Apa dia pembantu?"


Langkah Jesica terhenti. Menatap kegagalan yang lagi-lagi menyambangi hidupnya di pagi itu. Mengepal erat tangan yang masih menjenteng tas KW di pergelangannya.


"Apa dia bilang? Pembantu? Sialan! Gara-gara jaket kedodor ini, gue jadi terlihat kucel!" Dilepasnya jaket itu. Membuang ke dalam bak sampah yang terletak di samping jalan.


Ia mempercepat langkahnya yang mulai tertinggal jauh di belakang Bobby. Meraih ponsel dari dalam tas untuk menghubungi beberapa teman sekantor. "Kalo jalan sendiri begini, gue berasa keki!" Sementara lengannya masih sibuk merogoh isi dalam tas, mencari benda pipih retak kesayangannya. "Dapat!" Segera ia mencari kontak beberapa teman sekantornya.


Pluk! "Aaaa!"


Jesica menatapnya. Tampak seorang pemuda tampan dengan earphone yang menempel di telinga. Seketika ia menebarkan senyum terindah. 'Manis banget anak ini!' gumamnya dalam hati.


"Jalannya hati-hati dong, Tante!" Sontak perasaan melayang yang sebelumnya menyambangi pikiran Jesica menjadi ambyar. Terjerembab ke dalam rasa malu.


'Apa? Dia panggil gue Tante?? Ahh! Kesel! Kesel!' Buru-buru Jesica bangkit dari lengannya yang masih merangkul tubuh Jesica, mengucap terima kasih dan langsung berlalu. Tanpa menoleh sedikitpun. 'Ahh! Malunya gue!' rutuknya dalam hati.


Jesica tersadar. Sepertinya ia sudah kehilangan sosok Bobby, tertinggal jauh. Diedarnya pandangan, berharap masih menemukan sosok yang dicari. Namun, malang tak bertepi, kembali Jesica harus mengalami pahitnya sendirian.


"Dia yang ngajak, dia yang ninggalin! Huh! Nasib gue, selalu aja apes, gak pernah beruntung, makin iri aja gue sama Alona." Menyedot minuman es yang terbungkus dalam plastik, yang baru dibeli sesaat setelah insiden terjatuh tadi.


'Anak itu, bahkan pagi-pagi udah di jemput aja sama Bima!' Duduk di pojok bersebelahan dengan para pedagang kaki lima, memesan salah satu dagangan mereka. 'Oh iya, Bima! Kenapa gue gak coba ngegaet dia aja! Kalo Bobby gak bisa ditaklukin, Bima yang statusnya misterius juga gakpapa lah! Setidaknya, dari cara berpakaian cowok itu gak kelihatan miskin!' Merocok dalam hati.


"Neng? Ciloknya jadi?"


"Ahhh! Iya, Mang!" Jesica tersentak saat tukang cilok memanggilnya. Segera ia bangkit dan membayar seporsi cilok pada si penjual. Lalu kembali duduk.


Kruuuk!

__ADS_1


'Haduh, perut gue laper banget. Nasib cuma bisa makan cilok!' Dilahapnya makanan itu setusuk demi setusuk, hingga nyaris menyisakan bungkusnya saja. "Alamak, udah habis aja! Duh, bisa gemuk nih gue kalo begini! Heran deh, perut gue kok makin suka lapar aja!" Kembali menyedot es yang juga tinggal separuh. Mengedar pandangan, berharap keberuntungan ajaib menyapanya.


Namun, bukannya mendapat nasib mujur, Jesica justru melihat kumpulan wanita glamour yang menjadi teman sekantornya itu berjalan beriringan. Berbincang dan tertawa ria.


Spontan Jesica menyembunyikan wajahnya ke samping penjual cilok.


"Kenapa, Neng?"


"Tolong, lindungi aye dulu ya, Mang!"


"Lindungi dari apa?"


"Dari itu! Cewek-cewek di sana itu!" Jesica mengisyaratkan dengan telunjuk tanpa melihat langsung.


"Lah, sama cewek kok mustin


menghindar?"


"Ah! Pokoknya lindungi aja!"


"Hah! Serah Eneng deh! Mangnya kenapa sih, sama cewek aja pake sembunyi segala!"


"Gakpapa, Mang! Cewek-cewek yang di sana tadi itu udah pergi belum?"


"Yang di sana mana? Baju apa? Cewek di sana ada banyak, Neng!"


"Yang barusan lewat berenam!"


"Ohh! Udah, Neng!"


"Fouhh!" Jesica menghela napas pelan. Bangkit, masih sedikit mengendap. Mengintip. Pandangannya fokus menatap ke jalan di mana sebelumnya kawanannya berlalu. Setelah memastikan mereka benar-benar pergi, kembali ia duduk di kursi panjang.


"Neng! Pake baju terbuka gitu, apa gak takut masuk angin?" Jesica menoleh. Menatap si Mamang cilok yang mendadak mempertanyakan pasal pakaiannya.


"Ya kagak, Mang. Kalo takut, ya ngapain saya pake."


"Ya, kalo pun gak takut masuk angin, setidaknya takutlah sama orang yang mungkin bisa celakai Eneng. Bisa aja kan ada orang yang gak kuat lihat penampilan Eneng terbuka begitu!"


"Hmm!" sahutnya ketus. 'Apa sih orang ini! Mau penampilan kayak gimana pun kan urusan gue!' Tak terima di nasehati. Ia justru mencerca dalam hati.


Sedetik kemudian, perut Jesica mendadak mual. Hingga berkali-kali ia menjeluak.

__ADS_1


"Tuh kan, Neng! Dibilangi juga!"


"Apaan sih, Pak! Sewot aja!" Wanita itu pergi, dengan satu tangan menutup mulut. Sesekali ia masih menjeluak.


__ADS_2